5. Kesempatan

1103 Words
"Cuti?" Mata Aryo terbelalak begitu mendengar ucapan Chandra barusan. Kata yang dulunya hampir mustahil akan didengarnya. "Putri saya sedang dirawat di rumah sakit," jelas Chandra kepada Aryo yang dipanggilnya ke rumah. Aryo terdiam. Ia tahu bosnya itu punya anak dan sang istri telah tiada. Selama ini Aryo juga jarang mendengar Chandra membahas tentang sang putri. "Baiklah. Anda mau cuti sampai kapan?" tanya Aryo memikirkan jawaban Chandra. "Satu minggu." Mata Aryo membulat. Padahal ia menebak bahwa bosnya itu hanya akan mengambil waktu selama tiga hari. "Jadi selama saya cuti. Kau mengurus segalanya, bersama direksi lain. Jangan menghubungiku, kecuali benar-benar penting," ucap Chandra beserta peringatannya. Aryo meneguk saliva. Ia mengangguk singkat, sebelum akhirnya sadar ketika sang bos akan keluar dari ruangan. Aryo mengantar kepergian Chandra sampai di depan pintu utama kantor, di mana sopir telah menunggu. "Aku mengandalkanmu Aryo. Selamat bekerja," ucap Chandra sebelum masuk ke dalam mobil. Aryo hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tahu harinya akan lebih berat dan sibuk dengan rehatnya Chandra. Namun entah mengapa ia juga senang melihat pria itu bisa memprioritaskan sesuatu yang berharga daripada pekerjaan. Aryo tahu bahwa Chandra hanya menomorduakan pekerjaan saat menyangkut Regina. Kini hal tersebut mulai tergantikan. Pada sisi lain, Chandra mulai mengarah menuju rumah sakit. Begitu sampai di parkiran, tanpa pikir panjang dirinya langsung menuju kamar rawat Taluna. Wajahnya Chandra sempat semringah saat membuka pintu, namun berubah menjadi datar ketika mengetahui siapa yang telah terlebih dahulu berada di sana. Sekali lagi, Chandra belum terbiasa melihat sosok Selina. Meski secara kepribadian dan pembawaan, Selina dan Regina sangat berbeda. Hanya saja wajah keduanya benar-benar mirip. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Chandra mendekat. Ia melirik sosok Taluna yang masih tertidur. "Tentu saja melihat keponakanku," jawab Selina. "Aku juga melihat pengasuh Taluna kelihatan kelelahan dan memintanya pulang untuk istirahat sekaligus membersihkan diri." Rahang Chandra mengeras. "Apa hakmu menyuruh-nyuruh pengasuh yang aku pekerjakan sendiri?" "Asima. Itu namanya bukan? Jika dia tumbang saat menjaga Taluna, maka menurutmu apa yang bisa terjadi?" balas Selina tak gentar. Chandra sadar bahwa Asima juga perlu menjaga kesehatannya agar bisa terus menjaga dan mengawasi Taluna. Namun ia tidak ingin kalah dari wanita yang hanya berstatus saudari dari istrinya yang datang entah darimana, lalu ingin mengambil alih Taluna. "Mulai sekarang aku yang akan menjaga Taluna sendiri." Selina tertawa sumbang. "Kau yang tergila-gila pada pekerjaan, hingga pulang untuk makan malam saja tidak sempat?" Chandra terkesiap. Seberkas ingatakan akan ucapan Regina langsung muncul dan membuat dadanya sesak. "Apa pekerjaan Mas Chandra memang sebanyak itu sampai tidak bisa pulang lebih cepat dan makan malam bersama?" Chandra menatap nanar Selina seolah Regina telah menuangkan segala keluh kesah tentangnya kepada wanita itu. Dan yang terpenting adalah ... apakah Regina begitu kecewa padanya selama ini? "Hanya karena kau tidak menyukainya. Bukan berarti kau bisa melarangku untuk mendampingi Taluna, apalagi disaat seperti ini," tegas Selina. "Apa hakmu?" tanya Chandra tidak ingin Selina semakin tinggi hati. "Ini bukan tentang hak, tetapi kewajiban yang harus aku lakukan demi Regina." Baru saja Chandra akan membalas, sebelum suara tangis Taluna pecah. Tanpa sadar suara kedua orang dewasa itu telah membangunkan bayi yang harusnya istirahat dengan tenang. Tidak ingin didahului, maka Chandra segera bergerak untuk mengambil Taluna dan menggendongnya. Suara tangisan bayi itu semakin besar, sehingga membuat Chandra panik. Begitupula Selina. "Taluna, ada apa sayang?" Suara Chandra dengan lembut berusaha menenangkan tangisan Taluna. Namun Taluna masih menangis, hingga wajah bayi itu memerah. Selina tidak bisa diam begitu saja. Ia berusaha mendekati Taluna, meski Chandra berusaha memalingkan tubuh dengan membelakanginya. "Ada apa ini?" Suara wanita terdengar dan begitu Chandra berbalik. Ia mendapati Dokter Saraz telah berada dalam kamar. Akhirnya Dokter Saraz mengambil alih Taluna dan memeriksa bayi tersebut. Ia mengatakan bahwa suhu tubuh Taluna kembali menghangat dan bayi tersebut dalam kondisi lapar. "Kurasa Taluna menyukai belaian Mbak Selina," tukas Dokter Saraz melirik Chandra sekilas. Selina hanya mengumbar senyuman tipis. Ia terus mengelus tangan mungil Taluna dengan lembut. "Ndra, aku mau bicara sebentar," bisik Dokter Saraz memberi isyarat untuk mengajak Chandra mengobrol di luar. Chandra melihat sebentar ke arah Taluna yang telah kembali tertidur, sekaligus Selina yang tampak tidak menghiraukan keberadaannya sebagai ayah Taluna. Akhirnya Chandra menyetujui permintaan Dokter Saraz. Mereka pun mengobrol di ruangan Dokter Saraz. "Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Chandra duduk di sofa. Sedangkan Dokter Saraz mencoba menyeduh kopi dengan memanaskan air terlebih dahulu dengan ketel listrik. Ia menghela napas pendek. "Aku sedikit terkejut melihatmu datang ke rumah sakit pagi-pagi," ucap Dokter Saraz tidak menjawab pertanyaan Chandra, melainkan membahas kehadiran pria itu. Aroma kopi langsung menyeruak ke seluruh ruangan begitu Dokter Saraz menyeduh kopi arabica. Ia lalu membawa dua cangkir untuk dirinya dan Chandra, lalu duduk di depan laki-laki itu. "Aku mengambil cuti." Dokter Saraz tersenyum tipis mendengarnya. "Pilihan yang bagus." Chandra memejamkan matanya sekilas. Sekelumit pikiran terus berputar di kepalanya. "Bagaimana keadaan Taluna? Kapan dia bisa keluar?" Dokter Saraz terdiam sesaat. "Setelah aku mendengar tentang penyakit Regina dan melihat hasil pemeriksaan Taluna. Kurasa Taluna memiliki daya tubuh yang lemah. Dia butuh perhatian lebih dan seseorang yang bisa merawatnya hingga Taluna bisa tumbuh lebih besar." "Aku mulai memerhatikan tentang hal itu. Mungkin menambah pengasuh dan lebih teratur untuk pulang bekerja," ujar Chandra dengan rencananya. Dokter Saraz sekali lagi terdiam. "Aku tahu ini di luar kewenanganku, tetapi apakah kamu pernah berpikir untuk membiarkan Selina ikut merawat dan menjaga Taluna?" Mata Chandra membulat. "Apa? Selina?" "Daripada merekrut pengasuh dari luar, kurasa Selina lebih baik. Dia saudari dari Regina yang terlihat sangat menyayangi Taluna. Percaya atau tidak, aku bisa merasakan bahwa Taluna juga menyukainya," jelas Dokter Saraz dengan hati-hati. "Tidak, tidak. Aku belum tahu tujuannya yang tiba-tiba muncul setelah bahkan sekian lama meninggalkan Indonesia," tolak Chandra waspada. "Tapi ingatlah, karena dirinya juga kau bisa tahu tentang apa yang Regina alami dan rasakan ketika mengandung Taluna. Kurasa Regina benar-benar mempercayai dan memberi amanah pada Selina untuk menjaga Taluna," kata Dokter Saraz berusaha menyakinkan Chandra. "Lihatlah Selina sebagai bibi yang ingin melihat tumbuh kembang keponakannya, Taluna," lanjut Dokter Saraz membuat Chandra menatap sepupunya itu. "Apa maksudmu?" "Selina bukanlah Regina. Jangan mau terbayangi akan hal itu," jawab Dokter Saraz bisa melihat Chandra yang masih sering melihat sosok Selina sebagai Regina dalam hal penampilan. Chandra tersenyum sinis. "Mereka sangat berbeda. Dia tidak bisa dibandingkan dengan Regina," katanya berpikir bahwa ucapan Dokter Saraz terdengar konyol baginya. "Tetapi kau akan menerimanya bukan, jika Selina ingin menjadi pengasuh Taluna?" tanya Dokter Saraz memastikan. Chandra berpikir sejenak. "Ya, aku akan memberinya masa percobaan. Sekaligus ingin menyelidiki motif kemunculannya itu." Chandra berpikir untuk mencari tahu daripada terus berusaha menjauhkan Taluna dari sosok Selina yang terlihat gigih. Ia yakin bisa membuktikan bahwa Taluna tidak membutuhkan Selina dan bayi perempuan itu hanya perlu dirinya sebagai ayah untuk tumbuh bersama. ♥︎♥︎♥︎
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD