HABIS MANIS SEPAH DIBUANG.

1175 Words
“Tidak,” sergahku. “Tuan... Aku ingin pulang!”   “Nanti malam Salsa,” ucapnya yang bangun.   “Gara-gara ngomongin Pak Tama pagi-pagi begini. Kok aku malah kepengen ketemu sama Pak Tama,” ujarku yang bangun sambil merasakan perih.   “Enggak nyadar-nyadar juga sih. Kalau Pak Tama itu aku,” batinnya.   Sementara di kediaman Pratama. Selly bangun dengan ceria. Lalu Selly membangunkan Andre. Setelah Andre bangun, Selly mengajaknya berdiskusi.   “Pa... Kapan kita mau melamar Salsa?” tanya Selly.   “Maunya Mama kapan?” tanya Andre balik.   “Kalau bisa sekarang,” jawab Selly.   “Tunggu Darren dan Salsa pulang Ma... Papa hanya ingin memastikan bahwa anak Mama itu tidak menggunakan taktik untuk menghindari pernikahannya. Dan satu lagi Papa enggak mau kalau mereka berdua jangan ada perjanjian-perjanjian yang berada di novel-novel romansa online,” kata Andre.   “Memangnya ada ya... Perjanjian-perjanjian pernikahan di novel bisa jadi kenyataan?” tanya Selly.   “Ada. Kalau Darren dan Salsa membuatnya. Makanya itu Papa tidak mau terjadi. Kalaupun Darren membuat perjanjian-perjanjian seperti itu. Papa pastikan hidup Darren berakhir di tanganku,” tambah Andre.   “Mama juga seperti itu. Terus bagaimana caranya agar kita mencegah Darren?” tanya Selly yang benar-benar takut kisah novel terjadi di dalam hidup anaknya.   “Suruh saja mereka tinggal di sini. Kita bisa mengawasi gerak-gerik Darren,” jawab Andre.   “Apakah itu tidak berlebihan?” tanya Selly.   “Tidak. Aku rasa bukan ide buruk. Kalau Darren kerja Salsa bisa jadi teman Mama di rumah,” jawab Andre yang bangun dari tidurnya. “Aku mau menyuruh Harry untuk menjemput Darren.”   Dua jam berlalu. Setelah semuanya sudah selesai. Salsa duduk di ranjang. Matanya menatap Darren yang sedang mengecek email.   “Setelah kita menikah apakah aku boleh bekerja di toko?” tanyaku.   “Kenapa kamu ingin bekerja?” tanyanya.   “Maksudku untuk bantu Mama,” jawabku.   “Kayaknya enggak perlu dech. Mamamu sudah memiliki pegawai,” sahutnya yang masih asyik memandang layar ponsel.   “Kalau aku di apartemen pasti kaya orang gila. Enggak boleh ke mana-mana?” tanyaku yang mengerucutkan bibir.   “Kita tidak tinggal di apartemen. Kita tinggal di mansion. Ngapain juga tinggal di apartemen? Apartemen sudah aku jual,” jawabnya.   “Kamu menjualnya? Buat apa kamu menjualnya? Bukannya lebih baik kalau kita mempunyainya?” tanyaku.   “Sekarang aku tanya memangnya kamu suka tinggal di gedung pencakar langit?” tanyanya yang menaruh ponselnya.   “Enggak. Aku tidak mau tinggal di apartemen laknat itu. Aku masih trauma dengan ulahmu itu,” jawabku yang benar-benar trauma dengan Darren.   Darren tersenyum mengingat kejadian itu. Lalu Darren berubah pikiran agar tidak menjual apartemennya, “Aku tidak jadi menjual apartemenku.”   “Lha,” sahutku.   “Kalau anakku sudah lahir. Tidak mungkinkan kita bisa enak-enakan di ranjang. Bakalan ada gangguan,” katanya.   “Apa?” pekik Salsa. “Apa-apaan ini? Jadi kamu!!!”   “Memanfaatkan kamu untuk menyalurkan hasrat biologisku,” jawabnya polos.   “Lama-lama aku tidak bisa mengerti kamu,” ucapku.   “Ya harusnya kamu ngerti. Seorang pria dewasa jika sudah menikah pasti ujung-ujungnya ke sana kan. Coba kamu tanya pria yang sudah menikah. Bagaimana tanggapannya?” tanyanya.   “Aku kira ini hanya sementara. Seperti kisah di cerita novel-novel romansa. Ceweknya di hamili. Lalu buat perjanjian kurang lebih sepuluh lembar. Habis nikah bubar,” gerutuku.   “Nyonya muda Pratama. Memangnya kamu mau habis manis sepah dibuang. Jangan berpikiran seperti itu. Aku bukan pria jahat. Aku memang pria dingin dan arogan. Aku juga benci pada wanita bahkan alergi,” jawabnya.   “Kenapa juga kalau kamu alergi pada wanita?” tanyaku.   “Nanti kamu tahu sendiri,” jawabnya.   Sementara itu Harry yang sudah sampai di rumah sakit segera menemui Darren dan juga Salsa. Sesampainya di kamar Salsa, Harry mengetuk pintu.   “Masuk!!” teriak Darren dari dalam.   Kemudian Harry masuk sambil membawa papper bag. Harry menaruh papper bag itu di atas nakas.   “Maaf Tuan muda. Rian kabur saat kami kejar,” ucap Harry.   “Siapa itu Rian?” tanyaku.   “Maaf Non. Saya tidak bisa menjelaskan siapa itu Rian?” sahut Harry.   “Jelaskan saja pada Salsa karena dia berhak tahu,” suruhnya yang duduk tegak.   “Jika itu kemauan tuan muda saya bisa jelaskan. Rian adalah seorang ilmuwan gila. Rian sekarang menjadi buronan interpol. Setiap penemuannya sangat merugikan manusia,” jelasnya.   “Apa seperti cairan yang aku buang kemarin? Cairan itu bisa melenyapkan marmer lantai. Tetapi kenapa Tuan Darren yang menjadi kelinci percobaannya?” tanyaku.   “Apa itu benar Nona?” tanya Harry yang terkejut.   “Yang dikatakan oleh Salsa itu benar. Cairan itu akan diberikan kepadaku. Jika Salsa tidak datang kemungkinan aku tidak bisa selamat,” ucapnya.   “Kalau begini terus,” kataku yang menggantung.   Sepertinya jiwaku yang bar-bar muncul kembali. Hampir tiga tahun aku tidak melakukan hal-hal yang ekstrim. Rasanya aku bertekad membantu mencari ilmuwan gila itu.   “Apakah aku boleh mencarinya?” tanyaku.   “Buat apa kamu mencarinya?” tanyanya.   “Sepertinya jiwaku bar-bar ini telah kambuh lagi,” Aku hanya menghela nafasku.   “Tidak boleh kambuh lagi. Buang sifat bar-barmu itu,” pinta Darren yang memegang kepalanya sambil menarik rambutnya.   “Apakah Tuan sakit?” tanya Harry.   “Aku lupa punya calon istri bar-bar,” jawabnya.   “Apa!!” sontak saja Harry kaget.   “Dia calon istriku. Gara-gara dia aku disuruh nikah,” jawabnya yang tersenyum devil.   “Kalau bukan karena Tuan Andre aku tidak mau menikah denganmu,” cibirku.   “Kenapa kamu ke sini?” tanyanya ke Harry.   “Saya disuruh oleh Tuan Andre untuk menjemput anda dan juga nona Salsa,” jawab Harry.   “Akhirnya aku pulang,” sahutku.   “Aku kira kamu menjemput nanti malam atau besok,” kesalnya terhadap Harry.   “Maaf Tuan sesuai perintah dari Tuan Andre. Karena siang ini akan ada pembicaraan rencana pernikahan. Malam ini juga ada acara lamaran di rumah nona Salsa,” jelas Harry.   “Memangnya ada apa jika pulang nanti malam apa besok?” tanyaku yang mulai curiga.   “Keluarlah Harry. Aku tidak mau ada di sini!” perintah Darren.   “Baik Tuan,” balas Harry lalu pergi meninggalkan kami berdua.   Setelah Harry pergi meninggalkan kami. Mataku memandang Darren dengan penuh kecurigaan. Entah apa yang akan diperbuat olehnya setelah ini.   “Jangan berpikiran negatif terus kepadaku. Aku bukan pria kejam yang sering diberitakan oleh media-media massa. Aku adalah pria hangat,” ucapnya yang mendekatiku. “Jika Harry tidak datang pagi ini. Kemungkinan aku mengajarkan kamu teknik-teknik dasar bermain ranjang bersamaku. Namun Harry sudah ada di sini semuanya jadi gagal.”   “Cih... Sejak kapan kamu bisa m***m begini?” tanyaku.   “Semenjak ada kamu,” jawabnya.   “Ganti pakaianmu,” suruhnya.   Siang yang terik. Saat kami tiba di mansion. Aku di sambut hangat oleh Selly dan juga Andre. Mereka menerimaku dengan penuh suka cita. Sebelum Darren pergi ke kamarnya, Andre menyuruhnya duduk bersama kami.   “Duduklah,” perintah Andre.   “Mau ngapain lagi sih Pa?” tanyanya.   “Ada yang ingin papa bicarakan,” jawab Andre.   “Yang dikatakan oleh Papamu benar. Ada beberapa hal yang ingin dibicarakan tentang pernikahanmu dengan Salsa,” pinta Selly.   “Apa yang ingin kalian bicarakan?” tanyanya dengan malas.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD