"Hari ini latihanmu denganku, apa yang ingin kau pelajari?" Xaviera terbatuk mendengar ucapan Luke.
Gadis menatap Luke dengan tatapan tidak menyangka. Terheran, tak biasanya lelaki itu mau mengajarinya seni bela diri atau cara menggunakan elemen air.
"Kau sedang sakit? Tak biasanya kau mau mengajariku, apa yang terjadi?"
Tidak menjawab pertanyaan Xaviera, Luke seketika menyerang gadis itu tanpa s*****a. Xaviera yang tidak memahami keadaan, lengah dan terkena pukulan Luke.
Gadis itu terlempar sejauh tiga meter dan terbatuk, perutnya terasa sakit. "Sepertinya tulangku patah," rengeknya.
Melihat Luke yang mendekat, Xaviera mencoba berdiri meski kesusahan.
"Lawan aku!" Luke berteriak dengan lantang.
Xaviera meringis. "Jadi ini latihan bersama lelaki dingin itu?" batinnya.
Lelaki itu berlari ke arah Xaviera dan si gadis melakukan hal yang sama. Mereka bertarung tanpa alat dan s*****a. Luke menyerang gadis itu bertubi-tubi hingga Xaviera kewalahan dan hanya bisa menghindar tanpa membalas.
Xaviera mencoba mencari celah untuk membalas dan melumpuhkan Luke, namun pergerakan lelaki itu sangat sempurna dan cepat hingga Xaviera sulit mencari celah.
Meski hanya latihan, dapat ia lihat Luke menyerangnya dengan serius tanpa menahan kekuatannya, hal itu membuat Xaviera dalam posisi sulit karena jujur ia sedikit kelelahan.
Meski begitu Xaviera tersenyum disela pertarungan. Dirinya memang jarang bertarung seperti ini, biasanya ia lebih suka mengandalkan energi sihirnya yang terlampau banyak.
Fisiknya tidak sekuat tiga kakak perempuannya membuat Xaviera mudah kalah dalam pertarungan semacam ini. Namun gadis itu tak menyerah.
Luke tampak menyeringai melihat Xaviera yang tampak kelelahan. Memanfaatkan itu sebagai celah dan menyerang gadis itu tepat di titik vitalnya.
Xaviera kembali terpental jauh hingga menabrak pohon. Kepala belakangnya terasa pusing karena menabrak pohon di belakangnya. Ia terbatuk darah karena terasa sesak di bagian d**a.
Xaviera kembali bangkit meski pandangan gadis itu memburam. Berjalan mendekati Luke dengan langkah terseok-seok.
Baru tiga langkah dan gadis itu ambruk. Sebelum kehilangan kesadaran, Xaviera melihat Luke melemparkan sihir padanya. Tubuhnya merasakan sakit seolah tulangnya dihancurkan dari dalam, pandangannya kini benar-benar memburam dan semua berubah gelap.
**********
Suara bising dari luar membuat tidur Xaviera terganggu. Gadis itu merasakan pusing yang sangat menyakitkan bagi kepalanya.
Sekujur tulang di badannya seolah remuk, rasa sakit kembali menyerbu ketika ia mencoba menggerakkan badan.
Dirinya kini hanya bisa pasrah, berbaring di tempat tidur sambil memandang langit-langit kamar.
Seingatnya tadi sedang berlatih bertarung dengan Luke, dirinya tak ingat kenapa dan bagaimana bisa berpindah ke kamarnya.
"Apa yang terjadi, bukankah aku sedang berlatih tadi? Di mana Luke?" batinnya heran.
Suara barang pecah memenuhi indera pendengarannya. Dirinya terkejut dan penasaran akan apa yang terjadi di luaran sana.
Ingin sekali pergi dan memeriksa, tetapi tubuhnya seperti lumpuh. Lagi-lagi ia hanya bisa menghela napas pasrah akan kondisinya yang sekarang.
Kekuatan Luke memang tidak main-main ketika menyerangnya tadi. Entah kenapa Xaviera merasa bahwa lelaki itu sangat ingin melenyapkan dirinya.
Pertarungan tadi seolah pertandingan sehidup semati daripada latihan bertarung.
Tak lama, suara gaduh dari luar menghilang. Xaviera bisa mendengar langkah kaki yang mendekat ke arah kamar miliknya.
Suara kenop pintu yang diputar dan decitan pintu terbuka memenuhi telinga gadis yang masih terbaring lemah tersebut.
Keempat kakaknya datang. Delucia langsung duduk disamping Xaviera ketika melihat gadis itu sudah membuka kedua matanya.
"Akhirnya kau sadar, apa yang kau rasakan, bagian mana yang masih sakit?" tanya Delucia perhatian.
Gadis yang masih terbaring lemah itu hanya menggelengkan kepala seraya tersenyum. Dirinya sedikit bingung kenapa ia tak bisa menggerakkan tubuhnya.
"Aーapa yang terjadi?" Hanya suara lirihan yang berhasil muncul dari mulut Xaviera, gadis itu benar-benar lemah sekarang, bahkan sudah seperti orang kritis.
"Harusnya kami yang bertanya padamu, kenapa Luke membawamu dalam keadaan pingsan dan terluka parah, apakah ada yang menyerangmu?" tanya Blade, raut wajahnya memerah menahan amarah.
Kepala Xaviera kembali pusing setelahya, ia memejamkan kedua matanya sesaat sebelum mengedarkan pandangan ke arah empat kakaknya.
"Aku hanya melakukan latihan biasa bersama Luke, selebihnya aku tidak ingat," kata Xaviera berbohong. Dirinya tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya tentang pertarungan tadi.
"Hanya itu, tidak lebih? Lalu dari mana semua luka ini berasal?" tanya Airia, sorot matanya meredup ketika bertatap dengan Xaviera, gadis itu iba padanya.
Xaviera menggeleng. "Tidak, aku tidak ingat apa pun selain berlatih bertarung dengan Luke." Gadis itu terpaksa kembali berbohong.
Blade tiba-tiba saja pergi keluar dari kamar, ia membanting pintu hingga membuat rumah terasa bergetar karena tenaganya.
Xaviera terkejut melihat Blade yang begitu marah, ia bisa merasakan aura kemarahan lelaki itu dengan sangat jelas. Gadis itu hanya bisa berdoa semoga Blade bisa mengontrol emosinya.
Ia yakin lelaki itu akan segera menemui Luke dan menghajarnya habis-habisan.
"Siapa pun tolong kejar Blade, aku merasa sesuatu yang buruk akan segera terjadi." Lavina beranjak setelahnya, ia akan menyusul Blade sementara Delucia dan Airia akan menjaganya.
"Bisakah kalian membantuku duduk? Tubuhku mati rasa," pinta Xaviera pada kedua kakaknya.
Dengan sigap, Airia dan Delucia membantu Xaviera duduk meski agak kesusahan karena bobot Xaviera yang lumayan berat.
Gadis itu bertanya pada kedua kakakknya mengapa tubuhnya seolah lumpuh dan jawaban dari Delucia sangat mengejutkannya. Delucia bilang jika ada sebuah sihir pelumpuh di dalam tubuhnya.
Luke melawannya dan melemparkan sihir untuk melumpuhkan dirinya, Xaviera masih bingung kenapa lelaki itu melakukannya, apa ia berniat untuk membunuh dirinya?
Sejak awal Xaviera memang merasakan aura yang berbeda dari dalam tubuh Luke. Gadis itu sendiri bingung apakah ability miliknya salah atau memang Luke yang memiliki aura aneh.
Ia bisa merasakan kebaikan dalam jiwa lelaki itu, tetapi sesuatu yang sangat busuk mengelilinginya, menutupi kebaikan hatinya.
Xaviera memilih untuk tidak memikirkan hal tersebut, ia harus segera menyembuhkan diri sebelum sesuatu yang buruk benar-benar akan terjadi sesuai perkiraannya.
Xaviera menutup kedua matanya, ia akan mulai melakukan meditasi guna menyembuhkan lukanya. Energi alam adalah kekuatan sesungguhnya yang ia miliki.
Dalam sekejap tubuh Xaviera terasa lebih ringan dari sebelumnya, sedikit demi sedikit ia mulai bisa merasakan bobot tubuhnya dan menggerakkan jemari kaki.
Delucia dan Airia memilih meninggalkan ruangan dan membiarkan Xaviera menyelesaikan meditasinya.
"Aku curiga jika semua ini adalah ulah Luke," celetuk Airia tiba-tiba.
Delucia tampak tak menyukai asusmi saudaranya tersebut. "Apa maksudmu mengatakan itu? Kau menuduh jika Luke mengkhianati kita?"
Airia menatap Delucia sinis. "Hanya karena kau menyukainya bukan berarti kau bisa selalu membelanya, Del! Setiap kali kita meninggalkan Xaviera sendiri bersama Luke maka hal buruk selalu menimpa gadis itu."
Delucia terdiam setelahnya. Apa yang dikatakan oleh Airia adalah benar, tetapi hatinya menolak untuk percaya. Baginya Luke adalah lelaki yang baik meski bersikap dingin.
Delucia selalu dibantu oleh lelaki itu jika ia mengalami kesulitan. Meski irit bicara tetapi Luke tidak pernah mengeluh selama ini.
"Lebih baik kita mencari Blade dan Lavina lalu membicarakan hal ini lagi dengan kepala dingin," usulnya kemudian.
Airia mengangguk, lalu keduanya berpencar. Airia akan menyusul Blade dan Luvina sementara Delucia akan menyusul Luke.
Sudah hampir tiga puluh menit Xaviera menunggu kedatangan kakaknya dengan cemas, ia takut jika Blade dan Luke terluka.
Gadis itu sangat hafal dengan sifat kakak pertamanya yang sedikit tempramental jika menyangkut dirinya.
Ia hanya tidak ingin Blade dan Luke berkelahi. Akan sangat sulit untuk memisahkan keduanya.
Xaviera mendengkus. Ia ingin ikut dan menyusul kakaknya, tetapi kondisinya yang lemah membuatnya tak bisa ke mana-mana.
Sementara di sisi lain, Airia sangat terkejut melihat pemandangan di hadapannya kini. Tanah lapang yang biasa ia gunakan untuk berlatih dengan Xaviera telah hangus.
Rumput yang tadinya berwarna hijau berubah menjadi hitam pekat, bau benda terbakar masih terasa pekat di indera penciuman.
Asap yang masih mengepul dan bersatu di udara membuat pandangan Airia sedikit buram. Ia berjalan melewati tanah yang telah memghitam tersebut.
Sesekali mengeluarkan elemen air miliknya untuk memadamkan sisa api kecil yang masih menyala dan membakar beberapa dahan pohon.
Ia melihat bayangan beberapa orang dan berlari mengampirinya. Mereka adalah Delucia, Luke, Blade dan Lavina.
Gadis itu terkejut melihat keadaan Luke dan Blade yang terluka parah. Bahkan ia sampai sulit mengenali keduanya karena wajah mereka yang terluka dan penuh lebam.
Delucia tengah merawat keduanya dibantu dengan Lavina. Blade dan Luke yang tidak sadarkan diri disandarkan di bawah sebuah pohon yang lumayan besar.
"Apa yang terjadi pada mereka berdua? Apa mereka terlibat perkelahian lagi?" tanya Airia yang terlihat cemas.
Ia menghampiri Blade dan berjongkok di sampingnya, memandang lelaki itu dengan tatapan prihatin dan terluka. Ia menyentuh beberapa luka yang ada di wajah Blade lalu kembali bangkit.
"Mereka berkelahi, syukurlah Delucia datang di waktu yang tepat. Jika tidak maka aku tidak tahu lagi harus memisahkan mereka dengan cara yang seperti apa," keluh Lavina.
Airia terkejut bukan main, kekuatan Luke dan Blade memang bukan main. Mereka mampu menghancurkan lapangan yang luasnya dua kali lipat dari sebuah stadion dalam waktu singkat.
"Aku sudah selesai mengobati mereka, bagaimana kita akan membawa Blade dan Luke pulang? Kita tidak mungkin memggendong mereka bukan?" Delucia tampak berpikir.
"Kita biarkan saja mereka di sini, aku sudah terlalu lelah," timpal Lavina sedikit kesal.
"Dasar bodoh, mereka akan kembali berkelahi jika kita tinggalkan berdua saja. Biar aku yang akan membawanya pulang. Xaviera pasti khawatir karena kita belum kembali." Semuanya mengangguk setuju dengan ucapan Airia.
Gadis itu memejamkan kedua mata dan mengatupkan tangannya di depan d**a lalu melepasnya. Memutar tubuh satu kali dan muncullah pusaran air yang cukup deras.
Airia dibantu dengan Delucia dan Lavina membopong Blade dan Luke agar masuk ke dalam pusaran air.
Setelahnya Airia kembali menutup matanya dan mengatupkan kedua tangan, ikut masuk ke dalam pusaran air. Menggumamkan sesuatu yang terdengar rumit, tak lama pusaran air tadi menghilang.
to be continue ....