3. Bawa Dia Kembali

1232 Words
Dirawat pada rumah sakit yang sama dengan Taluna membuat Dahlia ingin melihat malaikat kecil tersebut setelah Asima mengabarkan tentang keadaan Taluna. Dahlia yang memakai baju pasien dengan masker tidak sampai masuk ke dalam kamar rawat inap Taluna, karena takut memperparah kondisi Taluna. "Mana Pak Chandra?" tanya Dahlia kepada Asima. Asima terdiam sesaat. "Pak Chandra sudah berangkat ke kantor. Taluna saat ini dirawat oleh Dokter Saraz." "Tapi bukankah Nona Taluna masih demam dan sulit makan?" Dahlia mengulangi perkataan Asima semalam. "Ya, kondisi Nona Taluna masih lemah," ucap getir Asima. Dahlia melongo tidak percaya bahwa majikannya lebih memilih pekerjaan di kantor daripada berada di sisi Taluna yang sedang sakit. Air matanya spontan mengalir. Pikirannya langsung melayang kepada Regina, jika saja wanita itu masih hidup maka Taluna tidak akan seperti sekarang ini. Sendirian dalam rasa sakitnya. "Sebaiknya Mbak Dahlia istirahat, supaya bisa cepat sembuh dan jaga Taluna lagi," kata Asima mengerti perasaan Dahlia. "Lagipula ada aku. Untung saja dokter bilang kalau aku sudah sembuh karena cepat berobat," lanjutnya mengisyaratkan bahwa dirinya bisa berada di dekat Taluna untuk menjaga bayi itu. Dahlia mengangguk lemah. Ia sangat ingin berada di sisi Taluna dan merawat bayi perempuan itu. Namun menyembuhkan diri sendiri dengan menjauh adalah pilihan yang terbaik. Setelah kembalinya Dahlia ke ruang perawatannya, Asima bergegas masuk ke kamar rawat Taluna. Tidak dipungkiri fasilitas kamar tersebut, bahkan setiap jam perawat akan datang untuk mengecek kondisi Taluna. Namun saat ini Dokter Saraz yang datang langsung atas permintaan Chandra. "Kondisi Taluna cukup stabil dibanding semalam, tetapi dia akan terbangun setiap beberapa waktu karena suhu tubuhnya masih panas," jelas Dokter Saraz yang juga masih kerabat Chandra. "Aku telah meresepkan obat dan akan memberikannya langsung kepada perawat. Jadi anda tidak perlu khawatir," lanjut Dokter Saraz bersiap untuk pergi. "Terima kasih Dok," balas Asima merasa kedatangan Dokter Saraz sangat membantu. Ia sendiri cukup kebingungan menghadapi kondisi di mana seorang bayi sakit, karena belum merasa menjadi seorang ibu. Dokter Saraz mengangguk singkat sambil tersenyum. "Aku akan mengabarkan kondisi Taluna secara langsung kepada Chandra. Kalau begitu sampai jumpa lagi nanti." Sepelas kepergian Dokter Saraz, kamar rawat Taluna hanya diisi oleh Asima yang berjaga. Setiap menit berlalu terasa lambat bagi Asima, padahal perempuan itu berharap jam segera menunjukkan pukul lima sore. Yaitu waktu di mana pekerja telah pulang. Tak lain tak bukan adalah menantikan sosok ayah Taluna yang datang untuk melihat kondisi sang putri. Asima pun teringat sosok akan kedua orang tuanya di kampung. Ia masih mengingat momen ketika dirinya mengalami tipes ketika SMA dan harus dirawat di rumah sakit. Sang ayah selalu datang ke rumah sakit setelah seharian bekerja di kebun. Lalu ayahnya itu akan muncul dengan membawakan makanan favoritnya. Asima menatap sekeliling. Meskipun kamar rawat Taluna jauh lebih baik bahkan dengan fasilitas yang nyaman, tetapi dirinya merasa itu tidak sebanding dengan apa yang dulu dirasakannya meski hanya dirawat pada kamar ekonomis yang bahkan kipas angin pun tidak ada. Sibuk memandangi wajah Taluna yang kadang menunjukkan berbagai ekspresi meski matanya terpejam membuat Asima terkesiap begitu mendengar suara ketukan pintu. Perempuan itu bangkit menuju pintu. Mengira bahwa mungkin perawat yang datang mengecek kondisi Taluna sesuai ucapaan Dokter Saraz tadi. Apalagi waktu masih menunjukkan pukul dua siang lebih beberapa menit. Namun begitu membuka pintu, Asima menjadi terperanjat. Ia bahkan menutup mulut dengan sebelah tangannya, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Bulu kuduknya berdiri dengan mata terbelalak. "Apa Taluna ada di sini?" ♥︎♥︎♥︎ Chandra penutup rapat setelah yang berjalan alot selama tiga jam. Suasana hatinya menjadi kacau karena beberapa tim proyek kerja yang menurutnya kurang maksimal. Setelah ruang rapat mulai kosong, pria itu mengeluarkan ponsel dari saku jas yang dipakainya. Mode diam tidak membuat Chandra sadar bahwa sudah masuk beberapa pesan dan panggilan suara. Dahinya mengernyit, karena salah satu panggilan tersebut adalah Asima. Asisten rumah tangganya itu bahkan meneleponnya sampai tiga kali. Chandra menarik napas pendek, lalu membuka pesan terlebih dahulu. Nama Dokter Saraz lebih mendominasi. dr. Saraz : Kurasa Taluna masih butuh banyak istirahat. Aku sudah meresepkan obat. dr. Saraz : Meskipun badannya masih panas, tapi dia akan membaik setelah tidur pulas dan obatnya bekerja. dr. Saraz : Chandra, kau tahu bukan bahwa kau bukan hanya direktur, tetapi juga seorang ayah? Chandra memejamkan matanya sekilas. Ia tidak membalas pesan Dokter Saraz dan lebih penasaran tentang panggilan Asima yang tidak dijawabnya. Akhirnya ia memutuskan menelepon balik asisten rumah tangganya itu. "Halo Pak." Chandra cukup terkejut bahwa teleponnya langsung diangkat oleh Asima. "Iya, kenapa kamu menelepon? Ada masalah dengan Taluna?" "Itu Pak ... ada yang datang melihat Nona Taluna." Chandra cukup heran, karena selama ini ia tidak memiliki keluarga yang cukup dekat untuk saling menjenguk. Setahunya orang tua Regina juga telah meninggal dunia. Namun yang paling menarik perhatian Chandra adalah suara bergetar Asima ketika membalas ucapannya. "Siapa dia?" tanya Chandra bangkit dna bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Ia belum menutup telepon. "Katanya saudari Ibu Regina, namanya Selina." Langkah kaki Chandra seketika terhenti. Ia memang belum pernah bertemu dengan saudari satu-satunya Regina, karena menurut sang istri bahwa Selina tidak berada di Indonesia sejak beberapa tahun yang lalu. Sebagai bentuk komitmen dan kepercayaan, Regina ikut menceritakan seluruh kisah hidupnya yang tidak kalah kelam dengan hidup Chandra. Hubungan dalam keluarga Regina menjadi renggang bermula dari Selina menolak perjodohan yang telah diatur secara terang-terangan dan membuat ayah Regina sekaligus Selina menjadi murka. Selina kemudian diusir dari rumah dan membuat perempuan itu tidak hanya meninggalkan Jakarta, tetapi bahkan Indonesia. Bermula dari itu, Nasyiah—Ibu Regina kemudian jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Sedangkan Pratama—Ayah Regina mengembuskan napasnya terakhirnya dua bulan setelah kematian Regina. Dalam bayang-bayang tersebut, Chandra bergegas meninggalkan kantor untuk menuju rumah sakit. Ia ingin tahu kenapa saudara Regina yang telah bertahun-tahun menghilang dan seolah mengabaikan keluarganya, kini muncul dan mengetahui keberadaan Taluna. Chandra sampai di rumah sakit lebih cepat dari perkiraannya. Ia pun berjalan cepat menuju kamar rawat Taluna dan setelah sampai, ia membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu. Pria itu lalu dapat melihat Asima berada di seberang ranjang yang ditempati Taluna, sedangkan seorang wanita tengah memunggunginya. Asima bangkit berdiri dengan wajah tegang dan Chandra dapat membaca hal tersebut. "Pak Chandra sudah datang," kata Asima membuat wanita di hadapannya, lalu berbalik badan dengan perlahan. Awalnya Chandra menunjukkan ekspresi datar dan hanya ingin tahu alasan wanita itu datang. Namun ketika melihat dengan jelas wajah wanita tersebut, pandangan Chandra seketika menjadi buram. Seolah tidak mempercayai dengan apa yang dilihatnya. "Kau...," lirih Chandra melangkah mendekati wanita itu. "Aku Selina, saudari Regina. Saudari kembarnya," ujar wanita memperkenalkan dirinya di hadapan Chandra. Chandra terkesiap. Selama ini ia memang mengetahui tentang keberadaan saudari Regina. Namun sang istri tidak pernah mengatakan bahwa mereka kembar. Di mata Chandra, wajah Selina tak ubahnya adalah wajah Regina dengan hanya perbedaan model rambut saja. "Anda pasti terkejut, karena kita belum pernah saling bertemu dan ... ya kami kembar identik," lanjut Selina kali ini mengerjap. Chandra berpikir bahwa selamanya ia hanya akan bisa membayangkan wajah Regina dalam benaknya atau dengan menatap fotonya. Namun kali ini seolah Regina tengah berdiri di depannya. Bangkit dari kematian untuk kembali padanya. "Regina," seru sendu Chandra memanggil nama sang istri yang telah tiada. Air mata Asima telah menggenang. Begitupula Selina yang menunjukkan wajah sedihnya, seolah paham tentang apa yang dirasakan oleh lelaki di hadapannya saat ini. Pikiran Chandra melayang hingga tanpa sadar terus melangkah lebih dekat dengan Selina dan dengan satu gerakan, ia mendekap tubuh wanita itu dengan pelan, hangat dan lembut. Seolah Tuhan benar-benar telah membawa kembali Regina dalam hidupnya. ♥︎♥︎♥︎
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD