AKHIRNYA AKU BEBAS.

1083 Words
“Itu benar. Sebelum perkenalannya dengan Nayla. Darren sudah mempunyai perasaan ke Salsa. Ketika Nayla datang perasaan itu terkubur oleh Nayla,” jawab Bryan yang menjelaskan semuanya.   “Ada satu pertanyaan di dalam hatiku. Apakah mau Nona Salsa hidup bersama Tuan Darren? Sedangkan perilaku kejam Tuan Darren terhadap wanita sudah menyebar ke mana-mana,” sahut Harry yang gelisah.   “Yang dikatakan Harry benar. Jika Salsa mau hidup bersama Darren akan terjadi,” Albert menggantung ucapannya itu.   Mereka terdiam dan bingung akan keputusan Bryan. Jika Andre menikahkan Salsa akan ada perlakuan buruk. Namun jika Darren tidak menikah siapa yang mendampinginya kelak? Mereka khawatir dengan kondisi Darren.   “Aku tidak jadi masalah dengan Darren menikahi Salsa. Disisi lain Salsa bisa menjaga dan merawat Darren,” ujar Bryan yang memecahkan suasana hening.   “Yang dikatakan Bryan benar. Jika Darren tidak segera menikah. Yang aku takutkan bagaimana kesehatan Darren? Apakah aku harus memberinya seorang perawat pria untuknya? Andaikan Salsa berada disisinya kemungkinan besar Darren bisa mengenal cinta dan juga kasih sayang seorang wanita. Aku berharap Darren segera normal kembali,” tambah Albert.   “Baiklah. Keputusan kalian aku menampungnya. Aku harus membicarakan ini kepada Selly,” sahut Andre.   Andre akhirnya memutuskan untuk mengambil saran itu. Namun Andre harus berdiskusi dahulu dengan Selly sang istri. Sedangkan di apartemen Salsa sudah menanda tangani berkas itu. Salsa merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya. Ia ingin dekat dengan Darren.   “Ada apa denganku ya? Aku ingin dekat dengan Tuan Darren?” tanyaku dalam hati.   Aku memberanikan diri untuk pergi ke kamar. Aku masuk pelan-pelan tanpa membangunkan Darren. Aku melihat Darren yang tertidur sangat pulas sekali. Akhirnya aku naik ke ranjang dan berbaring mendekati Darren.   “Semoga saja Tuan Darren tidak marah kepadaku,” ucapku dalam hati.   Sebelum aku tidur. Aku mengendus aroma tubuh Darren yang membuatku tenang. Aku mulai memejamkan mataku.   Tepat jam 1 malam. Darren terjaga lalu melihatku yang tidur di dadanya. Ia melihatku dengan lekat. Darren mulai mengabsen satu persatu wajahku. Ia mulai memegang wajahku dan menyunggingkan senyum.   “Bisakah kita seperti ini? Jika kamu tahu siapa aku sebenarnya? Apakah kamu masih tetap disisiku? Apakah kamu mau membantuku untuk melupakan wanita b******k yang sudah menghancurkan hidupku? Jika aku mohon kepadamu apakah kamu mau? Namun apakah kamu mau merawatku jika nanti aku mengidap penyakit yang ganas?” tanya Darren dalam hati.   Semua pertanyaan yang ada dalam benaknya masih samar. Yang ditakutkan olehnya ketika Salsa mengetahui kalau dirinya bukan pria yang sempurna. Darren mulai teringat akan dengan ucapan Bryan tempo dulu. Kenapa ia tidak pergi ke London untuk memeriksaka kondisinya luar dalam? Disisi lain Darren memiliki dokter pribadi. Di mana Darren harus meminta ijin terlebih dahulu.   Tak lama aku mengigau. Aku tidak sadar memanggil nama seseorang. Aku semakin kencang memanggil nama itu hingga kedengaran di telinga Darren.   “Pak Tama... Pak Tama jangan pergi. Aku hamil pak. Bagaimana dengan anakku ini? Apakah bapak mau bertanggung jawab atas kehamilanku?” ucapku yang semakin jelas.   Darren semakin mendekap erat tubuhku. Lalu berbisik di telingaku, “Jangan takut. Kita hadapi bersama. Jaga kandunganmu. Kelak suatu hari aku sudah tidak ada. Dialah yang akan menjadi pelindungmu.”   Semakin jelas perkataan itu. Aku menangis ketika bermimpi dengan Pak Tama guru matematikaku. Di dalam mimpi itu Pak Tama berbicara dengan kalimat yang sama dengan Darren. Aku mulai menangis terisak. Darren yang melihatku menangis mulai menenangkanku.   Aku tertidur kembali hingga pagi menjelang. Lalu aku terbangun dari tidurku karena mual kembali menyerangku. Aku segera pergi ke toilet dan memuntahkan seluruh cairan yang ada dalam tubuhku. Wajahku semakin pucat dan kondisi badan semakin lemah.   “Rasanya tidak enak. Aku selalu mual dan juga muntah. Oh... Tuhan ada apakah aku?” tanyaku dalam hati.   Satu jam aku belum juga keluar dari toilet. Aku sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan. Kupaksakan jalan hingga ke dalam kamar lalu pingsan.   Darren mulai meraba sampingnya. Lalu ia tidak menemukanku. Darren membuka mata dan bangun. Darren tidak sengaja melihatku pingsan. Ia mendekatiku lalu mengangkat tubuhku dan membaringkan di ranjang king sizenya itu.   “Apakah kamu semalam tidak makan?” tanyanya dalam hati.   Aku membuka mata. Lalu melihat Darren yang sedang menungguku bangun. Aku mulai ketakutan melihat Darren dengan wajah yang susah ditebak. Rahangnya yang tegas dan juga matanya tajam seperti elang yang siap-siap menangkap sang mangsa. Aku mulai bergidik ngeri dan mencoba bangun.   “Maaf... Tuan Darren,” lirihku.   “Apakah kamu semalam tidak makan?” tanyanya dengan tegas.   Aku hanya menggelengkan kepalaku lalu terdiam. Aku mulai memegang perutku yang kosong sama sekali lalu berkata, “Aku ingin kue sus buatan Pak Tama.”   “Siapa Pak Tama itu?” tanyanya lagi.   “Pak Tama adalah guru matematika yang paling ganteng di sekolah. Terakhir aku selesai sekolah. Aku sudah tidak menemukannya. Entah di mana keberadaannya sekarang,” ucapku.   Jujur saja aku rindu pada Pak Tama guru matematika yang paling kece itu. Aku terpaksa mengatakan itu agar Darren mengerti apa maksudnya? Memori masa lalu dengan Pak Tama akhir-akhir ini menari indah. Entah apa yang aku pikirkan saat ini.   “Kenapa kamu tidak makan?” tanyanya.   “Bagaimana bisa masak jika aku tidak menyukai bau bawang,” jawabku dengan jujur.   “Kamu bodoh atau apa? Kamu tidak memeriksa kulkas satu lagi! Di sana aku menyimpan banyak roti dan juga selai. Kamu bisa mengambilnya. Lalu kenapa kamu tidak mengambilnya?” tanyanya dengan nada dingin.   Darren segera pergi meninggalkanku. Darren pergi ke dapur lalu membuat sarapan. Satu nama yang lolos aku ucapkan tadi terngiang dalam telinganya yaitu Pak Tama. Dulu memang ia pernah mengejar Salsa dan rela menjadi guru. Ia menyesali masa lalunya karena saat itu tidak langsung melamarnya bahkan menikahinya. Selesai membuat sarapan. Darren mengantarkan sarapannya. Lalu ia menyerahkannya kepadaku, “Makanlah! Setelah itu pergilah dari sini!”   Aku mengangguk lalu memakan roti buatan Darren. Sementara itu Darren menuju ke toilet. Sejam berlalu. Aku sudah rapi dan berpamitan kepada Darren.   “Tuan,” panggilku.   “Ini ponselmu dan juga kunci mobilmu. Ingat jangan bercerita apapun tentangku! Dan jika aku membutuhkanmu. Kamu harus bersedia menemuiku!” titah Darren.   “Baik Tuan,” sahutku.   Aku meninggalkan Darren sendirian. Hari ini aku merasa senang ketika melihat dunia ini. Aku rindu pada kota Jakarta yang sangat ramai dan juga kemacetannya.   Sementara itu Darren menunggu Harry yang menjemputnya. Sebelum Harry datang, ia mengambil laptop lamanya lalu mencari video-video lama Salsa yang masih memakai baju putih abu-abu. Tak lama Harry datang dengan membawa sarapan yang dimintanya itu.   “Tuan Darren,” sapa Harry yang sopan.   “Duduklah,” suruh Darren.   “Ada apa Tuan memanggilku ke sini?” tanya Harry yang menghempaskan bokongnya di sofa.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD