SALSA DICULIK.

1102 Words
“Kamu b******k!!!” jawabku dengan tegas.   Darren segera naik ke atas ranjang kemudian naik ke tubuhku. Lalu Darren mendaratkan tangan kekarnya ke pipiku. Aku diam dan membuang wajahku. Darren segera meraih daguku.   “Kamu yang b******k. Apakah kamu tahu kalau dirimu sekarang sudah tidak suci lagi? Kamu adalah wanita jalangku,” ucap Darren yang datar.   Saat Darren menyebutku jalang. Hatiku terasa sakit. Aku tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar dari pria manapun. Namun Darren ternyata memperlakukanku seperti ini.   “Kamu harus tahu itu. Jalang akan selamanya menjadi jalang. Jangan pernah merasa dirimu adalah wanita baik-baik. Di mataku semua wanita itu sama saja,” tambah Darren yang tidak bisa diartikan.   Darren segera berlalu meninggalkanku. Ia masuk ke dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya. Aku yang masih berada di ranjang hanya bisa merenungkan nasibku. Aku berusaha untuk bangun dan aku segera memakai baju.   Setelah selesai memakai baju. Aku turun dari ranjang dan merasakan area sensitifku tidak nyaman. Aku merasakan sangat sakit sekali. Lalu aku tidak sengaja melihat bercak-bercak darah di sprei. Aku diam mematung dan bingung. Ingin rasanya aku menangis. Aku hanya menahannya. Aku teringat Darren sedang mandi. Lalu aku cepat-cepat untuk kabur. Kulangkahkan kaki walau rasa sakit menderaku hingga sampai ke pintu.   Sesampainya di pintu. Aku berusaha membuka pintu itu. Tetapi aku tidak bisa melakukannya. Aku mencoba keras berpikir bagaimana caranya kabur.   “Ayolah... Berpikir!!! Bagaimana caranya keluar dari sini???” tanyaku dalam hati.   “Hey... Mau ke mana kamu?” teriak Darren yang keluar dari kamar.   Tubuhku melemas tidak berdaya. Kusandarkan tubuhku di pintu. Lalu aku menangis dalam diam. Entah kenapa hari ini aku tidak punya kekuatan untuk melawannya. Aku teringat pada toko kue yang kami bangun bersama. Aku tidak mau toko kueku hancur. Karena itu sumber penghasilan keluargaku.   “Salsa Hermawan!!!” tegas Darren memanggil namaku. “Kamu harus tahu! Kesalahan apa yang telah kamu perbuat?”   “Tuan Darren,” lirihku. “Apa salahku padamu? Kenapa Tuan melakukan ini kepadaku?”   “Kamu tahu apa kesalahanmu! Ha!!!” bentak Darren dengan suara meninggi.   Aku menjatuhkan tubuhku ke lantai. Aku melihat lantai yang berkilau itu. Tangisku pecah hingga tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku kotor. Mahkotaku direnggut paksa oleh Darren.   “Bisakah aku pergi dari sini? Bisakah aku meninggalkan bumi ini?” tanyaku sambil menangis.   Darren berjongkok di depanku. Lalu ia berkata dengan kasar, “Kamu tidak bisa pergi dari sini! Jika kamu sampai keluar dari sini. Aku bisa menghancurkan usahamu itu! Camkan itu!! Turuti apa permintaanku!”   Aku tidak sanggup berkata-kata. Aku mengangguk di hadapannya agar usaha kami bisa berjalan. Siang itu Darren pergi meninggalkanku. Entah ke mana aku juga tidak tahu.   Di kediaman keluarga Hermawan. Gina sangat gelisah sekali. Gina tidak menemukan sang puteri. Gina mencoba menghubungi seluruh teman-teman sekolah Salsa. Namun nihil tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaan Salsa.   Tak lama datang Ray dan juga May. Mereka adalah sepupu Salsa yang masih kuliah. Sambil masuk May mengucapkan salam.   “Selamat siang Bi,” ucap May dengan suara lantang. “Bibi Gina!!!”   Ray segera memandang May lalu bertanya, “Ke mana Bibi Gina ya?”   “Apakah Bibi sedang keluar?” tanya May balik.   “Kalau pun keluar Bibi selalu mengunci pintu. Ini malah pintu terbuka lebar. Atau jangan-jangan,” ucap Ray yang menggantung.   May segera menarik tangan Ray untuk memeriksa rumah. Tetapi mereka tidak menemukan Gina. Tak sengaja mereka mendengar ada tangisan di dalam kamar. Mereka berlari menuju kamar itu dan melihat Gina yang menangis.   “Bibi,” pekik Ray yang mendekati Gina.   “Ada apa Bi?” tanya May.   Tatapan mata Gina kosong. Ia diam membisu tanpa kata. Lalu Gina menyodorkan ponselnya ke arah May. Dengan cepat May meraih ponsel itu dan membacanya.   “Pagi Tante Gina. Mulai hari ini Tante tidak usah mencari Salsa. Jika Tante mencari Salsa hingga lapor Polisi. Aku pastikan bahwa toko kue yang Tante bangun lenyap dalam hitungan detik. Dari Darren Pratama,” May akhirnya membaca pesan itu hingga air matanya menetes.   “Apa!!!” seru Ray.   “Apakah Salsa bersama Tuan Darren?” tanya May.   “Tuan Darren sangat kejam kepada kaum wanita. Setiap wanita yang mendekatinya selalu dihempaskan begitu saja! Aku tidak bisa membiarkan ini! Aku harus menyelamatkan Kak Salsa!!” geram Ray.   “Jangan Ray,” pinta Gina yang memegang tangan Ray. “Jangan lakukan itu. Bibi takut usaha Papamu hancur.”   Ray duduk di tepi ranjang. Ia bingung harus berbuat apa untuk menyelamatkan Salsa. Gina yang melihat keponakan kembarnya itu hanya bisa pasrah.   “Apa yang akan kita lakukan?” tanya May yang duduk di samping Ray.   “Jika kita melawan Tuan Muda Darren. Maka usaha kita hancur. Kamu sudah bacakan ancaman Tuan Muda Darren,” ucap Gina.   “Ya Tante. Aku sudah membacanya,” May menyahuti perkataan Gina.   “Sekarang kita berdoa dulu saja. Siapa tahu Salsa dilepaskan besok dengan selamat,” hibur Gina ke May dan juga Ray. Meski hatinya perih karena mendengar Salsa di culik.   Mereka mengangguk tanda setuju. Mereka hanya bisa menunggu keajaiban dari Tuhan agar bisa melunakkan hati Darren.   Di perusahaan Pratama Inc. Darren yang selesai keluar dari ruangan rapat melihat Harry. Darren segera memanggil Harry agar segera menemuinya, “Harry bisakah kamu pergi ke ruanganku sekarang?”   “Baik Tuan,” jawab Harry.   Darren berlalu meninggalkan Harry yang masih berbicara dengan beberapa kolega bisnisnya. Setelah berbicara dengan mereka, Harry menyusul Darren ke ruangannya itu.   Sambil menunggu Harry. Darren mengambil black card lalu menaruhnya di meja.   “Kamu akan menjadi milikku selamanya. Aku tidak akan pernah melepaskan kamu begitu saja,” batin Darren.   Harry akhirnya masuk ke dalam ruangan Darren tanpa mengetuk pintu. Ia berjalan menghadap Darren yang tidak bisa diartikan.   “Pergilah ke pusat perbelanjaan. Belilah baju perempuan yang bagus. Termasuk lingerie berwarna merah!” titah Darren.   Harry yang mendengar kata-kata lingerie tercekat. Harry tidak mampu berkata apa-apa. Darren yang melihat Harry tanpa mengeluarkan suara akhirnya paham.   “Kamu jangan bilang ke Mama Papaku! Jika kamu bilang aku membeli lingerie. Besok aku melemparkan kamu ke jalanan! Camkan itu Harry!” perintah Darren dengan nada dingin.   “Baik Tuan. Segera laksanakan,” sahut Harry.   “Bawa Black Cardku!” titah Darren sambil menyodorkan black card ke Harry.   Harry segera meninggalkan Darren. Harry bingung apa yang harus dilakukannya. Dalam hatinya berkecamuk. Wanita mana yang bisa menaklukkan hati Tuan Darren. Namun kata-kata Harry seakan bias karena selama ini Darren tidak pernah dekat dengan siapapun.   Di apartemen mewah Darren. Salsa merasakan perutnya keroncongan. Ia memutuskan bangun dari tidurnya. Sebelum ke dapur Salsa membersihkan tubuhnya. Salsa menyalakan shower kemudian berdiri di bawah shower. Sambil menikmati siraman shower itu. Salsa mengingat apa yang telah dilakukannya semalam.   “Kenapa aku melakukan itu sama Tuan Darren?” tanya Salsa.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD