“Eh eh Na Hyun mau kemana?” Ha Joon melihat Na Hyun yang sudah berlari keluar kelas. Dia langsung mempercepat langkah, mengejar gadis yang tanpa basa-basi, tergesa-gesa menuruni satu per satu anak tangga.
“Eh tunggu aku dong. Aduh rumit amat ini! Duh!” Ha Joon ngos-ngosan berlari, usai menuruni anak tangga. Dia beristirahat sebentar, kemudian lanjut berlari lagi. Dari belakang, Hyeri juga menyusul berlari. Dengan mudah dia melewati Ha Joon begitu saja.
“Astaga ada apa dengan gadis-gadis jaman sekarang? Bisa bahaya kalau aku mengencani orang seperti mereka. Ais!” Ha Joon terus-menerus mengeluh sepanjang dia berlari.
Didepan sana, Na Hyun sudah memanjat pagar. Meski tadi sempat dihadang oleh satpam penjaga, Na Hyun tetap bersikeras. Di susul Hyeri di belakangnya yang ikut menghilang dibalik pagar yang sudah dipanjatnya. Guru-guru laki-laki senior dibantu Pak Kim tergopoh-gopoh mengevakuasi murid-murid lantai satu ke tempat paling aman dekat lapangan futsal. Suasana semakin riuh oleh teriakan panik murid kelas satu. Pak Kim sempat meneriaki Ha Joon untuk kembali. Murid-murid lantai dua dan tiga menonton perkelahian diseberang sana dari atas. Mereka heboh merekam dengan ponsel masing-masing sekaligus panik melihat Na Hyun dan Hyeri yang sudah bergabung.
“Pak buka pagarnya cepat!” Ha Joon yang sudah sampai di depan pagar meminta satpam penjaga untuk menurunkan pagar pelapis. “Tidak bisa nak, ini SOP untuk keadaan darurat! Kalau kau mau keluar seperti kedua gadis itu, silahkan memanjat pagar saja!” tolak Satpam. Jelas saja permintaannya ditolak.
Ha Joon masih tetap memohon. Dia masih ngeri membayangkan yang terjadi jika jatuh dari pagar setinggi empat meter atau siapa tahu, dibalik pagar sudah ada yang menunggu dia untuk dipanggang.
Min Ju yang sampai bersamaan dengan Yu Ri langsung riang meloncat, seolah dia sudah terbiasa. Di depan mata Ha Joon, ia menyaksikan sendiri betapa entengnya Min Ju yang menggunakan rok memanjat pagar tanpa ragu sedikitpun. Yu Ri menyunggingkan senyum remeh pada Ha Joon. Dia meyerahkan cermin biru yang pas digenggaman pada Ha Joon. “ Lebih baik kau jaga saja cerminku ini. Masuk keatas biar tetap aman! Biar saja cewek-cewek canitk ini melindungi kalian oke!” Yu Ri mengedipkan sebelah matanya dengan centil. Dengan ringan dia berbalik kemudian memanjat pagar. Ha Joon menganga dengan tetap menggenggam cermin Yu Ri. Dia melihat pantulan dirinya di cermin di genggamannya. Seketika harga dirinya sebagai pria pemain hati wanita dikoyak-koyak empat gadis sebaya di hari yang sama.
Dia memberikan cermin itu pada satpam. “Jaga ini Pak! Aku harus menjemput lagi harga diriku sebagai pria jantan!” ujarnya dengan tatapan yakin. Pak Satpam memberinya semangat. Ha Joon mencoba untuk memanjat. Keringatnya menetes lantaran kakinya tergelincir berulang kali. Suara tawa terdengar dari lantai atas. Murid-murid yang melihat Ha Joon jatuh berulang kali tertawa geli membandingkan Ha Joon dengan Na Hyun, Hyeri, Min Ju dan bahkan Yu Ri yang sepanjang kelas sepuluh hanya sibuk berdandan.
Na Hyun, Hyeri, dan Yu Ri sudah amat terkenal. Tidak ada satupun murid kecuali Ha Joon dan Seo Jun yang tidak mengenal mereka. Tapi kedatangan Min Ju juga menarik perhatian mereka. Meskipun panik, mulut mereka juga sibuk membicarakan Min Ju yang sepertinya kemampuan bertarungnya sama dengan Hyeri dan Na Hyun.
Setelah jatuh entah kali berapa, akhirnya dia bisa sampai ke puncak pagar. Dia berjongkok diatas pagar sambil berpegangan menganalisis situasi. Kumpulan laki-laki yang sebanyak itu hanya tinggal setengah yang masih berdiri. Ha Joon segera meloncat turun. Kakinya berdiri tidak sempurna begitu menyentuh tanah. Ha Joon menahan sakit memegangi pergelangan kakinya yang sepertinya terkilir.
Dia sempat ragu untuk bergabung. Bukannya apa-apa, dia tidak pernah punya pengalaman berkelahi ataupun belajar bela diri. Hanya demi melihat Na Hyun yang di keroyok enam orang langsung, dengan modal nekat dia mendekati lawan yang terdekat.
Beberapa menit sebelum Laki-laki kurus yang tadi dikejar langsung membabi-buta membalas begitu menyadari adanya bantuan. Kemarahan mereka makin menjadi-jadi begitu mereka melihat Hyeri dan Na Hyun muncul. Kelompok mereka memecah menjadi tiga; beberapa menyerang Na Hyun,Hyeri dan laki-laki itu.
“Siapa namamu?” Hyeri berteriak disela-sela menyerang gelombang pria yang badannya tiga kali lipat lebih besar begitu jaraknya dengan siswa itu dekat.
“Yo Han. Jang Yo Han” balas Yo Han berteriak. Na Hyun menyimak sambil bertarung. Gelombang mereka datang tak henti. Tangan Na Hyun cukup terlatih menahan serangan bertubi-tubi, mencari celah untuk balas menyerang. Mereka bertiga mati-matian menahan agar mereka tidak mendekat dengan sekolah. Orang-orang yang berbaju hitam semakin ganas menyerang begitu menyadari mereka bertiga semakin terdesak. Tidak ada balasan p*********n dari mereka. Hanya mati-matian menepis pukulan.
Sehebat apapun kemampuan Na Hyun dan Hyeri, tetap saja dengan jumlah sebanyak ini membuat mereka kewalahan.
“Wah asik.. Gila seru banget” mereka bertiga melirik sekilas Min Ju yang malah kegirangan. Dia memang periang, tapi tolonglah dikondisikan juga. Mereka bertiga mulai kehabisan tenaga tapi Min Ju malah kegirangan, Hyeri membatin-batin dibuatnya.
Yu Ri memukul kepala Min Ju menyadarkannya. Dengan kemampuan taekwondonya, dia memukul telak kepala salah satu mereka, membantu Yo Han yang semakin terdesak ke tepi. Kondisi Yo Han cukup parah. Wajahnya penuh lebam bekas tinjuan. Sudut bibirnya tidak berhenti mengeluarkan darah segar. Yu Ri menghajar orang-orang di depannya dengan cepat menarik tangan Yo Han keluar. Mereka berdua bahu-membahu saling pasang tameng. Bergantian mengirim pukulan seolah mereka rekan yang sudah lama saling bekerja sama. Sesekali Yu Ri melayangkan tendangannya ke tengkuk belakang lawan. Perlahan tapi pasti suasana mulai berbalik.
Tak jauh dari duet Yu Ri dan Yo Han, Min Ju menarik kerah lawan yang terdekat dengannya. Dia membantu Hyeri. Dengan cepat dia melempar tinju dengan senyum diwajahnya. Hyeri bergidik ngeri melihat senyum Min Ju.
Napas Min Ju menderu kencang. Disaat terdesak seperti ini, kaki adalah yang paling efektif menyerang. Kaki kiri Min Ju menendang tiga orang terdekat secara beruntun sementara kanan menjadi tumpu. Kedua tangannya memelintir leher mereka yang masih terjangkau. Disela-sela perkelahian,Hyeri terkesiap melihat ketangkasan dan tenaga Min Ju yang jauh lebih meyakinkan.
Hyeri menggunakan tipuan kaki kiri dan kanannya yang sudah biasa dilatihnya. Mereka mulai berjatuhan satu per satu. Mereka sedikit bisa bernapas. Tapi mereka terus berdatangan seperti gelombang, yang sempat tumbang, kembali menyerang. “Ternyata kau hebat juga!” puji Hyeri pelan. Min Ju masih bisa mendengarnya. “Yah.. terima kasih” balasnya sambil tersenyum lebar.
Hyeri bisa melihat kesamaan cara bertarungnya dengan Min Ju. Kekuatan kaki mereka adalah poin penting. Keseimbangan mereka jauh lebih baik sekarang. “Jadi kau mau menjadi ketua kelas?” tanya Min Ju. Astaga, batin Hyeri. Gadis satu ini sulit ditebak. Siapa pula yang kurang kerjaan berdiskusi tentang pemilihan ketua kelas ditengah situasi yang-kau-berkedip-saja-bibirmu-bisa-pecah.
Dari sudut mata Yu Ri, Na Hyun kelihatan sudah kewalahan. Kondisinya tidak jauh berbeda dengan Yo Han. ”Aw” pekik Yu Ri pelan melihat satu tendangan lolos menghantam perut Na Hyun, membuatnya terhuyung kebelakang. "Pasti sakit" Yu Ri memegangi perutnya sambil membayangkan ngilu. “Jangan sampai kena perut, nanti sulit hamil.’ Perhatiannya lebih fokus menjaga bagian d**a dan perutnya.