GARA-GARA KUE SUS.

1177 Words
Setelah mendapat perintah dari Darren. Harry segera bergegas mengerjakan tugasnya. Ia membuat brosur sekreatif mungkin. Saat membuat brosur, ada seorang pria mendatanginya.   “Harry,” sapa pria itu.   Harry mendongakkan kepalanya. Kemudian ia melihat pria tampan yang berkacamata, “Albert.”   “Ya ini aku,” sahut Albert nama pria itu.   “Kapan kamu datang?” tanya Harry yang berdiri.   “Siang tadi,” jawab Albert yang menghempaskan bokongnya di sofa.   “Tumben ke sini,” ejek Hary.   “Aku mendapatkan informasi kalau Nayla akan datang ke sini,” ucap Albert.   “Apa benar?” tanya Harry yang mengerutkan keningnya.   “Itu benar. Dia memang datang untuk mendekati Darren. Jika itu terjadi aku bisa memastikan hidup Darren hancur,” jawab Albert.   “Oh... Tuhan... Apa salah Darren?” tanya Harry.   “Aku tidak tahu. Inilah pertanyaan yang cukup rumit. Wanita itu datang saat Darren masih normal lalu merusaknya. Ketika wanita itu pergi Darren menjadi berubah. Dari yang ramah terhadap wanita. Sekarang Darren menjadi pembenci wanita. Bahkan tante Selly juga sering terkena amarahnya,” jawab Albert yang melipat kakinya.   “Kok aku tidak tahu ya jika Nayla mau ke sini?” tanya Harry.   “Kamu terlalu sibuk mengurusi pekerjaan Darren. Hingga kamu lupa pekerjaan utamamu apa. Namun untunglah, Bryan sudah membereskan semuanya,” ledek Albert.   “Apakah Tuan Bryan menyuruhmu pulang?” tanya Harry yang mulai curiga.   “Ya... bahkan Paman Andre mengultimatum aku,” jawab Albert yang menghela nafasnya. “Aku sedang menyelidiki sampel darah Darren. Obat yang diberikan oleh wanita itu mengandung zat kimia yang sangat berbahaya. Aku belum memastikan obat apa yang diberikannya itu.”   “Apakah bisa menyerang otak lalu menyebabkan lumpuh?” tanya Harry.   “Aku masih belum menemukan efek samping obat tersebut,” jawab Albert. “Tujuan utamaku ke sini adalah membalikkan Darren menjadi dulu lagi.”   “Kita lihat saja nanti,” ucap Harry yang dingin.   Salsa yang masih pusing dan mual hanya berdiam diri. Salsa duduk di dapur sambil menatap meja yang masih kosong. Entah apa yang bisa dilakukannya kali ini. Ia merenungi nasibnya ke depan. Ia harus mencari cara agar bisa keluar dari sini untuk lepas dari jeratan Darren.   “Apa yang bisa aku lakukan? Aku ingin pergi dari sini. Aku sangat merindukan Mama terutama kue susnya itu. Apakah aku harus ngomong saja pada Tuan Darren saja ya?” gumam Salsa.   Tanpa diketahui oleh Salsa. Darren sudah berdiri di depannya. Darren segera menyahuti Salsa dengan suara yang tegas, “Jika kamu berusaha kabur dari sini. Ingatlah satu hal yaitu nasib mamamu yang berada di toko. Aku bisa saja menghancurkan toko kuemu itu sewaktu-waktu. Jadi menurutlah kepadaku.”   “Tuan... Aku tidak kabur. Aku bosan di sini. Jika aku mati bagaimana?” ucapku yang asal.   “Siapa bilang kamu bisa mati di sini? Apakah aku tidak memenuhi bahan-bahan makanan di kulkas! Ha!!!” geram Darren dengan suara meninggi.   Aku terdiam sambil menunduk. Entah apa yang bisa aku lakukan. Aku sangat lemah berada di hadapannya. Entah kenapa aku tidak bisa melawannya.   “Aku ingin makan kue sus buatan Mama,” ucapku sambil berlinang air mata.   “Bukannya kamu bisa membuat kue sus? Apakah barang-barangnya kurang? Kalau kurang besok aku belikan!” ucap Darren dengan datar.   “Aku mau makan kue sus buatan Mama,” lirihku.   Tangisku pecah ketika bayangan kue sus buatan Mama di kepalaku. Aku ingin sekali memakan kue sus itu. Namun Darren tidak menggubrisku dan malah pergi meninggalkanku sendiri.   Sejam aku tidak berhenti menangis. Hingga Darren pusing melihatku. Darren menjadi geram dengan ulahku.   “Bisa enggak sih kamu diam!!!” bentak Darren dengan suara meninggi.   “Aku mau kue sus,” rengekku.   “Diam!!! Atau aku pukul!!!” geram Darren yang mengepalkan tangannya lalu menggebrak meja.   Aku diam lalu pergi meninggalkan Darren. Perutku sangat lapar hari ini. Aku belum makan apapun. Terlebih seharian aku mual dan muntah secara terus menerus. Aku hanya tidur seharian dan tidak mempedulikan keadaan. Sementara itu Darren pergi ke ruangan kerja untuk mengambil map. Lalu Darren mencariku di ruangan keluarga. Darren melempar map itu tepat berada di depanku.   “Segera baca semuanya! Setelah itu tanda tangani,” ucap Darren dengan datar.   “Apakah ini surat perjanjian?” tanyaku yang meraih map itu.   Darren tidak menjawab pertanyaanku. Darren langsung meninggalkanku. Aku hanya bisa sabar menghadapinya. Kemudian aku membacanya satu persatu. Aku bolak-balik surat itu hingga paham. Memang ini perjanjian yang sangat menguntungkan buatku apalagi toko kue yang saat ini berjalan. Kalimat terakhir yang dituliskannya adalah aku boleh keluar dari apartemen. Namun jika Darren menginginkan aku. Aku harus ada buatnya. Hatiku terasa sesak ketika aku mencerna apa yang ditulis itu. Darren menganggapku sebagai wanita kotor. Wanita yang sangat hina sekali. Jika aku tidak mau menuruti permintaannya, toko kue adalah taruhanku. Aku tidak boleh bercerita apapun dan kepada siapapun.   “Mama... Aku rindu,” ucapku dalam hati.   Di apartemen kawasan Thamrin. Empat orang pria sedang berkumpul. Mereka sedang membicarakan masa depan Darren. Mereka adalah Andre, Harry, Albert dan Bryan.   “Apa yang kamu temukan?” tanya Bryan ke Albert yang membuka pembicaraan itu.   “Aku dapat informasi dari agen rahasia. Kalau Nayla berencana kembali ke Jakarta dalam waktu dekat ini,” jawab Albert yang serius.   “Apakah kamu bekerja sama dengan agen pemerintahan?” tanya Andre.   “Tidak Tuan. Aku memang menyuruh anggota perempuanku untuk menjadi temannya Nayla,” sahut Harry.   “Jadi anggota perempuanmu itu bekerja sama dengan Nayla. Lalu seluruh informasi yang didapatkan oleh anggotamu diteruskan ke Albert dan juga kamu,” Bryan mulai menganalisis semuanya.   “Itu benar. Jadi aku secara diam-diam mengikuti Nayla tanpa sepengetahuan Tuan Darren,” ucap Harry.   “Apakah Darren sering memanggil nama Nayla?” tanya Andre.   “Itu benar Tuan,” jawab Harry.   “Bagaimana kita giring Darren ke London untuk melakukan pemeriksaan jiwa dan kesehatan?” usul Bryan sambil melipat kakinya.   “Apakah kamu yakin?” tanya Albert.   “Memangnya itu perlu?” tanya Harry yang mulai khawatir.   “Itu perlu dilakukan. Aku mulai curiga dengan Dokter yang menangani kesehatan Darren,” jawab Bryan dengan yakin.   “Apakah obat itu bisa mempengaruhi kesehatan Darren?” tanya Andre.   “Teman-temanku sesama ilmuwan masih memeriksa kandungan obat itu. Untuk sementara obat itu menyerang sistem saraf otak dan bisa mengakibatkan kanker otak, kelumpuhan dan tidak bisa memiliki anak,” jawab Albert.   “Apa!” pekik Andre.   “Dari mana Nayla mendapatkan obat itu?” tanya Bryan.   “Dari mafia. Dan aku tidak tahu pasti mafia mana yang bekerja sama dengan Nayla,” jawab Harry.   “Apakah paman tidak mencarikan seseorang yang bisa merawat Darren?” tanya Bryan.   “Bagaimana aku mencarinya jika Darren sangat membenci perempuan?” tanya Andre ke Bryan.   “Salsa Hermawan,” satu nama yang lolos dari bibir Bryan.   “Salsa Hermawan,” Harry terkejut mendengar nama Salsa lalu menatap wajah Bryan.   “Masa kamu tidak tahu Salsa siapa? Salsa adalah seorang putri dari Rudy Hermawan dan juga Gina Hermawan. Darren memang menyukai gadis itu sebelum bertemu dengan Nayla. Dulu Darren suka menguntit ke mana gadis itu pergi. Bahkan Darren rela menjadi guru Matematika di sekolahnya Salsa,” kata Bryan dengan jujur.   “Jadi selama ini?” tanya Andre.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD