“Tuan Darren masih di kantor,” jawab Harry.
“Apakah akhir-akhir ini Darren membuat ulah lagi?” tanya Selly.
“Sudah dua Minggu ini Tuan Darren membatalkan beberapa kontrak kerja sama dengan beberapa perusahaan,” jawab Harry yang berhati-hati.
“Apa karena mereka mengirimkan wanita untuk menghandle penanda tanganan kontrak?” tanya Andre.
“Itu benar Tuan. Tuan Darren sangat marah sekali,” Harry menjawab dengan jujur.
“Kalau begini terus lama-lama akan terjadi kebangkrutan perusahaan kita. Jika ada yang ingin mengajak kerja sama dengan kita. Tolong kamu peringatkan ke mereka dahulu!” perintah Andre dengan tegas.
“Baik Tuan,” jawab Harry. “Tadi saat saya mau pulang. Saya bertemu dengan Tuan Bryan.”
“Aku yang memintanya pulang. Aku tidak bisa menangani Darren lagi,” ucap Andre dengan suara lemah.
“Tuan saya undur diri dulu,” Harry memutuskan untuk pamit.
“Sebentar,” seru Andre.
“Iya Tuan ada apa?” tanya Harry.
“Kamu jangan sampai lengah sedikit pun. Cepat atau lambat Nayla akan kembali ke Indonesia. Aku tidak mau Darren bertemu dengan Nayla,” titah Andre.
“Baik Tuan,” Harry membungkukkan badannya.
“Kalau bisa sebar semua orang-orangmu untuk menjadi Pengawal bayangan!” titah Andre.
“Baik Tuan,” sahut Harry.
Setelah memasak aku membagi makan malam itu dan meletakkan di meja. Aku segera mencari Darren yang masih berada di kamar. Aku melihat kamar Darren yang gelap.
“Tuan Darren,” panggilku.
Darren tidak menjawab panggilanku. Aku terpaksa masuk ke dalam lalu menyalakan lampu. Saat menoleh aku tidak sengaja melihat Darren yang sudah berbaring di lantai. Aku mendekatinya. Kemudian aku duduk di depannya. Mataku membulat ketika darah mengalir dari pergelangan tangannya. Dengan cepat aku melakukan pertolongan pertama. Aku mengambil kotak P3K. Lalu aku kembali dan membersihkan lukanya itu.
“Sebenarnya ada apa sih ini orang?” tanyaku dalam hati.
Ketika aku membersihkan lukanya. Darren segera membuka matanya. Lalu Darren melihatku yang membersihkan lukanya itu.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Darren yang menarik tangannya dari genggamanku.
“Apa yang kamu lakukan?” tanyaku balik sambil meraih tangannya.
Darren bergeming tidak mau memberikan tangannya itu. Aku semakin kesal melihat darah yang bercucuran di lantai. Melihat Darren yang tidak menyerahkan tangannya. Aku menaiki tubuh Darren. Aku menarik paksa tangannya yang terluka itu. Meskipun Darren menahan tangannya. Namun aku masih bisa menariknya secara paksa.
“Jangan pernah kamu lepaskan tanganmu. Sebelum aku memperban tanganmu itu!” perintahku dengan suara yang menekan.
Kemudian aku mulai membersihkan luka itu. Saat aku membersihkan lukanya. Darren hanya diam tetapi matanya tertuju ke wajahku. Setelah selesai membersihkan luka aku hanya bisa menghembuskan nafas. Lalu aku berdiri dan mengulurkan tangan sambil berkata, “Bangunlah.”
Darren bangun lalu memegang tanganku. Ia segera berdiri dan duduk di tepi ranjang. Aku yang melihat Darren dengan wajah sayu. Aku tidak bisa berkata-kata apa lagi. Kami terdiam selama hampir sejam.
Jam dinding pun tertawa. Karena aku hanya diam dan membisu. Aku seperti orang bodoh yang tidak bisa merangkai kata di hadapannya. Lalu aku ingin meminta ijin ke Darren agar aku bisa terlepas dari suasana yang mencekam.
“Aku pamit,” ucapku yang memecahkan keheningan.
“Pamit ke mana kamu?” tanyanya dengan suara tegas.
“Haduh ini orang. Bisakah kamu berbicara halus denganku. Aku sumpahin kamu darah tinggi,” umpatku dalam hati.
“Jangan mengumpatiku!” tegasnya.
Satu kata buatku saat ini adalah sabar. Sabar untuk menghadapi seseorang yang tidak bisa berbicara dengan halus. Aku teringat pada Tante Selly. Jujur saja aku ingin menemuinya. Lalu aku ingin bertanya padanya. NGIDAM APA SIH TANTE. KOK ANAKNYA GALAK BANGET BEGINI!
“Ketimbang kamu bengong. Cepat lepaskan bajuku! Setelah itu bantu aku mandi!” titahnya.
“Tuan kan bisa buka baju sendiri. Kenapa Tuan menyuruhku membuka baju?” tanyaku dengan kesal.
“Kamu tahu kalau tanganku terluka. Aku tidak mau terluka dalam,” Darren menjawab sambil memperlihatkan tangannya itu.
“Kalau aku tidak mau?” tanyaku dengan malas.
“Lihat saja nanti setelah aku mandi,” ancamnya.
Aku tidak menggubris perkataannya. Kemudian aku pergi meninggalkan Darren.
“Memangnya dia siapa menyuruhku untuk membuka bajunya,” batinku.
Darren yang melihat kepergianku dengan cepat mengejar. Tanganku ditarik. Aku berhenti dan mematung. Kemudian Darren menatapku dengan tatapan membunuhnya, “Jika kamu tidak melayaniku! Aku pastikan hidupmu akan menderita!”
Aku diam terpaku. Darren memegang leherku lalu mendorongku ke dinding, “Camkan itu Salsa!!!”
Darren segera melepaskan aku. Lalu pergi ke kamar. Aku pun memilih untuk mengalah. Aku mengikutinya ke kamar. Sesampainya di kamar Darren berdiri tegak. Jujur aku terpaksa melakukan permintaannya. Aku buka bajunya sambil membuang muka.
“Salsa!!! Lihat dengan benar!!! tegasnya.
Aku menatap Darren sambil membuka bajunya. Mau tidak mau aku melihat tubuhnya yang kekar itu. Sebagai perempuan normal aku sangat menyukai bentuk tubuhnya. Jantungku berdetak kencang. Aku mulai gugup dengan keadaan ini. Saat aku terbengong Darren membuatku kaget.
“Apakah kamu tertarik dengan tubuhku?” tanyanya.
“Tidak,” jawabku dengan cepat.
“Kamu wanita bodoh atau bagaimana. Setiap perempuan ingin melihat bentuk tubuhku. Namun kamu tidak menyukainya,” ucapnya dengan datar. “Segera bantu aku membersihkan tubuhku!”
“Baiklah,” jawabku yang malas menanggapi pernyataan Darren.
Aku mengajaknya ke toilet. Aku tidak tahu harus berbuat apalagi. Kalau aku bisa lari. Aku akan lari sejauh mungkin.
“Jangan melamun. Segera buka celanaku!” perintahnya.
“Oh... Tuhan! Cobaan apalagi ini. Aku harus bagaimana. Kalau aku boleh memilih. Lebih baik aku memandikan anak kecil,” ucapku dalam hati.
“Sebaiknya anda mandi sendiri. Saya akan membersihkan bekas darah anda,” ucapku dengan cepat.
“Kamu sudah berani melawanku! Ha!!! teriaknya dengan keras.
“Baiklah... Saya akan membantu anda mandi,” ucapku dengan lirih.
“Bagus... jadilah gadis yang penurut,” kata Darren.
Kemudian aku segera melakukannya. Wajahku memerah bak kepiting rebus. Aku langsung membuang wajahku. Kemudian aku memutuskan untuk pergi dari toilet itu. Aku merasakan tubuhku panas dingin.
“Argh... Kenapa aku bisa begini!” umpatku dalam hati.
Darren yang melihat kepergianku menyunggingkan senyumnya. Baru kali ini ia tersenyum. Jika ada yang melihatnya tersenyum. Pasti mereka akan ketiban rezeki dan juga lotere. Namun sayang momen itu lewat begitu saja.
“Salsa!!!” teriaknya dalam toilet.
“Apa???” Aku langsung membuang kain pel dan masuk ke toilet. “Ada apa?”
“Apakah kamu tidak membantu mrnggosok punggungku?” tanyanya.
Aku melihat tubuh Darren yang tidak memakai apa pun. Tubuhku melemas dan tidak bisa bergerak sedikitpun. Aku memutuskan untuk kabur lagi. Entah kenapa hari ini aku mendapatkan kesialan bertubi-tubi.
“Awas saja kalau dia memanggil lagi. Aku tidak akan pernah masuk ke sana,” geramku.
“Salsa!!!” teriaknya lagi.
“Rasanya aku ingin menangis. Lebih baik aku pergi saja dari kamar ini,” aku merutuki semua kesialanku hari ini.
Setelah membersihkan bekas darah tadi. Aku memutuskan untuk bersembunyi di belakang sofa. Aku merapalkan doa agar Darren tidak mencariku.
“Semoga saja Tuan Darren tidak mencariku!” gerutuku.