13. Rumah Naga

1494 Words
Xaviera terbangun dan merasakan pusing di kepalanya. Ia mencoba duduk, menajamkan netranya dan melihat ke sekeliling. Pandangannya buram, ia memegangi kepalanya untuk mengurangi pening yang mendera. "Di mana ini?" lirihnya setelah penglihatannya jernih. Kini Xaviera berada di tempat tidur yang ranjangnya sangat besar. Kasurnya empuk dan selimutnya teramat halus seakan selimut itu terbuat dari gumpalan awan. Ranjang tersebut memiliki empat tiang di setiap sisinya. Di atasnya terdapat kelambu yang menutupi seluruh ranjang. Ruangan yang ia tempati sangatlah besar, banyak lukisan yang terpajang di dinding. Di sebelah pintu masuk terdapat dua lemari yang menjulang tinggi. Ia masih bisa melihatnya meski pandangannya terhalang kelambu tipis yang menutupi. Xaviera bangkit dan merangsek menuju ke tepi ranjang. Menggenggam tiang yang ada di sisi ranjang karena pusing kembali melanda kepalanya. Ia menyibakkan kelambu yang menutupi tempat tidur dan duduk di tepi ranjang. "Tempat apa ini? Kenapa aku bisa ada di sini?" tanyanya pada diri sendiri. Suara pintu terbuka terdengar, gadis itu menoleh ingin melihat siapa yang datang. Seorang lelaki dengan pakaian yang terlihat sangat mahal. Ia mengenakan mahkota di atas kepalanya. Jubah yang berwarna keemasan tersampir indah di bahunya. Xaviera terpesona sesaat melihat penampilan lelaki yang kini mulai berjalan masuk ke dalam ruangan yang mirip dengan kamar ini. Ia dengan segera menggelengkan kepalanya, megenyahkan pemikiran konyol dan kembali menatap dengan penasaran, kira-kira siapa lelaki itu? "Syukurlah kau sudah sadar, kupikir akan memerlukan waktu yang lama untukmu memulihkan diri," katanya. Hatinya diliputi perasaan lega melihat Xaviera sudah sadar. Kening gadis itu berkerut. "Maaf, siapa kau?" tanyanya hati-hati. Lelaki itu menatap Xaviera dengan tatapan terkejut. Ia tak percaya jika Xaviera tidak mengenal dirinya. "Kau tidak mengenalku?" pekiknya marah. Xaviera terlonjak karena suara lelaki itu. Detak jantungnya memburu karena kaget. Ia mengelus dadanya guna menetralisir deguban jantungnya yang terpacu. "Tadinya aku ingin memelukmu dan mengucapkan selamat, tapi kau malah menghancurkan perasaanku," kesalnya. Xaviera menatap lelaki di depanya dengan lekat. Ia seolah tidak asing dengan lelaki ini, namun ia tak bisa mengingat identitasnya. Mata dan gaya bicaranya sangat mirip dengan seseorang, tetapi siapa? Seketika ia baru tersadar akan sesuatu. "Sang naga?" tanyanya sambil menunjuk ke arah lelaki di depannya. Lelaki bermahkota tersebut langsung menyentil jemari Xaviera. "Aku adalah raja di sini, sangat tidak sopan menunjukku seperti itu." Xaviera mengelus jemarinya. "Maaf." "Jadi ini adalah istanamu?" tanya gadis itu takjub. Lelaki itu mengangguk. "Klan naga bisa berubah menjadi manusia? Wah begitu menakjubkan. Aku bahkan tidak bisa mempercayainya. Aku belum pernah melihat yang seperti ini dalam hidupku," katanya setengah histeris. "Apa tidak ada yang memberitahumu legenda tentang klan kami? Padahal orang tuamu adalah orang yang selalu ditolong oleh klan naga karena ibumu adalah Sierra sebelum kau," gerutunya. Xaviera menggeleng pelan. Dirinya tidak menyangka sang naga yang selama ini ia kenal ternyata bisa banyak bicara seperti itu karena selama mereka bertemu sang naga selalu irit bicara kecuali menyampaikan sebuah informasi. "Klan naga adalah klan suci. Tidak sembarang orang dapat bertemu dengan klan kami. Kau adalah salah satu orang yang paling beruntung karena dapat berinteraksi dengan naga bangsawan sepertiku," jelasnya. "Bolehkah aku bertanya?" Sang naga mengangguk. "Bagaimana aku bisa ada di sini? Bukankah kita sedang ada di atas air terjun sebelumnya?" cicit Xaviera. "Kau pingsan setelah memelukku. Aku membawamu ke rumahku karena luka yang kau alami cukup parah. Kau sudah tidak sadarkan diri selama dua hari di sini." Xaviera mengangguk mendengar penuturan sang naga, namun detik selanjutnya ia memelototkan bola matanya hingga rasanya mata itu bisa keluar dari tempatnya. "Dua hari?" ulangnya setengah terkejut. "Aku harus kembali pulang, bagaimana dengan saudaraku? Mereka pasti cemas karena aku menghilang, mereka pasti akan mengira jika aku tertangkap oleh iblis." Xaviera bergegas pergi tetapi tangannya dicekal oleh sang naga, ia kembali mendudukkan Xaviera ke atas ranjangnya. "Waktu di sini dengan di tempatmu berbeda. Aku bisa mengaturnya agar kau hanya pergi selama dua sampai tiga jam saja." Xaviera menghela nafas lega. "Syukurlah. Kalau begitu bisa kau antarkan aku pulang sekarang?" Sang naga menggeleng. Ia menolak permintaan Xaviera karena gadis itu belum sembuh sepenuhnya. Luka yang dialami bukan hanya luka fisik di luar, tetapi juga dari dalam. Bahkan sang naga sempat khawatir jika Xaviera tidak tertolong karena darah yang keluar dari tubuh gadis itu sangat banyak. "Akan kupanggilkan tabib istanaku, jika dia memperbolehkanmu untuk kembali maka aku akan mengantarmu, tapi jika tidak kau harus menginap di sini beberapa malam lagi, mengerti?" Xaviera hanya bisa mengikuti perintah sang naga. Lagipula dirinya juga tidak akan bisa kabur karena ia tidak tahu bagaimana cara untuk masuk dan keluar dari istana milik sang naga. Lelaki itu keluar, menyuruh salah satu pelayannya untuk memanggilkan tabib dan kembali ke kamar. Duduk di samping Xaviera. "Kembalilah tidur, tubuhmu pasti sakit karena lima tulang rusukmu patah." Mata Xaviera kembali membola. Ia meraba dadanya sendiri dan memang benar terasa sedikit nyeri di sana. Tak lama tabib datang dan mulai memeriksa Xaviera. Sebuah cahaya berwarna putih bersih bersinar dari telapa tangan wanita yang berpakian serba kuning tersebut. Ia mulai mengarahkannya pada Xaviera dimulai dari kepala sampai ke ujung kaki. Ia berhenti sebentar tepat di atas d**a Xaviera lalu menurunkan tangannya sampai ke ujung jari kaki si gadis. "Jadi bagaimana?" tanya sang naga tidak sabaran. "Semuanya baik-baik saja, Yang Mulia. Gadis ini pulih dengan cepat. Namun ia masih harus beristirahat dan tidak boleh melakukan aktivitas berat karena tulangnya belum menyatu secara sempurna," jelas si wanita. "Apa aku sudah bisa pulang ke rumah?" tanya Xaviera tiba-tiba. Sang wanita mengangguk. "Baiklah, pergilah!" titah sang naga. Si wanita membungkuk sebentar menunjukkan penghormatan lalu pergi berlalu dari sana. "Jadi bisakah kau memgantarku?" Xaviera menatap sang naga dengan tatapan memelasnya. "Apa kau tidak suka di sini? Bukankah kamar ini luas dan indah? Mungkin lebih indah dari kamarmu yang ada di rumah kecil itu." Xaviera menghela nafas kasar. "Di sini memang indah, tetapi aku lebih senang berada di rumah karena bersama dengan saudaraku, satu-satunya keluargaku yang tersisa." "Baiklah, aku akan mengantarmu. Pegang tanganku." Sang naga mengulurkan tangan yang langsung disambut oleh Xaviera. Gadis itu menutup kedua matanya karena perintah sang naga. Xaviera merasakan angin berembus dengan kencang dan menerpa wajahnya. "Buka matamu!" titahnya. Xaviera perlahan membuka matanya dan mendapati dirinya berada di hutan yang letaknya tak jauh dari rumahnya. "Terima kasih," kata Xaviera. Sang naga mengangguk lalu kembali ke wujud naganya dan terbang ke atas. Menghilang bersamaan dengan embusan angin. Xaviera berjalan santai menuju ke rumahnya, lalu perlahan langkahnya ia percepat. Mengembuskan nafas panjangnya sebelum membuka pintu. Xaviera tidak melihat semua saudaranya. Biasanya mereka akan berkumpul di rumah setelah menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Gadis itu berjalan menuju satu kamar ke kamar yang lain. Berteriak memanggil keempat kakaknya dan juga Luke, tetapi tidak ada satu pun yang menyahut. "Di mana mereka?" batinnya merasa gelisah. Xaviera kembali keluar dari rumah. Ia melompat, naik ke atas dan langsung mendarat tepat di atap rumah. Memicingkan kedua netranya untuk mencari semua orang, namun hasilnya nihil. "Apa mereka kembali melakukan pengintaian di tempat para iblis?" Xaviera langsung turun dan kembali masuk, ia berlari ke arah ruangan yang mereka gunakan untuk menyimpan s*****a yang berhasil diambil dari musuh. Sebagian dari s*****a itu tidak ada di sana. Xaviera semakin risau melihatnya. "Apa benar dugaanku?" Gadis itu bingung harus bagaimana, haruskah ia memanggil sang naga lagi untuk membantu menemukan seluruh saudaranya? Ia membanting pintu dan keluar dari ruangan, betapa terkejutnya dirinya melihat keempat saudaranya dan Luke kini tengah berada di rumah sambil menenteng beberapa s*****a. "Dari mana saja kalian?" pekik Xaviera. Ia langsung berlari dan menghambur ke pelukan kakaknya satu per satu. Semua orang heran melihat tingkah adik bungsunya itu. "Ada apa denganmu, Xaviera? Kami hanya pergi untuk berlatih sekaligus membiasakan diri menggunakan s*****a ini," kata Blade. Xaviera mengusap air mata yang tanpa sengaja menetes di wajahnya. Ia menggeleng setelahnya. "Tidak, aku hanya takut tadi karena tidak bisa menemukan kalian." "Harusnya kami yang bertanya padamu. Dari mana saja kau baru kembali padahal hari sudah siang. Kau bahkan melewatkan sarapan dan makan siangmu." Lavina menyentil dahi adik perempuannya. Xaviera hanya bisa memamerkan cengirannya. "Aku tertidur di bawah air terjun tadi. Aku bergegas pulang setelah melihat matahari yang terik, dan juga aku sedikit lapar." Perutnya memang berbunyi sedari tadi. Xaviera sudah tidak sadarka diri selama dua hari, itu artinya ia juga belum makan selama itu dan perutnya kini meronta untuk diisi. "Aku sudah menyisihkan bagianmu, Xaviera. Ayo kita ke meja makan, akan kupanaskan makananmu." Delucia menarik adiknya menuju ke ruang makan. Seperti biasa, dia adalah kakak yang paling sabar dan pengertian. Delucia meletakkan s*****a yang dibawanya lalu mulai memanaskan masakannya dan menyajikan sepiring untuk Xaviera. Gadis itu memakannya dengan lahap, senyuman di wajahnya bahkan tidak pernah luntur hingga membuat keempat saudaranya terheran, bahkan Luke juga merasa ada yang salah dengan gadis itu. "Sebenarnya apa yang terjadi pada adik kecil kita ini?" goda Lavina. Sekali lagi, Xaviera hanya menggeleng dan melanjutkan acara makannya. Ia sangat bersyukur masih bisa melihat keluarganya setelah pertempuran hebat yang bahkan hampir menghilangkan nyawanya. Kini Xaviera tidak perlu takut lagi, ia berjanji akan melindungi keluarga satu-satunya dan mengalahkan klan iblis. Membangun kembali kerajaan yang sempat runtuh bersama para saudaranya. to be continue ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD