"Jika Papa menjodohkan Salsa buat Darren, bagaimana kehidupan Salsa?" tanya Selly balik.
"Ya mau tidak mau. Salsa anak yang baik. Salsa tipe penyayang dan penuh kasih sayang. Papa harap Salsa bisa mengubah kehidupan Darren," ucap Andre yang mendekati Selly.
"Pa... Jangan Salsa. Carilah wanita yang lain. Mama tidak mau Salsa menjadi bulan-bulanannya Darren," ujar Selly yang tidak setuju.
"Ma... Dengarkan Papa dulu. Rencananya Papa ini hanya pernikahan kontrak saja. Jadi Papa akan melamar Salsa dalam jangka waktu lima atau sepuluh tahun. Papa akan memberikan kompensasi satu rumah, satu apartemen, satu mobil dan juga uang sebesar lima puluh milyar," kata Andre yang memegang pundak Selly.
"Bagaimana kalau Darren menyakiti Salsa?" tanya Selly yang memegang tangan Andre.
"Semua itu sudah menjadi resiko. Bagaimana kalau Papa buat kontrak yang berisi kedua belah pihak tidak boleh saling jatuh cinta?" tanya Andre.
"Cih... Papa.. apa bisa orang tinggal serumah harus menahan perasaan cinta itu?" tanya Selly balik.
"Memang ada ya... Kisah cinta seperti itu? Maksud Papa mereka tidak boleh jatuh cinta?" tanya Andre yang membingungkan.
"Papa kok tambah membuat Mama bingung. Ya sudah dech itu terserah Papa," jawab Selly dengan kesal.
"Kalau begitu Mama setuju dengan keputusan Papa," bisik Andre.
"Terserah," Selly semakin kesal terhadap sang suami. "Mama mau berangkat dulu."
"Hati-hati Ma," pesan Andre.
Darren yang fokus pada kemudinya merasakan sakit kepala yang tidak tertahankan. Darren menghentikan mobilnya di tepi jalan. Lalu ia memegang kepalanya.
"Argh..... Kepalaku!!!" erang Darren sambil memegang kepalanya.
Salsa yang melihat Darren mengerang segera memegang kepalanya Darren. Salsa segera memeluknya lalu memijitnya dengan lembut.
"Apakah Tuan membawa obat?" tanyaku.
"Ada di dashboard. Tolong kamu ambilkan," pinta Darren.
Aku mengambil obat itu. Lalu aku berikan pada Darren. Darren segera mengambilnya kemudian meminumnya. Setelah meminum obat itu, Darren terdiam lalu menenangkan pikirannya.
"Apakah Tuan baik-baik saja?" tanyaku dengan lembut.
"Saya baik-baik saja," jawabnya.
Mata elang Darren melihat ada dua mobil yang berada di belakang. Darren merasa curiga dengan kedua mobil itu. Lalu Darren mengambil ponselnya dan memberikan ke Salsa.
"Setelah ini kamu hubungi Harry untuk mengirimkan para Pengawal ke sini. Kita sekarang dalam bahaya!" titahnya.
"Baik Tuan," jawabku.
Kemudian Darren menyalakan mobilnya. Lalu Darren segera memacu mobilnya. Aku tidak bertanya apa-apa. Namun aku melihat ponsel Darren sambil merapalkan doa.
"Salsa cepatlah kamu hubungi Harry," seru Darren.
"Bagaimana aku membuka ponselmu jika terkunci seperti ini?" tanyaku.
"Pinnya adalah ulang tahunmu," jawabnya yang fokus ke depan.
"Baiklah Tuan," ucapku.
Aku pun mencoba membuka ponsel Darren. Aku mengetikkan tanggal lahirku. Ponselnya terbuka kemudian aku melihat foto. Di mana foto itu adalah aku yang sedang duduk di taman. Dalam keadaan gawat seperti ini aku mengabaikan foto itu dan untuk mencari nomor Harry.
Setelah mendapatkan nomor Harry, aku menghubunginya. Sementara itu Harry yang sedang bermain game dikejutkan oleh ponselnya berdering. Kemudian Harry mengusap lambang hijau itu.
"Halo," sapanya.
"Tuan Harry. Tolonglah Tuan Darren yang sedang dikejar oleh dua mobil," seruku.
Harry terhenyak kaget. Ia hampir saja menjatuhkan ponsel kesayangannya itu. Lalu Harry menenangkan dirinya sejenak.
"Ada apa nona?" tanya Harry.
"Kami dikejar oleh dua mobil yang tidak dikenal," jawabku.
"Baiklah Nona. Saya akan mengirimkan para Pengawal," tegas Harry.
Sambungan terputus.
Harry melacak keberadaan Darren. Ia segera mengirim pesan itu ke Bryan. Sementara itu Darren dan juga Salsa bingung mencari jalan untuk kabur.
"Mereka siapa Tuan?" tanyaku.
Kejar-kejaran semakin sengit. Darren yang tidak mau menurunkan laju kendaraannya terpaksa berhenti sejenak. Darren melihat keadaan jalan yang sepi. Ia segera menancapkan gasnya.
"Jika kamu takut. Tutup matamu!!" titah Darren.
"Sial... Siapa mereka???" umpatnya.
Darren akhirnya melajukan mobilnya berlawanan arah. Dengan kecepatan tinggi, Darren menabrakkan mobilnya dengan mobil pertama. Seketika mobil pertama jatuh terguling-guling hingga menabrak batasan jalan.
Aku yang melihat Darren melakukan aksi gilanya hanya bisa terdiam. Darren hari ini benar-benar gila dan itu membuatku takut. Setelah mobil pertama hancur. Tinggal mobil yang terakhir. Tetapi orang yang berada di mobil kedua mengeluarkan sebuah s*****a api. Orang itu langsung menembakkan ke ban mobil Darren. Mobil Darren seketika oleng dan hampir menabrak lampu merah.
Setelah mobil Darren tertabrak. Aku melihat Darren yang memasang wajah biasa. Ia melihatku lalu meraih kepalaku sambil berbisik, "Apakah kamu tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja," jawabku. "Bagaimana dengan Tuan sendiri?"
"Hampir saja aku terjepit. Jika saja aku tidak mengerem mendadak. Kemungkinan besar sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi," jawabnya.
Sementara itu Harry dan beberapa pengawal menuju ke lokasi. Harry teringat akan jadwal pemeriksaan Darren hari ini.
"Bukannya hari ini ada jadwal pemeriksaan lanjutan?" gumamnya.
Darren memandang wajahku dengan sendu. Aku melihat jelas kegundahan hatinya. Entah kenapa aku bisa merasakan kegundahan itu. Ketika aku melihat wajah sendunya. Aku teringat pada guru matematikaku.
"Wajah itu," lirihku.
"Maksudnya?" tanyanya.
"Kenapa wajah itu selalu menghiasi imajinasiku? Kenapa aku rindu dengan guru matematikaku? Kenapa aku ingin dekat dengan pria itu? Bagaimana aku mencarinya? Oh Tuhan... Aku seperti orang gila yang membayangkan ingin bertemu dengan guru matematikaku. Tapi kenapa saat aku buka ponselnya. Ada fotoku yang sedang duduk di taman? Apakah kita pernah mengenal sebelumnya?" tanyaku dalam batin.
Sejumlah pertanyaan yang sedang bergelayut dalam otakku. Aku hari ini seperti orang gila. Entah kenapa aku ingin sekali bertemu dengan Pak Tama. Tak lama ada beberapa orang yang mendekati kami. Satu orang berpakaian serba hitam mengetuk kaca mobil. Darren yang melihat orang itu keluar. Sebelum keluar Darren memperingatiku.
"Jangan keluar dari sini. Jika terjadi apa-apa segera hubungi Harry atau Bryan," perintah Darren untukku.
Darren keluar dari mobil. Darren mendekati mereka lalu berkata, "Ada apa?"
"Tuan Rian meminta anda untuk pergi ke laboratoriumnya sekarang juga," jawab pria itu.
"Kenapa aku disuruh ke sana?" tanya Darren dengan tegas.
"Hari ini adalah pemeriksaan fisik berkala," jawab pria itu.
"Bilang sama dia. Aku tidak mau ke sana!" perintah Darren.
Tanpa disadari oleh Darren. Ada orang di belakangnya. Orang itu segera mengambil sebuah suntikkan. Orang itu mendekati Darren kemudian menancapkan suntikan tersebut ke punggung Darren.
Aku yang melihat Darren dalam bahaya segera keluar dari mobil. Saat aku keluar Darren sudah dibawa oleh mereka. Aku mengejar mereka dan mengetuk kaca mobil itu.
"Lepaskan Darren!!!" teriakku.
Mobil itu melesat jauh meninggalkan aku. Aku terdiam dan bingung. Lalu aku masuk ke dalam mobil dan mengambil ponselnya Darren. Aku menghubungi Harry. Namun Harry tidak mengangkatnya. Aku semakin kesal dan marah. Kemudian aku menghubungi Bryan. Di seberang sana Bryan yang sedang bersantai dikejutkan suara ponselnya.
"Duh... Hari Minggu siapa lagi yang menggangguku?" gumam Bryan yang meraih ponselnya lalu melihat namanya. "Darren!"
Bryan segera mengusap lambang hijau itu, "Halo."
"Tuan Darren diculik!" seruku.
"Apa?" tanya Bryan.