12. Sekali Lagi

1619 Words
Xaviera hanya mengaduk-aduk sarapannya pagi ini, tak berniat memasukkannya ke dalam mulut. Ia masih memikirkan kejadian kemarin ketika bertarung dengan dirinya sendiri di tempat asing itu. "Bagaimana caranya aku bisa menang?" gumamnya tanpa sadar yang masih bisa didengar oleh seluruh orang yang ada di meja makan. "Menang apa? Memangnya kau sedang bertaruh dengan siapa?" tanya Lavina yang kebetulan duduk di dekatnya. Semua orang yang tadinya fokus dengan sarapannya kini mendadak diam dan memperhatikan Xaviera. Gadis itu tersadar dari lamunannya, ia merasa kikuk karena dipandangi seperti itu oleh semua orang yang ada di sana. Dengan cepat ia buru-buru mengelak. "Tidak, aku hanya sedang memikirkan sebuah permainan." Ia berdiri dari duduknya, merasa risih karena pandangan kelima saudaranya yang masih menatapnya dengan kening berkerut. "Aku sudah selesai sarapan, aku ingin pergi jalan-jalan terlebih dahulu. Aku berangkat!" katanya lalu berlari menjauh dari rumah. Bahkan ia tidak menyentuh sarapannya sama sekali dan berkata jika ia telah selesai sarapan, kelima orang yang ada di sana menjadi curiga dengan adik bungsu mereka. "Bukankah tingkah Xaviera aneh belakangan ini?" tanya Lavina serius. "Aku juga merasa seperti itu, dia seperti orang yang tengah tertekan. Apalagi setelah kedatangan para iblis," sahut Airia. "Mungkin dia terlalu terkejut, apalagi kemarin Xaviera sempat bertarung dengan iblis sendirian. Dia masih terlalu labil untuk menerima keadaan." Delucia masih tetap berpikir positif pada adiknya. "Kupikir dia memang sedikit aneh, semalam aku melihatnya mengendap-endap masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Entah dari mana dia." Luke tiba-tiba menyahut. Kalimat panjang yang keluar dari mulutnya membuat tiga gadis itu terperangah. "Ada yang salah, Nona?" tanya Luke karena melihat raut wajah ketiga gadis itu. Semuanya hanya menggeleng pelan sebagai respons. "Apa sebaiknya kita mengawasi Xaviera dari jauh saja? Itu akan lebih baik untuk keamanannya. Kita tidak tahu kapan para iblis akan menemukan kita dan membawanya pada raja iblis. Terlebih mereka sudah tahu bahwa Xaviera adalah Sierra," usul Blade. "Jangan, Blade. Kau tahu sendiri Xaviera sangat tidak suka dianggap lemah. Dia pasti akan kecewa jika tahu kita akan menguntitnya, ia juga perlu privasi." Delucia mencoba mencegah. "Aku setuju dengan Delu, kita biarkan saja dia. Lagipula dia sudah ditakdirkan menjadi Sierra, para pemimpin yang sudah memilihnya. Jika kita selalu melindunginya maka dia tidak akan pernah menjadi lebih kuat, lagipula selama ini Xaviera belum pernah membuat masalah bukan?" kata Airia. Semua orang di sana setuju dengan Delucia dan Airia. Blade hanya bisa menghela nafas pasrah. Sementara di sisi lain, Xaviera sudah memanjat naik ke atas air terjun. Gadis itu akan kembali ke sana, melawan dirinya sendiri. Jika ia kalah maka ia akan berjuang sekali lagi, ini adalah takdirnya dan ia harus menghadapinya. Menjadi yang terkecil bukan berarti ia adalah yang terlemah dan perlu dilindungi. Ia harus menjadi lebih kuat karena seluruh masa depan kerajaan ada di tangannya. Xaviera tidak ingin membuat orang tuanya kecewa di atas sana. Kelima pemimpin yang telah memilihnya, jangan sampai mereka merasa jika pilihan yang mereka buat adalah salah. Xaviera mencoba menetralkan detak jantungnya yang berpacu cepat, mengambil nafas panjang berulang kali agar lebih tenang. Gadis itu memanggil sang naga terlebih dahulu, petir kembali menyambar di sana. Awan hitam muncul dan terbentuklah lubang di atas langit. Sang naga muncul di tengah itu semua. Turun dan berdiri dengan gagahnya di samping Xaviera, setelahnya langit kembali tenang. Kadang Xaviera terheran, mengapa tidak ada orang yang menyadari perubahan langit ketika sang naga turun. Entahlah, ia tak akan memikirkan hal lain selain membuka kunci menuju kesuksesannya. "Sudah siap?" tanya sang naga yang kini tengah menatap Xaviera. Gadis itu mengangguk. "Aku selalu siap," jawabnya dengan yakin. "Baiklah, aku akan menunggu di sini. Mulailah!" Xaviera kembali mengangguk. Ia melepas kalung yang dikenakannya. Menekan salah satu sisi sama seperti yang dilakukannya kemarin. Setelahnya Xaviera kembali di seret ke tempat itu. Ia menyebutnya dengan taman di atas awan. Xaviera berdiri di tempatnya kemarin dan menunggu sosok yang mirip dengan dirinya muncul. Tak lama kemudian, dia benar-benar kembali muncul, masih di tempat yang sama dan mengenakan pakaian serupa. "Kau datang lagi? Bukankah sudah kukatakan jika kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku?" katanya sinis. Xaviera tersenyum. "Mungkin aku memang tidak bisa mengalahkanmu karena kekuatan kita setara, tetapi bukan berarti aku akan menyerah." Xaviera palsu berjalan mendekat, tertawa dan memberikan tepuk tangannya karena keberanian yang di miliki oleh gadis di depannya tersebut. Sebuah senyum sinis tersungging di wajahnya yang terlihat lebih pucat dibanding dengan Xaviera. Melihat senyuman itu, otak Xaviera memberikan sinyal bahaya yang menyuruh seluruh tubuhnya untuk bersiaga. Ia memasang kuda-kuda, bersiap untuk menyerang jika Xaviera palsu itu mulai menyerangnya. "Tidak perlu terburu-buru, Sayang. Waktu kita tidak terbatas di sini. Seribu kali pun kau berusaha menyerangku tidak akan ada gunanya," kata Xaviera palsu. "Aku tidak perlu basa-basi darimu, aku ingin segera mengalahkanmu dan pergi dari sini. Aku tidak ingin membuang waktu denganmu." Xaviera palsu itu kembali tertawa, kali ini semakin keras seolah kata-kata yang muncul dari bibinya adalah sebuah lelucon. Ia mendekat selangkah demi selangkah. "Bagaimana kalau aku tidak mengizinkanmu pergi dari sini?" "Aku akan melawanmu seperti kemarin hingga aku terlempar keluar dari sini," jawab Xaviera dengan yakin. "Sudah kukatakan berulang kali kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku. Kau itu lemah, penakut!" sarkas Xaviera palsu. "Kuakui, aku memang lemah, tetapi aku selalu mencoba berbagai cara untuk menjadi lebih kuat. Aku bukan seorang pengecut!" Xaviera mulai geram. Karena amarahnya, ia segera menyerang Xaviera palsu yang ada di depannya. Gadis itu memukul wajah Xaviera palsu dengan keras hingga ia tersungkur. Bergerak maju untuk memukulnya kembali, namun ia kalah cepat. Gadis itu berguling untuk menghindar dari serangan. Perkelahian kembali terjadi di antara keduanya. Mereka memanggil tombak masing-masing kemudian saling menyerang dengan tombak di tangan keduanya. Xaviera terus menyerang gadis dengan wajah yang sama dengannya, mengamati pergerakan dan mencoba menebak serangan selanjutnya yang akan diarahkan padanya. Namun itu sangat mustahil mengingat ia tengah melawan dirinya sendiri. Gerakan mereka tentu saja sama. Sampai akhirnya keduanya sama-sama saling menabrakkan diri dan terpental jauh. Xaviera terlihat kelelahan, begitu juga kembarannya tersebut. Ia tidak ingin menyerah sekarang, kembali berlari dan menyerang. "Sekali lagi, aku harus mencobanya sekali lagi!" batinnya. Keduanya kembali saling menyerang dengan tombak di tangan masing-masing. Suara letukan kayu dari tombak mengiringi pertempuran sengit keduanya. "Terlalu sulit, dia tidak memiliki kelemahan," batin Xaviera yang kini mulai lelah. Xaviera palsu itu masih sangat gesit meski sudah berkelahi berjam-jam dengan dirinya. Bahkan kini buliran keringat yang jatuh sudah tak terhitung jumlahnya. Kepala Xaviera terasa pening karena terjatuh dan terbentur tadi, pandangannya juga sedikit memburam. Xaviera palsu mengarahkan tombak padanya, ia dengan gesit bersalto mundur untuk menghindar. Nyeri yang dirasakan Xaviera kini cukup mengganggu pertarungannya dengan sang kembaran. Bahkan ia kesulitan mengimbangi gerakan dari Xaviera palsu tersebut yang semakin mendesaknya. Hingga akhirnya Xaviera kembali terjatuh di atas tanah dengan mata tombak yang terarah tepat di wajahnya. Seringai muncul di wajah kembarannya yang telah berhasil mengalahkan dirinya. Xaviera yang tidak ingin kalah langsung menendang perut gadis yang berada di atasnya tersebut lalu kembali bangkit. Nafasnya sudah terengah, ia perlu istirahat sekarang. Pening di kepalanya semakin menjadi dan ia baru tersadar jika darah telah mengalir dari kepala belakangnya. "Pantas saja terasa begitu sakit, terlalu banyak darah yang mengalir dari kepalaku," lirihnya sambil meraba kepalanya yang terluka. "Masih mau bertarung denganku, Dear? Sudah kubilang aku lebih kuat darimu bukan? Tentu saja, karena aku tidak memiliki kelemahan sepertimu." Perkataan Xaviera palsu itu membuatnya geram. "Kau hanyalah manusia yang lemah. Ketakutanmu adalah kelemahan terbesarmu. Sebelum kau bisa mengalahkannya maka kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku." Xaviera menunduk mendengarnya. Gadis itu meneteskan satu air matanya. "Kau benar, aku hanyalah manusia yang lemah. Aku terlalu takut. Selama ini aku selalu tertekan," katanya. Bisa Xaviera palsu itu lihat jika bahu kembarannya bergetar. Tawanya menggelegar melihat lawannya yang semakin lemah. Tanpa diduga oleh Xaviera sebelumnya, gadis di depannya itu mendorongnya hingga ambruk ke tanah. Ia mencoba menyerang Xaviera lagi tepat di kepala. Xaviera mencoba menahannya sekuat yang ia bisa dengan gagang tombak yang melintang. Mendorongnya hingga akhirnya ia bisa terlepas. Xaviera mencoba menyerang kembarannya tersebut ketika ia terfokus menahan seranganku dengan tombaknya. Berhasil, merasa memiliki kesempatan langka akhirnya Xaviera menarik tombak milik lawannya hingga terlepas kemudian mengarahkan tombak yang diambilnya tepat ke leher musuh. "Aku memang penakut, ketakutanku adalah kelemahan terbesarku, tetapi aku tidak akan menyerah. Aku akan melindungi semua orang yang aku sayangi. Mereka semua percaya padaku, mereka memberikan kepercayaannya dan aku tidak akan pernah membuat mereka merasa kecewa." Nafas Xaviera tersengal ketika mengatakannya. Dirinya sungguh kelelahan, ia ingin segera mengakhirinya. Waktunya tidak boleh ia sia-siakan di sini, ia masih harus terus berlatih untuk mengalahkan sang raja iblis. Gadis itu dengan yakin mulai menusukkan ujung mata tombaknya ke leher sang musuh. Menyayatnya tepat di nadi dan darah mulai keluar dari sana. Yang membuat Xaviera terkejut adalah darah dari musuhnya juga berwarna hitam kental. Ia langsung melompat setelah menghunuskan tombaknya tepat di jantung musuh. Entah mengapa Xaviera juga merasakan perih di area dadanya, di tempat di mana ia menancapkan tombaknya pada sang kembaran. Tanpa ia duga, Xaviera palsu itu masih bisa berdiri. Dengan terbatuk ia kembali bicara, "Selamat, ujianmu selesai sampai di sini. Aku mengaku kalah." Lalu setelahnya Xaviera palsu itu berubah menjadi abu dan menghilang perlahan karena tertiup angin. Xaviera sempat melihatnya tersenyum sebelum kembarannya itu menghilang. Gadis itu memejamkan kedua matanya dan sesaat kemudian ia kembali ke dunia nyata dengan keadaan selamat. Sang naga yang sedari tadi menunggu Xaviera dengan cemas dapat bernafas lega sekarang. Gadis itu tersenyum ke arahnya, senyuman termanis yang pernah sang naga lihat selama mengenal Xaviera. "Aku berhasil," katanya lalu berlari dan memeluk sang naga dengan girang. Sang naga membalas pelukan Xaviera. "Alu berhasil." Lagi, Xaviera terus mengatakan hal itu dengan lirih sampai akhirnya gadis itu kehilangan kesadarannya. Sang naga panik. Dengan cepat ia merubah wujudnya menjadi manusia dan menggendong Xaviera. to be continue ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD