Hari ini adalah hari perayaan festival yang diadakan setiap tahun di negara besar lima elemen sebagai rasa syukur pada Sang Pencipta karena telah memberikan kesehatan, kesejahteraan dan kejayaan pada penduduk serta pemerintahan di negara besar.
Semua orang dari berbagai negara kecil yang merupakan sekutu dan relasi dagang berdatangan untuk ikut merayakan festival yang hanya ada sekali dalam setahun.
Terdapat banyak hidangan dan hiburan yang dapat dinikmati secara gratis oleh semua orang, kembang api yang diluncurkan terus menerus menambah kemeriahan acara.
Xaviera, putri dari kerajaan elemen kehidupan tampak senang karena bisa ikut merayakan festival bersama warga lainnya meski harus ditemani oleh prajurit demi keamanan dan keselamatannya.
Gadis berusia sepuluh tahun tersebut duduk di salah satu kursi dan menikmati makanan yang tadi dibelinya dari salah satu tenda.
Tak lama tiga orang gadis dan seorang lelaki datang menghampiri Xaviera dan menyapa putri dari kerajaan elemen kehidupan itu.
"Jadi di sini kau rupanya, lelah kami mencarimu ke seluruh penjuru kerajaan tetapi yang dicari malah asik makan di sini bersama prajurit," keluh sang lelaki.
"Maaf, aku tidak tahu kalian mencariku. Aku terlalu senang karena akhirnya diperbolehkan untuk keluar dari castle istana dan merayakan festival bersama semua orang." Xaviera menunduk merasa bersalah.
Tanpa diduga, sang lelaki tadi malah mengusak rambut Xaviera hingga berantakan lalu terkekeh pelan.
"Blade!" tegur salah satu gadis. Ia mendekati Xaviera lalu merapikan surai halus itu agar kembali rapi.
Duduk di samping Xaviera dan menyuruh prajurit untuk kembali ke istana. "Biar aku yang menjaga Putri Xaviera, kalian kembalilah!"
Lima prajurit tampak enggan mematuhi perkataan gadis itu. "Tapi Putri Deluciaー" Perkataan salah satu prajurit terpaksa dipotong oleh Blade.
"Apa kalian tidak percaya pada kami? Kami adalah keturunan dari pemimpin negara ini!" kata lelaki itu sedikit arogan.
Akhirnya lima prajurit tadi membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan kelima anak itu dan kembali ke kerajaan.
"Baiklah, ayo kita jalan-jalan hari ini. Festival hanya diadakan tiga hari dan besok adalah hari terakhir, jadi kita tidak boleh melewatkan satu hal pun!" Xaviera tampak bersemangat ketika mengatakannya.
Delucia tersenyum kecil pada Xaviera, gadis itu memang sudah menganggap Xaviera sebagai adik kandungnya sendiri. Sementara Blade tak henti-hentinya memandangi gadis berusia sepuluh tahun tersebut.
"Ekhm," deham Airia, putri dari kerajaan elemen air. Gadis itu sedikit risih ketika melihat Blade selalu memandangi Xaviera dengan tatapan memuja. Padahal mereka semua masih kecil.
"Ada apa, Airia?" tanya Lavina dengan senyum mengejek. Namun tak dibalas oleh sang empu, Airia sangat malas untuk berdebat dengan Lavina saat ini. Gadis itu memang senang menggoda Airia, apalagi karena mereka juga seumuran.
Kelima anak itu berjalan bersama, menjelajah festival terutama di tenda makanan. Meski mereka keturunan dari pemimpin negara besar, kelima anak itu tak didampingi satu prajurit pun.
Bahkan mereka sempat mengganti pakaian mereka dengan pakaian biasa agar tak terlalu mencolok.
Hari mulai petang ketika mereka hendak pulang. Namun, kabut tebal tiba-tiba saja datang hingga membuat jalanan tak terlihat sama sekali. Bahkan langit yang tadinya berwarna jingga berubah menjadi hitam.
Xaviera yang sedikit ketakutan langsung mencengkeram lengan Delucia karena ia berada di samping gadis itu.
"Ada apa ini? Kenapa alam tiba-tiba berubah?" lirih Xaviera. Gadis itu bisa merasakan aura hitam yang sangat pekat di seluruh penjuru.
Semua orang yang tadinya bergembira berubah menjadi cemas. Bahkan beberapa orang berlarian menuju ke rumah mereka, takut terjadi sesuatu hal yang mengerikan.
"Aku merasa ini bukan perbuatan alam. Ada sesuatu yang lain." Xaviera tiba-tiba berkata.
"Apa maksudmu, Xaviera?" Delucia memegang bahu Xaviera yang sedikit bergetar, keringat dingin mulai muncul di dahinya, gadis kecil itu merasakan bulu nya mulai berdiri karena aura gelap.
"Aku merasakan aura hitam yang sangat pekat dan jaraknya dekat dari sini. Ini ulah makhluk lain, aku bisa merasakan aura iblis di sekitar sini." Tanpa sadar air mata Xaviera menetes ketika selesai mengatakannya.
Tak lama ketakutan Xaviera benar-benar terjadi, banyak sekali pasukan iblis berdatangan setelah adanya kabut gelap.
Para penduduk semakin takut, apalagi iblis-iblis itu merusak tenda milik mereka. Semua orang berlarian untuk berlindung dari amukan iblis.
Kelima putri dan pangeran yang melihat itu hanya bisa bersembunyi di tempat yang tak terlihat.
"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Airia dengan raut bingung sekaligus marah karena iblis itu telah menghancurkan festival.
"Kita harus segera kembali ke pusat pemerintahan, ada sesuatu di sana. Aku bisa merasakannya," jelas sang gadis berusia sepuluh tahun itu.
Kelima anak itu bergerak cepat dan lincah menuju ke pusat pemerintahan, suasana semakin terasa mencekam di sana. Kabut semakin tebal dan tak ada tanda-tanda prajurit yang berjaga.
Kelima anak tadi masuk ke dalam bangunan, hawa dingin membuat tubuh mereka sedikit menggigil.
"Sebaiknya kita berpencar, ada yang tidak beres di sini." Semua orang mengangguk menyetujui saran Blade.
Namun, sebelum lelaki itu selesai menjelaskan rencananya Xaviera telah lari terlebih dahulu entah ke mana. Kabut yang cukup tebal membuat keempatnya tak bisa melihat ke mana arah Xaviera pergi.
Alhasil Delucia pergi untuk menyusul Xaviera sementara Blade, Lavina dan Airia berpencar untuk mencari keberadaan orang-orang.
Gadis berusia sepuluh tahun tersebut sampai di ruang rapat. Di sana banyak sekali prajurit yang berhadapan dengan iblis, mencoba menghalangi iblis untuk masuk ke dalam.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini, kenapa iblis tiba-tiba datang dan menyerang?" batin Xaviera resah.
Tak lama, kelima pemimpin keluar dari ruang rapat. Bisa ia rasakan aura kemarahan dari kelima pimpinan.
Kelima pimpinan mengajak iblis untuk pergi ke suatu tempat dan Xaviera mengikutinya. Dirinya sedikit penasaran tentang apa yang akan dibicarakan orang tuanya dengan klan iblis.
Mereka sampai di sebuah tempat yang baru pertama kali Xaviera lihat. Setelah pintu terbuka, mereka berjalan masuk. Xaviera yang tak ingin tertinggal langsung mengarahkan sihirnya ke dalam ruangan, membuat telinga panjang dari sulur tanaman kecil agar dirinya bisa mencuri dengar.
"Apa yang kalian inginkan dari kami sampai memporak-porandakan festival tahunan kami? Itu adalah tindakan yang sangat tidak terpuji!" marah seorang pria.
"Apa negara kami pernah membuat kalian tersinggung?" Xaviera tahu suara ini, ini adalah ayahnya.
"Apa yang kalian inginkan?" Lagi-lagi suara pria tadi dengan nada yang terdengar marah.
"Kami ingin meminta separuh wilayah kalian untuk dijadikan sebagai tempat tinggal." Xaviera sangat terkejut mendengar permintaan klan iblis yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Atas dasar apa kalian menginginkan tanah dari nenek moyang kami. Bahkan kalian sudah memiliki dua pulau sebagai tempat tinggal."
"Kami menginginkan negara besar ini sebagai tempat tinggal kami, sebagai gantinya kami akan membantu kalian jika terjadi perang."
Seseorang tertawa di dalam sana. "Bahkan tanpa bantuan kalian pun, kami bisa memenangkan peperangan. Banyak sekutu kami yang siap untuk membantu jika memang peperangan akan terjadi.
"Kenapa kalian menginginkan tanah kami, apakah ada alasan khusus?" tanya seorang wanita dengan nada lembut.
"Negara ini sangat makmur dan berjaya, kami ingin memilikinya."
"Tapi ini tanah nenek moyang kami, kalian tidak berhak!"
Xaviera tidak tahan mendengar semua pembicaraan tersebut. Dirinya sangat ingin masuk ke dalam dan memaki para iblis yang seenaknya sendiri terhadap negaranya.
Namun, sebelum niatnya terealisasikan seseorang menepuk pundaknya pelan dari belakang.
Xaviera berjengit, takut jika dirinya ketahuan. Hendak berteriak tetapi mulutnya dibungkam oleh orang tersebut.
"Jangan berteriak, ini Delucia," bisik gadis bernama Delucia tersebut.
Xaviera mengangguk paham, gadis itu melepas bekapan tangannya dari mulut Xaviera dan mengajak gadis kecil itu pergi dari sana.
Xaviera terpaksa mengikuti langkah Delucia dan menghilangkan sihir yang ia tanam di dalam ruangan tadi.
Delucia membawa Xaviera ke ruang rahasia yang memang sengaja dibuat oleh keturunan lima elemen untuk bermain. Ternyata Blade, Lavina dan Airia sudah berkumpul di sana.
"Jadi informasi apa yang sudah kalian dapat?" tanya Delucia pada tiga temannya.
Semuanya menggeleng, mereka hanya menemukan prajurit yang menghadang para iblis untuk masuk lebih dalam ke bangunan. Selain itu tak ada lagi yang dapat mereka temukan.
"Dari mana saja kau gadis ceroboh?" sarkas Airia pada Xaviera. Gadis itu kesal karena tiba-tiba Xaviera lari dan menghilang begitu saja.
Mendapat pertanyaan semacam itu, Xaviera hanya diam dan menunduk. Gadis itu memang sedikit takut pada Airia, sejak lama gadis yang dua tahun lebih tua itu selalu bersikap sedikit kasar padanya.
"Jangan memarahinya, Xaviera berhasil menemukan sesuatu jika dugaanku benar." Gadis berusia sepuluh tahun itu terbelalak kaget akan ucapan Delucia.
Apakah dirinya harus memberitahu keempat kakaknya atau tidak mengenai apa yang sudah ia dengar barusan. Tapi sepertinya keempat kakaknya akan mendesak untuk mendapatkan informasi.
"Orang tua kita sedang bernegosiasi dengan klan iblis. Klan iblis ingin menguasai separuh wilayah negara kita, namun kelima pimpinan tidak setuju. Aku tak mendengar banyak karena Kak Del tiba-tiba datang dan menyeretku kemari."
Semua mata kini tertuju pada Delucia, sementara gadis itu memperlihatkan cengirannya tanpa merasa bersalah.
"Hei, kalian sendiri yang memintaku untuk mencari dan membawa Xaviera kemari, jadi jangan salahkan aku kalau kita tak mendapat informasi lengkap!" jengah Delucia.
Sebuah tepukan ringan dibahunya mengejutkan Xaviera, tak disangka Luke yang melakukan itu.
Gadis yang sedang mengambar abstrak di atas tanah itu terkesiap melihat pemuda yang sangat jarang berinteraksi dengan dirinya mendatanginya tiba-tiba.
"Kau mengejutkanku!" keluh Xaviera kembali menggambar.
Tak ada jawaban atau permintaan maaf yang terucap dari pemuda sedingin es itu. Xaviera juga tidak peduli tentangnya.
"Apa yang kau pikirkan? Sepertinya kau selalu melamun beberapa hari ini."
Xaviera menoleh, ia melihat ke sekitar tapi tak mendapati seorang pun selain mereka berdua di sana.
"Maaf, kau bicara padaku?" tanya gadis itu sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Haish, benarkah kau yang digariskan menjadi pemimpin masa depan? Sama sekali tidak ada kata layak."
Perkataan barusan membuat Xaviera bingung, gadis itu menatap Luke meminta jawaban atas perkataannya barusan.
Sedangkan si lelaki bersikap acuh, dirinya tak sengaja keceplosan.
to be continue ....