4. A Failed Surprise

1184 Words
Italic berarti flashback. ??? Rani punya pacar namanya Benjamin Bintang Adipura, atau yang lebih akrab disapa Beni. Beni adalah pewaris tunggal perusahaan batu bara yang cukup mentereng di Indonesia. Tentu saja orang tuanya sangat selektif atas pergaulan Beni. Teman bahkan siapa pacar Beni pun terpantau ketat. Rani sakit hati dengan ucapan ibu dari Beni yang mengatakan; orang eksekutif itu jodohnya orang eksekutif lagi, bukan kelas ekonomi yang rendahan. Atas dasar cinta, Rani berjuang mempertahankan hubungannya dengan Beni. Beni pun menjanjikan hal-hal indah yang akan mereka raih. Yang paling krusial adalah restu. Meski mereka masih belum ingin serius, karena masih sama-sama kuliah, apalagi mereka sudah semester 8, tapi suatu saat ada masanya mereka ingin serius. Ibu Beni tidak pernah merestui hubungan anaknya dengan Rani. Karena latar sosial gadis itu dinilai tidak cocok mendampingi putranya. Rani terima semua itu dengan lapang d**a, namun ia enggan melepaskan Beni. Ibarat naik ke atas pohon. Sudah tahu rantingnya rapuh dan akan patah, namun Rani masih saja naik untuk memanjatnya. Sampai akhirnya ranting itu benar-benar patah, dan Rani terjatuh tanpa ada yang menolong. Malam itu, Beni ulang tahun. Rani sengaja begadang untuk memberi sebuah kejutan kecil. Walau hanya satu buah cake ulang tahun berukuran sedang yang mampu ia beli, namun Rani ingin perayaan sederhana ini menjadi istimewa bagi Beni. Tengah malam Rani berkendara. Ia meminjam motor salah satu teman kosannya menuju apartemen tempat tinggal Beni. Ya, kekasihnya itu memilih tinggal di apartemen sejak masuk kuliah. Beni bilang ia risih karena ibunya yang terlalu cerewet. Lengkung senyum tidak pernah pudar dari bibir Rani. Apalagi ketika sudah berada di pintu apartemen Beni. Jantungnya berdegup, hatinya berbunga. Ia segera membuka kotak cake, memasang lilin dengan angka 22 di atasnya. Ia nyalakan lilin tersebut, lalu menekan password apartemen Beni yang ia hafal. Kesan pertama yang Rani tangkap begitu masuk apartemen adalah sunyi. Namun, lampu ruang tengah apartemen Beni masih menyala. Rani mengernyit mendapati botol-botol alkohol serta kulit kacang berserakan di atas meja. Baunya pekat sekali, Rani tidak suka. Langkah Rani mendekati kamar Beni. Biasanya Beni lupa mengunci kamar, pelan-pelan ia menempelkan tangan pada handle pintu. Dalam hitungan ketiga, Rani membuka pintu kamar Beni dan... "Surprise!!!" Niat memberi kejutan, justru Rani yang lebih terkejut. Dua orang anak manusia sedang b******u di atas ranjang tanpa busana. Rani melihat punggung Beni dari tempatnya berdiri, lelaki itu tercengang saat menoleh ke belakang. Tanpa pikir panjang Rani menjatuhkan kue ulang tahun yang ia siapkan untuk Beni di depan kamar lelaki berengsek yang berhasil mematahkan hatinya malam ini. "Yang!" "Yang!" "Sayang, tunggu. Aku bisa jelasin." Rani tidak pernah berharap Beni akan mengejarnya. Sesak di hatinya terus merenggut rona bahagia yang semula ia pancarkan. Air matanya jatuh deras. Sederas kesakitan yang Beni berikan untuknya. Rani berlari. Sekencang mungkin yang ia bisa. Tanpa menoleh ke belakang, tanpa peduli suara teriakan yang terus memanggilnya. Rani tidak peduli. Yang sekarang terlintas di benaknya, ia harus pergi dari tempat sialan itu. Beni cukup cepat dalam mengejarnya. Belum sempat Rani kabur dan menyalakan mesin motor teman kosannya, Beni berhasil mencekal lengannya. "Yang, aku bisa jelasin." Rani mengentakkan tangan Beni yang mencekalnya. Ia menatap jijik sang kekasih, oh ralat. Sebentar lagi lelaki ini akan segera menjadi mantan kekasihnya. Bahkan celana boxer yang Beni pakai pun tidak simetris, alias panjang sebelah. "Habis ngapain kamu?" Meski sakit, Rani tetap menanyakan pertanyaan retoris yang sudah jelas jawabannya. Beni bergeming, menatap Rani dengan penuh penyesalan. Halah! Bulshit! Rani tidak akan terbuai. Menyesal tapi sama-sama menikmati di atas ranjang. "Nyicil bikin anak? Biar habis nikah gak harus nunggu sembilan bulan buat melahirkan?" Rani tertawa. Terkesan memaksa, karena memang itu hanya sebuah kamuflase untuk menutupi kesakitannya. Mendapat serangan verbal dari Rani, Beni tidak bisa memberikan alibinya. Ia kalah telak. "Kamu pikir aku masih butuh penjelasan, Ben? Apa yang aku lihat tadi sudah cukup jadi alasan aku minta putus dari kamu." Rani menarik napasnya yang tersenggal. "Kita putus ya, Ben. Dan jangan pernah menemuiku lagi." Tiga tahun yang terbuang sia-sia hanya untuk mencintai lelaki b******n seperti Beni. ** Tidak mudah melupakan ribuan momen yang tercipta selama tiga tahun. Rani pikir sikap penyayang Beni, sikap perhatiannya tulus dari hati karena Beni mencintainya. Nyatanya bohong. Di belakangnya, Beni menipu. Sakit rasanya ketika ia mengingat fakta bahwa lelaki yang selalu ia banggakan itu berselingkuh dengan perempuan lain, bahkan, mungkin mereka sudah tidur bersama. Sehari setelah putus, Rani masih kehilangan rotasinya. Galau masih melanda hatinya. Ia tidak memiliki teman curhat, sebab satu-satunya sahabat yang Rani miliki sudah menjadi istri orang. Rani tidak ingin mengganggu kehidupan baru sahabatnya. Ia duduk termangu di dekat kaca besar kedai kopi. Menatap rintik-rintik hujan yang membasahi kaca. Patah hati kok begini amat. Rani berkali-kali membuang napasnya. "Caramel macchiato khusus untuk perempuan yang lagi gundah gulana." Rani terlonjak. Secangkir caramel macchiato panas tersaji di depannya. Beberapa saat Rani hanya memperhatikan uap yang ditimbulkan, sebelum mendongak untuk melihat wajah pemilik suara lelaki yang berdiri di seberang meja. "Ngapain lo di sini?" Tidak ada sambutan manis begitu Rani mengetahui siapa lelaki yang tiba-tiba memberinya secangkir caramel macchiato. Rani pikir pekerja di kedai kopi ini. Ternyata si sinting yang mempermalukannya di acara pernikahan sahabatnya. Hari itu, Rani masih ingat betul seringai serta wajah jahil yang Gilang lontarkan saat mereka terlibat argumen. Rani sampai harus mengganti kebaya yang dipakainya. Untung Rani membawa sebuah dress untuk berjaga-jaga. Dan Gilang melakukan hal ajaib lainnya. Ia memaksa Rani untuk foto berempat dengan mempelai pengantin. Katanya buat kenang-kenangan. "Nongkrong." Gilang duduk tanpa izin dari Rani. Rani mendengkus. "Di dunia yang sempit ini harus banget ya gue ketemu sama lo?" Serius, Rani masih saja naik pitam. Padahal ini baru kali kedua mereka bertemu selepas membuat keributan kecil di pernikahan kakaknya bagi Gilang, dan pernikahan sahabatnya bagi Rani. Rasa dongkol di hati Rani masih belum usai biarpun kali ini Gilang berusaha membiusnya dengan secangkir kopi. "Salah lo pilih kedai kopi ini buat jadi tempat ngegalau," cetus Gilang. Ia memamerkan cengiran yang menjadi ciri khasnya. "Bebas dong. Ini kan tempat umum," balas Rani. Gilang manggut-manggut sambil menahan senyum gelinya. "Nah, makanya. Karena ini tempat umum lo bisa ketemu sama gue. Lagian kedai kopi ini milik gue dan sahabat gue." Netra Rani membulat. Jadi owner kedai Ngopay Nyok ini temenan sama orang sinting. Rani memilih mengabaikan, mengotak-atik ponselnya yang mendadak sepi karena status jomlonya. "Muka lo udah kayak zombie yang begadang. Pucet, serem juga, kantong mata lo hitam. Lo sakit?" Rani mendelik. "Gah usah sok perhatian kalau awalnya ngeledek gue." "Yeh, sensi terus lo sama gue," balas Gilang. "Apa karena gue tahu strit yang lo pake dinikahan Bang Galih dan Nana? Tenang aja, gue gak bilang sama orang-orang kok. Rahasia lo aman sama gue." Rani geleng-geleng kepala. Pasalnya, selama mengenal dokter Galih, sifat adiknya ini sangat berbeda. Absurdnya sudah sampai ke luar angkasa. Tanpa peduli dengan Gilang, Rani bangkit dari kursinya. Ia menyampirkan tas mininya ke pundak sebelum pergi tanpa pamit. "Eh, Kalya." Gilang berusaha memanggilnya. "Panggil gue Rani. Gue gak suka dipanggil Kalya." "Oke, Rani. Lo mau ke mana?" ulangi Gilang. "Bukan urusan lo," sungut Rani tanpa menoleh ke belakang. "See you next time ya. Semoga kalo kita ketemu lagi, darah tinggi lo udah sembuh." Dan Rani justru berdoa biar mereka tidak bertemu lagi. ???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD