"Duduklah dengan santai dulu," suruh Selly dengan lembut.
Lalu Darren kembali ke arah sofa. Darren menatap lekat ke arah Selly dan Andre secara bergantian. Sambil menarik nafasnya dengan berat Darren membuka pembicaraan terlebih dahulu, "Ada apa Pa?"
"Duduk!" perintah Andre.
Darren duduk di sofa single. Kemudian Darren mengangkat kakinya dan melipatnya, "Ada apa?"
"Salsa duduklah di samping Darren," pinta Selly.
"Ta... Ta... Tapi Tante," tolakku.
"Salsa... Jangan kamu tolak permintaan mama mertuamu," seru Darren.
Mataku membelalak kaget. Aku yang biasanya berani menghadapi kedua orang tua Darren mendadak lemas. Entah kenapa kakiku sepertinya kebas-kebas ketika berhadapan dengan kedua orang tuanya.
"Ayolah Salsa... Yang dikatakan Darren benar. Janganlah kamu menolak permintaanku," pinta Selly yang lembut sambil memegang pundakku.
"Tapi Tante," ucapku yang tidak enak.
Selly memapahku agar duduk di samping Darren. Setelah aku duduk mereka berdua memandang wajah kami.
"Wajah mereka sama ya Pa," celetuk Selly yang gemas melihat Salsa dan juga Darren.
"Kamu benar," sahut Andre.
"Salsa," panggil Selly.
"Apakah benar kamu hamil?" tanya Selly dengan lembut.
"Ya itu benar Tante," jawabku.
"Kamu hamil berapa bulan?" tanya Selly.
"Aku belum tahu Tante," jawabku dengan jujur.
"Apa?" pekik Selly. "Kenapa kamu belum tahu?"
"Maaf Tante. Aku belum memeriksakan ke dokter," jawabku.
Mata Selly menyelidik ke arah Darren dengan tajam. Hatinya bergemuruh seperti kilat yang menyambar di angkasa. Darren yang merasa ditatap seperti itu hanya bisa santai saja.
"Kok mama menatapku seperti itu ya?" tanyanya dengan nada rendah.
"Apakah kamu tidak mengajak Salsa check up ke dokter kandungan?" tanya Selly yang nada datar namun mematikan.
"Apakah itu harus?" tanya Darren yang malas menanggapi Selly.
"Begini ya rasanya punya anak laki-laki yang keras kelapa seperti batu," ucap Selly yang kesal.
"Maaf Tante. Bukan kelapa... Namun keras kepala seperti batu," timpalku.
"Ah iya... Tante lupa," sahutnya. "Salsa apakah kamu pernah diajak ke dokter kandungan?"
"Ya," jawabku dengan cepat agar Darren tidak melahapku hidup-hidup.
"Papa tidak yakin kalau Darren membawa Salsa ke dokter kandungan," sahut Andre.
Darren semakin santai ketika kedua orang tuanya menyalahkannya. Posisi duduk Darren juga sangat santai dan seperti orang yang tidak berdosa.
"Kenapa kamu tidak membawanya? Kamu tahu kalau Salsa sedang mengandung cucu Mama. Kalau terjadi pada Salsa dan calon cucu mama. Maka kamu akan mendapatkan kesialan bertubi-tubi selama sebulan," geram Selly.
"Ma... Aku baru tahu kalau Salsa sedang hamil ketika kami berada di rumah sakit," Darren mulai membela dirinya.
"Yang dikatakan Tuan Darren itu benar Tante. Jangankan Tuan Darren. Aku juga baru tahu ketika dokter sedang mengobati lukaku," ujarku.
"Apakah itu benar?" tanya Selly.
"Itu benar ma," jawab kami serempak.
"Kalau begitu seminggu lagi menikah. Papa dan mama sudah mempersiapkan semuanya!" perintah Selly.
"Aku tidak mau," ketus Darren.
"Baiklah. Bagaimana kalau tiga hari?" tanya Andre yang mulai negosiasi dengan Darren.
"Pokoknya aku tidak mau," tegas Darren.
"Ini anak... Kenapa lagi? Bukannya kemarin sudah setuju. Kenapa sekarang menolak?" tanya Andre dengan sedikit kesal. "Ok... Besok pagi kalian akan pergi ke Kantor Catatan Sipil. Jika kamu menolaknya. Papa akan menggantungmu!"
"Rasanya aku rindu dengan ancaman Papa satu itu. Bisakah aku menikahi Salsa hari ini juga. Aku tidak mau lama-lama. Kasihan dengan benda pusakaku yang mulai berkarat," kata Darren yang tidak berdosa.
"Apa!!!" teriakku, Selly dan Andre.
"Oh Tuhan... Mimpi apa aku semalam?" rutukku.
"Jangan merutuki mimpimu semalam Salsa. Namun kamu yang bersalah dalam hal ini. Kamu sendiri yang memegang benda pusakaku," ejeknya.
Aku mulai menatap tajam ke arah Darren. Aku benar-benar marah kali ini. Sebab Darren tidak memfilter kata-katanya di depan kedua orang tuanya. Tanpa permisi Darren langsung mendekatkan dirinya dan mencium mulutku.
Selly yang melihat kenakalan Darren tidak terima. Selly mendekati kami kemudian menjewer telinga Darren.
"Augh," pekiknya sambil memegang telinganya. "Sakit Ma!"
Lalu Selly melepaskan telinga Daren. Matanya menatap lekat wajah Darren, "Apakah itu benar Salsa?"
"Aku dijebak oleh Tuan Muda Darren," jawabku.
"Aku tidak menjebaknya. Tetapi dia yang menyerahkannya secara tulus kepadaku," kilahnya.
Selly segera menjauhi mereka sambil memegang kepalanya. Selly tahu kalau Darren itu mempunyai sifat yang sangat licik sekali. Bisa-bisanya Darren mengatakan itu secara vulgar."
"Jadi gini. Papa ingin menjelaskan kepada kalian. Papa harap kalian tidak membuat perjanjian yang aneh-aneh setelah menikah. Papa tidak mau kalau pernikahan kalian seperti di novel-novel romansa. Membuat perjanjian yang tidak masuk akal hingga bayi kalian lahir. Setelah bayi kalian lahir salah satu dari kalian menggugat cerai," ucap Andre.
"Ternyata Papa adalah korban juga ya," sindir Darren. "Korban novel."
"Maaf tuan.. cerita novel seperti itu kisahnya happy ending. Tidak ada perceraian sedikitpun. Mereka malah hidup rukun," celetukku.
"Berarti Papa membaca awalnya tanpa melihat isi novel tersebut," ledek Darren ke Andre.
"Hufth... Rasanya aku benar-benar salah persepsi. Intinya kalian jangan membuat perjanjian konyol seperti itu," tegas Andre.
"Tapi Tuan," selaku.
"Fix... Perjanjian yang kamu buat tidak berlaku lagi," tambahnya dengan girang.
Kali ini aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Seratus persen perjanjian yang dibuat olehku sudah ditolak mentah-mentah. Ingin rasanya aku berteriak dengan sekuat tenaga. Namun luka di perutku masih perih.
"Ok... Besok kalian akan pergi ke kantor catatan sipil. Dan untuk Salsa tinggallah bersama kami," perintah Andre.
"Bagaimana dengan Mamaku Tuan?" tanyaku ketika ingat dengan mama.
"Mamamu akan tinggal di depan mansion. Jadi kamu bisa bertemu dengan Mamamu setiap hari," jawab Andre dengan tulus.
"Bolehkah saya pulang ke rumah?" tanyaku.
"Boleh," jawab Darren.
"Kalau kamu ingin pulang. Biarkan Harry yang mengantarkanmu," titah Andre.
"Bilang sama Harry kalau bawa mobil pelan-pelan jangan mengebut. Ingat yang diangkut adalah nyonya muda Pratama," tegasnya.
"Memangnya aku barang apa?" kesalku terhadap Darren.
Aku langsung bangun dan melihat Darren. Tak lama Darren memegang pipi kanannya untuk meminta ciuman dariku. Aku pura-pura tidak tahu kemudian mendekati Selly dan juga Andre.
"Maaf Tante," ucapku.
"Eh... Kamu tidak salah sayang. Yang salah adalah putra kami," ucap Selly.
"Seharusnya," ujarku yang menggantung.
"Jangan bersedih sayang. Hadapilah semuanya bersama Darren," pinta Andre. "Jika Darren tidak mau menghadapi masalah kalian. Laporlah kepada papa. Dan satu lagi jangan panggil kami tuan dan nyonya. Karena sebentar lagi kamu menjadi bagian dari keluarga Pratama. Panggilah kami Mama dan juga Papa."
Aku hanya mengangguk. Namun aku berusaha memanggil mereka dengan sebutan mama papa, " Ma.. Pa... Aku pamit dulu."
"Hati-hati ya sayang," balas Selly.
Aku segera melangkahkan kaki keluar. Akhirnya hatiku terasa lega. Namun yang membuatku bingung besok adalah hari pernikahanku. Dan sekarang adalah masa lajangku. Otakku berpikir sejenak dan mulai mencerna keadaan. Kemudian aku tersadar karena ulah Darren.
"Well... Jadi hari ini adalah hari terakhir untuk menikmati masa lajangku. Besok aku sudah resmi menjadi istri Tuan Muda Darren. Wait... Apakah Mama tahu dengan keadaanku yang sekarang ini?"