6. Kisah

1083 Words
Kondisi Taluna yang membaik membuat bayi perempuan itu sudah diizinkan oleh dokter untuk keluar rumah sakit. Itu merupakan kabar bahagia bagi Chandra. Namun di sisi lain, dirinya merasa khawatir apabila tidak bisa merawat Taluna jika sewaktu-waktu terjadi sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan putrinya itu. Chandra tidak bisa berhenti mengingat ucapan Dokter Saraz bahwa Taluna memiliki fisik yang lemah, sehingga butuh perhatian ekstra. Sedangkan dirinya juga memiliki tanggung jawab untuk mengelola perusahaan. Chandra tahu jika Taluna sejak lahir telah dirawat oleh Dahlia dan Asima, tetapi entah mengapa ia merasa tidak cukup. Kemunculan Selina yang notabene-nya sebagai saudari kembar Regina membuat Chandra terguncang. Apalagi dengan fakta bahwa wanita itu ingin merawat dan menjaga Taluna. Akhirnya Chandra menerima saran Dokter Saraz dan membawa pulang Taluna bersama dengan Selina. Meski ia sendiri kurang yakin apakah hal itu adalah jalan yang terbaik. Terkejut dan tak bisa berkata apa-apa. Itulah gambaran yang Chandra lihat ketika melihat raut wajah Dahlia dan Asima serta asisten rumah tangga lainnya saat mereka baru tiba di rumah. Terutama saat Selina muncul dengan menggendong Taluna. "Asima, bawa Taluna ke kamarnya," perintah Chandra, lalu melirik Selina. "Aku ingin bicara denganmu." Selina tidak membalas dengan apapun dan hanya menyerahkan Taluna yang masih terlelap kepada Asima. Ia kemudian berjalan mengikuti Chandra masuk ke sebuah ruangan. Chandra membawa Selina ke ruang kerjanya. Ia mempersilakan wanita itu untuk duduk di sofa dan dirinya sendiri duduk di hadapan Selina dengan raut wajah serius. "Kau bisa melihat bukan bagaimana mereka menatapmu," kata Chandra tentang reaksi asisten rumah tangganya. "Itu wajar. Aku rasa mereka juga tidak mengetahui bahwa Regina memiliki kembaran," balas Selina pelan. Chandra menarik napas pendek. "Apa kau yakin ingin merawat Taluna? Lalu sampai kapan dan sebagai apa?" Jika orang lain, Chandra bisa dengan mudah menunjuk orang tersebut sebagai pengasuh Taluna. Namun melihat kondisi Selina maka tentu saja akan berbeda. Selina terdiam. Selama ini keinginannya memang hanya ingin bersama Taluna, tetapi mengingat Taluna tinggal dengan Chandra maka membuatnya juga bingung. "Aku akan menjadi pengasuh Taluna sampai ... sampai dia mulai tumbuh besar. Seperti bisa berjalan dan bicara," ujar Selina yang sadar akan posisinya. Chandra menghela napas. "Baiklah. Meski kau adalah pengasuh Taluna, tetapi ... kau juga adik dari Regina." Pria itu tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Selina memiliki keterikatan dengan Taluna secara silsilah. "Kau bisa menempati kamar di sebelah kamar Taluna, lalu akan memberimu gaji perbulannya juga," lanjut Chandra membuat Selina terlonjak kaget. "Apa? Gaji? Itu tidak perlu. Aku tidak merawat Taluna untuk uang!" tolak Selina dengan mata terbelalak seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Bertahun-tahun berada di luar negeri tidak lantas membuat Selina hanya berdiam diri. Bahkan dengan uang yang milikinya sekarang, dirinya juga bisa menghidupi Taluna hingga beranjak dewasa. "Aku tidak bermaksud membuatmu tersinggung, tetapi jika kau ingin menjadi pengasuh Taluna maka syarat dan ketentuan berlaku," jelas Chandra berusaha tenang. Chandra selalu memikirkan kesejahteraan orang yang bekerja dengannya. Tidak terkecuali terhadap Selina. Jika ditelisik lebih dalam, Chandra merasa Selina tidak mempunyai kewajiban untuk merawat dan membesarkan Taluna. Namun apabila Selina bersikeras melakukannya, maka Chandra sebagai Ayah Taluna harus memastikan orang yang menjaga putrinya tidak kekurangan apapun. Chandra tentu tidak mau perhatian Selina suatu saat akan terbagi antara pekerjaan dan merawat Taluna, sehingga menurutnya inilah jalan terbaik. Meski pria itu harus memaksa Selina menerima uangnya. Selina mengepalkan tangannya. "Lalu katakan syarat yang lainnya?" "Kurasa akan terlalu berat jika membahasnya sekaligus sekarang. Kau juga perlu persiapan untuk pindah ke sini, jadi kita bisa melakukannya besok atau lusa," jawab Chandra yang sejujurnya ingin membuat kontrak dengan Selina. Isi kontrak terperinci yang membuat kedua belah pihak tidak dirugikan. Selina terdiam beberapa saat. "Baiklah. Aku akan segera berkemas." Chandra mengangguk pelan, lalu menyaksikan Selina perlahan bangkit dan keluar dari ruangannya. Ia kemudian memijit pelipisnya setelah mendengar pintu tertutup. ♡♡♡ Selina kembali ke apartemennya. Walaupun apartemennya tergolong bangunan baru dengan kelas menengah, tetapi tempat itu tampak sepi. Tidak ada furniture istimewa atau hiasan. Selina memang baru menempatinya kurang lebih enam bulan yang lalu. Sesaat setelah berada di dalam, Selina langsung menuju kamarnya. Ia merebahkan badannya di atas ranjang seolah tidak memiliki kegiatan lain yang harus dilakukannya di apartemen tersebut. Bisa dibilang, apartemen itu seolah tidak berpenghuni. Tidak ada jejak kehidupan di sana. Apalagi selama kembali ke Indonesia, Selina lebih banyak menghabiskan waktunya berdiam diri di dalam kamar. Ia juga hanya memesan makanan. Meski terbaring, nyatanya mata Selina tidak terpejam. Ia hanya menatap langit-langit kamar apartemennya. Pandangan yang kosong itu kemudian mulai tergenang dan air matanya mengalir melalui sela-sela ekor matanya. Tiba-tiba Selina terkesiap begitu mendengar suara pintu apartemennya berbunyi. Pertanda bahwa ada seseorang yang berhasil masuk ke dalam. Tak. Pintu terbuka dan menampilkan sosok pria dengan wajah cemas serta napas tersengal sedang menatap dalam ke arah Selina. "Ada apa? Digta." Pria itu perlahan melangkah. "Kenapa kau tidak mengangkat atau membalas pesanku?" "Aku sibuk." Mata pria bernama Digta itu masih menatap Selina. Ia lalu duduk di atas ranjang. "Meski begitu, setidaknya balaslah." Digta bisa melihat bekas air mata Selina. Lagi-lagi dirinya menemukan wanita itu menangis sendirian. "Baiklah. Aku mengerti," balas lemah Selina tidak menunjukkan niat untuk mengubah posisinya meski kedatangan tamu yang tak diundangnya. "Jadi bagaimana keadaan Taluna?" tanya Digta membahas keponakan Selina tersebut. "Dia sudah keluar dari rumah sakit dan selanjutnya aku akan menjadi pengasuhnya," jawab Selina apa adanya. Mata Digta membulat. "Apa? Pengasuhnya?" Selina mengangguk kecil. "Aku akan pindah dan tinggal bersama," ujarnya dengan senyuman samar. Digta terdiam seolah baru didera rasa terkejut luar biasa. "Tapi Selin—" "Digta, kumohon jangan katakan apapun. Tidak bisakah kau kali ini mendukungku saja?" pinta Selina memotong perkataan Digta. Ia mengubah posisinya menjadi duduk dan menatap lekat pria itu. Digta tidak membalas. Ia mengepalkan tangannya sambil bersitatap dengan Selina. Seolah apa yang dia genggam adalah sesuatu yang bisa menghentikan rencana Selina, tetapi menggagalkan mimpi wanita itu seperti dengan memintanya lenyap. "Jadi kau akan tinggal bersama Ayah Taluna?" tanya Digta serius. "Aku tidak punya pilihan lain dan kau tahu? Dia bahkan ingin menggajiku sebagai pengasuh Taluna," ucap Selina lalu tertawa sumbang. Digta terhenyak. Meski sudut bibir Selina menampakkan tawa dan senyuman, tetapi raut wajah kekosongan wanita tersebut tetap terlihat olehnya. Digta meneguk salivanya, menyadari akan sosok Selina yang akan mulai sulit ditemui dan dipantau olehnya jika telah pindah nanti. Padahal lebih dari siapapun, Digta lah paling tahu kondisi Selina. Selina yang berada diambang kehancuran setelah kehilangan kepercayaan, saudari dan orang tua. Hidup dalam keputusasaan dan depresi setelah keluarga yang tidak bisa lagi Selina peluk dan ucapkan rasa sayang serta permintaan maaf. Lalu ketika mendengar tentang kehadiran sosok Taluna seolah membawa harapan bagi Selina untuk menebus segalanya. ♡♡♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD