Malam itu menjadi sebuah kealfaan yang akan selalu Rani ingat. Bermula ketika Gilang meminta farewell kiss setelah Rani meminta lelaki itu untuk mempertahankan hubungannya bersama Andin. Nyatanya sebuah kenikmatan sesaat itu membuatnya terlena. Pagutan yang semula berirama sedang lambat laun menjadi sebuah tuntutan. Tempo yang semakin cepat dan liar membuat mereka jatuh bersama ke dalam duniawi atas dasar pelampiasan rindu. Rani ingat setiap inci kejadian malam itu, dan setiap kali mengingatnya rasanya kepala Rani hampir meledak. Saat setelah mereka berbuat, keduanya duduk berjauhan dalam pikiran masing-masing. Rani duduk di ranjang, menggenggam erat selimut yang membelit tubuh kotornya. Hatinya terus berteriak, memaki diri sendiri yang begitu mudah terjerembap ke dalam keserakahan ego.

