PASRAH (DITAWAN LAGI).

1151 Words
“Atur perjalananku ke London. Siapakan aku tiket dua kelas bisnis,” tegas Darren.   “Apakah waktu dekat ini?” tanya Harry.   “Ya... Kalau bisa besok,” jawab Darren dengan datar.   “Kalau begitu Tuan harus memakai jet pribadi,” kata Harry.   “Aku tidak mau. Aku ingin memakai pesawat komersil. Dan segera urus dokumen perjalanan Salsa Hermawan. Aku ingin dokumen itu jadi dalam waktu dekat ini. Aku tidak ingin berlama-lama!” ucap Darren dengan tegas.   Mendengar nama Salsa, Harry terkejut. Entah kenapa Harry hatinya bertanya-tanya. Apa yang dimaksud Salsa adalah gadis itu?   “Maaf Tuan. Apa yang dimaksud adalah Nona Salsa putri dari Bu Gina?” tanya Harry.   “Iya. Aku mau dia yang menemaniku selama di London,” jawab Darren.   “Baiklah. Kalau begitu saya urus langsung,” sahut Harry.   Salsa yang sudah sampai rumah matanya berbinar. Salsa keluar dari mobil lalu segera masuk ke dalam. Namun di dalam rumah hanya ada dua asisten rumah tangga yang sedang bersantai. Salsa pergi ke dapur kemudian mencuci tangannya.   “Aku sangat lapar sekali,” ucapku.   Aku mulai mencari kue sus buatan Mama. Namun aku tidak menemukannya. Aku hanya menemukan kue keju beberapa toples. Entah ini milik siapa atau bukan. Mataku berbinar dan segera memegang salah satu toples itu. Aku membawanya ke dalam kamar.   “Mari kita makan,” ucapku dengan girang.   Aku menyetel televisi dan mengamati berita itu. Entah kenapa aku tidak tertarik dengan berita yang ditayangkan. Aku mulai menghabiskan kue itu. Setelah menghabiskannya aku memutuskan untuk tidur.   Dua jam berlalu. Gina pulang dari Gereja. Ia tak sengaja melihat mobilku yang terparkir di halaman rumah. Gina melangkahkan kakinya menuju ke kamarku. Pelan-pelan Gina masuk ke dalam tanpa membangunkan. Tak sengaja ia menyenggol toples hingga jatuh.   Klontang.   Suara toples itu berbunyi nyaring. Salsa terbangun dari tidurnya. Ia bangun lalu melihat Gina. Matanya berbinar lalu segera berdiri.   “Mama!!!” teriakku.   “Salsa,” ucap Gina dengan rasa syukur. “Akhirnya kamu kembali nak.”   Gina memeluk erat tubuhku. Gina merasakan tubuhku yang menyusut, “Apakah berat badanmu turun lagi?”   Seketika aku melepaskan pelukan. Aku melihat mama yang mulai khawatir dengan kondisi tubuhku. Dengan cepat aku menggelengkan kepala lalu menjawabnya, “Apa iya Ma? Perasaanku masih sama seperti dahulu.”   “Apakah kamu sakit?” tanyanya.   “Tidak,” jawabku.   Mata Gina membulat sempurna karena melihat toples yang jatuh tadi. Matanya menatap tajam kepadaku. Aku sempat bingung apa yang telah terjadi.   “Ma... Ada apa?” tanyaku.   “Kamu tadi makan kue keju?” tanya Gina balik.   “Iya Ma,” jawabku.   “Oh tidak... Habislah Mama,” ucap Gina dengan pasrah.   “Memangnya ada apa Ma?” tanyaku yang semakin penasaran.   “Kamu tahu itu kue keju pesanannya Tuan Muda Darren,” jawab Gina yang mulai ketakutan.   Aku langsung melemas dan tidak sanggup berkata apa-apa. Aku bingung karena ulahku sendiri.   “Bagaimana ini? Tuan Muda Darren akan ke sini sebentar lagi. Habislah Mama,” ucap Gina dengan lemah.   “Apa benar orang itu mau ke sini?” tanyaku.   “Iya. Setelah Mama keluar dari Gereja. Tuan Harry menghubungi Mama agar disiapkan pesanannya,” jawab Gina yang shock.   Mendengar nama Darren hatiku mencelos. Orang itu telah merenggut kesucianku. Bahkan aku tidak bisa melawannya.   “Bagaimana Ma?” tanyaku. “Apakah Mama bisa membuat lagi?”   “Apa?” pekik Gina. “Kamu kira buat kue keju bisa jadi dalam waktu sejam? Mana lagi Mama kehabisan keju.”   Tak lama deru suara mobil sports tiba. Aku mendekati jendela lalu mulai mengintip. Jantungku berdetak kencang. Mobil itu adalah mobil yang membawaku menghilang.   “Oh... Tuhan... Tuan Darren benar-benar datang ke sini,” ucapku dengan lirih hingga kedengaran telinga mama.   “Ada apa sayang?” tanya Gina yang mendekatiku.   “Ma... Tuan Darren sudah datang,” jawabku.   “Apakah kamu yakin kalau Tuan Darren datang?” tanya Gina yang mendekatiku.   “Ya itu benar Ma,” jawabku.   Gina mengintip mobil mewah itu yang terparkir. Gina terkejut melihat mobil itu dan tubuhnya melemas.   “Tuan Darren memang sudah datang,” ucap Gina. “Mama harus berbuat apa? Kue kejunya kamu makan satu toples?”   “Serahkan pada Salsa. Salsa yang akan membereskan masalah ini. Salsa tidak akan membiarkan Tuan Darren menyakiti Mama!” tegasku.   Namun dalam hati nyaliku menciut. Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Yang aku lakukan sekarang adalah menghadapinya lalu berkata jujur kalau kue keju pesanannya hilang satu toples. Kemudian aku meminum air untuk menetralkan emosiku. Aku harus bisa menghadapi Darren.   Setelah itu aku memutuskan untuk keluar. Sesampainya di luar aku melihat Darren tidak turun dari mobil. Aku semakin kesal kepada Darren. Namun apa lagi aku harus menuruti apa kemauannya.   “Kenapa sih ini orang tidak mau turun?” tanyaku dalam hati.   Aku mendekati mobil itu. Lalu aku masuk ke dalam dan melihat Darren yang masih sibuk dengan ponselnya.   “Tuan ada apa?” tanyaku dengan sopan.   “Ambilkan pesananku,” jawab Darren.   “Maaf Tuan. Pesanan anda telah aku makan,” ujarku dengan jujur.   “Aku hanya butuh satu toples. Berikan padaku satu toples!” titah Darren.   “Baiklah Tuan,” jawabku.   Aku segera keluar dari mobil. Aku menuju ke dalam rumah lalu melihat Gina yang masih mematung, “Ma.”   “Bagaimana nak negosiasimu itu?” tanya Gina.   “Tuan Darren hanya minta satu toples saja. Aku akan mengambilnya dan menyerahkan ke Tuan Darren,” jawabku.   Akhirnya Gina bisa bernafas lega. Gina mengajakku untuk mengambil kue keju yang tinggal lima toples itu. Aku menaruh toples itu di papper bag.   Kemudian aku menuju ke depan lalu mendekati mobil Darren. Entah kenapa aku melihat ada dua mobil yang baru saja datang. Perasaanku mulai tidak enak.   “Kenapa perasaanku mulai tidak enak begini ya?” batinku.   Aku masuk ke dalam kemudian memberikan toples itu, “Tuan ini.”   “Taruh di belakang!” perintah Darren yang mengunci pintu dari dalam.   Darren menyalakan mobilnya lalu pergi meninggalkan rumah. Aku memandang Darren yang penuh pertanyaan.   “Temani aku ke pantai,” jawabnya.   “Tapi Tuan,” sanggahku.   “Ingat perjanjian yang telah kamu tanda tangani itu. Jika aku memintamu hari ini. Kamu harus menurutinya,” ucap Darren datar.   Aku hanya bisa pasrah dengan keadaan. Baru tadi pagi aku bebas menghirup udara bebas. Dan hanya beberapa jam aku sudah ditawannya lagi. Hanya satu kata untuk saat ini adalah pasrah.   Di kediaman Pratama.   Andre yang sedang bermalas-malasan di ranjang hanya ditemani beberapa email yang masuk. Ia melihat Selly yang sedang berdandan. Andre memicingkan matanya lalu memutuskan untuk bangun.   “Mau ke mana sih kok rapi begini?” tanya Andre.   “Mama mau ke rumah Bu Gina. Mama rindu sama Salsa,” jawab Selly yang membenarkan alisnya.   “Ma... Apakah Mama setuju kalau Salsa menjadi istri Darren?” tanya Andre.   Selly terdiam lalu merasakan dadanya sesak. Ia bingung mau berkata apa lagi. Bukannya tidak setuju jika Salsa bersanding dengan Darren. Namun apakah kuat Salsa menghadapi Darren?   “Ma... Apakah Mama setuju jika Salsa menjadi istri Darren?” tanya Andre lagi.      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD