2. Balik ke Kota yang Ada Mantannya

1961 Words
Serpihan kenangan itu masih tersimpan rapi. Bukan hanya di dalam memori otak, tetapi hati pun ikut berperan. Bagai mimpi yang terus membual tanpa ending yang memberi kepastian. Lelaki itu menghirup udara sebanyak-banyaknya begitu sampai di Bandara Internasional Soekarno—Hatta. Kota ini, akankah senyaman dulu atau tidak lagi lama? Lengkung senyum manis dari sang pemilik itu tampak nyata. Dering telepon sedikit mengacaukan konsentrasinya mengingat masa lalu sebelum ia memutuskan kabur ke Negeri Sakura. "Lo masih di mana?" Suara kakak ketiganya terdengar dari sambungan telepon. "Gue udah di Bandara, Bang. Lo di mana?" "Gue ada operasi. Tunggu di situ aja, supir rumah yang jemput lo." Gilang, nama lelaki itu. Ia berdecak tidak suka mendengar jawaban kakaknya. Lantas melihat jam tangannya, jam satu siang. "Baru mau jalan supirnya?" "Udah gue suruh dari tadi." "Oke. Gue tunggu." Gilang memutus sambungan. Ia mengembuskan napas menatap jalanan, sesekali ia memainkan ponsel di tangannya. Tidak lama, Alphard hitam berhenti tepat di depan Gilang. "Mas Gilang?" Gilang terkesiap. Ia menyipitkan matanya begitu pengemudi turun dari mobil. "Eh, Pak Yono. Kirain bukan Bapak yang jemput." Kalau Pak Yono sudah pasti Gilang hafal. Pak Yono ini supir pribadi istrinya Galih. "Mari masuk, Mas. Maaf tadi agak macet di jalannya." Gilang menikmati perjalanan menuju rumahnya. Ia memasang airphone, mendengarkan sederet lagu milik Padi sembari mengamati satu persatu gedung pencakar langit yang dilewati. Empat puluh lima menit perjalanan terlewati. Begitu sampai di rumah Galih, Gilang mengamati sekeliling. Tidak ada perubahan dari segi apa pun sejak dua tahun yang lalu. "Mas, Oma ada di dalam," kata Pak Yono. Oma yang Pak Yono maksud adalah mamanya. Dipanggil Oma karena cucu-cucunya memanggil demikian. "Kopernya biar saya yang bawa masuk, Mas." "Makasih, Pak." Senyum berlesung pipi itu tidak luntur, dengan langkah yang pasti ia berjalan memasuki rumah kakak ketiganya, Galih. Sejak Gilang pergi, orang tuanya memilih tinggal di sini. Sementara rumah mereka ditempati oleh kakak perempuan Gilang, Gisel namanya. "Ibu Ratu, anak bontotmu yang paling tampan di antara saudaranya yang lain telah sampai dengan selamat!" teriaknya heboh saat mendapati rumah dalam keadaan sepi. Galih memilih rumah dua lantai dengan model ruangan terbuka. Ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga. Dapur dan ruang makan pun hanya disekat oleh meja bar. Satu bufet besar menjadi penyekat antara ruang keluarga dan ruang makan. Dua kamar berada di lantai bawah, satu kamar utama yang ditempati Galih dan Nana, sedangkan kamar lainnya ditempati oleh orang tuanya. Dan satu kamar mandi di bawah tangga. Mamanya muncul dari pintu kamar yang dibuka. Daster bermotif bunga melekat di badannya. Mamanya memang lebih suka memakai daster jika berada di rumah. Lebih leluasa kalau jalan, katanya. "Kamu tuh, ya! Main kabur-kabur aja. Udah kayak TKI aja dua tahun nggak pulang." Venna langsung mengomel begitu mengetahui anak bungsunya datang tanpa memberi kabar padanya. Alih-alih merasa bersalah, Gilang justru tertawa. "Mama rindu nggak sama aku?" "Rindu." "Sini dong peluk anaknya." Gilang merentangkan kedua tangannya. "Nggak sopan kamu minta Mama yang nyamperin," dumel Venna. "Maafkan, Ibunda. Aku akan memelukmu dengan erat." Gilang melangkah pasti untuk memeluk sang mama. Memeluk perempuan yang sudah melahirkannya itu. "Ke mana Baginda raja?" Gilang mengurai pelukan. Lantas beranjak menuju dapur untuk mengambil air minum. "Masih di kantor. Sedang ada diskusi dengan pamanmu mengenai rencana kamu yang akan diangkat menjadi wakil direktur." "Papa seneng banget jorokin aku buat ngelola perusahaan," decaknya setelah berhasil membasahi tenggorokan yang kering. "Kalau nggak kamu siapa lagi? Abang-abangmu sudah nyaman dengan pekerjaan mereka. Kak Gisel juga dilarang untuk kerja oleh suaminya. Tumpuan Papa ya cuma kamu, Lang." Perempuan berusia lebih dari setengah abad itu memilih duduk di ruang keluarga sambil menyalakan televisi. "Aku khawatir makin banyak yang naksir aku ntar, Ma," kekeh Gilang. Ikut bergabung dengan mamanya. "Asal nggak usah kamu taksir balik. Ingat kamu punya Andin." Gilang manggut-manggut. "Om Yayang." Suara khas anak kecil yang memanggilnya langsung menarik perhatian Gilang. Ia melongok ke belakang, keponakan berlari menghampirinya. Sedangkan sang ibu yang tengah hamil ia tinggalkan begitu saja di belakang. "Eleaa! Ponakan Om Yayang yang cantik, manis, pinter." Gilang menciumi seluruh wajah bocah berusia tiga tahun itu. "Makan apa, Sayang?" "Abis dari Alfa beli lollipop," kata Elea. "Jangan makan permen terus dong, Nanti giginya ompong kayak Oma tuh." Elea tertawa, lucu. "Biarin. Mama gak marah." "Minta oleh-oleh sama Om Yayang, Kak." Nana, istri Galih duduk di sebelah Venna dengan sedikit kekusahan karena kehamilannya yang sudah semakin membesar. "Mau oleh-oleh, Om." Gilang menyeret kopernya. Membuka isinya. Ada tiga buah paper bag seukuran di dalam koper berukuran besar itu. Ia ambil salah satu. "Nah, ini oleh-oleh buat kamu," kata Gilang. Ia memberikan paper bag tersebut untuk Elea. "Yang dua buat anak Om Gema sama Tante Gisel," imbuhnya. "Isinya apa, Om?" "Mainan." "Mainan terus, Lang. Itu kamar tempat mainan Elea udah penuh. Dimarahi Mas Galih lho nanti," seloroh Nana. "Itu kartun-kartun Disneyland gitu isinya, Na." "Kartun?" ulang Elea, matanya berbinar ceria. "Iya. Coba Kakak buka," jawab Gilang. Galih membiasakan anaknya dipanggil 'kakak' karena sebentar lagi akan memiliki adik. Elea senang mendapat oleh-oleh dari Gilang. Om Toyibnya itu biasa hanya ia lihat dalam layar ponsel milik sang ayah. Gilang sering video call dengan Elea, itu sebabnya biarpun jarang bertemu, Elea sudah akrab dengannya. ** Lantunan lirik lagu milik Marcell Siaahan berjudul Takkan Terganti menyambut kedatangan Gilang ke kedai kopi milik sahabatnya semasa kuliah dulu. Ini nih yang Gilang tidak suka, kenapa banyak lagu galau yang relate dengan kejadian di hidupnya? Ah, romansa. Apakah hanya sebatas mendengarkan lagu galau akan kembali mencabik hatinya ketika benaknya mengulang memori dua tahun silam, bersama dia yang lepas dari genggaman. "Panglima Gilang, makin klimis aja rambut lo dua tahun tinggal di Jepang!" Iyan, sang pemilik kedai kopi datang menyambut kedatangan Gilang. Pria berkemeja hitam pendek dengan apron di pinggang itu memberi pelukan selamat datang kepada sahabat lamanya. "Patih Hayam Wuruk, sudikah engkau menggelar red carpet untuk menyambut junjunganmu ini?" Gilang bergaya ala raja dari dinasti Majapahit. Kalimat Gilang yang absurd itu justru diberi respons oleh Iyan. "Hamba tak sudi, Yang Mulia. Itu karena Anda tidak bisa mengalahkan Takeshi's Castle di Jepang sana." Kadang perlu ketidakwarasan untuk menyambut sebuah tawa. Itu yang selalu mereka lakukan. Mereka tertawa hanya karena hal absurd yang biasa mereka ucapkan. Seperti kali ini. "Anjing! Kok lo makin gak waras, Yan?" Gilang duduk di salah satu kursi yang kosong. "Kewarasan gue hilang sejak temenan sama lo." Iyan ikut duduk di seberang Gilang. Gilang tergelak. Ia memperhatikan sekeliling. Kedai kopi yang diberi nama Ngopay Nyok! ini belum terlalu ramai pengunjung, mungkin karena masih jam tujuh malam. Hanya ada lima orang dalam radarnya. Seorang pria sebaya dengannya tengah duduk menghadap jendela luar. Pria itu menekuri laptopnya sambil menggenggam cangkir kopi. Ada pasangan yang sedang bergurau diwarnai gelak tawa di meja paling depan. Dan dua orang bapak-bapak yang tengah berbincang serius di meja paling tengah. "Betah amat lo di Jepang, Lang? Gue pikir anak bontot kayak lo gak bisa jauh dari ketek emaknya." "Betah dong. Kan ada Maria Ozawa," kelakar Gilang. "Tetep ya mulut lo isinya bakteri semua." Iyan melempar gulungan tisu ke arah mulut Gilang. "Kopi dong, Bang. Kopi spesial buat Panglima Gilang yang baru kembali dari perantauan." "Sejak kapan gue jadi abang lo!" Meski protes, namun Iyan tetap menjalankan titah Gilang, pria berkacamata itu bangkit dari kursi, lalu pergi ke pantry kedainya. "Dalgona Coffee. Ini kopi yang lagi hits." Iyan datang membawa secangkir dalgona coffee untuk Gilang. Kopi buatan Iyan memang tidak pernah mengecewakan lidah Gilang. Gilang sangat hafal, sahabatnya ini pecandu kopi. Tidak pernah satu hari pun Iyan lewati tanpa meneguk kopi. Saking cintanya, Iyan sampai melakukan penelitian tentang berbagai jenis kopi nusantara maupun mancanegara. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk memulai bisnis. Kedai kopi ini salah satu bukti nyata kecintaan Iyan terhadap si hitam yang memberi kepahitan itu. "Rani masih sering ke sini, Yan?" Entah, satu hal yang mengingatkan Gilang tentang kedai kopi Ngopay Nyok ini adalah Chalya Agrania. Tempat ini sering kali mereka kunjungi, mungkin salah satu tempat paling bermakna dalam hubungan mereka. "Udah gak pernah. Setelah putus sama lo, gue hampir gak pernah ketemu dia. Terakhir kali dia ke sini bareng cowok. Sekitar satu tahun yang lalu. Tapi dia kelihatan cemas gitu apalagi pas tahu gue ada di kedai malah buru-buru ngajak cowoknya cabut." Mendengar serentetan kalimat Iyan, Gilang yakin Rani sudah menemukan penggantinya. "Kenapa, sih, masih nanya Rani? Gadis Jepang emang nggak ada yang menarik?" Gilang mengedikkan bahunya. "Menarik. Tapi nggak ada yang tertarik sama gue." Iyan merespons dengan gelak tawa. "Lo kalau jones gak usah terlalu jujur gitu lah." "Kata siapa gue jones?" "Kata gue." Belum sempat Gilang menanggapi, dering ponsel milik Gilang memutus obrolan mereka sejenak. Gilang tersenyum melihat nama kontak di layar ponselnya, ia perlihatkan layar ponselnya pada Iyan. "Andin, cewek gue." Iyan mencibir. Ia bersedekap, memperhatikan Gilang yang bercakap-cakap dengan kekasihnya. "Iya, sori, Beb. Aku terlalu kangen sama Indonesia makanya sampai lupa ngasih kabar ke kamu... eh, jangan ngambek dong... oke nanti malam video call ya... love you too." Bagi Iyan, seorang Gilang Pramudya Wijaya tidak pernah berubah. Atensi Gilang pada seorang perempuan tidak mengalami penurunan sedikit pun. "Jadi, Andin itu pacar yang ke berapa setelah lo putus dari Rani?" tanya Iyan, ralat itu lebih menjurus pada sindiran. "Gue jomblo setahun. Terus ketemu Andin. Terus nyaman. Gue ajak pacaran." Gilang melempar cengiran. "Berarti udah setahun kalian pacaran?" Gilang mengangguk seraya meneguk kopi yang masih tersisa. "Awas putus lagi. Kalau beneran putus, fix gue yakin lo kena kutukan selalu putus gak lama setelah 1st anniversary." Gilang tergelak. "Gue mau ngelamar Andin." "Kapan?" Iyan tidak bisa menyembunyikan kekagetannya. "Habis lebaran rencananya. Masih sekitar lima bulanan lagi sambil nunggu Andin wisuda." "Lo kenal Andin di Jepang?" "Iya. Dia kuliah di sana." Iyan menatap Gilang lekat. "Lo punya apa sampai berani ngelamar anak orang, Lang?" Pertanyan Iyan berhasil membuat Gilang tertawa keras. "Lo gak nyadar, wajah gue ini ganteng. Gak ada yang berani nolak." "Tampang doang," cibir Iyan. "Seenggaknya sekarang gue udah mau kerja, Yan. Gue bisa beli maskawin pake duit gue sendiri." "Kenapa lo yakin sama Andin?" Gilang mencebik. "Lo bukan wartawan, Iyan. Gak usah interviu gue." "Yeh, gue cuma penasaran aja. Soalnya tiap pacaran lo selalu bilang; Yan, kali ini gue bakal bawa dia ke pelaminan. Ujung-ujungnya tetep lo putusin, Nyet!" Kali ini sebuah senyum lengkap dengan ekspresi miris terbit dari bibir Gilang. Netranya berpindah, menatap cangkir kopi. "Cuma Rani yang berani mutusin calon suami potensial kayak gue." "Ah!" Iyan mendesah seakan menyadari sesuatu. "Biasanya, kan, elo yang mutusin. Pantesan lo masih suka nanyain dia, punya dendam kesumat ternyata." Entah dendam atau apa. Gilang tidak ingin membahas itu lebih lanjut, karena akan berpotensi membuat hatinya cenat-cenut tidak karuan. "Anterin gue ke stasiun dong, Yan." "Mau ngapain?" Iyan mengernyit. "Naik odong-odong. Ya naik kereta dong, Iyan Cahyana!" "Lo, kan, bawa mobil." "Lo yang bawa. Anterin ke rumah Bang Galih. Gue ganti buat ongkos lo naik taksi balik ke sini lagi." "Ya, terus lu ngapain naik kereta?" "Gabut aja gue. Kangen keliling Jakarta." "Aneh lo!" Akhirnya, Iyan menyetujui ide Gilang. Gilang menikmati perjalanannya kali ini. Menaiki commuter line yang sibuk beroperasi di jam pulang kerja, menyatu dengan masyarakat dari latar belakang dan pekerjaan yang berbeda. Berhenti dari satu stasiun ke stasiun lainnya. Sampai akhirnya, matanya menemukan pelabuhan. Ia di sana. Berdiri, berdesakan di antara banyaknya penumpang KRL. Mata Gilang tidak beranjak dari gadis itu. Ia kadang tertawa kecil memperhatikan sosok yang terus memasang wajah masam itu. Gilang langsung ikut turun ketika gadis itu turun di stasiun Palmerah. Ia mengambil arah yang berlawanan. Tampaknya yang menjadi pusat atensi sama sekali tidak terusik dan tidak sadar jika Gilang memperhatikan dirinya sejak di dalam KRL tadi. Gilang terus berjalan, sedangkan gadis di depannya sibuk mencari sesuatu dari dalam tas kecilnya. Hingga jarak mengikis, dan tersisa satu jengkal. Gadis itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya. "Eh, sori," ucap Gilang saat dengan sengaja menabrakan lengannya ke bahu gadis itu. Agrania, ternyata makin menawan ketika sudah menjadi mantan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD