Tahta Si Pewaris

1885 Words
Setitik sinar matahari menyorot dari balik hordeng menerangi permukaan nakas. Terbuka sepasang mata memandangi seisi kamar. Semua nampak buram dan berbayang. Apa yang dilihat Alya tak jelas bentuknya. Berat rasanya tubuh saat ingin bergerak. Sesosok tangan melingkari pinggangnya begitu erat. Seketika mata Alya melotot melihat tangan itu ada di atas tubuhnya. Selain itu, ia juga merasakan ada hembusan napas yang menggelikan di lehernya. Pelan-pelan, Alya menoleh ke samping. Dengan perasaan takut, dia memberanikan diri. “Tidak ….!” Alya berteriak kencang. Rupanya tangan yang melingkari pinggangnya adalah tangan Arhan. Sontak Arhan langsung duduk terbangun. “Ada apa? Ada apa?” Arhan bangun terduduk, panik. Semakin melotot mata Alya manakala melihat Arhan tak mengenakan baju. Apalagi saat selimut itu merosot, hanya menutupi pangkuan Arhan. Nampak kulit sawo matang yang mulus tanpa cela hingga ujung kaki. “Ih kamu ngapain tidur di sini? Mana nggak pakai baju lagi!” Alya memukul kecil bahu Arhan. Arhan terperangah sejenak melihat istrinya marah-marah. “Loh, kamu lupa kita habis ngapain tadi malam?” tanya Arhan berwajah polos. Alya menggeleng, seraya mengerucutkan bibir. Arhan menepuk dahi berkata, “Astaga, Alya! Coba kamu lihat dirimu dulu, kamu ‘kan juga nggak pakai baju. Cuma selimutan.” Keringat dingin tiba-tiba bermunculan di dahi Alya. Wajahnya pucat dan bibirnya putih. Dia menggenggam ujung selimut lalu memberanikan diri melihat tubuhnya. “Aarrgh! Nggak! Nggak mungkin! Ini nggak mungkin terjadi!” teriak Alya kesal. Arhan mengernyitkan dahi. Dia dibuat bingung oleh sikap Alya yang sangat berbeda tadi malam. Alya yang manja, dan romantis itu kini kembali menjelma menjadi singa betina. “Kan semalam kamu duluan yang ngajak,” kata Arhan lugu. “Semalam aku tuh nggak di sini. Nggak seharusnya aku di sini, aku lagi minum sama teman-teman aku,” ucap Alya geram menahan kesal. “Iya, kamu mabuk. Kamu hampir dilecehkan sama orang nggak dikenal. Teman-teman kamu pergi. Untung aku ikutin kamu, jadinya aku bawa pulang,” jelas Arhan. Alya menghela napas panjang mendengar penjelasan dari si pemuda desa itu. Siapa sangka niat melepas penat bersama para sahabatnya malah berujung di atas ranjang. Terlebih ia melakukan itu saat tak sadarkan diri. Alya merasa dirugikan akan hal itu. “Bagus baget kamu manfaatin aku yang lagi mabuk!” cetus Alya bersedekap d**a. “A-a-aku, nggak manfaatin kamu. Tapi kamu duluan yang ngajak. Sumpah Alya, aku nggak bohong!” Arhan mengacungkan dua jarinya ke atas. Dia berusaha mempercayakan pada Alya jika kejadian ini bukanlah hal yang disengaja. Alya mendengkus kesal seraya menjambak rambutnya sendiri. “Aduh aku bodoh banget sih!” gerutunya. “Eh, tenang! tenang! Aku nggak bakal bilang ke siapa-siapa kok!” kata Arhan sambil menyentuh lengan Alya yang sedang menjambak. Alya menangkis tangan Arhan dari lenganya berkata, “Ya, kalau mau bilang ke orang-orang juga kenapa? Mereka taunya kita udah nikah. Salahnya di mana?” “Ya, memang nggak salah toh?” Arhan balik bertanya. Tanpa sadar pertanyaan lugu itu membuat amarah Alya memuncak. “Kamu mikir nggak sih, kalau aku tuh nggak suka sama kamu? Mikir nggak sih kalau kamu udah manfaatin keadaan aku yang lagi mabuk?” Alya mencecar Arhan dengan tatapan sinisnya. Arhan menunduk menyembunyikan raut wajah penyesalan. “Yang lebih parah lagi, kamu tuh nggak pakai pengaman. Nanti kalau aku hamil gimana, Mas?” Alya kembali menjambak kedua sisi rambutnya. “A-a-aku siap kok urusin anak kita. Kamu yang kerja, aku yang di rumah urus anak, nggak apa-apa,” sahut Arhan masih menampakkan wajah polos. Semakin geram Alya mendengar ucapan Arhan. Dia mengepal geram lalu menepuk keras bahu kekar Arhan. “Pergi sana! Keluar kamu!” Usir Alya seraya menunjuk pintu. “Ta-ta-tapi, Al ….” “Keluar!” teriak Alya tegas. Arhan tak dapat berkutik mendapat bentakan itu. Segera ia menyingkirkan selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya. Dia turunkan kakinya dari ranjang Alya lalu beranjak meraih gagang pintu. “Eh tunggu! Tunggu!” cegah Alya dari ranjangnya. Arhan sontak diam mematung. “Kamu mau keluar begitu doang? Cuma pakai dalaman?” tegur Alya bertolak pinggang. Dia tak habis pikir akan menghadapi pemuda desa yang begitu polos dan lugu. Tersadar, Arhan pun melihat dirinya di depan cermin sebuah lemari besar. Dia hanya memakai dalaman bawah saja. Dia menoleh seraya senyum cengengesan. “Oh iya, lupa!” Arhan menepuk dahinya. Alya mengikat ujung selimut melingkari tubuhnya lalu ia mengambil pakaian Arhan yang berserakan di bawah ranjang. Dia melempar sepasang pakaian itu berkata, “Nih pakai baju kamu! Dasar ndeso!” cela Alya seraya membalikkan badan. Arhan menangkap pakaian itu. Dia tersenyum menunjukkan mata berbinar-binar. Bagi Arhan mau semarah apapun istrinya tetap terlihat cantik. Sifat judes dan perkataan ketusnya justru menambah rasa cintanya. Bayang-bayang kejadian tadi malam mampu mengekang amarah si pemuda desa. *** Titik-titik air mata menetes membasahi pipi. Pandangan kosong melihat barisan mobil yang terjebak antrian lampu lalu-lintas. Berulang-ulang kali, telapak tangan mulus itu menghapus air mata di wajah. “Ini!” Arhan menyodorkan selembar tisu untuk Alya. Alya diam, tidak peduli. Dia tetap menatap lurus barisan mobil di depannya. “Alya, ayo dong! Mata kamu udah bengkak tuh, kita mau rapat komisaris loh! Nanti kalau orang lihat, disangkanya aku ngapa-ngapain kamu,” bujuk Arhan tetap menyodorkan tisu. “Biarin,” jawab Alya singkat. Arhan menghela napas kesal. Dia melajukan sedikit mobilnya ke depan. Kembali ia sodorkan tisu saat mobil berhenti. Namun Alya, tetap diam tak bergeming. “Ayo dong, Alya!” kata Arhan sambil mencoba menghapus air mata sang istri. “Ih apaan sih!” tangkis Alya merasa risih. “Aku bisa menghapus air mata sendiri. Aku tuh cuma kesel, nyesel. Aku jijik udah tidur sama kamu! Jijik!!!” cetus Alya sambil menyeka pipinya. Arhan mengelus-elus d**a seraya mengambil napas dalam-dalam. Padahal istrinya halal ditiduri, tapi gara-gara rasa tidak suka malah jadi timbul rasa bersalah. “Apa ada kata yang lebih berarti dari kata maaf? Atau ada sesuatu yang harus aku lakukan biar kamu maafin aku?” Alya menunduk sejenak. Dia sesegukan sembari meremas-remas kecil tisu. Apapun yang akan dilakukan Arhan, tidak akan mengembalikan waktu pada malam itu. “Nggak. Nggak ada,” jawab Alya singkat. Laju mobil perlahan membawa mereka sampai ke lobby utama. Dengan cepat Alya mengenakan kacamata demi menutupi matanya yang sembab. Dia turun lebih dahulu, meninggalkan Arhan. Dia memperlakukan suaminya layaknya supir pribadi. Sampai di ruang rapat, mereka disambut oleh rekanan direksi, komisaris dan para pemegang saham. Di sana ada pak Chandra sudah menunggu. Alya dan Arhan duduk berdampingan mengikuti jalannya rapat. Tiba saatnya membacakan keputusan akhir, Alya pun tak sabar mendengar jika dirinyalah pewaris perusahaan ayahnya. “Memutuskan sebagai pemilik saham terbanyak dari mendiang bapak Hendra Soedjatmiko dan sebagai pimpinan perusahaan, adalah Arhan Pramudya. Maka dengan ini, segala kepentingan serta urusan perusahaan adalah menjadi tanggung jawab Arhan Pramudya.” Seorang pemimpin rapat menutup rangkaian rapat tersebut diiringi tepuk tangan para peserta. Sementara Alya diam tercengang. Dia duduk kaku bagai patung. Kakinya lemas tak berdaya. Mulutnya sedikit terperangah. Diliriknya sinis si pemuda desa yang menidurinya tadi malam. Sial! Udah dapat yang enak-enak, sekarang malah dapat perusahaan bokap gue! Kurang ajar nih cowok! umpat Alya dalam hati. Namun, di depan banyak orang dia tetap tegar, tersenyum bangga dan bertepuk tangan seolah-olah menyetujui. Satu-persatu jajaran komisaris dan direksi menyalami Arhan dan Alya memberi mereka selamat. Arhan dan Alya pun menyambut baik jabat tangan mereka dengan senyuman. Usai ruangan rapat sepi, tinggalah Alya, Arhan dan pak Chandra. “Om, kok dia sih? Kenapa aku nggak dikasih tau? Kalian kerjasama ya?” tuduh Alya. Pak Chandra mengangkat bahunya berkata, “Tidak tahu. Om, tidak pernah tahu isi surat wasiat ayahmu. Jadi, Om juga baru tahu kemarin malam.” Arhan terdiam menunduk. Dia sadar diri, jika di posisi ini dia bukan siapa-siapa. Dia hanya seseorang bernasib baik. Alya berkacak pinggang seraya manggut-manggut. “Gini ya, Om. Aku nggak kenal siapa dia!” Alya menunjuk Arhan kesal. “Ayah juga nggak pernah bilang soal siapa laki-laki yang bakal jadi suami aku. Wah, hebat banget! Aku curiga nih, Mas Arhan sama Om Chandra mau menguasai harta ayah,” cecar Alya berapi-api. Pak Chandra tersenyum getir mendengar ocehan keponakannya itu. Tuduhan tak berarti, dari mulut Alya terdengar seperti lelucon. “Alya, kamu pernah mikir nggak kenapa ayah kamu, nggak mau perusahaan itu jatuh ke tangan kamu? Di sini, bukan hanya tempat ayah kamu mencari nafkah, tapi ratusan orang yang menggantungkan hidupnya di perusahaan ayah kamu. Jadi kita perlu orang yang tepat,” jelas Pak Chandra. “Jadi menurut Om, aku bukan orang yang tepat?” Alya berkacak pinggang. Dia berani menantang karena merasa terkhianati. “Ya, kamu bukan orang yang tepat,” tegas pak Chandra. “Aku udah kuliah di luar negeri apa itu nggak cukup? Seharusnya aku yang pimpin perusahaan ayah, bukan Mas Arhan. Lagi pula dia orang lain. Dia menantu. Dan aku nggak cinta sama dia,” cela Alya terus mencaci. Pak Chandra menghela napas panjang. Dia tersenyum simpul lalu mengangguk-angguk seraya bersedekap d**a berkata, “Jadi kamu marah karena nggak dapat jabatan atau karena nggak cinta sama Arhan?” Alya tersentak mendengar pertanyaan omnya. Pelan-pelan dua tangan yang berkacak pinggang, ia turunkan. Dia heran kenapa omnya lebih mendukung Arhan dibanding dia? Menggenang air mata Alya di pelupuk. Belum usai kesedihan ditinggal ayah, ditambah ia harus menerima kenyataan bahwa laki-laki tak dikenal bernama Arhan menjadi suami sekaligus pemimpin perusahaan ayah. “Alya, nanti om Chandra akan jelaskan ke kamu. Tapi kamu tenang dulu ya!” Arhan mencoba mendekat lalu merangkul bahu Alya. “Ih!” Alya menangkis tangan Arhan yang mencoba meraih bahunya. “Lepasin! Kalian berdua pengkhianat!” Alya berlalu pergi menumpahkan tangisnya. Dia berlari meninggalkan ruangan hingga tak nampak punggungnya. “Pak, maaf. Kalau begini caranya saya jadi nggak enak. Lebih baik saya mengundurkan diri,” kata Arhan dengan raut wajah mengiba. Dia merasa bersalah, karena ulahnya membuat kesedihan Alya bertambah. Pak Chandra menanggapi santai. Dia merangkul Arhan dari samping berkata, “Alya memang seperti itu. Kamu harus tahan banting, soal rekanan dan direksi mereka sudah percaya kok sama kamu. Tenang saja!” Bimbang. Satu kata yang mewakili perasaan Arhan saat ini. Entah harus memulai dari mana bercerita pada Alya agar dia mengerti. Jangankan mendekati, kehadirannya saja sudah ditolak mentah-mentah. Arhan menunduk kebingungan. Sementara Alya mengurung diri di toilet wanita. Dia duduk di atas kloset menumpahkan air mata. Kepalanya bersandar ke samping tembok dengan tatapan kosong. Segala tanya dan prasangka berseteru di dalam benak. Semarah apapun ia takkan menang menghadapi Arhan dan om Chandra. Tiba-tiba ada dua orang wanita masuk ke dalam toilet berbincang-bincang soal hasil rapat komisaris. Alya pun segera menghapus air matanya. Dia kembali mengenakan kacamata lalu bersiap membuka pintu. Namun, sengaja ia menahan diri menguping obrolan mereka. “Siapa yang jadi pimpinan kita?” tanya seorang wanita. “Ya, si ganteng itu lah! Emang mau siapa lagi?” jawab temanya. Sontak Alya mengernyit. Yang dimaksud si ganteng itu siapa? Apakah Arhan? “Ya, Mas Arhan. Siapa lagi sih?” kata wanita yang pertama bicara. “Oh, aku pikir anaknya almarhum pak Hendra,” ujar temanya. “Enggaklah! Gila aja kalau dia yang pegang? Mau jadi apa perusahaan ini? Tukang mabuk sama dugem gitu cuma habisin uang bapaknya! Kasian tuh sekarang, Mas Arhan dinikahin mendadak sama anaknya,” tutur wanita itu berapi-api. Ucapan dari dua wanita tak dikenal terdengar tajam menusuk hati. Seketika jantung Alya terasa lemah. Pandangan seisi ruangan tampak gelap. Telapak kaki goyah tergelincir menjatuhkan tubuh mungil ke atas lantai. Alya tergeletak tak sadarkan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD