APAKAH AKU HAMIL?

1178 Words
Darren yang selesai membersihkan tubuhnya mencari Salsa. Darren mengitari apartemennya itu. Darren tidak terima kalau Salsa membangkang.   “Di mana kamu Salsa? Kamu tidak akan bisa lari dariku,” geram Darren.   Salsa yang mendengar suara Darren hanya bisa terdiam lemas. Entah kenapa malam ini Salsa benar-benar takut.   “Oh... Tuhan selamatkanlah aku,” ucapku dalam hati.   Darren mencari keberadaan Salsa di celah-celah sempit. Tak lama Darren menemukan Salsa yang bersembunyi di balik sofa.   “Oh... Jadi kamu bersembunyi di belakang sofa ya!” ucap Darren yang datar.   “Tuan Darren,” lirihku.   “Keluar dari situ. Atau aku yang akan melempar sofa ini!” titah Darren.   “Baik Tuan,” sahutku.   Aku berdiri lalu melihat Darren yang belum memakai baju sama sekali. Lalu aku mendekati Darren dan menunduk.   “Ikut denganku!” titahnya yang pergi meninggalkanku.   Aku segera mengikuti Darren ke kamar. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi sekarang. Sesampainya di kamar. Darren mulai mendekatiku dan memegang bajuku. Aku dilemparnya ke ranjang. Aku segera menghindar. Saat aku menghindar Darren naik ke atas ranjang. Lalu ia segera melepaskan handuknya.   “Puaskan aku malam ini!” titah Darren.   “Aku tidak mau Tuan,” jawabku dengan cepat.   “Kenapa kamu tidak mau?” tanyanya.   “Aku takut hamil Tuan,” jawabku yang ketakutan.   Darren beranjak dari ranjang. Lalu Darren duduk di tepi ranjang. Ia merutuki kebodohannya sendiri. Ia teringat malam kemarin yang tidak memakai pengaman.   “Bodoh. Kenapa aku tidak memakai pengaman malam itu,” Darren merasa frustasi dan menyugar rambutnya.   Sebulan telah berlalu. Aku sudah terbiasa hidup di apartemennya Darren. Kegiatanku sangat membosankan di sini. Yang aku lakukan melayani Darren seperti pasangan suami istri. Namun kami tidak terikat pada pernikahan.   Aku ingin hidup normal. Mempunyai suami yang baik dan juga perhatian. Hamil dengan pria yang kucintai dan merawat rumah dan juga anak-anak kami. Namun semuanya musnah. Aku adalah seorang wanita yang terkurung dalam sangkar emas.   Pagi ini tubuhku merasa tidak nyaman. Kepalaku sangat pusing. Perutku merasa bergejolak hebat. Aku lari ke wastafel. Kemudian aku memuntahkan isi dalam perutku. Tetapi aku tidak mengeluarkan apapun.   Hoek.... Hoek....   Rasanya perutku seperti diaduk-aduk. Aku segera membersihkannya. Tak lama Darren memanggilku dengan suara meninggi. Entah ada apa Darren berteriak seperti itu.   “Salsa!!!” teriaknya.   Aku pergi ke kamarnya. Sebelum masuk ke dalam kamar badanku terhuyung. Perlahan mataku menjadi gelap. Aku terjatuh tepat di depan kamarnya.   Darren yang selesai memakai dasi segera mencariku. Dengan aura yang dingin ia segera melangkahkan kakinya. Ketika ingin keluar Darren melihatku pingsan. Ia segera mengangkat tubuhku dan membaringkan di ranjang.   Dengan tidak kepeduliannya. Darren tidak memanggil dokter. Ia membiarkanku pingsan. Hampir setengah jam aku terbangun. Kepalaku terasa berat. Entah ada apa denganku kali ini.   Darren yang sudah sampai ruangan segera memanggil Harry. Sambil menunggu kedatangan Harry, Darren memeriksa berkas-berkas. Beberapa detik kemudian Harry sudah berdiri di hadapan Darren.   “Tuan Darren,” sapa Harry.   “Apa kegiatanku pagi ini?” tanya Darren secara tegas.   “Hari ini ada pertemuan dengan beberapa klien dari luar negeri secara serempak. Siangnya meninjau ulang pembangunan apartemen di Depok. Sorenya anda free,” jawab Harry.   “Limpahkan semua ke Papa. Aku tidak mau mengikuti meeting secara serempak!” titah Darren.   “Baik Tuan,” jawab Harry. “Saya permisi dulu Tuan.”   Harry pergi meninggalkan Darren. Ia langsung menuju ke ruangan presider. Sesampainya di sana Harry mengetuk pintu.   Andre yang berada di dalam langsung berteriak dan menyuruhnya masuk. Ia segera masuk ke dalam ruangan.   “Selamat pagi Tuan Andre,” sapa Harry sambil membungkukkan badannya.   “Pagi Harry,” balas Andre dengan ramah.   “Tuan... Tuan Muda tidak mau menghadiri pertemuan beberapa klien dari luar negeri. Tuan Muda meminta anda untuk menemui mereka,” kata Harry.   “Apa!” pekik Andre. “Kenapa Tuan mudamu itu tidak mau menemuinya?”   “Saya kurang tahu Tuan,” jawab Harry.   “Kenapa lagi ini anak?” tanya Andre. “Pergilah!”   Kemudian Harry meninggalkan Andre. Melihat kepergian Harry, Andre menghubungi Bryan untuk datang ke kantor. Setelah menghubungi Bryan, Andre memutuskan untuk menemui Darren.   Salsa yang terbangun dari tidurnya hanya bisa berbaring. Salsa masih merasakan kepala pusing. Ia tidur miring lalu mengingat kapan terakhir kali datang bulan. Saat menghitung Salsa terkejut karena bulan ini tidak mendapatkan tamu bulannya itu.   “Apakah aku hamil?” tanyaku. “Kalau aku hamil, Apa yang akan dilakukannya padaku?”   Salsa hanya bisa pasrah saja. Ia tidak mempedulikan keadaannya. Sementara di kediaman keluarga Pratama, Selly sedang menunggu pesanannya. Selly berharap kalau hari ini yang datang adalah Salsa.   “Nyonya,” panggil Bi Ayu kepala pelayan.   “Iya... Ada apa Bi?” tanya Selly.   “Akhir-akhir ini kok non Salsa tidak datang ya?” tanya Ayu balik.   “Aku tidak tahu Bi. Aku sudah menanyakan pada Mbak Gina. Tetapi jawabannya Salsa berada di luar kota,” jawab Selly. “Aku ingin menjodohkan Salsa untuk Darren.”   Bi Ayu yang mendengar rencana Selly sangat terkejut. Entah kenapa Bi Ayu tidak mengizinkan Selly, “Maaf Nyonya. Bukannya saya lancang untuk ikut campur dalam urusan ini. Kalau saya boleh usul Non Salsa jangan dijodohkan dengan Tuan Darren. Bibi takut kalau Non Salsa kenapa-kenapa.”   “Aku juga bingung Bi. Jika aku menjodohkan Salsa. Bagaimana nasibnya? Disisi lain Darren juga harus menikah,” jelas Selly.   “Apakah tidak ada gadis lain?” tanya Bi Ayu.   “Aku sudah sering membicarakan ini kepada Andre. Namun Andre angkat tangan. Bibi tahu sendiri setelah kepergian Nayla. Darren berubah drastis. Seluruh teman wanitanya datang ke sini dihempaskan begitu saja. Kami takut jika menjodohkan Darren dengan putri teman bisnisnya. Darren akan menghancurkan wanita itu dan juga usahanya,” jawab Selly dengan gamblang.   Bi Ayu tidak bisa memberikan usulan lagi ke Selly. Bi Ayu tahu semua tentang keluarga Pratama. Meskipun Bi Ayu adalah pelayan, Selly sangat menyukai Bi Ayu. Selly menjadikan Bi Ayu sebagai tempat keluh kesahnya.   “Jadi,” ucap Bi Ayu menggantung.   Selly menggelengkan kepalanya lalu melihat Bi Ayu dengan sendu, “Aku tidak bisa melakukannya bi.”   “Yang sabar ya Nya,” hibur Bi Ayu.   Sore yang cerah. Bryan segera menemui Andre untuk melaporkan hasil meetingnya itu. Saat akan masuk, Bryan bertemu dengan Harry.   “Tuan Bryan,” panggil Harry.   “Ya Harry,” balas Bryan yang sedang memegang map.   “Bisakah malam ini kita bertemu?” tanya Harry.   “Bisa. Pergilah ke apartemenku nanti malam. Aku juga ingin membicarakan sesuatu denganmu,” jawab Bryan.   “Baik Tuan,” sahut Harry.   Setelah bertemu dengan Harry, Bryan melangkahkan kakinya menuju ke ruangan Andre. Sementara itu Darren segera menghentikan aktivitasnya. Ia segera beranjak dari duduknya. Sebelum ia pergi, Harry masuk ke dalam ruangan Darren.   “Tuan,” panggil Harry.   “Untung kamu ke sini. Tugasmu mulai besok adalah menawarkan berbagai jenis produk yang ada di toko kue S&G. Buatlah sebuah brosur yang menarik minat pelanggan. Kirim semuanya lewat email untuk membeli produk S&G!” perintah Darren.   “Baik Tuan,” sahut Harry yang mematung.   Akhirnya Darren pergi meninggalkan Harry yang mematung. Sedangkan Harry dibuat bingung oleh sikap Darren. Entah kenapa sore ini Darren berbaik hati membantu toko kue S&G itu.   “Ada apa ya dengan Tuan Darren?” tanya Harry.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD