Merelakan kisah yang sudah berlalu, kenyataannya tidak semudah merelakan permen lolipop dimakan temen sendiri.
"Ran, ada naskah baru tuh dari Mas Hardin. Langsung cek email aja. Lo yang edit."
Mulut Rani yang penuh dengan sandwich Sari Roti tiba-tiba berhenti mengunyah. Ia telan sandwich yang belum terlalu lembut itu, dia ingin segera memberi tanggapan atas ucapan Anggi, sesama editor akuisisi di Mediacinta.
"Gue lagi?" protes Rani.
Padahal baru kemarin ia setor naskah yang sudah fix ke bagian layout. Sekarang sudah kembali dicekoki naskah baru. Ibaratnya, ia baru saja bangun dari mimpi yang penuh imajinasi, langsung buka lapak ke season 2.
Rani tidak habis pikir, tokoh-tokoh dalam novel memang sangat inspiratif. CEO kaya yang jatuh cinta pada sekretarisnya, dosen muda yang mengincar mahasiswinya, dokter yang mendapat jodoh tentara, pengangguran yang dapat jodoh gembel. Anehnya, semua kisah cinta itu dibungkus dengan manis. Ending yang disuguhkan tentu saja ciamik dan bahagia. Tidak ada kisah cinta yang patah satu pun, kecuali kisah cintanya.
"Iya. Udah gak usah protes. Perintah langsung dari adiknya Deddy Corbuzier tuh." Anggi duduk di kubikelnya.
"Iya, gue cek nih." Rani mengakses Gmailnya lewat komputer. Email dari Mas Hardin, selaku Editor in Chief berada di urutan pertama. Ia klik email tersebut dan mengunduh naskah novel yang akan diterbitkan oleh penerbit Mediacinta.
"Judulnya bagus juga, Simfoni Dari Masa Lalu. Kayaknya penulisnya gagal move on."
"Cocok tuh sama lo, Ran," sahut Anggi.
Rani pikir Anggi tidak mendengar perkataannya. "Sembarangan. Kata siapa gue gagal move on?"
Anggi tertawa, sembari muncul di samping kubikel Rani. "Itu buktinya." Anggi menunjuk jam tangan yang dipakai Rani. Rani terbelalak, dengan cepat ia menyembunyikan jam tangannya ke dalam outer rajut yang ia kenakan. Tingkah Rani membuat Anggi kembali tertawa.
"Putus udah hampir dua tahun tapi jam tangan yang mantan lo kasih masih lo pake," ledeknya.
Rani mencibir. Pasalnya, bukan cuma kali ini saja Anggi menyindir soal jam tangan pemberian mantan kekasih Rani itu, kalau dihitung-hitung mungkin lebih dari sepuluh kali. Memang apa salahnya memakai barang pemberian mantan? Kan sudah diberi, berarti menjadi hak milik penerimanya. Dan bukan berarti memakai barang pemberian mantan itu indikasi belum move on.
"Karena jam tangannya gak salah, Nggi. Jamnya juga belum mati. Lagian sayang, kapan lagi gue bisa pake jam tangan Fossil original."
"Alibi lo, Ran! Bilang aja biar ada benda yang bisa terus ngingetin lo sama Gilang."
Gilang lagi.
Kebiasaan Anggi selalu menyebut nama itu di depan Rani. Meledeknya. Pernah saat weekend Rani dipaksa Anggi untuk menonton bioskop, film terbarunya Vino G. Bastian. Mobil yang dipakai Vino dalam salah satu scene film itu adalah Mercedes Benz, melihat mobil itu mengajak Anggi flashback. Dia pernah melihat Gilang menjemput Rani di kantor memakai mobil yang sama seperti Vino G. Bastian. Kejadiannya, belum lama setelah Rani bekerja di Mediacinta.
Karyawan lain yang melihat langsung heboh, bisik-bisik tetangga mulai terdengar. Awalnya Rani terusik, lama-kelamaan dia cape sendiri dan memilih untuk bersikap tak acuh. Lagi pula dia tidak bisa menyaring komentar orang lain, sudah biasa hidupnya dikelilingi komentar-komentar.
"Eh, lo diam ya, Nggi." Rani menarik pipi Anggi. "Udah sana! Kerja yang bener! Kena kultum Mas Hardin kacau lo."
Rani kembali menekuri layar komputernya sambil bertopang pipi. Tangan kanannya bergerak untuk mengambil kacamata agar lebih jelas dalam membaca. Keseringan duduk di depan komputer mengakibatkan radiasi pada matanya, akibatnya kedua mata Rani minus satu dan satu setengah. Ia membaca nama penulis yang tertera, Gege.
Kisah ini tentang Rindu dan Pandu, dua orang yang tidak bisa bersatu padu karena terhalang restu. Pandu mencintai Rindu, pun sebaliknya.
Pandu memperjuangkan cintanya. Ia mencari cara agar orang tuanya memberi restu untuk dia agar bisa menikahi Rindu. Namun, Pandu tidak bisa mematahkan keputusan orang tuanya. Hubungannya dan Rindu kandas. Pandu frustasi, sampai kabur ke luar negeri. Tapi Pandu janji, ia akan kembali untuk mencari cinta sejati. Ia yakin cinta sejatinya itu Rindu.
"Kok blurb ceritanya nggak asing buat gue. Gue jadi dejavu gini sih." Rani memanyunkan bibirnya.
"Rani?"
"Iya, Mas?" Rani tersentak. Ia membenarkan letak kacamatanya yang sudah turun hampir melewati hidung.
"Udah buka email dari gue?" tanya Hardin yang tiba-tiba sudah berdiri di depan kubikelnya.
"Udah, Mas. Ini lagi baca dulu blurb-nya."
"Bagus. Gue juga udah kirim kontak Gege ke email lo."
"Cewek atau cowok?"
"Cowok. Nggak usah lo taksir!"
"Yeh, siapa juga yang naksir," balas Rani.
Hardin ini orangnya tegas dan tidak pandang bulu. Di kantor, siapa pun editornya, wajib menyerahkan editan finalnya ke Hardin sebelum diserahkan ke bagian layout. Hardin yang bertugas mengecek ulang, kalau masih ada typo atau kesalahan lainnya, siap-siap dihadiahi wajah sangar dan omelannya yang sudah seperti rumus luas persegi panjang itu.
Rani bukan hanya sekali kena tegur. Bahkan ketika pertama kali ia bekerja di sini, tiga tahun yang lalu. Rani yang masih dalam tahap beradaptasi harus menelan pil pahit ketika kinerjanya kurang mendapat apresiasi Hardin. Rani sampai sakit hati, bahkan tidak segan mendoakan Hardin jadi bujangan lapuk. Sayang, doanya tidak terkabul. Pria plontos tiga puluh tahun itu mempersunting kekasihnya setahun yang lalu.
Semakin ke sini, Rani semakin hafal dengan karakter Hardin. Ia sudah kebal. Mau diomeli sepanjang jalan kenangan pun Rani siap, asal kenangan itu tidak membawanya mengingat mantan.
"Oke, Mas. Ini gue baca naskahnya dulu sampai selesai. Baru habis itu gue hubungin penulisnya."
Hardin mengacungkan telunjuk. "Yang teliti awas! Jangan sampai kejadian kayak naskah sebelumnya yang lo edit. Typo masih banyak, tanda baca yang kurang tepat, bahkan banyak pemborosan kata."
Nah, baru juga disinggung. Hardin mengungkit lagi kesalahan Rani di naskah sebelumnya. Memanglah ini atasan, kalau ada panci kuah bakso panas, Rani tidak akan segan-segan untuk mencemplungkan kepala Hardin yang mirip bakso itu ke dalamnya.
"Siap, laksanakan!"
Harus selalu siap jika di depan Hardin, kalau mengaku tidak siap, maka jangan harap ada ampunan jilid 2 darinya. Setelah membaca catatan dari penulisnya, Rani mulai membaca bagian prolognya. Paragraf pertama di awali dengan puisi dua bait.
Terkenang rupamu yang cantik,
Bulu matamu yang lentik,
Senyummu yang selalu membuatku tak berkutik,
Aku merindukanmu, wahai bidadari cantik.
Belenggu cinta ini tak sedikitpun menipis
Hatiku masih kembang kempis melihat senyummu yang manis.
Wahai, jelitaaa...
Kubisikkan doa di antara rinduku yang hampir terkikis.
"Bagus juga puisinya," puji Rani, tersenyum.
"Mau ke mana, Nge?"
Rani memutar bola matanya ke belakang saat Anggi bertanya pada Inge yang posisi kubikelnya tepat di belakang Rani.
"Mau setor naskah ke Mas Hardin."
"Bae-bae lo, Nge. Siapkan diri lo buat diulek kayak sambalado," gelak Rani. Tim editor emang suka saling meledek satu sama lain. Apalagi kalau itu berhubungan dengan Mas Hardin, topik gibahnya semakin banyak.
"Eh, Ran. MC Entertainment bagi-bagi tiket nonton buy 1 get 1 tuh. Filmnya horor sih. Slot ketiga. Mau ikutan gak?"
Rani menggeleng dengan cepat. "Gue gak mau nonton film horor apalagi malem sekalipun itu gratis. Hidup gue yang udah horor karena lima kali dalam seminggu harus ketemu tuyul kayak Hardin, gak usah lo tambahin jadi makin horor."
Anggi terbahak-bahak.
"Padahal Bang Randu ikutan ya, Bang?" Merasa terpanggil, Randu, si editor senior itu mengangkat kepalanya dari layar komputer. Di belakangnya, dua juniornya sedang menanti jawaban.
Randu meringis sebelum menjawab pertanyaan Anggi. "Iya. Gue ajak cewek gue buat nonton."
"Mau ngedate tapi modalnya gratisan. Gengsi dong, Bang," cibir Rani.
"Tapi habis nonton gue ajak dia makan sama belanja. Tetap aja butuh pengorbanan."
Rani mengerucutkan bibirnya, lalu menghela napas pendek. "Andai semua cowok kayak Bang Randu, gue gak mungkin jomblo lama begini."
"Main Tinder aja, Ran."
"Gak deh, Bang. Terima kasih atas sarannya yang tidak berfaedah itu," ketusnya. Balik lagi ke layar komputer.
"Ahh, puyeng gue!" Keluar dari ruangan Mas Hardin, wajah Inge kusut bukan main. Tanpa ditanya pun, mereka sudah tahu kalau Inge jadi santapan lezatnya Mas Hardin.
"Kenapa lagi lo?" Anggi melayangkan pertanyaan, ia berusaha menahan senyum untuk menghargai kesedihan Inge.
"Cuma karena salah sehuruf doang. Nama tokoh yang harusnya Deo jadi Dio, gue jadi kena kultum."
"Welcome to the jungle."
Saat derai tawa memenuhi ruangan editor, saat itu pula Mas Hardin menampakkan wajah seramnya. Ia bersedekap di depan pintu ruangannya, matanya melotot tajam menyaksikan keributan yang diciptakan anak buahnya.
"Kerja itu pakai tangan dan pikiran, bukan mulut."
Suara bariton itu menghentikan derai tawa para editor yang baru saja menertawakan Inge. Suasana kembali hening. Semuanya sok sibuk dengan komputer masing-masing. Sementara Hardin masih setia menjadi penunggu pintu ruangannya.
"Rani, segera kontak penulis. Kirim format biodata yang harus penulis isi. Sekalian foto KTP dan NPWP." Hardin tidak ingin bantah.
"Iya."
"Segera!"
"Iya."
Semuanya mendesah saat Hardin kembali ke alamnya.
"Lo sih, Nggi. Ketawa kenceng banget kayak angin p****g beliung. Kalau sudah begini jadi siaga satu."
Artinya, ketika satu orang membuat mood Hardin jatuh, berarti semua orang akan terkena imbasnya. Dikit-dikit marah, dikit-dikit ketus.
Rani kembali membuka emailnya, perasaan gondok terhadap Hardin masih bersemayam. Ia menyalin kontak penulis yang Hardin kirim melalui emailnya.
Ia save dengan nama Gege.
Rani : Selamat siang, Mas Gege. Saya Rani, editor akuisisi Mediacinta yang kebetulan menjadi editor naskah Mas Gege.
Menunggu satu menit, pesannya belum juga berbalas. Akhirnya ia abaikan pesan untuk sang penulis, kembali menyelesaikan proses membacanya. Tak lama kemudian, ponselnya berdenting, nama sang penulis muncul di layar ponselnya.
Gege : Oh iya, Mbak. Ada masalah sama naskah saya?
Rani : Saya belum selesai membaca keseluruhan naskahnya. Boleh saya minta email Mas Gege? Saya akan kirimkan format identitas penulis yang harus Mas isi. Lampirkan foto dan NPWP di bagian yang kosong. Saya juga minta sinopsis lengkap ya, Mas. Minimal 2-3 lembar dalam format word.
Gege : gegepram22@g*******m.
Gege : Itu email saya. Saya kirimkan sinopsisnya besok. Sekarang saya akan isi formulir identitas dulu.
Rani : Baik. Saya tunggu.
*****