bc

Terpikat Cinta Raja Setan

book_age18+
11
FOLLOW
1K
READ
dark
love-triangle
BE
fated
opposites attract
arranged marriage
princess
drama
sweet
serious
vampire
mythology
magical world
another world
like
intro-logo
Blurb

Lyra, seorang gadis suci yang mengabdikan hidupnya pada kemurnian, mendapati takdirnya berbelok drastis saat ia menemukan Kazimir, Raja Setan yang perkasa dan terluka, di hutan terpencil dekat rumah ibadahnya. Melawan setiap ajaran dan sumpah suci yang ia pegang, Lyra merawat Kazimir, dan dari sanalah, benih ketertarikan terlarang mulai tumbuh.

Di dalam kesendirian rumah ibadah yang seharusnya sakral itu, di antara sentuhan yang merawat dan bisikan yang memikat, gairah tak terbendung antara Lyra dan Kazimir perlahan membara. Pada malam yang mengubah segalanya itu, bibir mereka menyatu dalam ciuman yang mendalam, menggetarkan seluruh keberadaan Lyra. Perlahan, Kazimir melepaskan pakaian yang selama ini menjadi simbol kemurnian Lyra, seolah melepaskan belenggu sumpahnya. Dalam kehangatan cumbuan yang mengikat, batasan fisik dan spiritual mereka runtuh. Malam itu, lolongan anjing terdengar kuat dan semua binatang malam bereaksi liar, seakan tahu bahwa tabir sudah tersingkap, dan hubungan terlarang antara iblis dan manusia telah terjadi. Gugurnya sumpah janji gadis suci Lyra tak terelakkan. Seiring dengan itu, kekuatan dan perasaan iblis perlahan, namun pasti, meresap ke dalam jiwanya, mengubah esensinya dengan setiap sentuhan yang membakar dan setiap napas yang dibagikan. Ia menyerahkan seluruh hati dan jiwanya kepada Kazimir, terjerumus dalam cinta yang terlarang namun begitu nyata, mengakhiri hidup lamanya.

Namun, kedamaian semu ini tak bertahan. Pemburu setan, mencium keberadaan iblis, mulai mengancam. Ketika Herodes, adik Kazimir, menemukannya, ia menuntut Kazimir kembali ke tahtanya. Di titik ini, Lyra dihadapkan pada pilihan yang menguras jiwa: akankah Kazimir sanggup mempertahankan cinta ini di tengah panggilan tahta dan sumpah leluhurnya? Akankah Lyra ikhlas mengikis seluruh identitas lamanya, merelakan kesucian demi cinta yang baru tumbuh di hatinya, dan memilih mengikuti sang Raja Iblis ke dunia yang asing dan berbahaya, selamanya meninggalkan identitas lamanya?

chap-preview
Free preview
Gema Sumpah Abadi
Langit di atas Dataran Kematian berdarah, diwarnai oleh semburat merah jingga dari matahari yang enggan tenggelam, seolah ikut merasakan penderitaan di bawahnya. Jeritan menggema, bukan lagi jeritan manusia yang pasrah, melainkan raungan amarah dan kemenangan para iblis yang haus darah. Tanah basah oleh lumpur dan darah, menguapkan bau amis yang menusuk hidung, berpadu dengan aroma belerang dan besi terbakar. Di mana-mana, puing-puing peradaban manusia berserakan: panji-panji Kerajaan Eldoria yang robek dan hangus, pecahan pedang yang patah, dan tubuh-tubus ksatria yang tergeletak tak bernyawa, mata mereka masih menatap kosong ke langit, seolah bertanya mengapa takdir sekejam ini. Pertempuran telah berlangsung selama berjam-jam, lebih dari yang bisa diingat oleh banyak prajurit. Gelombang demi gelombang ksatria manusia, mengenakan zirah berat yang kini penyok dan berlumuran noda, menyerbu maju, dipimpin oleh iman yang membakar di hati mereka. Namun, mereka hanyalah setetes air di lautan amukan setan yang tak ada habisnya. Dari jurang-jurang gelap, ribuan makhluk menyeramkan muncul, masing-masing dengan kebuasan dan kekuatan yang mengerikan. "Maju! Jangan biarkan satu pun melarikan diri!" Raungan itu berasal dari komandan-komandan Imp bertubuh kecil namun gesit, yang melesat di antara kaki-kaki para ksatria, mengiris betis dan pergelangan kaki dengan cakar tajam mereka. Di sisi lain, para Bersek yang raksasa, dengan kulit kehitaman dan otot-otot yang mengembung, mengayunkan gada berduri mereka, menghancurkan formasi ksatria seperti palu godam menghantam kaca. Setiap ayunan menciptakan gelombang kejut yang membuat tanah bergetar, dan setiap kali gada menghantam, ada suara remukan tulang yang mengerikan. "Pecahkan pertahanan mereka! Jangan beri mereka napas!" teriak seorang Gargoyle bersayap yang melayang di atas, suaranya serak dan menusuk. Ia menukik ke bawah, mencengkeram seorang ksatria yang terjebak di antara reruntuhan, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi sebelum menjatuhkannya ke tanah dengan kejam. Tidak jauh dari sana, sepasukan Shade bayangan bergerak yang sulit terlihat menyelinap melewati celah pertahanan manusia, menusuk dari belakang dengan belati bayangan mereka. Ksatria-ksatria yang terkena serangan itu akan merasakan dinginnya kegelapan merambat di tubuh mereka, membuat mereka lumpuh dan tak berdaya sebelum akhirnya roboh. "Taring kita harus lebih tajam dari pedang mereka! Darah mereka akan membasahi tanah ini!" Seruan semangat itu datang dari Nox, komandan Succubus yang licik, yang berdiri di atas tumpukan mayat, tatapannya berkilat-kilat penuh kepuasan. Rambutnya yang hitam legam berkibar tertiup angin, kontras dengan kulit pucatnya. "Jangan biarkan mereka bernapas! Hancurkan setiap harapan!" Suara benturan logam beradu dengan desisan api sihir dan raungan mengerikan yang memekakkan telinga. Aroma daging terbakar dan darah segar memenuhi udara, menjadi parfum kemenangan bagi pasukan kegelapan. Di tengah kekacauan yang terorganisir ini, satu sosok berdiri tegak, tak tersentuh oleh hiruk pikuk di sekelilingnya, seolah waktu melambat hanya untuknya. Itu adalah Kazimir. Ia tidak bergerak, hanya berdiri di sebuah bukit kecil yang memberinya pandangan jelas atas seluruh medan perang. Zirah hitamnya, terbuat dari sisik naga purba yang diisi sihir kegelapan, memantulkan cahaya redup dari api yang membakar tenda-tenda manusia. Tanduknya yang melengkung tajam, berwarna hitam pekat dan berkilau, menambah kesan mengintimidasi pada siluetnya yang menjulang tinggi. Mata merah darahnya memindai setiap sudut pertempuran, dingin dan tanpa emosi. Di tangan kirinya, ia menggenggam pedang besar yang disebut "Voidfang", bilahnya sehitam malam tanpa bintang, seolah mampu menyerap semua cahaya di sekitarnya. Kazimir bukanlah makhluk yang mengandalkan amukan buta. Ia adalah strategi yang terwujud. Setiap gerakan pasukannya, setiap serbuan, setiap mundur yang terencana, adalah bagian dari orkestrasi kejam yang ia rancang. Ia adalah maestro kehancuran, dan medan perang ini adalah simfoni kematiannya. Seorang Gorgon bertubuh besar, dengan kulit hijau bersisik dan rambut ular yang menggeliat, mendekatinya dengan langkah berat. "Yang Mulia," suara seraknya seperti gesekan batu, "pasukan manusia di sayap timur mulai goyah. Mereka mencoba membangun kembali formasi pertahanan." Kazimir tidak mengalihkan pandangannya dari medan perang. "Biarkan mereka. Beri mereka harapan palsu, Grokh. Itu akan membuat kekalahan mereka terasa lebih pahit." Grokh mengangguk. "Sebuah strategi yang kejam, Yang Mulia. Mereka akan dihancurkan sepenuhnya." "Bukan sekadar dihancurkan, Grokh. Mereka akan dilumat," jawab Kazimir, suaranya tenang namun memiliki resonansi yang menggetarkan. "Ingat, tujuan kita bukan hanya menaklukkan, tapi juga menghancurkan semangat mereka. Menghapus jejak keberadaan mereka dari muka bumi ini." Ia terdiam sejenak, tatapannya menyapu lautan makhluknya yang sedang berpesta pora di atas mayat-mayat musuh. Sebuah desahan nyaris tak terdengar keluar dari bibirnya, sebuah desahan yang tak mungkin didengar oleh telinga makhluk fana mana pun. "Bukankah ini sebuah takdir yang membosankan, Grokh?" tanya Kazimir tiba-tiba, suaranya sedikit lebih pelan, seperti bisikan angin di antara reruntuhan. Grokh mengerutkan dahi, bingung. "Membosankan, Yang Mulia? Kemenangan adalah esensi keberadaan kita. Perang adalah takdir yang mulia." Kazimir mendengus. "Mulia? Atau sebuah kutukan yang tak berujung? Ribuan tahun, pertempuran yang sama, musuh yang sama, hasil yang sama. Kemenangan selalu terasa hampa pada akhirnya, bukan?" Ia mengangkat pandangannya ke langit yang mulai gelap. "Ini bukan pilihan kita, Grokh. Ini adalah Sumpah Leluhur." Grokh mengangguk, kali ini dengan pengertian. "Betul, Yang Mulia. Darah kita mengalirkan sumpah itu. Sejak awal dunia, kita dan manusia ditakdirkan untuk saling menghancurkan." "Sumpah itu mengikat kita, setiap inci keberadaan kita," lanjut Kazimir, kata-katanya dipenuhi nuansa letih yang tak biasa. "Dulu, para leluhur kita, pada masa Primordial, bersumpah untuk memurnikan dunia dari kelemahan dan ketidaksempurnaan. Manusia adalah perwujudan dari kelemahan itu. Makhluk-makhluk rapuh yang berani membangun peradaban di atas kehancuran yang mereka ciptakan sendiri." "Dan kita adalah alat pemurnian itu," sahut Grokh dengan bangga, menjulurkan lidah bisanya. "Alat, atau tawanan sumpah yang tidak bisa kita ingkari?" Kazimir menatap telapak tangannya. "Setiap detak jantungku adalah gema dari sumpah itu. Setiap napas yang kuhirup adalah keinginan untuk melihat dunia ini terbakar sampai menjadi abu, sampai hanya yang kuat yang tersisa." Ia mengepalkan tangannya. "Itu bukan keinginanku sendiri, Grokh. Itu adalah dorongan yang ditanamkan dalam jiwaku sejak lahir. Sebuah warisan yang tidak bisa kutolak." "Tapi bukankah itu yang membuat kita kuat, Yang Mulia? Kekuatan untuk menghancurkan, untuk mendominasi?" "Kekuatan untuk terus berputar dalam lingkaran yang sama, maksudmu?" Kazimir mendongok, matanya yang merah menyala menatap jauh ke cakrawala. "Kita menghancurkan peradaban mereka, mereka membangun kembali. Kita melibas mereka, mereka bangkit lagi. Apakah itu kemenangan sejati, atau hanya jeda singkat dalam siklus yang abadi?" Grokh terdiam, sejenak merenungkan kata-kata Rajanya. Ia tak pernah mendengar Kazimir berbicara seperti ini sebelumnya, seolah ada keraguan di baliknya, sebuah kelelahan yang tersembunyi di balik aura kekuatannya. "Dan Sumpah Leluhur tidak bisa dilanggar," tambah Kazimir, seolah mengakhiri renungannya. Suaranya kembali menjadi dingin dan tegas. "Akan ada konsekuensi yang jauh lebih buruk daripada kematian bagi siapa pun yang berani mengingkari takdir yang telah digariskan." Tiba-tiba, suara terompet perang manusia terdengar nyaring, memecah keheningan singkat di antara mereka. Dari balik bukit di kejauhan, sisa-sisa pasukan Eldoria yang terpukul mundur mulai menarik diri, berlarian dalam kepanikan. Hanya beberapa ratus yang tersisa dari ribuan yang bertempur pagi tadi. Mereka bagai kawanan domba yang dikejar serigala, tanpa arah dan tujuan. "Mereka melarikan diri, Yang Mulia!" seru seorang Hellhound yang baru saja tiba, meludahkan gumpalan api kecil dari moncongnya. Kazimir menyeringai tipis, sebuah ekspresi yang jarang terlihat di wajahnya. "Biarkan mereka. Pesta belum usai." Ia mengangkat tangan kanannya, dan seketika itu juga, raungan para setan mereda, digantikan oleh keheningan yang mencekam, seolah alam pun menahan napas. "Pasukan!" suara Kazimir menggelegar, tanpa perlu berteriak. Kekuatan suaranya datang dari resonansi kegelapan yang terkandung di dalamnya, mencapai setiap telinga iblis di medan perang. "Sisa-sisa pasukan manusia masih bersembunyi di reruntuhan. Hancurkan mereka sampai ke akar-akarnya. Jangan sisakan satu pun yang bernapas." Raungan sorak-sorai meledak. Para iblis mengangkat senjata mereka ke udara, merayakan kehancuran yang mereka ciptakan. Bau kemenangan terasa manis bagi mereka. Mereka segera bubar, melanjutkan perburuan terakhir atas sisa-sisa ksatria yang bersembunyi. Kazimir melangkah maju, kakinya menginjak puing-puing dan lumpur berlumuran darah. Ia tidak akan menarik diri. Keberadaannya di medan perang ini adalah sebuah penegasan d******i, sebuah pesan bahwa tidak ada tempat berlindung bagi manusia dari murkanya. Pedang Voidfang di tangan kirinya terasa dingin, namun siap kapan saja untuk menebas. Matanya yang merah menyala menyapu sekeliling, mencari perlawanan terakhir, percikan keberanian yang masih menyala di tengah keputusasaan. Kemenangan telah di tangan, namun Kazimir tidak merasa puas sepenuhnya. Ada semacam kehampaan, sebuah kebosanan yang menggelayuti jiwanya. Perang ini, kemenangan ini, semuanya terasa seperti repetisi dari apa yang sudah terjadi ribuan kali. Korban dari pihaknya, beberapa Imp hancur, beberapa Bersek kehilangan anggota tubuh, dan bahkan satu Gorgon tersayat parah oleh pedang ksatria manusia yang gagah berani. Kerugian yang bisa dihindari, pikirnya. Namun ia membiarkannya. "Apakah ini akan berakhir, suatu hari nanti?" gumam Kazimir pada dirinya sendiri, matanya menatap ke arah tempat terakhir kali ksatria manusia terlihat melarikan diri. Entah mengapa, kali ini ada secercah ketidakpastian dalam tatapannya. "Tidak mungkin," ia membatin, mengusir pikiran itu. "Ini adalah takdir. Ini adalah Sumpah Leluhur." Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, jauh di balik lapisan-lapisan kegelapan dan kebuasan yang mendefinisikannya sebagai Raja Setan, sebuah pertanyaan kecil tetap menggemanya: Apakah ada hal lain di luar peperangan yang abadi ini? Sebuah kehidupan yang berbeda dari siklus kehancuran yang tak berkesudahan? Ia segera menepis pikiran itu. Itu adalah kelemahan, sebuah bisikan dari dunia manusia yang tak berarti. Kazimir melangkah lebih jauh ke dalam medan perang yang kini mulai sepi dari jeritan pertempuran, hanya menyisakan suara-suara perburuan dan kehancuran. Ia ingin memastikan tidak ada benih perlawanan yang tersisa, tidak ada harapan yang bisa tumbuh dari abu kekalahan ini. Di tengah puing-puing yang membara, ia menunggu. Menunggu musuh terakhir yang berani menatap matanya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
54.1K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.8K
bc

Menyala Istri Sah!

read
4.4K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
20.2K
bc

Trapped in My Future Boss

read
3.4K
bc

Desahan Sang Biduan

read
56.6K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
16.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook