Calvin mengambil posisi duduk pada kursi kebesarannya. Ia mulai membuka laptopnya dan mengaktifkannya. Sembari menunggu laptopnya menyala, jari-jemari Calvin bergerak dengan bebas di atas meja kerjanya. Sesekali ia juga mengetuk-ketuk meja tersebut dengan jari-jemarinya. Entah mengapa ia merasa gelisah sekali saat ini.
Tok Tok Tok
Pintu ruangan Calvin diketuk oleh seseorang.
"Sepertinya itu Jelyn," gumam Calvin.
"Masuk!" sahut Calvin dari dalam ruangannya.
Ceklek!
Pintu ruangan pun dibuka. Seseorang lalu melangkahkan kakinya memasuki ruangan Calvin setelah pintu kembali ditutup.
Ya, benar saja. Jelyn adalah orang yang mengetuk pintu ruangan Calvin tadi.
Jelyn berdiri di belakang kursi di hadapan Calvin. Wajahnya sedikit menunduk merasa gugup dan takut.
Calvin memperhatikan Jelyn selama beberapa saat. Ia lalu menghela nafasnya.
"Silakan duduk," ucap Calvin.
Jelyn pun mengangguk. Ia lalu mengambil posisi duduk di kursi tepat di hadapan Calvin.
"Apa kamu sudah mengetahui alasan mengapa saya memanggil kamu ke sini?" tanya Calvin.
Jelyn perlahan-lahan memberanikan dirinya untuk mendongakkan wajahnya menatap Calvin. Ia lalu menggeleng dengan pelan.
"Saya tidak tahu, pak."
Jelyn berucap dengan tangan yang gemetar yang berada di atas pahanya. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya.
"Saya memiliki penawaran untuk kamu. Ini bukan penawaran sih tapi lebih kepada pilihan yang memang benar-benar harus dengan bijak kamu pilih," ucap Calvin.
Jelyn mengernyitkan keningnya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Calvin maksud.
"Maksud bapak apa ya?" tanya Jelyn harap-harap cemas.
"Saya tahu hubungan kamu dengan Arzam. Dan kamu sudah mengetahui peraturan yang telah saya buat sejak lama di perusahaan ini. Bukan begitu Jelyn?" tanya Calvin dengan satu alisnya yang terangkat.
Jelyn pun mengangguk.
"Iya pak," ucap Jelyn.
"Tetapi sepertinya kamu telah melanggar peraturan itu," ucap Calvin.
Deg! Glek!
Bersamaan dengan terkejutnya ia, bersama itu juga Jelyn mencoba untuk menelan salivanya sendiri dengan susah payah.
"Ta-tapi saya-"
Belum selesai Jelyn berbicara, Calvin dengan cepat menghentikannya.
"Saya belum selesai berbicara," ucap Calvin.
Jelyn menghela nafasnya.
"Maaf pak," ucap Jelyn.
"Saya tahu bahwa kamu sudah berusaha untuk menghindari dia namun sayangnya dia tidak mau menjauhi kamu. Saya sudah cukup resah dengan apa yang telah dia lakukan pada saya. Sekarang keputusannya ada di tangan kamu. Beritahu saya apa yang harus saya lakukan agar kamu bisa membuat dia benar-benar angkat kaki dari perusahaan saya?" tanya Calvin.
Jelyn membulatkan matanya dengan sempurna. Ia menggigit bibir bawahnya.
"Sa-saya?" tanya Jelyn bingung.
Calvin pun mengangguk.
"Ya, kamu. Kamu kan sudah lama mengenal dia. Pastinya kamu tahu lah bagaimana caranya," ucap Calvin.
"Tapi saya tidak sedekat itu dengan beliau. Kami memang pernah dekat, tapi saat itu dia tidak pernah menganggap saya. Saya tidak tahu caranya pak," ucap Jelyn dengan sedikit lesu.
Calvin menatap wajah Jelyn dengan sangat lekat. Ia mencoba untuk mencari kebohongan di wajah Jelyn namun tidak menemukannya.
'Dia tidak sedang berbohong. Tetapi dia terlihat begitu terluka. Apa si b******k itu dulu pernah sangat melukai dia ya?' ucap Calvin.
.....
Arzam kini sedang dalam perjalanan menuju ke kantor Calvin. Ia menyalakan music di mobilnya sembari mengemudi. Ia merasakan paginya hari ini diawali dengan keindahan dan kebahagiaan.
"Beautiful morning," gumam Arzam dengan senyumnya.
Arzam lalu ikut menyanyikan lagu-lagu yang ia putar.
"Gak sabar pengen ketemu Jelyn. Pasti semakin cantik," gumam Arzam dengan senyum bahagianya.
Arzam lalu menaikkan kecepatan laju mobilnya agar ia bisa segera tiba di kantor.
......
Lia dan beberapa teman satu kubikel dengan Jelyn pun sedikit gelisah dan cemas saat ini sebab Jelyn belum juga ke luar dari ruangan Calvin.
"Jelyn kok lama ya?"
"Iya lama banget. Duh takutnya dia kenapa-kenapa lagi di sana,"
"Jangan mikir yang enggak-enggak deh lo semua. Do'ain aja semoga aja Jelyn di dalam sana baik-baik aja," ucap Lia.
"Ya bukannya gitu Lia. Cuma ini tuh lama banget lho. Takutnya Jelyn dipecat terus dia gak terima jadinya dia berantem sama bos di dalam,"
"Duh udah deh! Berisik banget sih lo. Gue bilang kan udah jangan pikir yang jelek-jelek. Masih aja lo mikir yang jelek. Heran deh gue. Dah lah balik kerja aja semuanya," ucap Lia kesal.
"Ihhh Lia kok gitu sih lo?"
"Bodoh amat!" kesal Lia.
Lia lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Kalau kita nguping, kedengaran gak ya?"
"Gila lo. Cari mati lo? Lo lihat dong CCTV di mana-mana. Cari masalah deh lo,"
"Ah udah deh lanjut kerja aja kalau gitu,"
Lia hanya geleng-geleng kepala mendengar obrolan kedua temannya.
........
Calvin berusaha untuk bersikap biasa saja.
"Kamu curhat sama saya?" tanya Calvin dengan datar.
Jelyn mengernyitkan keningnya.
"Saya curhat? Sama bapak?" tanya Jelyn sedikit bingung.
Calvin pun mengangguk dengan penuh percaya diri.
"Ah enggak kok pak. Tapi maaf ya pak kalau menurut bapak tadi itu saya curhat. Saya hanya mengatakan yang sebenarnya saja pak," ucap Jelyn.
"Oh. Jadi bagaimana Jelyn? Bisa gak kamu buat dia pergi dari kantor saya? Untuk selamanya," ucap Calvin.
"Untuk hal itu saya benar-benar tidak tahu pak. Jujur, saya memang pernah dekat dengan dia. Tapi tidak sedekat yang orang-orang pikirkan karena mungkin saya hanya sebagai tempat yang dia datangi ketika dia merasa jenuh dan butuh saja. Jadi kami sedekat itu dan saya tidak tahu banyak hal tentang dia. Bahkan tentang keluarganya pun, saya tidak tahu. Seperti itu pak," ucap Jelyn.
'Ya Tuhan, ucapannya benar-benar tulus sekali.' ucap Calvin di dalam hatinya.
"Saya memiliki sebuah rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang-orang apa lagi pegawai di kantor ini. Tapi saya akan memberitahukannya kepada kamu. Namun dengan syarat," ucap Calvin.
"Syarat? Syarat apa pak? Dan rahasia apa yang akan bapak katakan pada saya? Apa ini ada kaitannya dengan Arzam?" tanya Jelyn.
Calvin pun mengangguk.
"Tentu. Saat ini kita sedang membahas dirinya jadi rahasia ini pastinya berkaitan dengan dia. Dan saya harap, saya harap dengan sangat, kamu bisa menjaga rahasia ini dengan baik. Bisakah saya mempercayai kamu?" tanya Calvin.
Jelyn terdiam sejenak selama beberapa saat. Ia lalu menghela nafasnya dan mengangguk.
"In Syaa Allah saya bisa menjaga rahasia ini," ucap Jelyn.
"Saya butuh jawaban yang pasti Jelyn," ucap Calvin.
Jelyn menghela nafasnya.
"Baik pak. Saya berjanji bahwa saya akan menjaga rahasia ini dengan baik. Saya berjanji," ucap Jelyn.
Calvin pun mengangguk.
"Itu adalah jawaban yang saya mau. Saya percaya sama kamu karena saya yakin kamu adalah orang yang bisa dipercaya. Kamu juga sudah begitu lama sekali bekerja di perusahaan saya. Sehingga saya sangat berharap bahwa kamu tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan saya terhadap kamu," ucap Calvin.
Jelyn mengangguk paham.
"Iya pak," ucap Jelyn.
"Jadi rahasianya adalah.."
.......
Arzam baru saja tiba di parkiran kantor. Sebelum turun dari mobilnya, ia merapikan kembali penampilannya dan menyemprotkan perfume ke seluruh tubuhnya.
"Saat ke luar harus terlihat berwibawa. Sembunyikan sifat asli dan perlihatkan kepalsuan itu. Kamu pasti bisa merebut posisi Calvin, zam. Pasti bisa. Hati orang tuanya saja sudah berhasil kamu rebut, tentunya untuk merebut yang lainnya dari dia pasti akan lebih mudah. Smart," gumam Arzam dengan senyum miring.
Setelah itu, Arzam lalu ke luar dari mobilnya. Sebelum melangkahkan kakinya memasuki gedung kantor, Arzam mengedarkan pandangannya pada sekelilingnya.
Terdapat beberapa pegawai yang berlalu-lalang di sana untuk mengurus beberapa pekerjaan mereka.
"Sandiwara akan segera dimulai," gumam Arzam dengan senyum miring.
........
Clara baru saja ke luar dari rumahnya. Ia lalu memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju suatu tempat.
“Calvin benar-benar keterlaluan deh! Dia benar-benar gak datang ke cafe untuk dinner tadi malam sama aku! Keterlaluan banget sih!” geram Clara lalu memukul setir kemudinya.
“Argh! Kenapa sih Calvin seperti itu sekarang? Padahal aku kan tulus cinta sama dia. Nyebelin banget sih,” gerutu Clara.
Clara kemudian diam dan memikirkan suatu hal.
“Lihat aja, aku akan melakukan apa pun supaya dia nurut sama aku. Pokoknya Calvin harus menjadi milik aku!” gumam Clara dengan senyum liciknya.
Clara lalu menepikan mobilnya. Ia kemudian mengambil ponselnya dan melakukan sesuatu di sana.
“Bukan Clara namanya jika apa yang aku inginkan tidak bisa aku dapatkan. You are smart, Clara. Hahahah.”
Tawa jahat Clara setelah melakukan sesuatu melalui ponselnya.
............