4. Malaikat Tak Bersayap

1119 Words
Chandra yang sempat kehilangan akalnya dengan memeluk Selina kemudian menjadi tersadar bahwa dia bukanlah sang istri. Meskipun setiap melihat wajah Selina maka hatinya akan meringis, karena kemiripan Regina yang bahkan dirinya sulit menemukan di mana perbedaannya. "Apa tujuanmu datang ke sini?" tanya Chandra menyelidik. Sejak mengenal Regina, ia belum pernah bertemu atau berkomunikasi dengan Selina. Bahkan wanita itu tak datang ke pernikahan mereka. Tentu saja Chandra merasa aneh dengan kemunculan Selina. "Aku ingin merawat Taluna." Kening Chandra berkerut mendengarnya. "Apa? Maksudmu kau ingin mengambil Taluna?" "Taluna adalah keponakanku." "Taluna adalah anakku." Napas Asima tercekat mendengar dua orang yang kini saling mengklaim Taluna. Chandra menyungging senyuman miring. "Mari kuperjelas, kau hanyalah bibi Taluna yang bahkan sebelumnya tidak pernah terlihat oleh Regina dalam kehidupannya bersamaku. Lalu kau datang dan ingin merawat Taluna?" "Jika memang anda adalah ayahnya, kenapa meninggalkannya sendirian di rumah sakit? Taluna sedang sakit dan dia hanya punya anda," balas Selina. Chandra melirik Asima sekilas. "Pengasuh tidak akan sepadan dengan kehadiran orang tua. Apakah pekerjaan anda lebih penting dari kondisi Taluna saat ini?" Selina telah datang dua jam dan melihat bagaimana Taluna yang masih berjuang dengan rasa sakitnya. Alih-alih berharap bayi itu dikuatkan oleh orang tuanya, ia hanya bisa melihat pengasuh yang menjaganya. Chandra bisa melihat mata Selina yang menyalak. Pemandangan yang tak pernah Regina tunjukkan. Wanita yang dicintainya itu selalu menatapnya dengan penuh kelembutan. "Kau tidak punya urusan apapun dengan kehidupan Taluna saat ini. Kau hanya bibinya secara biologis, jadi pergilah," usirnya dengan nada datar. Selina tidak bergeming. Ia bahkan telah mengepalkan tangannya. "Regina memintaku agar bisa menjaga Taluna." Rahang Chandra mengeras. "Jangan berdusta, untuk apa Regina memintamu melakukannya. Dia masih punya aku." Selina tertawa sumbang. "Bagaimana aku bisa mengetahui keberadaan Taluna? Regina yang memberitahuku sejak Taluna masih dalam kandungan. Hal yang kusesali adalah tidak mengetahui ... bahwa persalinan Regina akan menjadi alasan Regina meninggalkan dunia ini." Ia mulai tidak bisa menahan air matanya. Tinggal di Australia dengan hubungan yang tidak baik dengan sang ayah begitupula keluarga besarnya membuat dirinya sulit mengetahui apa yang terjadi di Indonesia. Bahkan Selina baru mengetahui kematian Regina setelah dilakukan pemakaman. Chandra mengerjap. Ia sama sekali tidak tahu akan komunikasi antara Regina dan Selina, karena sang istri tidak pernah bercerita. "Sejak dalam kandungan?" ulangnya merasa janggal akan hal itu. "Meski kami berpisah jarak, belum tentu hubungan kami sebagai saudari berakhir juga," ucap Selina kali ini tersenyum tulus. Mengingat momen di mana Regina selalu berusaha menjalin komunikasi dengannya. "Regina menderita kanker darah stadium awal." Dunia Chandra terasa runtuh mendengar pernyataan Selina. "Setelah mengetahuinya Regina kemudian menceritakannya, termasuk merahasiakan ini kepada siapapun. Dia sengaja tidak memberitahumu, karena tidak ingin menjalani pengobatan yang bisa berdampak pada Taluna yang sedang dikandungnya," tutur Selina mengingat kenangan tersebut. Regina yang menangis terseduh saat menceritakan segalanya. "Itu tidak mungkin," ucap Chandra tidak menerima perkataan Selina. "Bukankah selama mengandung Regina lebih sering melakukan pemeriksaan seorang diri karena anda sibuk dengan pekerjaan?" Sekali lagi pernyataan Selina seolah menampar Chandra saat ini. Pria itu pun tidak memungkiri hal tersebut, karena selama kehamilan dirinya juga sedang mengerjakan proyek besar. Chandra selalu mempercayakan Regina yang didampingi Dahlia setiap kali melakukan pemeriksaan. Ia hanya akan mendengar hasil pemeriksaan yang selama ini hasilnya bagus berdasarkan pernyataan Regina. Baru saja Chandra ingin membuka mulutnya untuk bertanya lebih lanjut, sebelum pintu diketuk dan perawat masuk untuk memberi obat kepada Taluna. Akhirnya Selina memilih pamit, tetapi sebelumnya ia mendekati ranjang Taluna dan menyentuh tangan bayi perempuan tersebut. Chandra hanya bisa memandangi kepergian Selina. Jika awalnya ia ingin mengusir wanita itu, maka kali ini dirinya berharap Selina akan datang lagi. Masih ada sejuta tanya dalam kepalanya tentang Regina. Ia tidak menduga bahwa kepergian Regina bukan berarti kisah istrinya itu selesai. ♥︎♥︎♥︎ "Chandra, sebaiknya kamu pulang dulu," ucap Dokter Saraz yang telah datang lagi ke kamar rawat Taluna. Jarum jam telah menunjukkan pukul sembilan malam dan Chandra masih memakai setelan kantor. "Tidak apa-apa. Lagipula Asima sekarang pergi makan malam bersama yang lainnya," balas Chandra merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga Taluna saat ini. "Kan ada aku. Kebetulan malam ini bukan jam jagaku, jadi aku bisa memantau keadaan Taluna. Pulanglah berganti pakaian dan makan. Kau bisa datang lagi nanti," celoteh Dokter Saraz. Chandra terdiam sesaat. Selain memikirkan ucapan sepupunya itu, ia juga teringat akan ucapan Selina dan memiliki sesuatu untuk dilakukan di rumah. "Baiklah. Aku titip Taluna dan segera kembali," ujar Chandra bangkit dan meninggalkan rumah sakit. Sesampainya di rumah, Chandra tidak langsung mandi dan berganti pakaian. Melainkan ia menuju ruang kerjanya. Membuka laci meja yang terdapat brankas di dalamnya. Chandra menekan kata sandi brankas untuk membukanya. Ia menarik napas panjang sebelum mengambil sebuah ponsel. Mencoba menyalakannya, tetapi gagal karena baterai yang habis. Setelah mengambil pengisi daya, Chandra menyambungkannya dengan ponsel tersebut. Itu adalah ponsel milik Regina. Setelah aktif sepenuhnya, Chandra mulai membukanya. Beruntung Regina bukan tipikal orang yang suka hal-hal rumit. Salah satunya memberi kata sandi pada ponselnya, sehingga Chandra bisa leluasa mengeceknya. Selama ini Chandra tidak pernah berpikir untuk mengecek ponsel Regina, bahkan ketika wanita itu masih hidup. Mereka saling menghormati privasi masing-masing. Apalagi di mata lelaki itu, Regina sangat terbuka padanya. Kecuali fakta tentang Selina. Setelah menelisik ke dalam ponsel. Chandra menemukan pesan percakapan antara Regina dan Selina, termasuk foto hasil pemeriksaan Regina yang dinyatakan mengidap kanker darah. Kini Chandra benar-benar mempercayai akan kondisi Regina saat itu. Mata pria itu seketika berkaca. Rasa sesak dan nyeri langsung menghantam dadanya. Hal itu berlanjut sampai pada percakapan dua saudari kembar tersebut. Regina : Sel, aku takut kalau Mas Chandra akan memintaku berobat. Selina : Tapi kondisimu juga sama pentingnya agar bayi itu bertahan. Regina : Nanti, ketika usia kandunganku sudah lumayan. Selina : Aku pikir dia akan mengerti kondisimu. Regina : Kau tahukan sebelumnya bahwa untuk mendapatkan bayi ini kami bahkan sempat beradu pendapat. Meski selama kehamilan Mas Chandra mulai memberikan perhatiannya secara perlahan, tetapi aku bisa melihat bahwa dia belum siap. Regina : Aku tidak bisa membayangkan jika Mas Chandra mengetahuinya dan kondisiku harus memilih antara bayi ini atau melakukan pengobatan, maka dia pasti mengabaikan bayi ini tanpa ragu. Selina : Jika kondisi itu terjadi, maka aku juga pada pilihan yang sama. Chandra menjatuhkan ponsel di atas meja. Air matanya tidak tertahankan. Tidak menyangka bahwa selama kehamilan Taluna, Regina mengkhawatirkan akan pilihannya. Ia tidak menampik bahwa dirinya akan memilih Regina. Namun membayangkan wanita itu dalam ketakutan dan rasa sakit membuatnya benar-benar lemas. Chandra menyadari satu hal bahwa selama ini ia selalu berpikir kelahiran Taluna adalah sebab kematian Regina. Namun ternyata Regina telah lama mengorbankan dirinya demi Taluna bisa terlahir di dunia. Rasa cinta Regina yang terlalu besar kepada Taluna mengalahkan rasa sakit wanita tersebut. Namun di atas itu semua, Regina berhasil membawa Taluna ke dunia. "Maafkan aku sayang," lirih Chandra menutup mata dengan sebelah tangannya, sementara air matanya terus mengalir. ♥︎♥︎♥︎
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD