2. Tutur Batin

1187 Words
Chandra membuka matanya. Ia kemudian terperanjat tidak menyangka bahwa akan tertidur di kantor. Padahal dirinya hanya berniat merebahkan punggungnya pada sofa sambil memejamkan mata. Laki-laki itu kemudian melirik jam tangannya yang telah menunjukkan pukul tiga sore. Ia pun menyadari telah tertidur selama dua jam, setelah makan siang bersama rekan bisnis. Chandra menarik napas panjang lalu bangkit menuju meja kerjanya. Ia berniat melanjutkan beberapa pekerjaan sebelum pulang. Namun ketika baru menyalakan kembali komputernya, dirinya menjadi termenung. Bagaimana tidak, wajah Regina masih menjadi wallpaper layar monitor komputer Chandra. Lelaki itu tidak berniat menggantinya, menjadikannya selalu teringat setiap kali memulai pekerjaan. Seperti saat ini. Regina yang sedang tersenyum sambil memegang bunga. Pemandangan yang begitu indah di mata Chandra. Namun semua kini hanya bayangan semu. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Tidak lama kemudian Aryo-Sekretaris Chandra masuk membawa sejumlah dokumen. "Ini adalah perjanjian kerjasama dengan Sahari Grup tentang pengerjaan lahan di Pontianak," jelas Aryo. Chandra meraih dokumen itu dan mulai membacanya. "Aku akan melihatnya dan besok rencanakan rapat dengan bagian hukum. Lalu kita bahas bersama." "Baik Pak." Selepas kepergian Aryo, maka Chandra mulai kembali bekerja. Keras seperti ketika pagi hari. Seolah rasa lelah tadi siang tidak pernah dirasakannya. Tidak hanya membaca pasal demi pasal dalam dokumen perjanjian, Chandra juga melakukan beberapa riset melalui komputernya. Termasuk mencari tahu rekam jejak Sahari Grup. Waktu terus berjalan manakala Chandra masih duduk serius di depan meja kerjanya. Pria itu baru sadar kalau jam kepulangan sudah berlalu ketika melihat matahari yang terbenam. Ia pun bangkit dan mengambil jasnya lalu meninggalkan ruangannya. Di luar masih ada beberapa staf yang belum pulang. Bukan karena pekerjaan yang menumpuk, tetapi bagi mereka, apabila bos belum pulang maka pantang pulang pula. Chandra pulang seorang diri dengan memakai mobil audi miliknya. Hari yang telah berganti malam membuat Chandra tidak menyadari bahwa langit sedang mendung. Tidak lama kemudian hujan mulai turun. Ia tidak terlalu heran, mengingat musim hujan telah datang beberapa hari yang lalu. Hujan membuat jalanan semakin macet. Chandra pun terkadang mengecek ponselnya kala mobil sama sekali tidak bisa bergerak. Ia bukan menunggu pesan atau telepon dari siapapun, tetapi melihat ke alamat surelnya. Lagi-lagi terkait dengan pekerjaan. Akhirnya setelah satu jam berjuang di jalanan ibukota, Chandra pun sampai di rumah. Baru masuk ke dalam, ia dibuat heran oleh Asima-salah satu asisten rumah tangga yang menghampirinya. "Ada apa?" tanya Chandra mengerutkan kening melihat asisten rumah tangga tersebut memakai masker. Asima mengambil jarak. "Kami ingin melaporkan bahwa kami semua terkena influenza." "Termasuk Dahlia?" tanya Chandra serius. Asima mengangguk lemah. "Mbak Dahlia bahkan telah dibawa ke rumah sakit. Dia hampir jatuh pingsan." Chandra terdiam sesaat. "Lalu Taluna?" "Ada di kamar. Kami sebisa mungkin mengurusnya dengan menjaga jarak, tapi juga khawatir akan menulari Nona," ucap Asima dengan nada cemas. "Baiklah. Tetap awasi dia. Aku ingin ganti baju dulu," ucap Chandra beranjak, lalu berhenti sebentar, "Apa kau juga merasa mau pingsan?" Asima terkejut mendengar pertanyaan majikannya tersebut. "Tidak Tuan," jawabnya segera. "Kalau begitu tinggallah, sedangkan yang lainnya segera ke rumah sakit untuk berobat atau mendapat vaksin influenza. Akan semakin merepotkan jika Taluna ... aku juga terkena," ucap Chandra mendapat anggukan kepala dari Asima. Setelah masuk ke dalam kamarnya, Chandra segera membuka seluruh pakaiannya. Mengambil handuk, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Air hangat yang mengucur seolah meluluhkan rasa lelahnya setelah seharian bekerja serta hawa dingin dalam perjalanan pulang tadi. Air shower yang membasahi seluruh tubuh Chandra membuat kepalanya juga mulai terasa ringan. Kabar akan kesehatan asisten rumah tangganya yang memburuk membuat kepalanya sempay pening. "Mas Chandra harus jaga kesehatan di sana ya. Kalau sakit, kan aku tidak ada di sana merawat mas." Lagi-lagi seberkas kenangan masa lalu bersama Regina muncul dibenak Chandra. Kenangan saat lelaki itu melakukan perjalanan dinas dan sang istri menelepon untuk mengingatkan akan menjaga kesehatan. Chandra menyelesaikan mandinya. Ia tahu semakin dirinya larut dalam bayangan tersebut maka rasa rindunya akan semakin dalam tanpa tahu bagaimana menghentikannya. Setelah berpakaian kasual, Chandra memutuskan keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar lain. Tempat di mana Taluna berada. Jika biasanya di sana ada Dahlia, maka kali ini hanya ada Asima yang berjaga di depan pintu. "Nona Taluna sudah minum s**u dan telah tertidur," lapor Asima. Chandra tidak membalas melainkan meraih gagang pintu lalu masuk ke dalam. Hal itu cukup mengejutkan bagi Asima, karena setahunya dari Dahlia bahwa setelah majikannya itu mendapat laporan aktivitas atau keadaan Taluna maka pria itu akan kembali ke kamar atau menuju ruang kerja pribadi. Langkah Chandra hati-hati. Meski begitu suara deras hujan tetap tidak bisa membuat kamar itu menjadi hening. Chandra telah berdiri di samping tempat tidur Taluna. Ia bisa melihat bagaimana wajah sang putri yang tertidur. Tidak memungkiri bahwa beberapa fitur wajah Taluna memiliki kesamaan dengan Regina. Bahkan menurut orang-orang, mata Taluna mewarisi mata milik Regina. Perlahan tangan Chandra terulur dan menyentuh wajah Taluna yang tidur dengan lelap. Kelembutan kulit Taluna kemudian mendorong tangan Chandra beralih kepada tangan Taluna yang telah terkepal. Pria itu tidak menyangka bahwa tangan sekecil itu adalah bagian dari dirinya dan sang istri. Namun ingatan memilukan juga muncul, kala perawat keluar dari kamar persalinan sambil menggendong Taluna. Chandra sempat menangis terharu, tetapi semuanya menjadi tangis histeris ketika dokter keluar mengabarkan kalau nyawa Regina tidak tertolong. Sehari setelah melahirkan Taluna, maka Regina pun dimakamkan. Sang ibu yang tidak pernah sempat menyusui bayinya, bahkan menurut keterangan dokter, Regina hanya sempat sekali melihat dan mengusap Taluna sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Hari itu juga Chandra menyesal meninggalkan kamar persalinan atas saran dokter, padahal sejak awal persalinan ia telah menemani Regina. Ia diminta keluar ketika persalinan telah memakan waktu lebih dari enam jam. Tiba-tiba kilat dan petir muncul dengan keras. Menggelegar hingga tanpa Chandra duga mata Taluna menjadi terbuka. Bayi perempuan itu tersadar dari tidurnya yang tidak lama kemudian menangis. Awalnya Chandra memilih langkah mundur dan ingin memanggil Asima untuk menenangkan Taluna, namun ia akhirnya mendekat lalu mengambil tubuh Taluna. Mendekap sang putri dengan kedua tangannya. Menepuk pelan punggung Taluna dengan tujuan agar bayi itu tidak menangis lagi. Lima menit berlalu dan tangis Taluna belum juga reda, bahkan semakin keras. Chandra pun mengubah posisi gendongannya hingga bisa menatap Taluna. Raut wajah tegang bercampur cemas tidak dapat disembunyikan Chandra, namun laki-laki itu juga tidak terlihat akan keluar meminta bantuan Asima. "Taluna," lirih Chandra melihat wajah Taluna yang memerah karena tangisannya. Ia mulai berjalan-jalan di dalam kamar sambil menggendong sang putri. Setelah sepuluh menit berlalu, Asima masuk mendengar tangisan keras Taluna. Ia pun memberitahu Chandra bahwa mungkin Taluna sudah lapar lagi. "Biar aku saja. Kau bisa istirahat dulu," ujar Chandra meraih botol s**u yang akan Asima berikan kepada Taluna. Asima mengangguk singkat dan keluar dari kamar. Sebelum menutup pintu, ia tersenyum melihat sang majikan memberikan s**u tersebut kepada Taluna secara langsung. Pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya. Chandra bernapas lega setelah tangis Taluna berhenti dan bayi itu mulai meminum susunya. Namun ternyata hal lain muncul, ia dapat merasakan bahwa hawa tubuh Taluna menjadi hangat. Chandra pun memastikannya dengan memegang beberapa bagian tubuh Taluna dan menyadari bahwa mungkin sang putri telah terkena demam. Seketika sang ayah menjadi kalut dan berniat membawa Taluna ke rumah sakit. Meskipun Chandra masih merasa asing dengan sosok kecil dalam dekapannya, tetapi kehilangan sosok itu mungkin sama saja membunuh dirinya juga dalam seketika. ♥︎♥︎♥︎
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD