Bukan tidak ingin beranjak dari rasa sepi, tapi Rani hanya ingin menjaga hati. Sudah cukup kehidupan terdahulunya yang penuh duri. Soal asmara, Rani belum bisa membuka hati untuk seseorang lagi.
Sinar matahari yang masuk di antara celah gorden kontrakan mengusik mata, disambung dengan bunyi alarm yang memekakkan telinga, mata yang terlelap itu dipaksa untuk terjaga. Rani menggeliat pelan, sebelum akhirnya terbangun dari mimpi panjang dari masa lalu yang membawa luka. Ia mengambil oksigen, lantas duduk sambil mengucek mata. Hal yang pertama Rani cari setelah sadar adalah keberadaan ponselnya.
"Mati gue!!!" Matanya membulat sempurna ketika melihat jam di ponselnya 06.30 a.m.
Gadis itu melompat dan berlari cepat menuju kamarnya. Ini nih kebiasaan buruknya, susah bangun pagi kalau tidur terlalu malam. Alarm yang dipasang berulang kali di ponsel pun entah sadar atau tidak selalu Rani matikan. Biasanya, Rani akan bangun jika alarm sudah berbunyi sebanyak lima kali.
Mandi cukup dengan waktu tiga menit, mengambil baju yang sudah disetrika secara acak dari lemari. Rani memasukkan semua perlengkapan make up dan charger ponsel ke dalam ransel mininya. Kalau sudah kesiangan seperti ini, naik gojek pilihan terbaik. Ia memesan gojek dan buru-buru keluar dari pintu kontrakannya.
"Astaga!" Rani terkejut ketika seorang lelaki berdiri di depan pintu.
Rani mengernyit. Seingatnya ia tidak mengenal lelaki berkemeja hitam dengan wajah yang cukup tampan untuk warga pribumi.
"Cari siapa, Mas?" Rani bertanya.
"Good morning, gue Yoga."
Rani gelagapan. Ia tidak sangka tangan lelaki itu akan terulur untuk mengajaknya kenalan. Dengan penuh keraguan, Rani membalas uluran tangan itu.
"Rani," balasnya. Menarik tangannya lebih cepat.
Lelaki bernama Yoga ini melontar senyum tipis. "Gue baru pindah, dan tinggal di sebelah kiri kontrakan lo." Yoga menunjuk letak kontrakannya.
"Oh, salam kenal." Ia melupakan tujuannya untuk berangkat kerja.
Yoga mengangguk. Ia mengulurkan kotak kue yang sejak tadi ia pegang di tangan kiri. "Ini brownies duren buat lo sebagai tanda perkenalan kita. Lo suka duren nggak? Takutnya nggak suka, nanti gue ganti."
"Buat gue?" Rani mengerjap.
Yoga menjawab lewat anggukan kepala.
Gadis yang belum sempat memoles wajahnya dengan perkakas make up itu ragu untuk menerima. Tapi ini rezeki nomplok. Kebetulan ia pun belum sarapan.
"Oh, suka kok. Thanks ya." Rani meringis, kikuk.
"Syukurlah kalau gitu." Lagi, Yoga melempar senyum tipis. Rani yakin senyum itu menjadi ciri khas lelaki ini. Meski tipis tapi manis, pelengkap wajah rupawannya.
"By the way, lo lagi buru-buru?"
Rani menepuk jidatnya setelah melihat jam tangan pemberian sang mantan. Ia hampir pasrah jika harus menjadi menu sarapan Hardin sebelum akhirnya sebuah telepon membuka harapan lagi. Tukang ojek online, Rani ingat kalau sudah memesan gojek.
"Gue duluan ya."
Gadis itu berlari sambil melambaikan tangannya pada Yoga yang masih terpaku. Yoga diam-diam mengulum bibirnya sembari menatap punggung Rani yang menghilang di telan lift.
"Okay. Have a nice day, Rani."
Napas Rani terengah begitu dia menempelkan jempolnya pada finger print. Dua menit lagi dia hampir kesiangan. Untung ada Mang Gojek yang perhatian, dan bisa diajak kompromi. Ngebut bukan main. Rani tidak peduli penampilannya acak-acakan begitu sampai kantor, yang penting ia bisa menghindari amukan si kepala plontos.
Langkah Rani tergesa menuju ruangannya. Begitu sampai, ia membungkuk memegangi perutnya yang kram. Rekan-rekannya sudah duduk di kursi kerja masing-masing. Setelah jantungnya cukup tenang, Rani berjalan terseok menuju kubikel.
"Astaga jantung gue hampir copot! Gue gak kesiangan, kan?" Rani bertanya pada Anggi.
Anggi yang sedang ngemil chips food di meja kerjanya menggeleng dibarengi dengan tatapan ragu.
"Alhamdulillah gue masih diberi keselamatan sama Allah. Selamat dari kultum Hardin," cerocos Rani. Sontak ia melirik ruangan Hardin yang tertutup. "Eh, adiknya Deddy Corbuzier itu belum datang, kan?"
Anggi cengir lebar. Dia memberi isyarat pada Rani melalui mata. Rani mengernyit membaca kode dari Anggi. Gadis itu membalas lewat tatapan kebingungannya.
Sekali lagi, Anggi melotot disertai sebuah tunjukan oleh dagunya. Suasana mendadak horor. Apalagi dua rekannya yang lain ikut menatap cemas ke arah Rani. Rani menghitung sampai tiga sebelum melongok ke belakang.
"Good morning, Mas Hardin!" Rani meringis panjang begitu melihat Hardin berdiri di depan pintu ruangan divisi editing sambil berkacak pinggang.
"Chalya Agrania," panggil Hardin.
Rani seperti sedang duduk di meja pengadilan yang akan dijatuhkan ponis oleh hakim, dan Hardin yang bertindak sebagai hakim.
"Telat satu menit lima belas detik."
Rani mereguk liurnya yang pahit. "Tadi antrean finger print-nya panjang, Mas. Jadi gue telat."
"Lo mau gue percaya?"
Ah, Rani tidak perlu mendebat lagi. Sudah pasti ia akan kalah. Mata Hardin yang tajam itu mampu melumpuhkan semua alibi yang Rani miliki. Ia pasrah sekarang.
"Mas Hardin mau brownies durian nggak?" Rani berusaha bernegosiasi. Ia mengangkat kotak brownies durian pemberian tetangga baru apartemennya itu.
"Gak mau," tolak Hardin. Senyum yang Rani tunjukan langsung luntur seketika.
"Gue sukanya belah duren bukan buah duren."
Ucapan Hardin betul-betul membuat Rani ternganga, dan para editor lain terkikik geli.
"Berhubung mood gue lagi bagus, kali ini lo lolos," cetus Hardin.
"Pasti semalam udah belah duren, kan, Mas. Jadi moodnya bagus."
"Anak kecil tahu apa soal belah duren?" ujar Hardin dengan nada mengejek. "Gege nanyain lo tuh. Dia WA belum lo bales. Katanya ada yang nggak ngerti."
"Oh, iya. Gue belum sempet buka handphone."
"Cepat buka," titah Hardin.
Rani mengurut dadanya setelah Hardin menghilang di balik pintu ruangannya.
"Sabar, Ran. I feel you." Anggi memberi simbol finger heart untuk Rani yang baru saja diberi kultum.
"Omongan Hardin udah sampai ke empedu gue." Rani melayangkan gerakan meninju ke arah ruangan Hardin sambil berkomat-kamit. "Eh, udah pada sarapan belum?" tanya Rani melihat rekan-rekannya. Mereka masih menahan tawa atas derita yang Rani dapat pagi ini.
Hanya ada empat orang di ruangan tersebut, termasuk dirinya. Seharusnya lima. Novan, editor senior satu angkatan dengan Randu tidak masuk kerja selama dua minggu terakhir akibat kecelakaan mobil yang dialami. Ketika Rani menjenguk, kondisi Novan cukup parah. Bukan cuma tulang kakinya yang patah sampai harus dioperasi, tapi tulang hidungnya juga ikut retak.
"Belum." Anggi dan Inge menjawab bareng.
"Gue udah ngopi," timpal Randu.
"Brownies durian nih." Rani mengangkat kotak brownies durian ke udara agar rekan-rekannya melihat.
"Sedep nih baunya sampai ke tenggorokan gue." Anggi mengendus kotak brownies yang Rani taruh di atas meja.
"Belah duren di malam hari paling enak sama kekasih."
Mendengar kata belah duren dari Hardin, Randu teringat lagu dangdut tersebut dan langsung ia nyanyikan dan berjoget menghampiri Rani.
"Ah elah, Mas Hardin bikin gue ngebayangin," celetuk Randu.
"Istighfar, Bang Randu!" seru Anggi.
Randu tertawa, ia mengambil sepotong brownies, dan mulai menikmatinya. Pun dengan Rani dan Anggi.
"Ran, mau dong!" seru Inge. Ia menghampiri kubikel Rani. "Tumben lo bawa sarapan beginian?"
"Ada yang ngasih tadi," cengir Rani. Ia mengambil sepotong browniesnya.
"Siapa? Gebetan ya?" timpal Randu penasaran.
"Ngaco! Gue dapet dari tetangga baru." Ketika Rani bicara semua mata di depannya langsung langsung menatap dirinya penuh kecurigaan.
Rani mengembuskan napasnya. "Jadi kontrakan di sebelah kiri kontrakan gue tuh baru aja ditempatin."
"Oh gitu. Suami istri?"
"Nggak tahu. Yang ngasih brownies ini cowok. Gak tau udah beristri atau belum."
"Kalau masih available sikat aja langsung, Ran. Biar lo gak jomlo terus." Randu memberi usulan yang membuat Rani mencebik.
Jam kerja dimulai. Rani masih duduk santai di kubikelnya, karena Gege belum memberikan hasil revisi dan tidak ada naskah yang perlu diedit lagi. Daripada nganggur, Rani memilih untuk memoles muka polosnya. Ia hanya memakai suncreen dan bedak untuk seluruh wajahnya. Serta mascara dan pensil alis untuk bulu mata dan alisnya. Terakhir, lipcream nude ia sapukan ke bibirnya.
Setelah puas dengan hasilnya. Rani menyimpan kembali semua perkakas make up itu ke dalam ransel mininya. Lalu mengecek ponsel. Ia hampir lupa kalau Gege menghubungi dia.
Gege
Mbak Rani, coba lebih digali lagi deskripsi tentang Pandu itu maksudnya apa?
Rani
Oh, itu. Iya misalnya hobinya apa, makanan kesukaan apa, yang gitu-gitu, lebih diperjelas lagi, Mas Gege. Biar nggak kelihatan bolong ceritanya.
Gege
Oh, siap saya paham.
Rani
Ada lagi?
Gege
Ada
Rani
Yang bagian mana?
Gege
Bagian masa lalu yang tertinggal.
Rani
Maksudnya? Bisa ditunjukan fotonya?
Gege
Hehe, nggak. Saya cuma bercanda. Sudah itu aja. Makasih, Mbak Rani?
Rani
Sama-sama, Mas Gege.
Kok Rani mulai merasa penulis ini membuatnya tidak nyaman. Semacam gengges gitu.
**
"Eh, itu cowok ngapain jalan ke sini, Ran?"
Rani hampir saja memaki Anggi yang merebut kenikmatannya memakan gado-gado di kafetaria Mediacinta. Kafe ramai di jam makan siang. Penuh sesak dengan para pegawai yang ingin mengisi perut, mereka berkumpul tidak hanya dalam satu divisi. Mengobrol santai ditemani canda tawa sambil menikmati makanan memang seru.
"Mana?" Rani ikut mencari objek yang dimaksud Anggi.
"Itu lho yang pake kemeja hitam lengannya digulung. Eh, dia senyum sama lo anjir." Anggi menunjuk dengan dagunya.
"Lah nggak kelihatan, Nggi." Rani tak acuh. Daripada sibuk melihat orang tidak terlihat retina, mending makan. Rani sudah kehilangan amunisinya karena sarapan kultum dari Hardin tadi pagi.
"Makanya kacamata lo pake," omel Anggi.
"Gue kira bukan lo tadi. Ternyata lo beneran Rani."
Rani tersedak. Buru-buru ia meneguk jus mangga kesukaannya. Kepalanya terangkat untuk memastikan siapa yang baru saja bicara.
Mata Rani menyipit, lalu detik berikutnya mambulat ketika ingatannya menjawab semuanya. "Bentar, bentar. Lo tetangga baru gue yang tadi pagi ngasih brownies durian kan?"
"Benar. Gue Yoga. Yoga Mahendra." Yoga memperlihatkan ID card yang menggantung di lehernya.
Rani menyipitkan matanya, namun setiap huruf di ID card itu tidak terlihat jelas di matanya. "Ah, iya. Sori. Mata gue minus dan lupa pake kacamata."
"Duduk di sini boleh?" Yoga bertanya lagi.
"Boleh,"jawab Rani.
Yoga duduk di salah satu kursi kosong depan Rani.
"Btw, lo pake ID card Mediacinta. Jangan bilang lo kerja di sini?" Hal lain yang membuat Rani tercengang begitu menyadarinya.
"Iya, gue kerja di sini. Baru pindah hari ini, sebagai orang layout dan desain cover."
Rani mengangguk-angguk.
"Lo bagian apa?" Yoga balik bertanya.
"Gue editor," jawab Rani.
"Wah, kita bisa berkolerasi dengan baik dong, ya."
Rani melongo sesaat, sebelum mengangguk.
Anggi terabaikan. Ia sejak tadi cuma bisa memandang Rani dan Yoga saat berinteraksi sambil beberapa kali meneguk liurnya. Matanya memandang Yoga, memuja wajah rupawannya. Gila sih! Rani kok bisa kenal cogan-cogan Jakarta. Beni, Gilang, sekarang Yoga. Anggi kadang merasa iri.
Anggi berdeham. Seketika Rani sadar akan keberadaan rekan kerja sekaligus teman curhatnya itu. "Eh, kenalin temen gue, namanya Anggi. Dia editor juga."
"Gue Yoga." Yoga lebih dulu mengulurkan tangannya. Lalu, Anggi membalasnya.
"Anggi."
Selanjutnya, mereka melalui makan siang itu tanpa mengobrol. Fokus untuk mengisi perut masing-masing. Ketika ada waktu lima belas menit lagi sebelum jam istirahat berakhir, ketiganya memanfaatkan waktu untuk berbincang. Ralat, hanya Rani dan Yoga yang mengobrol, sementara Anggi cukup menjadi audiens. Ini kalau ibarat orang lagi pacaran, Anggi bisa disebut setan. Karena kalau ada lawan jenis sedang berduaan, yang ketiganya setan.
"Jadi, sebelumnya lo kerja di mana?" tanya Rani.
Yoga meneguk es teh manisnya lebih dulu sebelum menjawab. "Di penerbit juga. Cuma ada trouble gitu jadi gue keluar. Terus gue lihat banner di i********: kalau Mediacinta lagi ada loker buat layout dan design cover. Gue coba daftar aja, ternyata kepanggil. Terus diterima."
Rani mengangguk paham dengan penjelasan Yoga. Sebulan yang lalu, Mediacinta memang membuka lowongan pekerjaan untuk posisi layout dan cover buku karena kurangnya orang di posisi itu. Ternyata, salah satu karyawan yang diterima adalah Yoga. Tetangga baru apartemen dia. Apa itu sebuah kebetulan?
"Pasti layout buatan lo keren, ya? Mediacinta tuh gak pernah rekrut tukang layout sembarangan. Kecuali dia udah bener-bener jago," ungkap Rani.
Yoga terkekeh pelan. "Masa, sih? Padahal gue gak sadar kalau selama ini gue jago."
"Kapan-kapan gue mau buktiin sendiri deh hasil layout lo. Kebetulan gue lagi ngerjain naskah, baru revisi pertama, sih. Moga aja lo yang layout."
"Wah, harus ya diuji coba sama editor?"
Kali ini giliran Rani yang terkekeh.
"Nggak juga, sih. Pengin tahu aja hasil kerja tetangga baru," Rani berkelakar, yang disambut derai tawa oleh Yoga.
"Ekhem. Apa cuma gue yang nggak merasa nyaman di sini?" Anggi menginterupsi dengan nada menyindir, membuat dua anak adam yang sedang tertawa itu mendadak diam.
"Eh, lo masih ada di sini, Nggi?"
Anggi menggeram. "Mentang-mentang punya calon gebetan baru, gue dianggurin."
"Heh!" Rani mendelik. "Asal aja kalo ngomong."
"Namanya baru kenal, wajar kalau mengakrabkan diri."
Ucapan Yoga membuat Rani dan Anggi terpaku. Sebelum kemudian mereka saling melempar pandangan, dan saling tertawa biarpun sedikit dipaksa.
???