Setelah selesai membersihkan tubuhku. Aku segera pergi menuju dapur. Aku membuka kulkas lalu mencari bahan makanan untuk aku makan. Saat aku membuka kulkas. Aku melihat bermacam-macam bahan makanan. Aku ambil beberapa macam bahan makanan itu lalu aku memasaknya.
Saat aku memasak terbesit ada pikiran untuk pergi dari sini. Namun aku urungkan niatku untuk menjauh. Aku harus bagaimana untuk menjalani hari-hariku di sini? Bagaimana dengan Mamaku? Bagaimana dengan keluargaku yang masih sayang sama aku? Jika aku bisa melawan. Aku akan melawan Darren Pratama. Tetapi kemampuanku hanya sebatas mimpi. Lebih baik aku melindungi keluargaku dan juga usaha keluargaku.
Selesai memasak aku membersihkan dapur. Entah kenapa bayangan semalam aku teringat kembali. Aku ingin menangis. Tetapi aku tidak ingin menangis. Aku sudah capek hari ini. Aku lelah. Lebih baik aku memutuskan untuk makan.
Sore yang cerah di kota Jakarta. Darren sedari tadi memandangi foto seorang gadis. Jantungnya berdenyut hebat. Darren marah sama sesosok gadis itu. Darren menyesal kenapa tidak dari dulu ia melakukannya. Kenapa tidak dari dulu dia menculiknya?
Harry yang selesai belanja kebutuhan perempuan hanya bisa menghela nafasnya. Harry menggelengkan kepalanya karena baru seumur hidupnya belanja keperluan perempuan. Setelah itu Harry pergi ke ruangan Darren. Harry mengetuk pintu sambil menunggu Darren menyuruhnya masuk.
Darren yang melihat foto itu terkejut karena mendengar ada orang yang mengetuk pintu. Lalu ia berteriak, “Masuklah!!”
Kemudian Harry masuk ke dalam untuk segera menghadap ke Darren. Ia segera menyerahkan black card itu ke Darren serta beberapa bon tagihan.
“Pulanglah! Sebelum kamu pulang tolong pindahkan barang-barang yang kamu beli tadi!” perintah Darren.
“Baik Tuan,” sahut Harry.
Harry meninggalkan Darren yang masih berada di kantornya itu. Sementara itu Darren kembali memandang foto itu tanpa henti. Tak lama ada sebuah bayangan seorang perempuan hadir di dalam kepalanya itu. Wanita itu menari sambil meliuk-liukkan tubuh indahnya. Darren segera memegang rambutnya sambil menjambaknya. Darren merasa frustrasi sekali ketika bayangan itu muncul.
“Di manakah kamu Nayla? Kamu pergi di saat cintaku merekah. Kenapa kamu menghancurkan impianku yang ingin membangun rumah tangga bersamamu!!!” Darren merancau sambil berteriak.
Darren berdiri lalu membuang semua barang-barang yang berada di mejanya itu. Amarahnya semakin memuncak ketika bayangan itu semakin jelas. Melihat pecahan kaca di lantai. Darren segera mengambilnya. Kemudian menaruh pecahan itu di pergelangan tangannya. Sebelum mengiris pergelangan tangannya itu. Seorang pria yang seumuran dengan Darren datang. Pria itu melihat Darren lalu menangkis tangan Darren. Hingga kedua tangannya terhempas.
Darren melihat pria yang telah menggagalkan rencana bunuh dirinya itu. Darren menatap tajam dengan aura membunuhnya itu.
“Kenapa kamu menghentikan aku!!!” geram Darren dengan nada menekan.
“Jangan pernah melakukan itu! Jika kamu melakukan itu! Kamu tidak akan bisa menemukan gadis impianmu!” titah pria itu.
Mendengar gadis impiannya hatinya berdenyut hebat. Darren segera membuka dasinya, “Di mana dia Bryan!”
“Apakah kamu tidak tahu. Semenjak kematian papanya. Seluruh aset keluarganya lenyap. Bahkan gadis itu menjual rumah mewahnya. Jika kamu seperti itu terus dan tidak bisa merubah sifatmu. Aku bisa memastikan gadis itu pergi menjauh dari hidupmu,” ejek Bryan nama pria itu.
“Argh!!!!” teriak Darren yang semakin frustasi.
“Sadarlah Darren. Cepatlah kamu rubah hidupmu menjadi lebih baik,” pesan Bryan.
“Antarkan aku pulang ke apartemen!” titah Darren.
Bryan tidak menjawab. Namun Bryan segera pergi dengan diikuti Darren. Bryan Wicaksono Surya adalah pria yang berusia 32 tahun. Darren dan Bryan adalah dua sahabat yang tidak dapat dipisahkan. Bryan adalah orang pertama yang mengerti akan kisah hidup Darren ketimbang kedua orang tuanya.
Saat berada di dalam mobil. Bryan melihat wajah Darren yang kacau. Bryan tidak tega melihat wajah sahabatnya itu.
“Ada apa sebenarnya? Apakah kamu ingat wanita itu lagi?” tanya Bryan.
“Kamu tahu dua tahun terakhir ini aku selalu mengingat wanita itu. Wanita yang di mana sudah menghancurkan semuanya. Hidupku sudah hancur. Aku didiagnosa mengidap penyakit mematikan,” jawab Darren dengan geram.
“Siapa yang mendiagnosamu penyakit yang mematikan itu? Siapa Ha!!!” bentak Bryan.
“Dokter Rian yang sudah mendiagnosamu,” jawab Darren.
“Akhir-akhir ini kamu semakin bodoh! Kenapa kamu pergi ke sana! Aku sudah menyuruhmu pergi ke London. Temui Dokter Albert. Periksa semua tubuhmu luar dalam!!” geram Bryan. “Ke mana Harry?”
“Aku sudah menyuruhnya pulang,” jawab Darren.
“Gara-gara kamu aku disuruh pulang!” gerutu Bryan. “Kapan sih kamu sembuh dari penyakit aneh kamu itu?”
Darren hanya terkekeh mendengar Bryan yang mengoceh. Bryan sering sekali menghibur Darren jika lagi bersedih.
“Cari istri sana,” kata Darren.
“s**l ini anak. Gara-gara kamu aku tidak memiliki istri sampai sekarang,” geram Bryan.
“Makanya cepatlah menikah,” ledek Darren.
Setelah puas meledek Bryan. Hati Darren kembali normal. Ia tidak menyangka kalau sahabatnya yang tinggal di Amerika mendadak datang.
“Kenapa kamu pulang ke sini?” tanya Darren.
“Kamu tahu WS Groups akan membuka cabang di Jakarta. Dan pak tua itu menyuruhku untuk mengurus semuanya,” jawab Bryan yang menyalakan mobil.
“Ya bagus. Ini sangat mudah bagiku mengajakmu kerja sama,” ucap Darren.
“Bagus apanya? Jika aku mengirimkan utusan wanita ujung-ujungnya kamu hempaskan seperti badai angin,” kesal Bryan.
“Pokoknya jangan sampai kamu mengirimkan utusan wanita. Jika tidak aku yang akan membakar kantormu,” titah Darren.
“Terserah,” Bryan hanya pasrah karena ulah sahabatnya itu.
Bryan segera melajukan mobilnya. Di dalam perjalanan Darren menjadi tenang. Beberapa tahun belakangan ini Darren sangat kesepian.
Aku yang selesai membersihkan apartemen Darren hanya menghembuskan nafas secara kasar. Aku bingung harus berbuat apa. Aku tidak menemukan ponselku sama sekali. Ketimbang aku tidak mempunyai pekerjaan lebih baik aku memasak.
“Mama... Mama lagi apa ya sekarang?” tanyaku.
Aku mengambil beberapa bahan makanan. Lalu aku mengupasnya. Tanpa aku sadari Darren sudah berdiri di hadapanku. Darren tidak bersuara sama sekali. Saat aku mengambil sayuran yang sudah bersih. Aku melemparkan sayuran itu ke arah Darren hingga berhamburan ke lantai. Entah kenapa aku sangat terkejut sekali.
“Tu... Tu... Tu... Tuan Darren,” ucapku dengan lirih.
“Ngapain kamu?” tanya Darren yang dingin.
“Aku sedang memasak untuk makan malam,” jawabku.
“Kenapa kamu memasaknya sedikit?” tanya Darren yang menatap tajam.
“Aku sangka Tuan tidak pulang. Makanya aku masaknya sedikit,” jawabku dengan jujur.
“Lebih baik kamu tambah porsinya. Aku juga ingin makan,” titah Darren segera meninggalkanku.
Aku tidak menjawab dan mengambil bahan-bahan yang berhamburan di lantai. Setelah itu aku menambahkan satu porsi lagi.
Harry yang sudah sampai di mansion Darren segera menemui Selly dan Andre. Sebelum pulang Selly mengirimkan pesan agar Harry datang.
Melihat kedatangan Harry, Andre mengajaknya ke taman belakang. Sementara itu Selly duduk termenung di bawah sinar bulan.
“Ma,” panggil Andre.
Sontak saja Selly terkejut. Selly segera mengangkat kepalanya lalu melihat Andre dan juga Harry.
“Ke mana Darren?” tanya Selly.