Pagi itu, sinar matahari menembusi tingkap besar rumah Reyhan, menyalakan ruang tamu yang luas dengan cahaya hangat. Namun, ketenangan pagi itu hanyalah ilusi. Suasana sebenar penuh dengan ketegangan dan amarah yang belum reda sejak malam pernikahan mereka.
Aurora duduk di sofa, tangan menggenggam secawan teh yang masih panas. Tubuhnya masih terasa letih, bukan kerana malam yang panjang semalam, tetapi kerana tekanan yang datang sebaik mereka tiba di rumah Reyhan.
Di ruang depan, Dato’ Iskandar berdiri kaku, wajahnya tegang, matanya tidak lepas memandang Reyhan. Ibu Reyhan berdiri di sebelahnya, tangan terkepal, bibir bergetar menahan amarah.
“Kamu memang gila!” suara ibu Reyhan pecah. “Tak fikir langsung tentang nama keluarga kita, tak fikir tentang reputasi!”
Aurora menelan lumpur, cuba menenangkan diri. Hatinya berdebar, tetapi dia tahu Reyhan tidak akan membiarkannya tertekan sendiri. Reyhan melangkah ke depan, menempatkan dirinya di sisi Aurora, seolah menjadi perisai yang tidak kelihatan.
“Saya sudah membuat keputusan,” Reyhan berkata, nada suaranya tegas. “Aurora adalah isteri saya sekarang, dan saya tidak akan biarkan sesiapa memisahkan kami.”
“Ini keputusan yang bodoh!” Dato’ Iskandar menjerit, menghentak tangannya ke meja kayu besar sehingga bunyi dentuman bergema di seluruh ruang tamu. “Kamu belum bersedia untuk tanggungjawab ini, Reyhan! Gadis itu… dia… dia hanya gadis biasa!”
Aurora merasa panas di pipinya. Kata-kata itu menusuk hati, tetapi dia menahan diri. Dengan suara lembut, dia berkata, “Saya mungkin gadis biasa, Pak Cik. Tapi saya mencintai Reyhan, dan saya mahu berada di sisinya. Saya tidak akan lari.”
Ibu Reyhan menatap Aurora dengan mata berkilat. “Kamu tidak mengerti dunia kami! Rumah ini, keluarga ini, tanggungjawab yang menanti Reyhan… kamu takkan mampu hadapi semua itu.”
Aurora menarik nafas panjang, menahan air mata yang hampir jatuh. “Mungkin saya belum memahami semuanya. Tapi saya bersedia belajar. Kalau saya salah, saya sanggup diperbaiki. Tapi percayalah… saya takkan tinggalkan Reyhan.”
Rania, yang sejak tadi hanya berdiri di sudut, tiba-tiba melangkah ke depan. “Abang… saya takut ini akan membahayakan awak. Dan Aurora… ini terlalu cepat. Saya cuma mahu abang selamat.”
Reyhan menunduk, matanya menatap adiknya dengan penuh kasih sayang. “Rania, saya faham kebimbangan awak. Tapi saya tak boleh kembali. Saya sudah pilih jalan ini, dan saya takkan biarkan sesiapa mengubah keputusan saya.”
⸻
Keesokan harinya, Aurora mula menyesuaikan diri dengan kehidupan di rumah besar itu. Pagi-pagi dia dibantu pelayan rumah, diberi ruang untuk belajar protokol, dan diperkenalkan pada beberapa staf rumah tangga. Tetapi hatinya tetap cemas. Setiap langkahnya terasa diawasi, setiap perbuatan diperhatikan.
Dia duduk di bilik besar Reyhan, menatap lampu-lampu chandelier yang memantulkan cahaya. “Ini… lain daripada apa yang aku biasa,” bisiknya sendiri. Suara hatinya bercampur antara kagum dan takut.
Reyhan masuk membawa sarapan. “Sarapan untuk ratu saya,” katanya sambil tersenyum. Aurora tersenyum kecil, meskipun hatinya masih gelisah.
“Reyhan… saya takut,” Aurora mengaku. “Rumah ini, keluarga awak… semuanya terasa berat.”
Reyhan duduk di sisi Aurora, menggenggam tangannya. “Tak apa takut. Tapi awak tak keseorangan. Kita hadapi semua ini bersama. Setiap kali awak rasa lemah… ingatlah, saya di sini.”
Aurora menunduk, membiarkan genggaman itu menenangkan hatinya. Untuk pertama kali, dia merasa sedikit selamat, walaupun dunia baru ini penuh dengan cabaran yang menakutkan.
⸻
Malamnya, suasana kembali tegang. Dato’ Iskandar dan ibu Reyhan masih tidak menerima keputusan Reyhan. Mereka berbincang dengan nada tinggi, kadang menjerit, kadang berdebat. Rania hanya memerhati, air matanya jatuh setiap kali kakaknya menyindir.
Aurora, yang duduk di ruang tamu, menahan nafas. Dia tahu ini hanyalah permulaan. Dunia Reyhan bukan untuk orang biasa. Setiap hari membawa cabaran baru, dan setiap cabaran itu menguji cinta mereka.
Namun, di sisi Aurora, Reyhan tetap tegas dan sabar. Dia tahu keluarga mungkin akan menentang mereka selama bertahun-tahun, tetapi selama Aurora di sisinya, tiada halangan yang terlalu besar.
“Percayalah, Aurora,” bisik Reyhan ketika mereka berdiri di balkoni, memandang lampu kota yang berkelipan. “Kita mungkin belum menang. Tapi kita akan hadapi semuanya. Bersama.”
Aurora menutup mata, membiarkan kata-kata itu menenangkan hatinya. Meskipun dunia penuh badai, hatinya kini belajar satu perkara: selama Reyhan tetap di sisinya, dia bersedia menghadapi apa sahaja.