Siang ini Xaviera hanya tinggal di rumah setelah menyelesaikan sesi latihan harian. Gadis itu memang yang paling muda dan paling kecil di antara yang lain.
Ia masih memikirkan jawaban yang tidak masuk akal dari Luke malam itu, ia merasa masih ada yang disembunyikan lelaki itu darinya.
Semua orang ada di bawah dan memasak makan siang, sementara Xaviera duduk di atas genteng rumah sendirian meski cuaca sangat panas.
Tak lama seorang lelaki menghampirinya, melompat dari lantai atas dan duduk di samping Xaviera. "Blade!" tegurnya karena datang tiba-tiba.
"Apa?" tanya lelaki itu yang tampak merasa tak bersalah.
"Tidak." Xaviera kembali diam setelahnya. Membuat lelaki itu penasaran akan apa yang terjadi pada adik sekaligus kekasihnya itu.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
Xaviera menatap lelaki di sampingnya sambil memaksakan senyum lalu menggeleng dan berkata tidak.
"Aku hanya tidak nyaman jika kita terlalu dekat, maksudku ... kau tahu sendiri bagaimana Airia selalu memandangku tak suka tiap kali aku berdekatan denganmu."
Dapat Xaviera dengan helaan napas Blade. "Kita sepasang kekasih, tapi kau lebih memilih mengorbankan perasaanmu demi orang lain yang bahkan tidak memikirkanmu walau hanya sedetik."
"Tidak seperti itu, hanya saja ini rumit bagikuー"
Belum selesai Xaviera mengucapkan penjelasannya, suara dari bawah terdengar nyaring menyuruh keduanya untuk turun.
Xaviera memberikan kode dengan melingkarkan ibu jari dan jari telunjuk membentuk huruf O besar pada Lavina, gadis itu memang memiliki suara paling nyaring di antara yang lain.
Blade tersenyum menyeringai setelah Lavina pergi. Lelaki itu mendorong Xaviera dan melompat turun dari atap langsung ke lantai satu, di depan pintu.
Gadis itu melakukan beberapa gerakan akrobat dan berakhir mendarat dengan selamat. Berbalik dan menatap Blade yang berada di belakangnya dengan kesal.
"Jika ingin membunuhku maka lakukan di tempat yang lebih tinggi seperti puncak itu." Xaviera menunjuk ke sebuah tebing yang berada tak jauh dari tempat tinggal mereka.
Blade hanya terkekeh melihat Xaviera yang kesal hingga wajah gadis itu memerah karena amarah yang meluap.
Xaviera meninggalkan Blade yang masih terkekeh dan berjalan ke dalam rumah dengan menghentakkan kakinya kasar.
"Hei, rumah ini bisa roboh jika kau berjalan seperti itu, Xaviera!" tegur Delucia.
Gadis itu hanya mengerucutkan bibirnya, namun wajahnya kembali senang ketika seseorang menyodorkan sepotong daging tepat di depan hidungnya.
"Terima kasih." Senyumnya luntur ketika tahu bahwa Blade yang menyodorkan makanan untuknya.
"Jangan bertengkar terus, sebaiknya kita selesaikan makan siang dan membahas masalah semalam," saran Lavina sambil mengunyah daging miliknya.
Xaviera tersedak makanannya, ia menatap Luke yang juga kini tengah menatapnya tajam seolah lelaki itu akan menguliti Xaviera.
"Benar juga, aku belum memberitahu yang lain tentang tadi malam." Gadis itu menepuk dahinya sendiri.
"Tidak perlu, lupakan saja kejadian tadi malam. Lagipula aku baik-baik saja."
Kini giliran Airia yang terbatuk. "Tunggu dulu, bahkan kemarin kau marah besar karena nyawamu terancam, kau sendiri yang bilang kalau panah itu diracun." Airia menatap curiga pada Xaviera.
"Maaf aku yang salah, ternyata yang membuat jebakan itu adalah Luke." Semua orang langsung menatap tajam lelaki yang tampak asik makan itu.
Luke menatap Xaviera dengan tatapan menuntut. Gadis itu bilang takkan membeberkan kejadian semalam, tapi ia malah mengungkapnya sekarang.
Xaviera yang paham akan arti dari tatapan mematikan Luke langsung mengangguk samar, mengatakan pada Luke lewat anggukan itu jika semuanya akan baik-baik saja dan kembali mengoceh.
"Panahnya tertukar dengan panah yang sudah diberi racun untuk memburu hewan, jadi racun itu tidak mematikan. Aku lupa satu hal, ibuku pernah memberitahukan padaku jika aku tidak bisa mati karena racun."
Xaviera menggaruk tengkuknya sambil memamerkan cengiran khas miliknya. "Maaf membuat kalian khawatir," ujarnya bersalah. "Maaf karena telah berbohong juga," sambungnya dalam hati.
"Nanti sore kita akan kembali berlatih pedang, persiapkan dirimu Xaviera!" Lavina yang bertugas mengajarinya beranjak dari sana setelah melihat anggukan semangat dari adik bungsunya.
Setelah makan siang, Xaviera diseret paksa oleh Airia ke sebuah tempat yang tak jauh dari kediaman mereka.
Tempat itu asing bagi gadis kecil tersebut karena baru pertama kali menginjakkan kaki ke sana.
Sebuah tempat dengan banyak aliran sungai, seolah tempat itu memang di kelilingi sungai dari semua arah.
Sepertinya tempat itu sedikit lebih tinggi karena kabut menutupi dari segala penjuru, membuat siapa pun kesulitan melihat apa yang ada dan terjadi di dalamnya.
Aliran sungai yang deras serta banyak juga akan menyamarkan suara dan bising dari dalam. Benar-benar tempat yang cocok untuk beristirahat sejenak.
"Kenapa membawaku kemari?" tanya Xaviera tampak bingung, pasalnya sebentar lagi ia akan berlatih pedang dengan Lavina dan ia harus mempersiapkan pedang miliknya.
Tanpa diduga, Airia menyerang Xaviera dengan elemen airnya. Gadis itu tak sempat menghindar dari serangan dadakan Airia hingga terpental dan terjatuh ke dalam sungai, syukurlah sungai itu dangkal.
Airia membuat kerangkeng kecil dari air yang cukup untuk mengurung Xaviera yang masih terjerembab di air.
Gadis itu begitu terkejut akan serangan dadakan sampai lupa untuk membalas serangan.
"Katakan padaku apa yang kau coba sembunyikan dari kami, gadis kecil!" sentak Airia.
"Apa maksudmu?" tanya Xaviera, gadis itu mencoba melepaskan diri dari kurungan tersebut, tapi sepertinya Airia memperkuat sihirnya pada kurungan dan ia belum ahli dalam mengendalikan elemen air selama ini.
"Aku tahu kau berbohong pada kami, apa Luke pengkhianatnya? Jika iya, aku akan benar-benar menghancurkan lelaki itu dengan tanganku," kata Airia kejam.
Xaviera tampak heran dengan Airia, ia kesal karena dituduh kemarin atau ia kesal karena hal lain?
"Kenapa kau ingin membunuhnya?" tanya Xaviera selugu mungkin.
"Dia pasti mengincar benda itu juga, sedangkan tugasku adalah menjaganya. Jika dia melukaimu maka aku yang akan melukainya sebagai balasan!" Xaviera tersenyum, ia tahu jika kakaknya ini perhatian padanya, hanya saja ego lebih mendominasi.
"Tenang saja, Putri. Tapi saya akan baik-baik saja!" Xaviera menggumamkan sesuatu dan mengepalkan tangannya lalu merengangkannya.
Seketika penjara kecil itu hancur menjadi buliran air biasa. Airia tampak terkejut dengan hal itu.
Xaviera lantas berdiri dan menyerang balik. Ia membuat cambuk dan sebilah pedang dari air lalu menyerang Airia tanpa celah.
Gadis itu bahkan kelimpungan, ia bingung bagaimana Xaviera bisa mengendalikan air hingga sehebat ini padahal dirinya selalu malas mengajari gadis itu.
Airia yang tak mau kalah akhirnya melancarkan serangan balasan. Ia juga membuat dua bilah pedang dari air dan menyerang Xaviera balik.
Meski terbuat dari air, tapi kedua pedang yang saling beradu membuat desingan yang memekakkan telinga seperti pedang dari besi.
Kedua gadis itu bertarung tanpa ampun, bahkan Airia kini menunjukkan seringai miliknya, menikmati pertempuran yang menarik.
Satu pedang Airia ia arahkan ke kaki Xaviera, namun gadis itu dapat menghindar dengan melompat. Cambuk di tangannya ia gunakan untuk mengambil satu pedang di tangan Airia.
Karena gadis itu lengah, akhirnya pedang di tangannya terjatuh. Airia yang geram kembali menyerang Xaviera.
Tak ada yang menghentikan pertarungan ini meski keduanya sudah kelelahan dan terluka, bahkan bercak darah ada di mana-mana.
Xaviera kembali menyerang area fatal musuh dan berhasil menjatuhkannya. Pedang Airia lepas dari kendalinya dan Xaviera memungut pedang tersebut lalu menempelkannya di leher Airia.
"Bagaimana kemampuan elemen air dan pedang milikku, Kak?" kata Xaviera, gadis itu tersenyum senang meski terengah-engah karena lelah.
Airia mengangkat kedua tangannya pertanda ia kalah. Pedang yang dibawa si gadis melebur kembali menjadi air dan keduanya jatuh terduduk.
"Dari mana kau belajar membuat s*****a dari air? Aku tidak pernah mengajarimu." Xaviera kembali tersenyum.
Ia melemparkan beberapa gulung perkamen yang telah ia pelajari selama ini. Airia tersenyum mengejek setelah melihat isinya.
"Sepertinya raja dan ratu kerajaan elemen kehidupan memang sudah memprediksi kejadian ini di masa lalu, sampai mereka bahkan memberikan perkamen ini padamu. Aku yakin tak hanya air, kau memiliki tiga perkamen lainnya bukan?"
Xaviera sedikit tercengang saat Airia tahu jika orang tuanya yang memberikan itu padanya. Tapi hanya sesaat, ia kembali tersenyum meski tipis.
"Sepertinya latihan pedang bersama Lavina harus dibatalkan mengingat muridnya sudah berlatih dengan guru lain dan berhasil melucuti senjatanya."
Aira berguling hingga tercebur ke air, tak lama gadis itu keluar tanpa luka sedikit pun. Air memanglah sesuatu yang ampuh untuk mengobati luka Airia.
Sementara Xaviera harus meditasi bersama kekuatan alam untuk memulihkan energinya, tetapi sepertinya itu akan dilakukannya nanti. Ia harus pulang, jika tidak ketiga kakaknya yang lain akan cemas karena ia menghilang begitu saja.
Airia sudah menghilang dari sana. Gadis itu hanya mengembuskan napas kesal karena ditinggal, syukurlah ia mengingat jalan menuju kemari.
Hanya butuh beberapa menit untuknya sampai di kediaman. Lavina yang menunggu di luar tadinya ingin mengomeli Xaviera karena membolos kelas pedangnya, tetapi melihat kondisi gadis itu Lavina langsung berteriak dan berlari ke arahnya.
"Apa yang terjadi padamu, Xaviera?" Gadis yang ditanyai itu mengerutkan kening, Airia pasti belum memberitahukan pada mereka.
"Maaf, Kak. Aku tidak sengaja membolos kelas, tadi aku sudah berlatih pedang dan sekarang aku perlu makan." Tepat ketika itu suara perut Xaviera berbunyi nyaring.
Gadis itu memang sudah mandi sebelumnya di sungai, hanya saja bajunya masih berlumuran darah bekas pertarungan tadi.
Lavina membawa Xaviera masuk ke dalam dan sesuai dugaannya semua orang kecuali Airia terkejut.
"Apa yang terjadi padamu?"
"Apa ada yang menyerangmu lagi, Xaviera?"
"Kenapa bisa sampai seperti ini?"
Semua pertanyaan itu membuat Xaviera pusing. Ia menatap Airia dengan tatapan memohon agar gadis itu saja yang menjelaskan sementara dirinya akan berganti baju di kamar.
Airia hanya menjulurkan lidahnya, mengejek adiknya yang sudah lelah itu karena kehabisan energi.
"Jika kalian ingin tahu, tanyakan saja pada Airia. Aku harus ganti pakaian." Xaviera segera berlari kilat ke arah kamarnya sementara Airia dihujani tatapan tajam dari semua orang.
to be continue