Monster Class

2066 Words
Perempuan cantik itu masuk dengan ekspresi jijik. Sambil berjalan masuk, dia memeluk dirinya, seolah takut para siswa yang berbadan besar ini adalah virus. Semua mata tertuju padanya, bahkan Na Hyun yang hanya peduli dengan Hyeri, mengalihkan pandangannya. Matanya Na Hyun melebar ingin tahu apa yang akan terjadi dengan gadis itu. Para siswa badan besar itu mengelilinginya. Dari luar gadis itu tidak nampak lagi. "Kalian bau sekali ih!" pekik gadis itu. Dia mengibas-kibaskan tangannya di depan hidung. Hyeri, Na Hyun dan Ha Joon kompak tertawa geli mendengar kalimat pertama yang keluar dari mulutnya. Alih-alih takut, gadis itu malah mengomentari penampilan mereka. "Penuh lemak!" "Jarang olahraga" "Tidak bercukur." Dia menunjuk mereka satu per satu. "Tidak mandi, astaga itu badan atau mayat menyengat banget! "Muka berminyak menganggu momen spesial?" "Ih kalian benar-benar mengerikan! Minggir!" Gadis itu berusaha keluar dari kepungan mereka. Tidak membiarkan begitu saja, mereka malah makin menjadi jadi menghimpitnya. Baru saja Ha Joon mau membantunya, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Suaranya kuat sekali. Satu kelas terkejut dan mereka terkejut ketika tahu bahwa temannya terpelanting terkena pukulan. Suasana didalam dan diluar menjadi ricuh. Gadis itu menumbangkan satu orang yang badannya lebih besar dari hanya dengan sekali pukulan tepat diulu hati. Orang diluar mengeluarkan ponselnya merekam aksi itu. Geram melihat temannya tumbang, mereka maju serentak, tidak peduli lagi orang didepan, apa dia cewek atau bukan. Lagi-lagi langkah Ha Joon tertahan melihat dua orang tumbang sekaligus. Gadis cantik itu membuat semua orang menatapnya tak percaya. Hyeri tetap diam memantau mereka. Sementara Na Hyun heboh menonton dengan naik ke atas meja. Ha Joon disebelahnya menarik-narik tangannya agar turun. Tak mau turun, Ha Joon tak kehilangan akal. "Rokmu pendek, dalamannya kelihatan" Wajah Na Hyun memerah malu karena ucapan Ha Joon. Meskipun hanya mereka berdua yang bisa mendengarnya. Dia langsung turun dengan canggung. Gadis itu sudah selesai menumbangkan mereka, dia mengelap sedikit keringat di dahinya dengan tisu. Ketika menoleh kedepan, dia terkejut semua orang melihatnya. Terbata-bata, dia menyangkal perbuatannya. "Bukan aku kok, mereka pingsan karena tidak kuat melihat kecantikanku" Seisi kelas kembalis pura-pura sibuk karena omongannya. Gadis itu mengangkat bahunya tak peduli. Gerombolan siswa berbadan besar tadi lari pontang-panting. Dia mengambil posisi duduk di depan Hyeri. Dia memandang Hyeri menilai penampilannya dari atas sampai bawah, kemudian berbalik tak peduli. Matanya sempat bertemu dengan Na Hyun. Na Hyun memperhatikannya yang sibuk mengeluarkan barang-barang dalam tasnya. Mata Na Hyun melotot melihat barang-barangnya, ada cermin lipat, tissue, satu set alat make up, pencatok rambut, penggulung poni, pemijat pipi, parfum dan peralatan cewek lainnya. Tidak ada satupun buku yang hinggap di tas mungilnya itu. Gadis itu menatanya sedemikian rupa di mejanya. Merasa kurang, dia menarik meja sebelahnya yang kosong, meletakkan yang tidak muat disana. Bel berbunyi, semua orang sudah masuk dikelas. Tersisa dua bangku lagi dikelas ini. Wali kelas mereka langsung masuk. Begitu melihat isinya, dia menarik napas panjang. Setahun kedepan bakal terasa berat. Ha Joon menopang satu pipinya menghadap Na Hyun, dari tadi pandangannya tidak bisa lepas dari Na Hyun, meski sudah dipelototi. Gerah dipelototi, Na Hyun mengambil pena dan mengarahkannya ke mata Ha Joon. Sama seperti Ha Joon, Hyeri juga terus memperhatikan Jin Gyu yang tertunduk takut. Padahal Hyeri hanya melihatnya saja. Ha Joon tak bergeming, dia tetap memandanginya dengan senyuman yang tak bisa diartikan. "Selamat datang di kelas dua E!" Pak guru yang notabenenya wali kelas mereka bersorak mencoba riang. Tidak ada satupun respon, mereka sibuk sendiri. "Ha salah apa aku di kehidupan lama?" lirih pak guru itu mengacak-acak rambutnya frustasi. Dia menarik napas, menarik mulutnya lagi membentuk senyuman. "Nama saya Guru Kim ka-" "Halo semuanya" perkenalan Guru Kim dipotong oleh seorang siswi yang kini tengah lompat-lompat kecil, melambai-lambai. "Nama aku Min Ju, Yoon Min Ju, aku pindah kesini karena bosan disana" Separuh kelas tertawa mendengarnya. "Perkenalan yang bagus nak, coba sebutkan apa cita-citamu" pinta Guru Kim. Min Ju terkejut melihat keberadaan Guru Kim. "Kirain tidak ada orang tadi" kata Min Ju polos. "Saya tidak kelihatan sama kamu?" Min Ju menggeleng sambil melihat-lihat isi kelas "Pak Guru terlalu pendek." Guru Kim mengangguk pasrah. Dia mempersilahkan Min Ju duduk. Min Ju melompat-lompat kecil menuju kebelakang tepatnya tempat duduk didepan Na Hyun. Na Hyun menendang bangkunya. Dengan semangat Min Ju mengira tendangan itu tanda dia mau berkenalan. Na Hyun memutar bola matanya malas menanggapi. "Saya akan menjadi wali kelas kalian selama kelas dua kedepan. Nah sekarang lebih baik kita memilih ketua kelas bagaimana?" Kelas diam, tidak ada satupun yang merespon kecuali Min Ju. "Melihat referensi ranking, kelas ini memiliki Choi Seo Jun yang berada di peringkat satu umum" Choi Seo Jun yang merasa sedang dibicarakan berdiri tegak, tapi tidak ada yang memberikan tepuk tangan untuknya. Dengan wajah masam, dia kembali duduk. "Maka dia berhak menjadi ketua kelas dua E" "Kenapa dipilih berdasarkan peringkat?" Gadis didepan Hyeri mengangkat tangan, menyela. "Jadi apa kau ada usul?" Na Hyun bertanya. "Ah apa kau mau menjadi ketua kelas disini?" katanya lagi. Gadis itu menggeleng. "Ehm nama kamu siapa?" Pak Kim mencari namanya berdasarkan data kelas yang di berikan. "Oh iya Yu Ri, Kang Yu Ri. Menurutmu apa kriteria pemilihan kita kali ini?" Guru Kim tersenyum senang sambil memperbaiki kacamatanya yang melorot. Setidaknya muridnya ada yang mau berpartisipasi, meski tak semua. "Kalau berdasarkan peringkat, orang pintar gak menjamin bisa menjaga kelas ini" Seo Jun menatapnya sinis. Yu Ri mendongakkan kepalanya melihat Seo Jun. "Saat aku masuk saja sudah ada masalah, tapi dimana dia? Cuma membaca buku sama sekali tidak peduli." "Itu karena kalian yang bermasalah bukan kelas." Seo Jun nyolot tak terima dikatain tak bertanggung jawab. Hyeri tersenyum sinis mendengarnya. Guru Kim yang tidak tahu menahu kejadian tadi pagi, binggung mendinginkan suasana. "Orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri tidak cocok menjadi ketua kelas" sahut Min Ju. Na Hyun menendang bangkunya. Dia menghadap kearah Na Hyun. "Kau tidak ada disana, jadi jangan ikut campur" Na Hyun menatapnya sinis. "Aku memang tidak ada disana, tapi aku tahu kejadiannya" "Dari mana kau tahu?" teman sebangkunya bertanya. "Karena otakku pintar" jawabnya menunjuk kepalanya dengan jari telunjuk sambil melihat kearah Na Hyun. "Ah sudah-sudah. Jadi menurut kalian, kriteria seperti apa yang cocok?" "Orang yang duduk disebelahku ini lebih cocok." Semua orang mengernyitkan keningnya binggung siapa yang dimaksud Yu Ri. ... Semua pasang mata melihat kearah kursi yang dimaksud Yu RI. Kosong melompong. Beberapa murid mencoba menahan tawa melihat itu, termasuk Na Hyun. “Eh maksudmu bagaimana ya Yu RI? Kurasa mata Bapak masih bagus untuk melihat hal yang tidak ada atau ada” sahut Pak Kim binggung. Dengan canggung Pak Kim mencoba menahan tawanya. “Atau Yu RI bisa melihat hantu” celetuk salah-satu temannya yang disambut tawa lain. Yu Ri tak peduli dia kembali memijat pipinya dengan pemijat bulat yang permukaannya terasa sangat halus. Dia menutup mata menikmati pijatan alat itu seakan dia sudah mengatakan hal yang perlu. Tapi tidak dengan Hyeri. Tampangnya sangat datar dan pandangannya tajam. Keningnya sedikit mengerut memikirkan sesuatu. Na Hyun tidak terlalu memperhatikannya, dia sibuk berdecak, menggerutu tanpa suara karena ulah Ha Joon yang berulang kali menjahilinya. Na Hyun muak sekali. Rasanya ingin sekali dia membuang mulut penuh bualan Ha Joon ke parit menjijikan di dekat area milijmua. “Kamu tidak mau jadi ketua kelas?” tanya Min Ju pada Hyer dengan suara imut. Hyeri memalingkan wajahnya menghadap ke jendela. Diacuhkan Hyeri tidak membuat Min Ju kehilangan keceriaannya. Dia kembali menatap Pak Kim dengan tatapan penuh semangat menunggu keputusan. Pak Kim makin bingung, kandidat yang sudah dipikirkannya dari semalam ditolak bulat-bulat. Belum lagi pendapat Yu Ri juga menggoyahkan kriterianya. Murid-murid lain juga tidak membantu sama sekali. Begitu masuk ke kantor, Pak Kim merasa ada yang aneh dengan rekan sesama gurunya beberapa hari lalu. Tidak biasanya guru-guru lain menyapa, bahkan mentraktir makan siang dua hari berturut-turut. Lantaran status Pak Kim yang masih sebagai guru kontrak. Pak Kim baru saja lulus seleksi tahap pertama sebagai guru. Rapat guru sudah berlangsung seminggu lalu sebelum masuk sekolah kembali. Rapat ini hanya dikuti oleh guru senior dan beberapa petinggi Yayasan. Sekolah Na Hyun adalah sekolah pertama dan inti dari Yayasa. Kali ini pimpinan direktur Yayasan yang notabenenya bawahan langusung kakek Na Hyun, memberi mandat untuk kali pertamanya tentang penyusunan siswa. Hasil penyusunan kelas dua cukup menggemparkan banyak guru senior. Menyatukan beberapa murid paling bermasalah dan paling malas, cukup membuat harapan hidup mereka semakin berkurang. Bahkan guru senior menyebut julukan “kelas monster” juga untuk kelas 2 E. Rapat kembali dilakukan. Kali ini bukan soal sususan tapi soal wali kelas. Tidak ada satupun guru senior mau menjadi wali kelas mereka. Keputusan diambil, Pak Kim dipilih menjadi wali kelas tanpa . Dijanjikan posisi guru tetap setelah setahun, Pak Kim dengan senang hati mengambil tanggung jawab itu. Tanpa tahu apa yang sedang menunggunya saat ini. Kemarin Pak Kim meminta berkas profil tiga puluh dua murid kelasnya. Dia mempelajari satu per satu riwayat mereka. Kalau bisa dinilai, tidak ada satupun yang berwarna hijau dari riwayat hidup ketiga puluh dua siswa. Kostnya yang panas makin membuatnya gerah. “Kang Yu Ri hobi berdandan” Satu per satu nama siswa ditandainya. “Bahkan dia hanya memulis soal make up di sepanjang rencana studinya. Astaga!” “Hwang Min Hyang tinggal kelas dua kali” dia melingkari nama Min Hyang dengan tinta merah. “Dia tinggal kelas dua kali? Bagaimana bisa dia hidup seperti itu ais!” “Hyeri dan Na Hyun punya catatan hitam berkelahi paling banyak” “Na Hyun ternyata cucu yayasan” ujarnya sambil mengangguk-angguk paham. “Pantas saja murid cewek seperti dia tetap bertahan di sekolah ini. “Min Ju itu murid baru” Pak Kim menggaruk kepalanya binggung. “Hanya itu? Tidak ada informasi lain? Asal sekolah kek, nama orang tua kek, atau makanan kesukaan saja tidak ada?” Pak Kim mengamati foto yang tertempel di berkas Min Ju. Senyum Min Ju yang terkembang lebar cukup membuat Pak Kim sedikit waras. Dari tadi berkas yang dia cek, tidak ada satupun foto murid yang normal. Wajah mereka mengerut tidak suka, ekspresi datar, ekspresi mangap atau bahkan parahnya seperti Na Hyun yang tidak punya foto sama sekali. “Yo Han juga murid baru. Berarti ada dua murid baru tahun ini” Dilembar pertama hanya tertulis informasi umum tentang Yo Han. Namun di lembar kedua tertulis hal yang membuat bibir Pak Kim menganga. Hanya berkas Yo Han yang terdiri dari dua lembar. Dia sudah berganti sekolah sebanyak empat kali. “Dan yang paling penting dia punya catatan hitam perkelahian dari kepolisian ?! Oh my god! Rambutku rasanya mulai berkurang!” Dia memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi rasa sakit kepala sebelah. Pak Kim menutup berkas Yo Han yang ditandainya dengan warna hitam, lanjut membaca berkas selanjutnya. “Choi Seo Jun” ujarnya. Berkas milik Seo Jun banyak sekali menampilkan daftar penghargaan yang dia dapat. Tidak ada rencana studi yang ditulisnya. Nilai terakhir kelas sepuluhnya paling tinggi diantara murid lain. “Sembilan puluh delapan, setidaknya masih ada harapan dari dia meskipun mukanya murung.” Pak Kim menutup kembali berkas Seo Jun. Dia sudah membaca semua berkas muridnya. Dia merapikan meja kerjanya, memasukkan kembali berkas kedalam tasnya. Dia beranjak ke kamar mandi membersihkan diri, bersiap-siap untuk tidur. “Selamat malam Guru Kim, besok hari berat! Mari bertemu langsung dengan murid-murid luar biasamu!” dia menyemangati dirinya sendiri. Lampu dikost penggap itu dimatikan. Cahaya dari lampu jalan depan kamarnya menggantikan penerangan. Besok memang hari yang berat. Kembali ke masa sekarang, belum selesai penyelesaian masalah ketua kelas selesai, masalah baru muncul. “Ada yang kabur! Cepat! Bodoh kejar dia! Jangan sampai dia masih hidup!” teriakan-teriakan demi teriakan bersuara berat terdengar jelas ke lantai dua. Hyeri yang berada di tepi jendela spontan berdiri melihat puluhan orang-orang berbadan besar dengan baju robek berlarian mengejar anak laki-laki kurus tinggi yang menggunakan seragam sekolah sama dengan Hyeri. Kemeja laki-laki itu berkibar tidak terkancing menampakkan kaus hitam yang dia kenakan. Na Hyun menggeram melihatnya. Dia hapal sekali orang-orang yang mengejar murid itu. Suara panik dari kelas lain juga terdengar jelas. Wajah Pak Kim sudah pucat ketakutan. Tapi demi harga dirinya didepan murid kelasnya yang justru tertarik, dia masih bisa berdiri tegak tidak kabur berlindung. Siapa yang tidak panik? Ini kali pertamanya sekolah mereka dikunjungi orang-orang tampang menyeramkan yang marah meskipun tanpa s*****a. Satpam penjaga sekolah yang mendengar keributan itu langsung sigap menutup pagar dengan keamanan double. Pagar yang terlihat megah itu langsung di lapisi dengan pagar besi dari bawah. Pagar itu dibuat untuk berjaga-jaga seperti saat ini. Yu Ri yang juga menonton dari atas disebelah Hyeri sibuk mencela penampilan mereka yang kotor. Hyeri yang tadinya berniat turun membantu, jadi lebih kesal mendengar Yu Ri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD