“Eh lo tau nggak sih, gue tuh nikah udah kaya orang hamil duluan! Padahal gue nggak usah nikah, nggak apa-apa. Toh, dunia akan baik-baik aja tanpa bokap gue,” kata Alya terkekeh remeh saat bicara pada dua sahabat perempuannya. Seteguk demi seteguk minuman mendorong lidahnya untuk terus berkata-kata.
“Ya benar Al, lagian kenapa banget mesti di ruang ICU sih lo nikah? Tragis banget!” sahut Meli sahabat Alya.
“Tau nih, mana katanya lo lanjut S2 di Amrik? Katanya mau nyusul kesayangan lo tuh, mau melanjutkan kisah cinta yang belum usai,” ledek Sarah sembari mengisi ulang gelas Alya.
Alya melemahkan bahu. Dia mengurungkan niat untuk kembali menenggak minuman. Dia berbagi pandangan pada dua sahabat SMAnya itu. Sambil menunduk lesu dia berkata, “Gimana mau nyusul dia? Sekarang gua harus terusin perusahaan bokap. Gue nggak bisa pergi gitu aja dong? Kalau gue pergi, bisa diacak-acak sama kuli itu,” umpat Alya kesal.
Sarah dan Meli kompak tertawa menanggapi kekesalan Alya.
Sementara di meja belakang, seorang laki-laki berjaket kulit hitam memakai topi mendengar percakapan mereka. Dia berpura menikmati segelas es lemon tea serta alunan musik elektrik yang menggema. Kepulan asap rokok terendus sempat membuatnya batuk-batuk. Sebisa mungkin dia menyembunyikan suara batuk itu dari Alya dan dua sahabatnya.
Duh, tempat apa sih ini? Makin malam makin ramai aja! Mana dia nggak mau pulang-pulang, gerutu Arhan dalam hati sembari melihat jam tangannya. Ya, laki-laki yang duduk di belakang meja Alya itu adalah Arhan. Sengaja ia membuntuti anak atasanya itu, karena pergi tanpa pamit menjelang tengah malam.
“Cuma segini kemampuan lo? Mana nih, dewa mabuk kita?” Meli meledek Alya yang tengah termenung melihat hampa gelas kosongnya.
“Udahlah Say, kita nikmati saja hidup ini! Lagian lo udah cerita ‘kan tadi. Lo nggak anggap kuli itu jadi laki lo.” Sarah menuangkan lalu mengangkat gelas minuman untuk Alya. Dirangkulnya sahabatnya itu dari samping. Dia tersenyum simpul sembari mendekatkan sisi gelas ke bibir Alya.
Alya tersenyum menyambut sentuhan gelas. Dia langsung meminumnya dengan cepat. “Lagi!” kata Alya menaruh gelas ke atas meja. Tertawa lebar Sarah dan Meli melihat sahabatnya itu meminum tanpa henti. Mereka pun lanjut berdansa mengikuti alunan musik. Sesekali mereka menenggak minuman sambil berteriak-teriak mengumpat, mencaci kehidupan yang tak sesuai keinginan.
Astagfirullah Alya, ternyata kamu begini! Arhan menoleh ke belakang memelototi mereka yang asyik berdansa. Mabuk, sempoyongan bagai terbang tanpa sayap. Pandangan Alya samar-samar melihat ke sekelilingnya. Musik yang terus mengajaknya bergerak menjauh dari meja sampai ke tengah-tengah. Di sana banyak laki-laki dan perempuan bercampur menjadi satu. Mereka bersorak-sorai, saling menempel meski tak saling kenal.
“Aduh, di mana dia?” Arhan celingak-celinguk gelisah mencari Alya di antara kerumunan orang-orang itu.
Tak tinggal diam, Arhan melangkah ke depan masuk ke dalam kerumunan orang-orang yang berdansa. Lirik mata merayu dari wanita-wanita cantik menuju ke arahnya. Namun Arhan, membalasnya dengan senyuman santun, “Permisi, Mbak!” katanya sambil mencari celah.
Tiba-tiba terdengar suara keributan di pojok sana. Terdengar suara wanita berteriak kencang, “Gue nggak mau!!!” Sontak Arhan menuju ke arah suara ribut itu. Ternyata benar, ada Alya yang sedang ditarik tangannya oleh seorang laki-laki mabuk. “Lepasin nggak! Gue nggak kenal siapa lo!” bentak Alya seraya berusaha menghempas tangan laki-laki itu.
Jantung Arhan berdebar dua kali lebih cepat. Wajahnya cemas bercampur takut. Dia melihat dua teman perempuannya malah menepi menjauhi Alya. Sementara orang-orang di sekitarnya terus asyik berdansa tak peduli. Arhan menangkis keraguan yang menghalangi niatnya. Dia memberanikan diri menerobos orang-orang yang tengah mabuk di lantai dansa.
“Alya, ayo pulang!” Arhan menarik pergelangan tangan Alya.
Alya sempoyongan tak menanggapi. Matanya menyipit serta bibirnya tersenyum remeh.
“Siapa lo?” Laki-laki asing bertato, berbadan tinggi tegap itu menegur Arhan lantang.
“Saya suaminya. Minggir kamu!” Arhan mendorong laki-laki itu sekuat tenaga hingga membuatnya jatuh tersungkur.
Orang mabuk itu sangat rapuh dan mudah digoyahkan. Arhan tidak peduli pada dua teman perempuan Alya yang hilang sesaat setelah keributan. Ditariknya tangan Alya menerobos keluar dari kerumunan lantai dansa.
“Ya ampun, Alya! Istighfar kamu. Ngapain sih ke tempat kaya gini?” keluh Arhan sembari memapah Alya keluar dari tempat antah berantah itu.
Alya layu dan payah dalam rangkulan Arhan. Dia tak sanggup berkata-kata, matanya pun tertutup dan kakinya tak sanggup melangkah lagi. Arhan langsung membopong tubuh mungil Alya ke dalam mobil. Untung saja, dia tumbang tak jauh dari tempat parkir mobilnya.
Arhan menarik tali seat belt lalu ia duduk di kursi kemudi. Dia menggeleng tak habis pikir. Ini adalah kejutan yang mengejutkan bagi Arhan. Belum satu minggu mereka mengarungi bahtera rumah tangga, malah terbuka kejelekan Alya. Malam semakin larut, jalan raya yang padat mulai terurai sepi. Deru mesin mobil terdengar menggema memecah keheningan. Alya yang lemas itu perlahan membuka mata.
“Di mana gue? Mau dibawa ke mana gue?” Alya bicara ngelantur.
“Kita pulang, Alya,” jawab Arhan tegas sambil menatap lurus ke depan.
Arhan menghela napas panjang meredam emosi. Percuma bicara pada orang mabuk.
“Meli … Sarah … gue nggak mau nikah sama kuli itu! Gue mau kabur ke Amrik, gue benci di sini! Gue tersiksa!” teriak Alya mengumpat lalu menangis sejadi-jadinya sambil memukul-mukul dashboard mobil.
Arhan tidak peduli seberapa benci Alya terhadapnya. Dia mengabaikan perkataan Alya. Dalam hatinya terus beristighfar menangkis bisikan-bisikan yang memancing amarah. Sepanjang perjalanan yang sunyi memancing benak Arhan berpikir kembali. Kenapa pak Hendra memilihnya? Apa mungkin pak Hendra tidak tahu kelakuan anaknya? Ataukah Alya yang sangat rapi menyembunyikan sisi lainya?
Segala tanya dalam kepala Arhan terus bermunculan. Prasangka demi prasangka menghantui, dan membuatnya takut. Ingin rasanya ia menyerah, tapi nanti bagaimana dengan masa depan karirnya di perusahaan itu? Di sisi lain, ia juga sering teringat pesan pak Hendra untuk menjaga anaknya.
Arhan tersenyum hambar pada dirinya sendiri. Tersadar semuanya sudah terlambat untuk ia tolak. Kini yang ia bisa lakukan hanya mengikuti apa yang sudah ditentukan. Lamunan itu mengantarkannya sampai di rumah. Dibopongnya tubuh mungil Alya keluar dari mobil menuju kamar. Namun, langkahnya terhenti di ruang tamu saat melihat ada pak Chandra duduk menikmati secangkir kopi sambil menelepon.
Arhan tersenyum meringis, menahan berat beban Alya.
“Loh, kenapa Alya?” Pak Chandra bangkit dari duduknya lalu mendekati Arhan ke depan pintu.
“Mabuk Pak,” jawab Arhan singkat.
“I-i-ini gimana bisa terjadi?” Pak Chandra nampak panik. “Ya sudah, ayo kita bawa dia ke kamar dulu!” perintah pak Chandra.
Arhan mengangguk menuruti permintaan pak Chandra.
Mereka menggotong tubuh mungil Alya berbaring ke atas kasur.
“Kalian habis clubbing?” tanya pak Chandra seraya menghela napas panjang lalu berkacak pinggang.
“Enggak Pak, justru saya yang jemput Alya pulang dari tempat itu,” jawab Arhan tertunduk. Dalam hatinya takut bila pak Chandra meledak menumpahkan emosinya.
“Aduh … anak ini! Nggak berubah juga!” gumam pak Chandra sambil melihat keponakannya itu terlentang payah. “Pantas, saya telepon nggak diangkat-angkat. Kita ngobrol di bawah aja yuk!” ajak pak Chandra seraya melangkah ke depan meninggalkan kamar Alya.
Arhan mengangguk lalu kemudian menatap Alya iba. Dia membuntuti pak Chandra dari belakang. Sambil menuruni anak tangga, mereka lanjut mengobrol. Arhan dan pak Chandra lalu duduk berhadapan di ruang tamu. Pak Chandra menghela napas berat seraya memegang kerut-kerut di dahinya.
“Seharusnya saya bicara serius sama kalian malam ini soal rapat komisaris besok. Saya harap Alya bisa terima kenyataan soal mengenai ini ….” Pak Chandra mengeluarkan map berisikan dokumen lalu ia menyerahkannya ke Arhan.
Arhan menerima dokumen itu lalu membacanya perlahan. Dokumen berisikan surat pernyataan bahwa Arhan adalah orang yang menggantikan posisi ayah Alya di perusahaan tersebut.
Gemetar seketika tangan Arhan memegang dokumen itu. Titik-titik keringat dingin bermunculan di dahi serta wajahnya memucat. “Ya Allah, Pak. Apa benar yang dikatakan di surat ini?” tanya Arhan tidak percaya.
“Ya, benar. Kamu penerus perusahaan kakak saya. Kamu ‘kan sudah jadi suami Alya. Lagi pula, kerja kamu bagus kok. Jadi rapat komisaris besok sekedar formalitas saja,” ucap pak Chandra dengan enteng.
“Tapi Pak, saya masih merasa tidak pantas. Masalahnya, Alya tidak menganggap saya sebagai suaminya. Kami pun belum saling kenal. Dan, sepertinya Alya punya laki-laki lain,” sanggah Arhan. Dia merasa rendah diri.
Pak Chandra tersenyum lalu meraih tangan Arhan. Dengan penuh harap, ia berkata, “Karena kejadian malam ini, kamu pasti mengerti kenapa kakak saya bersikeras menginginkan kamu jadi suami Alya. Arhan, saya mohon banget! Saya minta tolong jaga Alya. Kalau dia salah jalan, saya harap kamu bisa bimbing dia ke jalan yang benar.” Pak Chandra kembali duduk tegak sembari menutup petuahnya.
Semakin berat rasanya punggung Arhan mendengar permohonan dari Pak Chandra. Dia menarik napas panjang lalu menengadahkan kepala ke atas. Dia tersenyum hambar menanggapi permintaan pak Chandra. “Pak, saya nggak janji, tapi saya akan berusaha,” ucap Arhan meyakinkan.
Pak Chandra mengangguk pelan lalu beranjak berdiri. Dilihatnya waktu tepat menunjukkan pukul dua pagi. “Arhan, saya pamit pulang dulu ya! Sampai jumpa siang nanti di rapat komisaris.”
“Baik Pak,” kata Arhan turut beranjak berdiri lalu menyalami pak Chandra.
Usai perbincangan singkat itu, Arhan kembali ke kamar Alya. Dipandangnya iba tubuh mungil tergeletak tak berdaya. Rambut lurus hitam sebahu menutupi sebagian wajahnya. Arhan duduk di tepi ranjang lalu menepikan helaian demi helaian rambut.
“Sayang!” ucap Alya dengan mata terpejam menggenggam pergelangan tangan Arhan.
Membesar pupil mata Arhan mendapati sentuhan itu. Jantungnya berdebar-debar hingga ia sulit mengatur napas. Ia menelan ludah seraya menahan napas.
Alya yang tak sadarkan diri lanjut memeluk Arhan erat.
“Tu-tu-tunggu!” Arhan berusaha melepas eratan tangan Alya yang melingkari tubuhnya.
“Jangan pergi!” pinta Alya manja. Dia mengeratkan pelukan ke tubuh Arhan.
Telapak tangan halus sang putri atasan membelai lembut tengkuk leher si pemuda desa. Terbelalak mata Arhan, enggan berkedip. Bumi seakan berhenti berputar manakala wajah sang putri atasan mendekati wajahnya. Mata mereka saling menatap sendu tanpa suara. Hanya helaan napas saling bersahutan terdengar memandu mereka menyelami lautan asmara.