Bryan memutuskan sambungan teleponnya. Bryan mengambil kunci dan pergi meninggalkan apartemennya. Sepanjang perjalanan Bryan menghubungi Andre.
Setelah kepergian Selly, Andre kembali tidur. Saat berada di alam mimpi. Ponsel Andre berdering keras. Ia terperanjat kaget kemudian mengusap lambang hijau itu walau memejamkan matanya, “Halo.”
“Paman.. Darren diculik,” seru Bryan.
“Apa!!!” teriak Andre.
“Iya Paman. Tadi ada perempuan yang memberi tahu kalau Darren diculik,” jelas Bryan yang membuka pintu mobilnya.
“Ya sudah Paman akan menyusul. Coba kamu share location,” pinta Andre yang bangun mengambil jaket. “Sebar semua para pengawal untuk mencari keberadaan Darren!”
“Baik Paman,” sahut Bryan.
Sebelum Bryan berangkat. Bryan menghubungi seluruh Pengawal untuk mencari keberadaan Darren. Setelah itu Bryan segera melajukan mobilnya. Bryan tahu kalau weekend, Darren pergi ke pantai. Ia melajukan mobilnya itu.
Albert yang baru saja datang melihat Andre tergopoh-gopoh. Albert mendekati Andre kemudian bertanya, “Ada apa Paman?”
“Darren diculik,” jawab Andre yang sudah pucat.
“Berikan kunci mobil Paman,” Albert mengulurkan tangannya.
Andre memberikan kunci mobil itu. Kemudian mereka meninggalkan rumah. Albert langsung tancap gas untuk menuju ke pantai.
“Bagaimana kronologi Darren diculik?” tanya Albert yang menambah kecepatan untuk mengejar Darren.
“Paman tidak tahu. Bryan tadi telepon ada seorang perempuan yang menghubunginya,” jawab Andre yang melacak keberadaan Darren.
“Apakah itu Nayla?” tanya Albert yang masih fokus pada kemudinya.
“Bryan tidak mengatakan apa pun,” jawab Andre. “Hari ini adalah jadwal cek up berkala terhadap kesehatan Darren,” jawab Andre yang tidak menemukan sinyal keberadaan Darren.
“Aku rasa Rian bukan seorang dokter. Namun dia adalah seorang ilmuwan gila. Rian sering melakukan percobaan-percobaan pada manusia,” jelas Albert.
“Apa!” geram Andre.
“Setelah kita menemukan Darren. Kita akan membahas tentang Dr. Rian lebih lanjut,” jelas Albert.
Harry yang berada di tengah kemacetan dikejutkan dengan pesan dari Bryan. Jantungnya berdetak kencang karena Darren hilang dari pengawasannya. Entah kenapa mata elangnya menatap mobil yang berada di sampingnya. Ia tak sengaja melihat bayangan Darren yang ada di sana. Firasat Harry mengatakan kalau pria yang berada di dalam mobil itu adalah Darren.
“Mari kita kejar-kejaran,” ucap Harry dengan semangat.
Saat lampu hijau menyala. Harry segera menancapkan gasnya. Harry segera mengejar keberadaan mobil itu. Kemudian Harry menghubungi beberapa Pengawalnya untuk mengejarnya.
Bryan yang hendak menuju vila Darren. Tak sengaja Bryan melihat keberadaan mobil Darren yang hampir menabrak lampu merah. Bryan berhenti kemudian mengecek mobil itu.
“Berarti Darren diculik di sini,” batin Bryan.
Bryan meneliti keberadaan mobil Darren. Ia tidak sengaja melihat keberadaan seorang perempuan. Bryan mulai curiga keberadaan wanita itu. Bryan takut kalau itu Nayla.
“Nayla,” ucap Bryan.
Kemudian Salsa mendongakkan wajahnya. Air matanya mengalir deras karena dirinya tidak bisa menghentikan mobil itu.
“Tuan,” ucapku.
“Salsa Hermawan,” sahut Bryan.
“Ya. Aku Salsa,” ujarku dengan lirih.
“Di mana Darren?” tanya Bryan.
“Tuan Darren menghilang,” jawabku ketakutan.
“b******k!!!” teriak Bryan.
Beberapa saat kemudian Andre datang bersama Albert. Mereka segera mendekati kami. Andre terkejut karena melihatku.
“Salsa,” pekik Andre yang terkejut.
“Maaf Tuan,” aku terdiam karena mulutku terkunci rapat.
“Di mana Darren?” tanya Andre.
“Tuan Darren dibawa oleh orang-orang yang memakai baju serba hitam,” jawabku dengan lemah.
“Apakah kamu tahu nomor plat mobil itu?” tanya Bryan.
“Aku melihatnya sekilas. Kalau tidak salah adalah xxxx,” jawabku.
Tak lama ada satu pesan masuk dari Harry di ponsel Bryan. Lalu Bryan membaca pesan itu, “Harry sudah menemukan keberadaan Darren.”
Bryan segera menarikku. Ia menyuruhku masuk ke dalam mobilnya.
“Kok tuan menarik saya?” tanyaku.
“Kamu harus ikut dengan kami untuk sementara waktu!” perintah Bryan.
“Apa!” pekikku. “Mana mungkin aku ikut denganmu?”
“Jangan banyak bicara!” tegasnya.
Mobil yang membawa Darren telah sampai ke dalam hutan. Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah bangunan tua. Beberapa orang yang memakai baju serba hitam keluar dari mobil itu. Lalu menarik Darren keluar.
“Cepatlah! Tuan Rian sudah menunggu!” tegas pria itu.
Kemudian mereka membawa Darren ke dalam. Harry yang baru saja sampai memarkirkan mobilnya di semak-semak belukar. Harry mulai mendekat ke arah bangunan tua.
Harry melayangkan tangannya. Hanya beberapa detik kemudian beberapa para Pengawalnya mendekati Harry.
“Menyebarlah,” titah Harry.
Setelah itu mereka mulai menyebar untuk masuk ke dalam gedung tua itu. Sedangkan Harry memberikan jejak kepada Bryan. Harry mulai mendekat dan melihat beberapa para pengawal yang sedang berjaga.
Harry langsung mendekati mereka dan menghajarnya satu persatu hingga terjadi pertarungan sengit. Gerakan demi gerakan dari Harry membuat mereka merenggang nyawa di tempat. Meskipun tidak menimbulkan kegaduhan namun Harry berhasil mengalahkan mereka.
Para pengawal yang berada di depan sudah tidak ada. Harry menyelinap masuk ke dalam. Ia bersembunyi di balik guci antik.
Pengawal yang sedang membawa Darren masuk ke dalam ruangan. Mereka membaringkan tubuh Darren di ranjang. Rian yang melihat kedatangan Darren hanya memicingkan matanya. Rian memberi kode agar mereka pergi. Setelah mereka pergi Rian mendekati Darren.
“Sudah saatnya kamu menderita! Gara-gara kamu keluargaku habis tidak tersisa! Sekarang kamu yang akan menanggung akibatnya! Mulai saat ini kamu akan menjadi kelinci percobaanku,” titah Rian.
Sementara itu Andre mendapat informasi dari Harry. Andre melihat Albert yang masih fokus menyetir hanya bisa menghembuskan nafasnya.
“Ada informasi dari Harry,” Andre memecahkan keheningan di dalam mobil itu.
“Informasi apa itu?” tanya Albert.
“Darren dibawa ke gedung tua yang berada di dalam hotel,” jawab Andre.
Saat mendengar gedung tua yang berada di dalam hutan. Albert mengingat sesuatu, “Ada gedung tua di dalam hutan?”
“Apakah kamu tahu?” tanya Andre.
“Tidak,” jawab Albert. “Mungkin Bryan atau Harry.”
Saat berada di mobil. Salsa melihat wajah Bryan. Otaknya berputar-putar ke masa lalu. Perlahan Salsa mulai mengingat, “Apakah kita pernah bertemu?”
“Hey... Kamu tidak tahu ya.. kalau aku pacarnya May sepupumu,” jawab Bryan kesal.
“Apa!” pekik Salsa.
“Memang aku adalah pacarnya sepupumu itu,” jawab Bryan. “Dan aku dulu adalah guru geografimu dan Albert adalah guru kimiamu.”
“Makanya wajah kalian tadi kok sepertinya enggak asing lagi,” celetuk Salsa.
“Dan apakah kamu ingat tentang guru matematikamu yang kece itu?” tanya Bryan.
Saat mendengar guru matematika. Hatiku berdebar kencang, “Oh ya di mana Pak Tama?”
“Hmmp... Kamu tahu Pak Tamamu sekarang sudah berubah drastis. Dia menjadi pria yang dingin dan juga kejam terhadap wanita,” batin Bryan.
“Kenapa kamu bersama Darren?” tanyanya yang mengalihkan pertanyaanku.
“Aku disuruh menemaninya ke pantai. Namun di tengah perjalanan menuju ke sana. Ada dua mobil yang mengikuti kami. Saat itulah Tuan Darren dibawa oleh mereka,” jawabku.
Bryan, Albert dan Darren pernah bekerja di sekolah menengah atas. Di mana saat itu Salsa sedang bersekolah di sana. Salsa cukup akrab dengan ketiga guru itu. Bahkan Salsa sering menggoda Pak Tama guru matematika yang terkenal dingin dan galak bahkan super galak.
Saat memasuki hutan. Salsa menjadi bingung. Kemudian Salsa melihat pepohonan yang sangat asri sekali. Salsa semakin bingung dengan Bryan lalu bertanya, “Kenapa kita di sini?”