Rani dulu bermimpi. Punya suami tampan dan mapan. Biar hidupnya yang penuh liku menjadi yang terdepan. Sayangnya, mimpi hanya akan menjadi mimpi saat banyak selentingan orang berbicara tentang jodoh.
Jodoh itu sudah Tuhan gariskan.
Jodoh itu cerminan dari diri sendiri.
Dan satu lagi kalimat yang akan selalu terngiang di telinga Rani.
Orang eksekutif jodohnya orang eksekutif lagi, bukan kelas ekonomi yang rendahan.
Ha-ha-ha. Rasanya Rani ingin tertawa mendengar kalimat itu, apalagi sambil membayangkan ekspresi mereka yang disebut orang eksekutif ketika menyampaikan hal yang menyakitkan itu.
Kalimat yang membuatnya kehilangan asa. Berhenti berdelusi tentang jodoh pangeran di masa depan. Rakyat tetaplah rakyat. Tidak mungkin mendapat jodoh seperti Pangeran William. Rani cukuplah kenyang membaca naskah-naskah romansa yang selalu menghadirkan berbagai kisah manis yang berujung bahagia.
"Sarapan dulu, Beb. Kerasukan apa lo pagi-pagi udah ngedit aja?"
Rani menegakkan tubuhnya yang sejak tadi membungkuk sambil bertopang pipi di meja kerja. Ia melepas kacamata dan mengucek matanya yang sedikit gatal.
"Deadline," jawab gadis itu.
"Nih, bubur ayam tanpa seledri dan bawang goreng." Anggi menyerahkan box sterofoam kecil lengkap dengan sendok plastiknya pada Rani.
Mata Rani langsung berbinar mendapat sarapan gratis dari Anggi. Ia memang belum sarapan apa-apa selain sekotak s**u. "Aw, thanks, Nggi. Lo emang yang paling perhatian sama gue."
Mereka berdua menikmati sarapan sebelum karyawan lain datang dan jam kerja dimulai.
"Ran, kemarin gue baca artikel." Anggi memulai obrolan ditengah-tengah sarapan.
"Artikel apa?" tanya Rani sebelum menyuapkan satu sendok bubur ke dalam mulutnya.
"Lo baca sendiri." Anggi menyerahkan ponselnya pada Rani.
Rani menerima ponsel Anggi dan mulai membaca artikel yang diterbitkan hari kemarin itu. Mulai dari judulnya.
RAHADI WIJAYA BERENCANA MENGANGKAT PUTRA BUNGSUNYA GILANG PRAMUDYA WIJAYA SEBAGAI WAKIL DIREKTUR WIJAYA GROUP.
Baru membaca judulnya saja sudah membuat Rani tercengang, ditambah ada foto yang dilampirkan di bawah judul artikel. Foto Gilang mengenakan jas formal berdiri di samping Rahadi Wijaya yang merangkul bahunya. Di foto itu Gilang tersenyum semringah.
Pelan-pelan Rani mulai membaca isi artikel tersebut. Keputusan untuk pengangkatan Gilang sebagai wakil direktur akan diselenggarakan akhir bulan ini bertepatan dengan rapat direksi perusahaan.
Sungguh, Rani tidak peduli dengan isi artikel itu. Tapi satu fakta yang Rani simpulkan, Gilang sudah kembali ke Jakarta.
"Kayaknya Gilang udah balik ke Jakarta," ujar Anggi.
Rani hanya mengedikkan bahunya pelan sambil menyerahkan ponsel Anggi lagi. Rani sendiri tidak yakin, karena Nana tidak memberi kabar apa pun tentang lelaki itu. Dua tahun lalu, Rani sempat dikasih tahu Nana yang merupakan kakak ipar dari Gilang, bahwa Gilang pergi ke Jepang tidak lama setelah hubungan mereka kandas.
"Bokapnya Gilang dulu politisi bukan, sih? Yang terlibat kasus korupsi besar itu, kan?"
Rani mengangguk.
"Dia juga punya perusahaan, ya?"
"Iya. Sebelum terjun ke dunia politik, bokapnya memang pengusaha."
Dulu Gilang menceritakan kedekatannya bersama ayah. Gilang pernah berada di fase terpuruk ketika sosok ayah yang menjadi panutan dia, yang selalu mengabulkan semua keinginan dia, tiba-tiba harus mendekam di dalam penjara.
"Terus lo gimana?"
Rani mengernyit mendapat pertanyaan itu dari Anggi. "Gimana apanya? Hubungan gue sama dia udah kelar. Nggak ada yang perlu disambung lagi."
"Iya, sih. Makanya lo cepet-cepet nyari pasangan. Biar nggak dibilang gagal move on."
"Gue kapok nyari pasangan. Kapok sama mulut jahat orang tuanya." Rani memaksa untuk tertawa. Padahal di sudut hatinya yang terdalam luka itu masih terpatri.
Anggi paham, Rani suka curhat padanya untuk masalah tersebut.
"Tuhan pasti udah nyiapin jodoh terbaik buat lo."
"Buat lo juga, Nggi."
"Aamiin."
Jam kerja dimulai, pertarungan pun dimulai. Apalagi kalau si adik Deddy Corbuzier sudah datang. Petaka pun akan hadir menghantui mereka-mereka yang menjadi bawahannya.
"Kerja! Kerja! Kerja!"
Si botak datang-datang langsung berorasi. Bubur yang baru Rani dan Anggi habiskan tadi saja bisa jadi belum sampai ke perut, Hardin sudah memberi ultimatum untuk kerja.
"Mas, penulis Simfoni Dari Masa Lalu belum ngirim identitas diri nih." Rani berdiri ketika Hardin hendak membuka pintu ruangannya.
"Udah ke email gue," jawab Hardin.
"Kok bisa?"
"Ya, bisa dong, Rani." Hardin menggeram.
"Maksud gue, kan, gue yang minta kenapa langsung ke email lo?"
Hardin menatap Rani, yang ditatap menunduk karena takut.
"Penulis gak mau identitas aslinya kebongkar. Jadi nanti di novelnya pun tanpa foto asli dia, gak ada tanggal lahir dia. Singkat aja biodatanya."
"Lo kenal sama penulisnya?" Meski takut dikasih ceramah, tapi Rani penasaran. Biasanya Hardin minta para penulis terbuka soal identitas. Karena Mediacinta suka mengundang para penulis di event kepenulisan atau talk show.
"Kenal. Dia temennya temen gue. Udah gak usah banyak tanya. Lanjutin aja ngeditnya, deadline buat editing pertama hari ini ya, Ran. Habis itu langsung kirim ke penulisnya. Suruh revisi."
"Siap, Mas."
Rani kembali duduk. Setelah memastikan Hardin sudah benar-benar menghilang ke dalam ruangannya, mulut Rani mulai menggerutu sendiri.
"Baru kali ini gue nemu penulis kayak gitu. Emang seberapa ganteng, sih, wajahnya sampai gak mau go public. Gak tahu terima kasih, padahal gue editor naskah dia."
"Lo ngomong pake tanda baca dong, Ran. Gue, kan, cape manggut-manggut terus." Anggi menimpali.
"Siapa suruh lo manggut-manggut?"
"Kan, gue setuju sama pendapat lo."
Rani menepuk jidatnya. Ia akan segera menyelesaikan editing naskah Simfoni Dari Masa Lalu. Tadi sebelum sarapan, Rani sudah mencapai bagian ending cerita. Lagi-lagi, naskah romansa tersebut dikemas dengan happy ending. Tinggal bagian epilog saja yang harus Rani edit.
"Selesai."
Kurang dari tiga puluh menit Rani menyelesaikan pekerjaannya. Ia bersandar pada kursi kerjanya dan merentangkan kedua tangannya ke udara. Satu menit ia mengistirahatkan otot-ototnya, sebelum mengambil ponsel untuk menghubungi Gege.
Rani
Halo, Mas Gege. Saya sudah kirim hasil editing naskah ke email Mas Gege. Dalam naskahnya sudah saya kasih catatan mana yang harus diperbaiki atau ditambah. Catatan saya dibaca juga ya, Mas. Terima kasih.
Gege
Catatannya di mana, Mbak??
Rani
Langsung di naskahnya, Mas.
Gege
Kenapa nggak di sini langsung? Biar ada diskusi di antara kita gitu.
Pupil Rani melebar membaca jawaban sang penulis. Nih, orang lama-lama racun juga. Sebentar lagi Rani yakin dia akan menyesal sudah bicara lemah lembut.
Rani
Kalau ada yang kurang paham, boleh tanya lewat WA, Mas.
Gege
Oke
Rani
Kira-kira butuh waktu berapa lama untuk proses edit?
Gege
2 minggu bagaimana?
Rani
Boleh. 2 minggu dari sekarang ya, Mas. Nanti kirim ke saya lagi.
Gege
Baik, terima kasih, Mbak Rani.
Rani
Sama-sama
**
Rani terjaga efek coffee yang diminumnya tadi sepulang dari kerja. Terhitung sudah satu jam ia hanya berbaring di sofa. Membaca sebuah buku terjemahan berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson. Sebetulnya buku tersebut sudah Rani baca sekali, namun karena belum ada stok bacaan lagi ia kembali mengulang untuk membaca buku itu.
Perlahan matanya mulai berat, ia jadi tidak fokus membaca. Rasa kantuk akhirnya menyerang, Rani menyimpan buku yang belum selesai ia baca ke atas meja. Sebelum mengambil posisi meringkuk, mimpi panjang akan segera dimulai.
Hari ini hari kamis, bertepatan dengan pernikahan sahabatnya. Akad nikah baru saja selesai sekitar lima belas menit yang lalu. Rani merasa haus setelah bertugas mengipasi pengantin wanita. Ia berjalan penuh kehati-hatian karena kebaya ketat yang melingkupi badan membuat ruang geraknya terbatas.
Brugh. Percuma jalan hati-hati kalau kaki orang lain menginjak rok kebaya bagian belakangnya hingga ia tersungkur ke lantai.
"Woi, Mas. Rok saya nggak usah diinjak dong." Rani langsung memaki. Kepalanya mendongak demi melihat tersangka.
"Sori, sori. Gue nggak sengaja."
Seorang lelaki yang mengenakan beskap cokelat berdiri di depannya. Tangan lelaki itu terulur, niatnya mau bantu Rani berdiri. Tapi Rani ogah menerimanya. Ia akan menandai wajah lelaki itu sebagai musuh barunya.
"Nggak sengaja," decak Rani. Ia berdiri. "Kalau rok kebaya gue melorot gimana?"
"Wah, enak dong. Gue jadi bisa lihat dalemnya."
"Sinting!" umpat Rani spontan. Ia mundur dua langkah sambil menatap ngeri si lelaki. "Jauh-jauh lo dari gue. Dasar cowok mesum."
"Kenalan dulu makanya." Alih-alih tersinggung, si lelaki justru masih bisa bersikap ramah. Bahkan tangannya terulur ke depan, kali ini untuk mengajak kenalan. "Gue Gilang. Adiknya mempelai pria yang sekarang nikah."
"Oh..." Awalnya Rani cuek, tapi setelah sadar matanya langsung terbelalak. "What? Adiknya Dokter Galih?"
Lelaki itu mengangguk dengan yakin.
Rani tidak percaya begitu saja. Ia meneliti penampilan lelaki di depannya dengan seksama. Ia perhatikan struktur wajahnya, mulai membandingkan dengan dokter Galih, pria yang disebut lelaki ini, yang tidak lain dan tidak bukan adalah suami Nana.
"Adik pungut?" celetuk Rani.
"Sembarangan! Adik kandung."
"Gak percaya. Masa iya Dokter Galih punya adik yang nggak ada otaknya kayak lo." Baiklah cuma Rani yang bisa mencibir orang yang baru dikenalnya.
"Jatuh cinta sama gue baru tahu rasa lo," kelakar Gilang, kemudian tertawa.
"Amit-amit." Rani menjitak pelan dahinya sampai tiga kali.
Gilang sama sekali tidak tersinggung dengan tingkah gadis berkebaya grey di depannya. "Nama lo Chalya Agrania, kan? Temennya kakak ipar gue. Beberapa kali gue lihat lo di i********: Nana. Ternyata lo seksi juga."
Sudah dalam mode galak, sekarang dipancing lagi. Tambah murka Rani pada Gilang. "Lo ngepoin i********: gue?"
"Lo cantik, sih, makanya gue kepo."
"Dasar kampret!" Rani berkacak pinggang sambil melotot tajam.
Gilang terkekeh.
"Nama lo dibacanya Calya atau Kalya, sih?" tanya Gilang lagi.
"Bukan urusan lo."
"Urusan gue dong. Kalau kita nikah kan gue yang harus baca ijab kabulnya. Nanti salah sebut nama, kan nggak sah pernikahannya."
"Lo beneran sinting!"
Rani tidak ingin ketularan sinting. Ia bergidik ngeri sambil berbalik badan. Cukup sampai di sini ia meladeni orang tidak waras.
"Eh, Kalya?" Gilang kembali memanggil.
"Gue gak denger."
"Strit lo warna merah, ya? Kelihatan tuh. Rok lo sobek bukan melorot."
"HAH?!" Rani sungguh tercengang. Ia buru-buru memeriksa bagian belakang rok yang dipakainya.
"Aarrgghh!!!" teriak Rani saat ucapan Gilang memang betul adanya. Ia berusaha menutupi bagian rok kebayanya yang sobek dan mengambil langkah cepat. Sebab ia tidak bisa berlari dengan leluasa.
???