DARREN FRUSTRASI KARENA ULAH SALSA.

1036 Words
  Darren semakin geram karena ulahku. Saat ini Darren ingin melahapku hidup-hidup. Aku hanya santai saja melihat Darren yang geram. Rasanya aku mempunyai keberanian berkali lipat. Ketimbang waktu pertama kali bertemu dengan Tuan Kanebo. "Salsa," panggil Andre. "Iya Tuan," jawabku. "Apakah kamu mau menikah dengan Darren?" tanya Andre. "Apa!!!" seruku. "Ugh..." "Kamu enggak apa-apakan?" tanya Darren yang panik. "Sakit," lirihku sambil meringis. "Salsa... Jangan berteriak. Lukamu belum sembuh," tegur Albert yang melihatku meringis. "Makanya jangan berteriak," ucapnya dengan dingin. "Cih... Tadi pengen muntahin mentah-mentah. Tapi kok sekarang sok perhatian," ejek Albert. "Akhirnya aku mempunyai sekutu untuk melawan Tuan Kanebo," ujarku yang mulai memprovokasi Darren.   Andre menggelengkan kepalanya karena melihatku bertengkar dengan Darren. Sementara itu Albert menahan tawanya. "Bapak kalau mau ketawa.. ketawa saja... Tidak usah ditahan begitu. Lagian juga tertawa tidak dilarang kok," ujarku.   Tawa Albert seketika pecah. Albert merasa lucu jika Darren yang benar-benar alergi dengan perempuan dijodohkan denganku yang rada-rada miring. Jujur aku memang mengakui otakku agak enggak benar. "Paman... Sepertinya Darren cocok dengan Salsa. Jika Paman menjodohkan dengan Salsa mansion Paman akan rame," usul Albert dengan semangat. "Bukan ide buruk. Namun ide itu sangat bagus. Bagaimana kalau kalian menikah bulan depan?" tanya Andre. "Apa," pekikku. "Tidak bisa tuan. Aku masih ingin hidup bebas." "Papa!!!" seru Darren yang tidak terima dengan perjodohan ini. "Jujur saja aku ingin menikah. Tapi aku tidak mau menikah dengan Salsa." "Kamu harus bertanggung jawab atas ulahmu itu. Bisa-bisanya kamu memperkosa anak gadis orang. Terus kamu tidak mau tanggung jawab gitu???" tanya Andre dengan tegas. "Iya Tuan. Aku memang diperkosa sama putra tuan ini," lanjutku yang mulai membuat keadaan semakin panas. "Apakah itu benar Darren?" tanya Andre dengan tatapan tajam. "Awas saja kamu Salsa," geramnya dalam hati. "Sudah jangan marah-marah Tuan muda Pratama... Nanti di wajahmu ada kerutan-kerutannya loh," ledekku. "Kau!!!" geramnya sambil menunjukku. "Sudahlah Tuan Muda Pratama. Jangan marah-marah terus. Enggak baik buat kesehatan," sindirku. "Baiklah. Sebulan kemudian kalian akan menikah," Andre langsung memberikan keputusannya. "Papa!!! Bisa enggak papa tidak mencampuri urusanku?" geram Darren yang benar-benar muak. "Jangan begitu Tuan muda Pratama. Hormati Papa anda," ucapku yang semakin memojokkan Darren.   Darren semakin kesal karena tidak bisa membalas perkataanku. Darren melangkahkan kakinya keluar dari kamarku. Saat mau keluar Andre memanggilnya. "Berhenti atau semuanya hilang!" titah Andre dingin.   Darren akhirnya berhenti dan tidak bergerak sama sekali. Alhasil Darren diam seperti patung. "Apakah pernah papa mengajarkanmu lari dari tanggung jawab? tanya Andre datar. "Kamu sudah menghamili Salsa. Harusnya kamu tanggung jawab." "TIDAK!!!" tegas Darren. "Ok... Kalau kamu tidak tanggung jawab. Seluruh aset yang kamu miliki akan papa serahkan ke Darren junior," ujar Andre dengan nada santai. "Pa... Yang salah bukan Darren. Yang salah Salsa. Salsa sendiri yang memberikan mahkotanya kepadaku. Papa tahu istilah kucing kalau diberi ikan akan datang. Begitu juga dengan aku. Sebagai pria normal tidak akan pernah menolaknya," jelas Darren dengan datar. "Kamu bilang apa?" tanyaku yang mulai mengobarkan api peperangan. "Albert jelaskan apa yang aku katakan tadi," titah Darren. "Maaf aku ada janji dengan Bryan. Aku harus pergi," pamit Albert yang meninggalkan kami. "Aku dijebak oleh Darren Pratama," seruku. "Siapa yang menjebakmu? tanyanya. "Tuan.. bisakah anda tidak menjodohkan saya dengan pria gila itu?" tanyaku. "Maaf Salsa. Demi kelangsungan hidup generasi penerus Pratama. Kalian harus menikah dan buatkan kami cucu sebanyak mungkin," pinta Andre. "Aku tidak akan pernah menikahi Salsa," tegasnya. "Aku juga tidak mau menikah denganmu Tuan Darren," tegasku. "Ish... Kalian ini. Kenapa juga berantem kaya Tom and Jerry begini," gerutu Andre. "Dua Minggu lagi kalian akan menikah!" "Apa!!" teriak kami berdua. "Ya kalian akan menikah dua Minggu lagi," ucap Andre. "Maaf Tuan. Aku tidak bisa menikah begitu saja dengan Tuan Darren. Jujur saja kami tidak saling mengenal satu sama lain. Aku adalah putri Ibu Gina penjual kue. Jadi kalau saya menikah dengan tuan Darren aku tidak akan mungkin melakukannya," protesku yang mulai bingung dengan apa yang terjadi. "Bagus Salsa. Teruskan pembelaanmu agar kita tidak jadi menikah," soraknya dalam hati. "Kamu tidak boleh menolak Salsa. Ingat bayi yang berada dalam perutmu itu. Dia adalah ahli waris Pratama," imbuh Andre. "Maaf Tuan. Aku tidak bisa," tolakku. "Ok... Seminggu lagi kalian akan menikah. Tidak ada tawar menawar, tolak menolak bahkan protes tidak akan saya terima!" titah Andre.   Kemudian Andre meninggalkan kami yang sedang mematung. Aku tidak bisa ngomong apa-apa tentang pernikahan ini. Rasanya aku ingin menghilang tanpa jejak. "Gara-gara kamu aku jadi nikah muda!" geramku. "Katanya kamu minta nikah. Sekarang papa sudah memberikan restu. Kamu menolaknya. Dasar cewek aneh," ledek Darren. "Aku mau nikah sama pria idamanku. Lha... Kenapa jadi kamu sih?" protesku. "Harusnya kamu bersyukur memiliki anak dariku. Mempunyai suami tampan yang kaya oppa-oppa ganteng yang berseliweran di televisi," celetuknya. "Bersyukur dari mana? Perang Dunia tiga iya," protesku lagi. "Ya sudah. Jika kamu tidak mau menikah denganku. Aku tetap menyeretmu ke kantor urusan agama. Titik enggak pake koma. Catat itu ya nyonya muda Pratama!" perintah Darren. "Bener-bener dech ini orang. Tadinya bilang diperkosa, terus nolak usulannya Tuan Andre. Lha... Kenapa juga langsung mengiyakan sih?" tanyaku. "Hey... Nyonya muda. Kamu tahu kalau aku langsung berkata tidak. Seluruh aset yang aku miliki akan disita oleh Tuan Andre Pratama," jawabnya. "Kamu mau jika aku menjadi gelandangan di jalan?" "Kenapa juga kamu jadi gelandangan?" cebikku. "Ya siapa tahu saja kamu bahagia telah mengusirku dari keluarga Pratama," sindirnya. "Hey... Tuan Darren jangan mengada-ngada! Aku masih kuat kok jualan kue! Bahkan kue buatanku malah rame di pasaran! Omset yang aku dapatkan lumayan! Kenapa kamu menuduhku untuk mengusirmu dari keluargamu? Aku hanya memintamu untuk bertanggung jawab atas kehamilanku. Jika kamu tidak bertanggung jawab ya sudah. Lagian juga aku bukan wanita matre yang ingin mendapatkan aset keluargamu itu!" paparku dengan cepat. "Gara-gara kamu aku terjebak di keluargamu!" "Mau enggak mau kamu harus menikah denganku! Titik enggak ada koma!" geram Darren. "Ok. Aku mempunyai beberapa persyaratan buat kamu. Tidak boleh berhubungan badan, tidak boleh tidur bersama, tidak boleh mencampuri urusan kita masing-masing dan satu lagi jangan pernah mengusik ketenangan jiwaku," semburku. "Mana bisa begitu. Kamu tahu kalau aku pria normal. Namanya menikah pasti ada hubungan suami istri!!" protesnya. "Kok jadi begini sih?" tanyaku. "Perjanjian gila! Aku tidak akan mau berkata ya!!" umpatnya. "Itu bukan perjanjian gila. Kalau pun perjanjian gila aku memintamu untuk tidak satu rumah," imbuhku. "Apa-apaan ini? Bagaimana bisa kamu membuat perjanjian gila seperti itu?" tanyanya yang frustrasi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD