Aby terdiam didepan rumah mewah tiga lantai itu, ia ragu untuk menemui kedua sahabatnya. Mereka tidak pernah diam-diaman selama ini, Aby jadi bingung sendiri harus melakukan apa sekarang. Pintu rumah itu terbuka menampilkan wanita paruh baya yang selalu memakai kebaya dirumah ini “Loh mas Aby? Kok disini aja gak ketuk pintu toh mas? Mbok kan jadi gak tau..” cerocos mbok Sari, pembantu dirumah Hendra. “Hendranya ada mbok?” tanya Aby pelan. Mbok Sari mengangguk “Enggeh mas, ada mas Fahri juga diatas. Mau mbok panggilkan kah?” Aby menggeleng sopan “Gak usah mbok, biar saya aja yang naik. Makasih ya mbok.” pamit Aby kemudian pergi meninggalkan mbok Sari. Ia lupa sesuatu, segera ia memanggil mbok Sari “Mbok, saya bisa minta tolong?” “Enggeh, enek opo mas?” Aby menyerahkan plastik belanja

