Jelyn pun mengangguk.
“Iya pak,” ucap Jelyn.
Calvin menarik nafasnya lalu menghelanya.
“Jadi rahasianya adalah saya dan Arzam tinggal satu rumah,” ucap Calvin.
Deg!
Jelyn membulatkan matanya dengan sempurna mendengar pernyataan tersebut dari mulut Calvin.
“Ma-maksud anda apa ya pak? Saya benar-benar tidak mengerti. Kalian tinggal satu rumah? Apa kalian ini sebenarnya adalah saudara?” tanya Jelyn bingung.
Calvin bangkit dari posisi duduknya. Tangannya lalu ia lipat silang dan diletakkan tepat di depan dadanya. Ia kemudian berjalan mendekati Jelyn. Dan pada saat dirinya telah berada di belakang Jelyn, Calvin pun berhenti.
“Tidak. Kami bukan saudara dan saya tidak pernah sudi memiliki saudara seperti dia,” ucap Calvin.
Jelyn sedikit bergidik karena keberadaan Calvin di belakangnya. Ia menggigit bibir bawahnya. Sungguh, jantungnya berdetak sangat cepat sekali saat ini.
“La-lalu? Me-mengapa kalian bisa tinggal satu rumah?” tanya Jelyn.
“Karena dia dipungut oleh keluarga saya. Dia itu yatim piatu yang dirawat oleh keluarga saya. Tapi dengan tidak tahu dirinya, dia berani sekali menjelekkan saya di depan orang tua saya sendiri. Dia ingin merebut posisi saya saat ini!” ucap Calvin dengan penuh penekanan.
Jelyn menelan salivanya sendiri dengan susah payah.
‘Apa benar jika Arzam sejahat itu? Apa itu artinya semua yang dia perlihatkan selama ini adalah kebohongan? Sandiwara?’ ucap Jelyn di dalam hatinya menebak.
“Dia itu b******k! Munafik! Apa yang kamu lihat, tidak seperti kenyataan sebenarnya. Tapi itu terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang terpenting saat ini adalah saya ingin kamu bisa membuat dia angkat kaki dari kantor saya!” ucap Calvin.
“Tapi saya benar-benar tidak tahu cara apa yang bisa saya lakukan agar dia mau pergi dari sini pak. Karena sejujurnya saya dengan dia memang tidak sedekat itu pak,” ucap Jelyn dengan tulus.
“Saya tahu bagaimana caranya,” ucap Calvin.
Jelyn lalu bangkit dari posisi duduknya. Ia menatap Calvin dengan tatapan ingin tahu.
“Maksud anda?” tanya Jelyn.
Calvin tersenyum penuh arti. Ia lalu menjelaskan rencananya pada Jelyn.
............
Di sisi lain, Arzam baru saja melangkahkan kakinya memasuki kantor Calvin.
Beberapa pegawai menyapa dirinya dengan sopan.
“Selamat pagi, pak.”
“Pagi, pak Arzam.”
Dan lainnya.
Arzam hanya mengangguk dan memberikan senyumnya. Saat dirinya telah sampai di dekat kubikel Jelyn, ia mengedarkan pandangannya di sana untuk mencari keberadaan Jelyn.
Namun sayangnya matanya tidak menemukan Jelyn ada di sana.
Hal tersebut tentu membuat rasa penasaran dalam dirinya tumbuh.
“Kenapa Jelyn gak ada di mejanya? Ke mana dia? Apa dia gak masuk hari ini?” gumam Arzam bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
“Lebih baik aku tanya langsung aja ke temannya,” gumam Arzam.
Arzam lalu melangkahkan kakinya menghampiri kubikel Jelyn di mana di sana terdapat beberapa teman kerja Jelyn termasuk Lia.
“Kalian tahu kenapa Jelyn gak ada? Dia masuk atau gak hari ini?” tanya Arzam.
Lia menelan salivanya sendiri dengan susah payah saat melihat Arzam di sana.
‘Duh gawat. Si pembuat masalah udah datang lagi. Males banget deh.’ ucap Lia di dalam hatinya.
Lia melemparkan tatapan kurang sukanya pada Arzam.
“Gak tahu,” balas Lia sedikit ketus.
Ucapan Lia tentu membuat Arzam mengernyitkan keningnya.
‘Kenapa dia seperti gak suka gitu sama gue ya?’ ucap Arzam di dalam hatinya.
“Apakah kamu merasa bahwa jawaban kamu ini pantas ya diucapkan kepada atasan kamu?” tanya Arzam dengan satu alis yang terangkat.
“Masih baru aja belagu,” dumel Lia yang masih dapat didengar oleh Arzam.
“Kamu bilang apa tadi?” tanya Arzam.
“Iya ya udah maaf pak. Jelyn lagi ada di ruangan pak bos,” ucap Lia.
‘Kalau bukan karena jabatan dia lebih tinggi di sini, gue sih udah ogah ngomong sama orang kayak dia. Kok bisa sih Jelyn dulu suka sama cowok kayak dia? Ish gak habis pikir.’ ucap Lia di dalam hatinya.
Arzam mengernyitkan keningnya.
‘Jelyn bertemu dengan Calvin? Gak. Jangan-jangan si Calvin mau pecat Jelyn lagi? Gak bisa dibiarin. Gue gak akan pernah biarin dia memisahkan gue dengan Jelyn. Gak akan!’ ucap Arzam di dalam hatinya.
Arzam lalu dengan segera meninggalkan kubikel tersebut dan bergegas menuju ke ruangan Calvin.
Baru saja dirinya akan sampai di depan ruangan Calvin, terlihat Jelyn yang baru saja ke luar dari sana.
“Itu Jelyn,” gumam Arzam.
Segera ia menghampiri Jelyn.
“Jelyn,” ucap Arzam saat dirinya telah berada di dekat Arzam.
Jelyn memasang wajah lesunya dengan sebuah amplop di tangannya.
Arzam lalu melirik ke arah amplop yang Jelyn genggam.
“Itu surat apa?” tanya Arzam.
“Pemberhentian kerja,” ucap Jelyn menunduk lesu.
Arzam benar-benar terkejut mendengar hal tersebut.
“Maksudnya? Kamu dipecat?” tanya Arzam.
Jelyn pun mengangguk.
“Iya. Saya dipecat karena telah melanggar peraturan yang ada di kantor ini. Mungkin beliau tidak bisa memecat kamu, tetapi beliau bisa memecat saya. Terlebih lagi, saya tidak memiliki ijazah sarjana di sini.”
Jelyn mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya.
“Saya tidak akan pernah melupakan tempat ini. Saya permisi,” ucap Jelyn.
Jelyn berlalu begitu saja meninggalkan Arzam yang masih bingung di tempat.
“Argh! Sial!” umpat Arzam.
Arzam lalu menjambak rambutnya frustasi.
“Gue harus bicara sama Calvin. Dia gak bisa melakukan ini!” umpat Arzam.
Arzam lalu memasuki ruangan Calvin.
.............
Jelyn pergi ke kubikelnya. Ia lalu meletakkan amplop yang berisi surat pemberhentian kerjanya di atas meja. Ia kemudian merapikan barang-barangnya yang ada di meja kerjanya.
Melihat hal tersebut tentunya membuat Lia dan teman-teman kerja yang lainnya bingung.
“Jel? Kok lo beres-beres sih? Lo mau ke mana?” tanya Lia bingung.
“Iya Jel mau ke mana sih? Masih pagi lho ini,”
“Oh lo naik jabatan ya? Terus sekarang lo mau pindah ke ruangan lo yang baru?”
Namun Jelyn hanya diam. Lia lalu melirik sebuah amplop yang terdapat di atas meja kerja Jelyn. Lia lalu mengambilnya.
“Ini surat apa?” tanya Lia.
“Aku dipecat, Li. Pak Calvin memecat aku karena aku telah melanggar peraturan yang ada di perusahaan ini,” ucap Jelyn dengan wajah sedihnya.
Mulut Lia sedikit terbuka karena terkejut mendengar hal tersebut. Begitu juga dengan kedua teman kerja Jelyn yang lainnya.
“Dipecat?” tanya mereka bertiga serempak.
Hal tersebut tentunya membuat teman kerja yang lainnya langsung menoleh ke arah kubikel mereka.
“Sssttt jangan berisik,” ucap Jelyn meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
“Eh iya. Kok bisa sih? Lo melanggar peraturan yang mana?”
“Karena pak Arzam. Kalian pasti tahu apa yang aku maksud,” ucap Jelyn.
“Ya Allah gak adil banget sih. Kenapa harus lo coba yang dipercat? Kenapa gak dia aja? Kan dia yang buat masalah di sini. Nyebelin banget sih!” gerutu Lia.
“Iya benar tuh. Lagian dia kan anak baru, seharusnya kalau ada yang mau dipecat ya dialah yang dipecat. Bukan lo Jel.”
“Benar tuh. Kenapa harus lo coba? Yang centil siapa yang dipecat siapa.”
“Lia, Sania, Fara, makasih ya karena selama ini kalian udah menjadi rekan kerja yang sangat baik sekali sama aku. Selama ini kalian sudah menerima aku dengan sangat baik di sini padahal di sini aku yang paling muda tapi kalian baik banget sama aku. Terutama Lia. Makasih udah menjadi teman kerja, teman seatap dan teman baik aku selama ini. Aku minta maaf kalau selama ini aku ada salah sama kalian,” ucap Jelyn.
Lia, Sania dan Fara langsung melow mendengar ucapan Jelyn.
“Jelyn ihhh. Gue benar-benar gak terima deh kalau lo dipecat. Selama ini kan kinerja lo bagus,” ucap Sania.
“Iya benar. Kita demo aja kali ya sama bos? Masa si manajer baru gak dipecat sedangkan Jelyn dipecat. Kan gak adil,” ucap Fara.
“Lo gak ada salah apa pun sama gue, Jel. Gue justru senang banget bisa punya teman kayak lo. Kalau lo dipecat, kayaknya gue juga harus mengundurkan diri deh. Gue gak akan bisa bekerja tanpa lo di sini Jel,” ucap Lia.
Jelyn tersenyum lalu memegang pundak Lia.
“Kamu gak boleh bicara seperti itu. Kamu pasti bisa kok bekerja di sini tanpa aku. Lagi pula mungkin memang aku udah gak cocok lagi di sini. Aku juga udah gak nyaman karena ada dia di sini. Tapi aku gak akan pernah lupa sama kalian dan kantor ini,” ucap Jelyn.
“Kita demo aja yuk, San. Sebel deh gue!” ucap Fara.
“Jangan dong. Lagi pula mungkin ini adalah pilihan yang terbaik untuk aku. Lia, sekali lagi makasih banyak ya. Aku juga mau pamit dari kontrakan karena aku akan pergi ke luar kota untuk mencari suasana baru,” ucap Jelyn.
“Lo kan tetap bisa tinggal sama gue, Jel. Nanti gue bantuin lo deh cari pekerjaan yang baru,” ucap Lia.
Jelyn tersenyum dengan tulus.
“Gak apa-apa. Aku mau ke luar kota aja. Di sana, kebetulan saudara aku ada informasi tentang lowongan kerja di suatu perusahaan gitu. Ya semoga aja cocok ya,” ucap Jelyn.
“Lo yakin?” tanya Lia.
Jelyn pun mengangguk.
“Yakin dong. Tapu aku gak berangkat hari ini kok. Mungkin besok. Nanti pulang ngantor, kalian datang ya ke kontrakan. Kita buat acara kecil-kecilan untuk kita-kita aja. Mau gak?” ucap Jelyn dengan wajah tersenyum.
Fara, Sania dan Lia saling menatap. Mereka benar-benar sedih melihat Jelyn harus pergi dari kantor tersebut.
Ketiganya lalu mengangguk dengan lesu.
“Ya udah. Ahhh sedih banget,” ucap Fara lalu memeluk Jelyn.
Jelyn pun tersenyum. Sania dan Lia pun ikut memeluk Jelyn. Mereka berempat lalu berpelukan dengan sangat erat.
‘Maafin aku teman-teman. Aku belum bisa menceritakan semuanya yang sebenarnya. Nanti jika sudah waktunya, aku pasti akan cerita semuanya ke kalian. Semoga kita semua selalu bahagia. Aaamiin ya Allah.’ ucap Jelyn di dalam hatinya.
Mereka lalu melerai pelukan tersebut dengan mata yang berkaca-kaca.
“Udah jangan sedih dong. Nanti kita kan bisa bertemu lagi,” ucap Jelyn.
“Lo pulang sendiri?” tanya Lia dengan lesu.
Jelyn pun mengangguk.
“Iya Lia. Aku pesen ojek nanti sekalian belanja untuk acara kita nanti,” ucap Jelyn.
“Beneran bisa? Gak butuh bantuan gue?” tanya Lia.
Jelyn pun tersenyum.
“Bisa dong. Bagaimana pun aku harus terbiasa melakukan segalanya sendiri mulai sekarang,” ucap Jelyn.
Lia sedikit terisak lalu mengangguk.
“Ya udah lo hati-hati. Kalau butuh bantuan gue, hubungi aja gue. Jangan sungkan,” ucap Lia.
“Oke bestie,” ucap Jelyn dengan senyum cerianya.
..............