BAB 11 : Tinggal Bersama Keluarga Besar

1285 Words
"gue cuman minta, ijinin dia tinggal disini sampai bayi gue lahir. setelah itu, gua akan bawa cewek itu keluar dari rumah ini. " "trus ku mau buang dia gitu aja.? lanjut nikahin Zevana.? enak banget hidup elu ya..!! " Erick berkata dengan nyinyir "dia gak mau bayi itu bang, dia nau gugurin bayinya. jadi gie yang harus ambil bayi itu, gie yang harus ngerawat bayi itu, gua kasih dia kompensasi yang pantas... " "lagi-lagi lu ngehargain wanita dengan duit.! " "ahh, tauklah..! susah emang ngomong sama abang.! " "bang, gue minta bantuin gue bujuk mama. malam ini gue tinggalin dia disini. guepergi dku, besok gue balik kesini lagi untuk ketemu mama. " Zico berbalik berbicara dengan Nathan yang dianggapnya lebih midah untuk diajak komunikasi. "ya,gue usahain untuk bujuk mama." Zico kekuar dari ruangan itu tanpa pamit pada kakak tertuanya.sebelum keluar dari rumah ,dia terlebih dahulu pergi ke dapur mencarinkepala ART disana dna memerintahkan sesuatu.setelah itu,di pergi dari rumah itu.pulang ke apartemennya dendiri. *** Nisha menatap kamar luas itu dengan kebingungan. kalau penilaiannya tidak salah, dia sedang berada dikamar seorang pria. kamar itu di d******i warna gelap, kamar itu berukuran 3x lipat di bandingkan rumahnya di kampung. perabotan dikamar itu tampak manky sekali. terdapat kasur besar yang dilapisi dengan bedcover berwarna putih bersih, dinding dan tirai di d******i warna abu-abu. disebrang tempat tidur terdapat TV layar datar berukuran raksasa. mungkin ini adalah TV paling besar yang pernah dilihat nya seumur hidupnya. di depan TV besar itu, terdapat kursi yang desainnya tidak pernah dilihatnya. tapi desain kursi itu sangat cocok berada di kamar itu. entahlah, sulit sekali dia mendeskripsikan keberadaan kursi itu melalui kata-kata. Nisha masih tercengang - cengang melihat ke sekelilingnya ketika terdengar ketukan pintu di kamar itu. nisha meloncat karena terlalu terkejut, tak berapa lama kemudian, seorang wanita paruh baya berseragam hitam memasuki kamarnya. "Nona muda kami bawakan makan malam untuk anda.dan barang-barang anda sudah kami bawa semua. " prok... prok... wanita itu menepuk tangannya dua kali kemudian seorang wanita berseragam lainnya yang berumur lebih muda masuk ke kamar itu dengan membawa makanan diikuti wanita lainnya yang membawa tas yang sangat familiar bagi dirinya. Nisha memperhatikan tas-tas itu dengan intens. merasa sangat mengenal beberapa tas yang dj bawa masuk itu. "semua barang anda telah kami masukkan, ada lagi yang anda butuhkan.? " "ba.. barang ?barang saya.? i.. ini barang-barang saya? " Nisha bertanya tak yakin semberi menunjuk tumpukan tiga tas yang berada di depannya. "iya nona, semua itu adalah barang-barang anda yang kami dapatkan dari asisten Gery atas perintah tuan muda, asisten Gery memerintahkan kami untuk memasukkan tas-tas ini ke kamar ini. " "ta.. tapi harusnya tas-tas ini berada di kosan saya. ? kenapa bisa berada disini.? " "untuk hal itu kami tidak mengetahuinya, kami hanya menerima perintah. bila tidak ada pertanyaan lain lagi kami undur diri. " wanita paru bayu itu memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk keluar dari kamar itu menyisahkan Nisha yang masih tercengang-cengang sendiri. kenapa barang-barangnya ada di sini.? bukankah semua barang-barangnya ada di kosan.? dengan cepat Nisha memeriksa isi dari tas itu. dan benar saja, semua isi tas itu adalah barang-barangnya. hanya sepeda kayunya saja yang tidak berada disini. apa pria itu yang membawanya.? apa itu artinya dia tidak akan tinggal di kosan kumuhnya lagi dan akan tinggal disini.? tapi rumah mewah ini begitu menakutkan. sebelumnya ia bersedia menjadi pembantu untuk bisa tinggal di tempat seperti ini, tapi keinginan itu sudah tidak ada lagi tidak ada satupun penghuni rumah ini yang menyukainya. bagaimana mungkin ia bisa tinggal di lingkungan yang tidak menyukainya. kruuuuk.. kruuuuk... perut nisha mulai berbunyi, pertanda lapar sudah menyerangnya. tanpa dipikir lagi, dia segera mendekati meja dorong yang berisi makanan dan membuka penutupnya. selera makannya lansung bertambah begitu melihat makanan yang ada di depannya. perutnya semakin berbunyi, tanpa berpikir panjang Nisha memakan makanan lezat itu dengan lahap. seumur hidupnya belum pernah ia memakan makanan lezat seperti ini. itu adalah jenis makanan yang hanya bisa dilihatnya di TV atau makanan yang biasanya di hidangkan di hotel-hotel mewah. Nisha begitu menikmati makan mewahnya. dia tidak pernah berpikir kalau makanan itu memang miliknya atau makanan itu di racun? yang dipikirnya adalah bagaimana caranya agar perutnya bisa segera kenyang. ketika sedang asyik menyantap kudapan,tiba-tiba terdengar suara bunyi-bunyian dari dalam tasnya. Nisha sangat familiar dengan bunyi itu, itu adalah bunyi ponselnya. Nisha segera mengaduk-aduk isi tasnya mencari sumber bunyi-bunyian itu, dan benar saja, ponselnya berada disitu. rupanya asisten Gery sudah mengambil ponselnya dari dalam loker miliknya. Nisha mengecek ponselnya, ternyata terdapat sebuah pesan di dalamnya dari nomor yang tidak ia kenal. "malam ini kamu tidur di rumah itu, sampai bayi itu lahir kamu akan tinggal disana. kamu tenang saja, aku tidak akan tinggal disitu, jadi kita tidak akan tinggal satu atap. jaga anak itu baik-baik, ingat..., aku bisa menuntut mu jika terjadi sesuatu padanya. "Zico Nisha membaca pesan itu bolak balik, merasa tidak percaya kalau pria psikopat itu mengirim pesan padanya. dia memilih mengacuhkan pesan itu. selesai makan membuat Nisha kekenyangan dan kelelahan, matanya mulai terkantuk-kantuk. Nisha menatap ranjang besar di depannya. merasa ragu apakah dia harus tidur di ranjang itu atau di karpet saja di depannya. namun karena kelelahan Nisha akhirnya tidur di ranjang besar itu. apa yang terjadi esok maka pikirkan esok sajalah. pikir nisha sebelum terlelap dari tidurnya. *** ketika nisha sudah terlelap dari tidurnya, terdapat perdebatan sengit di ruangan lainnya di rumah itu. "pokoknya mama tidak setuju, mama nggak ingin wanita yang ga jelas asal usulnya tinggal disini. " "tapi ma, dia sedang hamil, dia hamil anak Zico lho ma. iti artinya dia sedang mengandung cucu mama. darah daging mama sendiri. " Erick berusaha membujuk "mama gak butuh cucu dari wanita yang bibit, bebet, bobotnya gaknjelas seperti itu. !!mama sudah punya cucu dari kalian-kalian, mama gak butuh cucu lain dari rahimnya. " jawab mama meraung-raung "tapi ma, Zico pihak yang bersalah disini, dia telah memperkosa gadis itu ma, harusnya Zico di penjara untuk perbuatannya itu. tapi gadis itu tidak melakukannya. seharusnya kita berterimakasih padanya karena sudah membuat Zico tidak perlu berurusan dengan hukum. " Nathan menimpali "wajar kalau ia tidak melaporkan Zico. ! si anak kurang ngajar itu sudah membayarnya. itu bayaran mahal untuk p*****r seperti dia. " "ma, wanita itu bukan p*****r. kata Zico wanita itu masih perawan ketika Zico melakukannya... " "jadi kenapa kalau ia perawan. ?hah. ?!! bukankah uang sejumlah dua ratus juta cukup untuk membeli keperawanannya.?!! pokoknya mama tidak setuju. titik.!! " "ma...,jangan seperti itu. bagaimana bila itu anak gadis mama, kasihan sekali kan nasibnya. " "mama tidak punya anak gadis, mama hanya punya kalian bertiga tidak ada yang lain." "ma...gadis itu sangat takut pada Zico, dia menderita truma ma,psikisnya terganggu. Zico hanya ingin gadis itu tinggal sama kita sampai bayinya lahir. setelah itu Zico akan membawanya keluar dari rumah ini. "Nathan membujuk dengan halus "beneran Zico akan membawanya pergi setelah anaknya lahir. ? Zico tidak alan menikahi wanita itu kan. ?" "iya ma.. setelah bayi itu lahir, Zico akan membawa gadis itu keluar dari rumah ini. Zico tidak akan pernah menikahi dia ma. dihati Zico sudah ada Zevana, mana mungkin gadis lain bisa memasuki hatinya. " Nathan membujuk kalem. sementara Erick tidak suka mendengar kata-kata itu. dibanding harus membelah Zico, dia lebih kasihan terhadap nasib wanita itu. "apa kata-kata Zico bisa di pegang.? mama tidak ingin punya mantu seperti dia.! dari penampilannya saja sudah terlihat kalau tidak berpendidikan. yang berhak mendampingi Zico hanya Zevana seorang. "iya ma, iya. ..Zico juga mengatakan hal yang sama. jadi mama gak perlu khawatir lagi ya. izinkan gadis itu untuk tinggal disini ya. ?" Nathan merayu, mama nampak berpikir, tak berapa lama kemudian mama pun menjawab. "ya sudah, untuk sementara mama akan terimah dia, siapapun yang tinggal dirumah ini akan mengikuti peraturan mama. tak terkecuali dia. " ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD