5. Blade vs Luke

1546 Words
Blade menyeret Luke dengan paksa keluar dari rumah. Lelaki itu meronta agar terlepas dari cekalan Blade tetapi sia-sia. Ketika marah, kekuatan Blade akan meningkat dua kali lipat dan itu sedang terjadi saat ini. Setelah dirasa jauh dari rumah, Blade melepaskan cekalannya dan mendorong tubuh Luke hingga lelaki itu jatuh tersungkur di tanah. "Berani sekali kau mencoba membunuh Xaviera, apa kau lupa tugasmu?" decih Blade. Luke berdiri lalu menatap Blade sinis. "Aku hanya berlatih dengannya, salahkan dia kenapa begitu lemah!" Blade mengepalkan kedua tangannya karena amarah. Ia tidak terima jika Xaviera dihina seperti itu, itu sangat melukai harga dirinya. "Harusnya kau sadar di mana posisimu, kau hanyalah seorang guard yang ditugaskan untuk menjaga Sierraーseseorang yang membawa benda pusaka." Ucapan Blade membuatnya terluka, Luke menatap lelaki yang telah menghinanya dengan tatapan tajam. Blade tersenyum, memperlihatkan seringai kecilnya. Lelaki itu berlari ke arah Luke, ia menggumamkan sebuah mantra dan kobaran api muncul di tangannya. Kobaran yang besar dan panjang, tak lama kemudian api perlahan lenyap dan digantikan oleh sebilah pedang yang terukir lambang pheonix di mata pedangnya. Blade mencoba menyerang Luke, mengayunkan pedangnya ke arah leher lelaki itu, namun gerakannya kalah gesit dan Luke berhasil menghindar. Lelaki itu terkejut karena Blade menyerangnya dengan tiba-tiba. Ia juga menggumamkan mantra dan muncullah sebilah pedang di tangan kanannya. Ia berlari maju, mengangkat pedangnya berniat menghunus tepat di jantung Blade. Keduanya sama-sama maju dan melompat sangat tinggi, mengayunkan pedang untuk menghalau serangan masing-masing. Suara desingan dari kedua pedang tersebut menggema. Bahkan burung-burung pun beterbangan menjauh dari arena pertempuran karena merasakan tanda bahaya. Blade mengangkat satu tangannya dan muncullah bola api yang lumayan besar. Melemparkannya ke arah Luke. Lelaki itu dengan cepat membelah bola api dengan pedangnya dan setelah terbelah sebuah suara ledakan terdengar. Tak hanya satu kali, Blade melemparinya dengan puluhan bola api yang berhasil ditebas dengan mudah oleh Luke. Blade yang marah kemudian menjatuhkan pedangnya, mengangkat kedua tangan dan membuat bola api yang lebih besar dari sebelumnya. Ukurannya yang sangat besar membuat nyali Luke ciut untuk sementara, tetapi dengan gagah beraninya ia tetap menggenggam pedang miliknya siap untuk menerima serangan dari Blade. Bola itu diluncurkan dengan sangat cepat. Luke menusukkan pedang yang tadi telah dimantrainya kemudian bola api tadi kembali meledak hingga membuat tanah bergetar hebat. Melihat ada kesempatan, Luke membalas serangan dari Blade. Ia membuat sebuah tombak dari air yang terlihat cukup tajam. Ia lempar tombak itu ke arah Blade, selama mengudara tombak buatan Luke membelah menjadi puluhan. Blade dengan sigap memotong seluruh tombak yang diluncurkan padanya dengan gerakan kilat hingga tombak yang telah terbelah tadi berjatuhan di atas tanah. Luke geram, ia kembali mengayunkan tangannya, membentuk rantai yang terbuat dari air. Ia arahkan rantai tersebut untuk membelit Blade tetapi lelaki itu berhasil memotong rantainya. Keduanya kembali mengayunkan pedang masing-masing. Berusaha menyerang ke area vital tetapi selalu gagal karena keduanya berhasil menepis serangan dengan mudah. Blade kembali mengayunkan pedangnya dan berhasil melukai perut Luke. Lelaki itu melompat mundur, perutnya yang terluka terasa perih. Kini cairan berwarna merah tersebut terserap ke kain bajunya dan menimbulkan bercak. Blade tersenyum penuh kemenangan karena berhasil melukai Luke, berbeda dengan Luke yang semakin marah karena terluka. Luke kembali maju dan menyerang Blade. Serangan keduanya sangat cepat, bahkan terlalu cepat hingga tidak bisa dilihat dengan mata t*******g. Mereka berdua bagaikan cahaya yang berwarna biru dan merah yang saling bersambut di atas langit. Luke mangayunkan lagi pedangnya, ia berhasil melukai lengan kiri Blade dan darah mulai merembes keluar dari luka. Keduanya kembali turun, saling menyerang satu sama lain dengan brutal. Tidak peduli mereka sudah terluka parah atau tidak. Luke berhasil meninju wajah Blade dan menggoreskan luka di pelipis kanan lelaki itu. Sedangkan Blade berhasil membuat rahang Luke patah dan pipi lelaki itu tergores pedangnya. Keduanya terengah karena lelah. Tepat ketika mereka hendak meluncurkan serangan, Lavina datang dan mencegah mereka. Gadis itu berteriak tetapi tak dipedulikan oleha Blade dan Luke. Keduanya masih fokus baku hantam satu sama lain. Lavina menggunakan kekuatannya, ia memenjarakan Luke dan Blade ke dalam tanah. Menarik kedua lelaki itu hingga hanya menampakkan kepalanya saja. Tetapi hal itu tak bertahan lama karena keduanya berhasil keluar dan membuat Lavina terpental jauh. Tidak menyerah, ia kembali membuat dinding dari tanah yang cukup tebal dan tinggi guna memisahkan keduanya. Memang berhasil tetapi hanya sebentar karena Blade dan Luke berhasil meruntuhkan dinding yang dibuatnya. Lavina lelah, ia sudah tidak tahan lagi melihat perkelahian kedua lelaki itu yang sangat konyol menurutnya. Dengan sekuat tenaganya, ia menangkupkan kedua tangannya dan membaca mantra. Ia kembali menjerat Luke dan Blade ke dalam penjara tanah miliknya. Cukup sulit karena kedua lelaki itu memberontak dan mencoba menghancurkan penjara yang ia buat. Tak lama Delucia datang, ia sangat bersyukur karena hal itu. Delucia yang terkejut melihat tanah lapang yang tadinya hijau berubah menjadi hitam legam langsung saja bertanya pada Lavina apa yang terjadi. "Akan kujelaskan nanti, bantu aku dulu untuk memisahkan mereka. Ini sungguh melelahkan," kata Lavina. Delucia mengangguk. Ia menutup matanya dan meluruskan kedua tangan ke depan. Ia membaca mantra dan keluarlah rantai yang terbuat dari angin.. Rantai itu perlahan menyatu dan berubah menjadi sebuah kerangkeng berbentuk kubus dan mengurung Blade serta Luke di dalamnya. Keduanya ditahan di kerangkeng yang berbeda. Perlahan penjara tanah yang dibuat Lavina runtuh tergantikan kerangkeng tadi. Delucia mengatupkan kedua tangan. "Maaf, tapi aku harus melakukan ini," katanya sebelum membaca mantranya. Tak lama kemudian kerangkeng tadi berubah mengecil, Luke yang paham kekuatan apa ini langsung panik. Lelaki itu meronta, mencoba untuk keluar dari sana tetapi sia-sia. Kulitnya yang menyentuh rantai tadi langsung tersengat dan melepuh. Semakin lama rantainya semakin mengecil dan mengeluarkan cahaya kekuningan. Lavina bahkan harus menutup kedua matanya karena terlalu silau. Terdengar suara jeritan yang memilukan dari Blade dan Luke. Setelah beberapa menit cahaya tadi mulai meredup dan rantai yang mengurung mereka berdua menghilang. Blade dan Luke langsung terjatuh dengan keras ke atas tanah. Keduanya dalam kondisi tidak sadarkan diri. Merasa situasi telah aman, Delucia mengajak Lavina untuk mendekat ke arah dua lelaki tadi. Memapahnya satu per satu dan membawa mereka duduk bersandar di bawah sebuah pohon besar yang letaknya tak jauh dari sana. Delucia mulai mengobati luka Luke dan Blade dengan dibantu oleh Lavina. Ia mengoleskan obat yang ia buat dari sihirnya ke arah luka. Gadis itu merasa menyesal karena telah melukai keduanya, terlebih kepada Luke. Namun jika tidak menggunakan itu maka keduanya tidak akan bisa dihentikan. Tak lama Airia datang. Gadis itu berlari mendekat ke arah mereka. Bertanya apa yang sudah terjadi pada Blade dan Luke. Delucia tak menjawab, ia terlalu sibuk mengobati kedua lelaki itu. Sementara Lavina terlihat jengah. Setelah pertolongan pertama selesai, Airia membawa Luke dan Blade kembali ke rumah menggunakan kekuatan teleportasi miliknya sementara Delucia dan Lavina kembali sendiri. Hanya butuh waktu lima detik Airia telah sampai di depan rumah. Ia memapah Blade dan Luke bergantian. Menidurkan mereka di kursi panjang yang ada di ruangan perapian. Ia duduk di samping Blade smbil menunggu Delucia dan Lavina sampai. "Kenapa kau sampai melakukan hal yang bodoh hanya untuk membela Xaviera? Sebegitu cintakah kau padanya?" batin Airia menatap Blade dengan sendu. Airia menghela napas panjang. Ia tahu jika hati Blade telah dimiliki oleh Xaviera, ia tahu jika cintanya pada Blade telah bertepuk sebelah tangan. Namun anehnya, Airia tak pernah menyerah akan hal itu, ia yakin suatu saat Blade akan merasakan cintanya dan sadar jika orang yang menyayanginya lebih dari Xaviera adalah dirinya. Sebuah decitan pintu yang menandakan pintu terbuka terdengar cukup nyaring dari ruang perapian yang sunyi. Xaviera berjalan dengan tertatih-tatih karena kakinya masih sedikit kaku. Ia menutup pintu dan berjalan ke arah ruang perapian. Dirinya kedinginan dan ingin menghangatkan diri sejenak sambil menunggu kakaknya pulang, tetapi betapa terkejutnya ia melihat dua lelaki yang terbaring lemah di atas kursi panjang yang saling berhadapan. Di dekat kursi yang ditempati Blade, ia juga dapat melihat Airia yang wajahnya terlihat sendu dan sedih. Xaviera langsung menghampiri ketiga orang tersebut. "Apa yang terjadi? Kenapa mereka sampai terluka begitu parah?" Xaviera tampak panik. "Tanyakan saja pada Delu, dia yang membuat Blade dan Luke tidak sadarkan diri," kata Airia. Ingin sekali Xaviera menggenggam tangan Blade, tetapi niatnya ia urungkan karena ada Airia di samping lelaki itu. Ia tidak ingin membuat kakak perempuannya itu cemburu dan marah lagi. Sudah cukup, Xaviera akan belajar untuk sedikit lebih bersabar kali ini. Tak lama suara Delucia dan Lavina terdengar, keduanya masuk dan langsung menuju ke ruangan perapian. "Apa yang terjadi, Kak?" tanya Xaviera tepat ketika kedua gadis itu masuk. "Seperti biasa mereka selalu bertengkar, tapi kali ini mereka sungguh keterlaluan." Lavina mengungkapkan. Xaviera menatap ke arah Delucia, tatapan matanya menyiratkan agar gadis itu memberitahunya apa yang terjadi. "Tidak perlu cemas, mereka hanya sedikit aku berikan pelajaran agar tidak mengulanginya lagi," kata Delucia lembut. "Mereka hanya tertidur dengan sedikit mimpi buruk," imbuhnya mencicit. Xaviera bersyukur mendengarnya. Setidaknya Delucia telah mengobati keduanya, meski luka luarnya sedikit parah, tetapi Xaviera masih bisa menyembuhkannya. Gadis itu menggenggam jemari Luke dan membaca mantra, tak lama kemudian cahaya kehijauan muncul mengelilingi tubuh sang lelaki yang terluka. Luka fisik yang diterima Luke lenyap begitu saja bersamaan dengan redupnya cahaya hijau. Xaviera beralih ke Blade dan menggenggam jemarinya, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya pada Luke. Kini luka luar mereka hilang tanpa bekas. Xaviera langsung kembali ke kamarnya setelah menyelesaikan tugasnya. Ia bisa istirahat dengan tenang setelah melihat keadaan kedua lelaki tadi. to be continue ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD