DUA RATUS LIMA PULUH MEGABYTES.

1197 Words
“Bisalah. Seharusnya anda yang membuat perjanjian seperti itu. Bukannya kisah cinta kita seperti di novel-novel romansa seperti itu?” tanyaku.   “Aku tidak akan membuat perjanjian itu,” jawabnya dengan enteng.   “Harusnya kamu buat perjanjian seperti itu?” tanyaku mulai sengit.   “Hey... Nyonya Darren... Kalau orang yang namanya sudah menikah. Mau bersentuhan langsung tidak dilarang kok. Kenapa juga aku harus buat perjanjian yang berunfaedah seperti itu? Memangnya kamu mau mempunyai suami yang suka jajan di luar?” tanyanya dengan nada dingin.   “Kan kita enggak saling kenal? Kenapa juga kamu menculikku? Membawaku ke apartemenmu? Lalu kamu memperkosaku segala?” sungutku.   “Kamu menolak lupa ya?? Bukannya kamu dulu sering menggodaku?” tanyanya.   “Masa iya sih?” tanyaku yang mulai membingungkan.   “Apakah kamu tahu guru matematikamu itu?” tanyanya.   “Guru matematika. Ya aku mengenalnya. Dia adalah pria yang tertampan yang aku lihat. Sangking tampannya aku tidak bisa menjadi pacarnya kala itu,” jawabku yang sendu.   “Namun sayang. Sebentar lagi guru matematikamu itu akan menjadi Papa,” ucapnya.   “Syukurlah... Aku doakan yang terbaik buat Pak Tama yang kece itu,” ucapku dengan tulus.   “Dih... Enggak merasa,” ledeknya.   “Maksudnya apa?” tanyaku.   “Ya kamu enggak merasa saja,” ejeknya.   “Aku bilang sama kamu. Bersyukurlah yang jadi istrinya itu,” ujarku.   “Harusnya kamu bersyukur kepada Tuhan. Kalau kamu sebentar lagi akan menjadi istrinya Pak Tama,” ujarnya dengan bangga.   “Apa-apaan ini? Aku enggak bangga. Malahan aku jadi pelakor jika menjadi istrinya Pak Tama,” ketusku.   “Susah juga ngomong sama kamu. Sudah tidur sana. Sudah malam,” suruhnya.   “Memangnya jam berapa?” tanyaku.   “Jam delapan,” jawabnya.   “Aku lapar. Belum makan tadi pagi,” rengekku.   “Mau makan apa?” tanyanya.   “Mau makan kamu,” jawabku dengan ketus.   “Terserahlah,” lirihnya dengan pasrah.   Andre yang sudah sampai mansion segera mencari Selly di kamar. Sesampainya di kamar Andre melepas jaketnya lalu duduk di tepi ranjang.   “Dari mana kamu?” tanya Selly yang memakai masker.   “Tadi Darren diculik oleh orang tidak dikenal. Mereka membawanya ke dalam hutan,” jawab Andre.   “Seperti cerita mafia?” tanya Selly.   “Entah. Papa sudah lama enggak masuk dunia bawah tanah lagi. Setelah semuanya aku serahkan pada Harry,” jawab Andre.   “Tapi Darren enggak apa-apakan?” tanya Selly yang khawatir.   “Tidak. Justru Salsa yang mendapat tusukan. Entah siapa yang menusuk Salsa saat itu,” jawab Andre.   “Apa!!!” teriak Selly. “Memangnya Salsa di situ?” tanya Selly.   “Iya,” jawab Andre. “Mama... Apakah Mama mau cucu?”   “Mau banget Pa... Tapi kapan kita bisa menggendong cucu ya?” tanya Selly dengan mata berbinar.   “Tunggu beberapa bulan lagi launching ya,” jawab Andre.   “Maksudnya?” tanya Selly.   “Salsa sedang mengandung calon anaknya Darren,” jawab Andre yang mulai membuka bajunya.   “Apa!!” pekik Selly.   Selly benar-benar terkejut atas pengakuan dari Andre. Setahu Selly, Salsa ketakutan jika bertemu dengan Darren. Bahkan kalau sudah bertemu Salsa akan kabur duluan.   “Apakah aku tidak salah mendengar kabar dari Papa?” tanya Selly.   “Tidak. Papa malah jujur mengatakannya pada Mama,” jawab Andre.   “Sebentar Pa. Dari mana Salsa mempunyai keberanian yang berlipat ganda untuk berdekatan dengan Darren? Sedangkan Papa tahu kalau Darren benci sekali sama yang namanya perempuan?” tanya Selly.   “Cuma Salsa yang bisa menaklukkan Darren,” jawab Andre bangga pada Salsa.   “Jika Salsa benar-benar hamil. Mama akan bahagia,” ujar Selly.   “Sebaiknya kita nikahin mereka Ma. Jangan sampai kita kehilangan menantu seperti berlian,” ujar Andre dengan semangat.   “Mama sih ok... ok... saja. Bagaimana dengan si kanebo itu? Apakah Darren mau?” tanya Selly yang khawatir.   “Awalnya menolak. Namun Papa mengancam Darren untuk mencabut fasilitas yang dimilikinya jika tidak mau tanggung jawab,” imbuhAndre yang membaringkan tubuhnya.   “Apakah Papa akan melemparkan Darren ke jalan?” tanya Selly.   “Pasti. Jika Darren tidak mau bertanggung jawab atas Salsa dan juga bayinya,” jawab Andre.   “Baguslah. Mama juga suka sama Salsa. Dari dulu Mama ingin sekali mempunyai menantu yang energik seperti Salsa,” ungkap Selly dengan semangat. “Kapan mereka menikah?”   “Seminggu lagi,” sahut Andre yang memegang tangan Selly.   “Syukurlah,” ucapnya dengan syukur.     Keesokan harinya. Salsa terbangun dari tidurnya. Salsa melihat Darren yang masih tidur di sebelahnya. Entah kenapa tangannya ingin menyentuh wajah Darren. Kemudian Salsa memandanginya.   “Tampan,” ucapku dengan lirih.   “Terima kasih,” sahutnya.   “Apakah orang ini dengar ketika aku bilang tampan?” tanyaku.   “Kamu bertanya pada siapa?” tanyanya yang masih menutup matanya.   “Pada tembok,” kesalku.   “Kamu tahu tembok mengakui kalau aku tampan,” ujarnya sambil nyengir.   “Dih... Pake nyengir segala,” desisku.   “Seharusnya kamu beruntung melihatku nyengir. Jarang-jarang loh aku bisa nyengir di depanmu seperti itu,” lanjutnya.   “Ogah ah... malah aku yang ketiban s**l hari ini,” timpalku.   “Harusnya kamu berdoa kek pagi-pagi begini buat calon suamimu. Malah kamu mendoakan dirimu ketiban s**l. Kalau s**l beneran aku tidak ikut-ikutan ya,” sahutnya.   “Ya kamu harus ikut dong. Jangan aku yang ketiban s**l saja,” ujarku yang semakin kesal.   “Terserah,” balasnya dengan pasrah.   “Aku ingin pulang,” pintaku.   “Kalau kamu pulang tunggu nanti malam. Harry sedang kerja. Tidak mungkin aku menyuruh Harry ke sini,” lanjutnya.   “Terus ngapain aku di sini kalau tidak bisa pulang?” tanyaku.   “Cobalah kamu mengenalku lebih dalam. Agar kamu bisa memahamiku,” usulnya.   “Ngapain juga aku harus memahamimu?” tanyaku.   “Karena aku adalah calon suamimu. Kamu adalah calon istriku. Ada baiknya kamu belajar memahami pasangan kita masing-masing,” terangnya.   “Tumben benar. Ada setan apa yang menghinggapi dalam dirimu?” tanyaku.   “Bener-bener dech ini anak. Aku sangka kamu sudah dewasa. Tetapi kamu seperti bocah kecil yang tidak paham dengan namanya cinta,” protesnya.   “Memangnya kita pernah bertemu?” tanyaku.   “Apakah kamu mengidap amnesia?” tanyanya.   “Sumpah aku tidak ingat kamu. Sekarang aku tanya sekali lagi. Pernahkah aku bertemu denganmu?” tanyaku sekali lagi.   “Memorymu itu berapa giga sih?” sindirnya sambil memegang kepalaku.   “Dua ratus lima puluh megabytes,” jawabku dengan asal.   “Pantas saja kamu tidak ingat sama aku. Apakah kamu mengenal dengan Pak Tama guru matematika yang super tampan bak aktor Korea itu?” tanyanya.   Mendengar nama Pak Tama rasanya hatiku dingin lagi. Aku memang ngefans sama bekas guru itu. Aku senyum-senyum sendiri ketika menggodanya. Namun sayang Pak Tama orangnya kaya gunung es yang tidak pernah disinari mentari. Darren yang melihatku tersenyum malah tertawa terbahak-bahak.   Aku terkejut sekali bahkan jantungku mau keluar mendengar Darren tertawa. Jujur saja baru kali ini Darren tertawa. Entah kenapa si Kanebo ini bisa seperti ini? Apakah Darren sedang kesurupan setan genderuwo? Aku tak tahu.   “Kenapa kamu tertawa terbahak-bahak seperti itu?” tanyaku.   “Kamu benar-benar tidak tahu siapa Pak Tama?” tanyanya balik.   “Jujur aku memang tidak tahu dan tidak mengenalnya lebih dalam. Orangnya seperti kanebo dan pelit senyum. Hanya orang gilalah yang suka sama Pak Tama,” jawabku dengan jujur.   “Berarti kamu gila juga ya?” tanyanya dengan cepat.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD