"ayo cepat. direktur dan nyonya sudah menunggu anda." suara asisten Gery sedikit menyadarkan Nisha. dengan enggan Nisha mengikuti langkah asisten itu. wajahnya menunduk, berusaha untuk tidak melihat wajah pria yang paling membuatnya ketakutan itu
"kenapa lama.? "
"maaf pak, tadi masih menebus vitamin dan obat buat dia. "
"ayo masuk, semua sudah menunggu di dalam. "
"baik pak, " asisten Gery mengenggam lengan Nisha, berusaha membuat wanita itu mengikuti langkahnya. Nisha terdiam seribu bahasa. bertemu dengan Zico membuat suaranya menghilang.
di ruang keluarga, asisten Gery melihat seluruh keluarga sudah berkumpul dengan formasi lengkap. Zico merupkan anak bungsu dari 3 bersaudara. dia memiliki 2 kaka laki-laki yang masing-masing sudah berkeluarga dan memiliki anak dari pernikahan mereka. sementara ayahnya sudah meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMA.
sepulangnya dari kuliah diluar negeri, Zico memutuskan untuk keluar dari rumah besar itu dan tinggal sendiri di apartemen mewahnya. kedua kakaknya berusaha menariknya agar kembali keperusahaan keluarga. namun Zico menolak dan memutuskan mendirikan perusahaan softwarenya sendiri. sangat bertolak belakang dengan perusahaan keluarganya yang bergerak di bidang industri bahan mentah dan pengolahannya.
ibunya duduk di tengah, di dampingi oleh kedua kakak iparnya .sementara kedua kakak laki-lakinya berdiri diantara mereka
"ada apa ini Zi..! kenapa membuat kami semua berkumpul disini.? " tanya Erick kakak pertama Zico.
"duduk dulu bang, ada yang mau gue sampein." Erick menuruti perkataan Zico, dia duduk di seblah istrinya.
"bawa dia masuk. " perintah Zico pada Gery.
"baik pak. " Gery membawa Nisha ke dalam ruangan keluarga. membuatnya berdiri di tengah-tengah mereka dan menjadi pusat perhatian.
"siapa dia.? " tanya mama yang sedari tadi hanya diam. tatapan matanya tampak bertanya-tanya. dengan tatapan tajam dia menilai penampilan Nisha dari atas ke bawah. dan dia tidak suka dengan apa yang di lihatnya.
"kenalkan ma, dia Tanisha. mulai saat ini dia akan tinggal disini. " Zico berdiri di seblah Nisha yang mengerut ketakutan.
"ap... apa maksudmu dia akan tinggal disini.? apa mama tidak salah dengar?" mama bertanya dengan mata mendelik. merasa tidak percaya dengan kata-kata yang di dengarnya
"ya ma, mama tidak salah dengar. untuk sementara dia akan tinggal disini bersama kalian. "
"kenapa.? apa haknya untuk tinggal di rumah ini.? seingat mama, mama sedang tidak mencari ART. "
"dia sedang hamil ma. "
"lalu kenapa kalau dia hamil.? rumah ini bukan tempat titipan untuk menampung orang-orang hamil Zi...! "
"dia sedang hamil anakku ma. "
"ap.. apa.? "
perkataan Zico sungguh membuat mama tidak bisa berkata apa-apa. beliau memegang kepala bagian belakangnya, sepertinya tensi darahnya mulai naik.
"ma... mama gak apa-apa.? " Retha memegang tubuh mertuanya, memastikan ibu mertuanya baik-baik saja.
"ahhh..! " mama mengeluh kesakitan, membuat anak dan menantunya panik.
"suruh dia pergi, mama tidak mau melihatnya.. " dengan lemah mama mengibas-ngibaskan tangannya ke arah Nisha. berusaha mengusir Nisha dengan tangannya .
"aku tidak akan membawanya kmenana-mana ma. dia akan tinggal disini bersama kalian." Zico bersikukuh
"aduuuh." mama kembali memegang kepalanya.akhirnya Erick membopong mamanya dan membawanya ke kamar. sementara Retha sibuk menelpon dokter keluarga mereka.
setelah melihat ibunya di bawa pergi kr kamarnya, Natha (kakak kedua Zico) menghampiri Zico
"Zi, sebaiknya lu bawa dia pergi dulu. entar kalau kondisi rumah udah oke, kita bicarain lagi. "
"dia harus tinggal disini bang!"
"iya gue ngerti, tapi lu bawa dia pergi dulu. entar gue usahain buat bujuk mama, oke.? " Nathan berusaha membujuk adiknya membawa Nisha keluar dari rumah itu.
"mulai malam ini dia akan tinggal disini bang, gua nggak akan bawa dia kemana-mana. " Zico tetap ngotot. Nathan tau kalau adik bungsunya itu dnagat keras kepala ,untuk itu dia berusaha mengalah.
"ya udah, gini aja. lu cukup bawa dia pergi dari hadapan mama. masukin dia ke kamar lu to gimana terserah lu deh. yang penting mama nggak ngeliat muka dia aja. biar gak tambah naik tensi mama. "
"bawa masuk semua barang-barangnya. masukin ke kamarku. " titah Zico pada Gery yang berdiri tidak jauh darinya, menyaksikan semua drama itu dari dekat.
"baik pak. "
"kamu ikut baku. "
Zico berkata pada Nisha semberi menarik tangan Nisha. berusah membuat gadis itu agar mengikuti langkah kakinya. Nisha yang masih dalam kondisi terkejut hanya bisa mengikuti Zico. setelah sadar dari keterkejutannya, Nisha berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Zico.
"le.... le.. lepaskan aku.! "
Zico mengacuhkan permintaan Nisha. dia tetap menyeret gadis itu menuju kamarnya.nisha berusaha memberontak namun cengkraman tangan Zico yang kuat tidak dapat di atasinya. akhirnya sampalah mereka di depan pintu sebuah, kamar. Zico berhenti tepat di depan pintu, dia membuka pintu dan mendorong tubuh Nisha agar masuk ke dalam.
"kamu diam disini."
"a... aku nggak mau disini. "
"turuti kata-kata ku selagi aku masih sabar. diam disini dan tunggu aku.! " setelah berkata seperti itu, Zico menutup pintu kamar. membiarkan Nisha berada di kamar itu sendirian.
Zico pergi kelantai bawah dimana kakak-kakaknya berada. dia melihat ke dua kakaknya sedang menunggunya untuk mendengar penjelasan darinya.
"ada apa ini Zi.! gue nggak ngerti ama lu. bukannya lu tunangan ama Zevana. trus kenapa yang lu hamilin cewek lain.?" erick bertanya dengan tidak sabar.
"sabar bang, gue ceritain semuanya. "
selama hampir 20 menit Zico menceritakan semuanya kepada kedua saudaranya. Erick dan Nathan tampak kaget mendengarkan cerita Zico. mereka sudah berspekulasi bahwa wanita yang di hamili Zico itu seorang gold digger. yang menjebak Zico dengan kehamilannya. tidak disangka ternyata adik bungsunya itu telah memperkosa wanita itu.
"gila lu zi.! yang lu lakuin oti tindakan kriminal lho. lo seharusnya dipenjara.!" Eirick tersulut emosi. Nathan berusaha menenangkannya.
"sabar bang, kan dia sudah menyelesaikan masalah itu bang. dia udah kasih tu cewek cek dan cewek itu udah terima tu cek dan tanda tangan hitan diatas putih. jadi enggak masalah dong. yang jadi masalah sekarang cewek itu hamil bang, udah yang lalu-lalu gak perlu di bahas lagi.."
"gak perlu di bahas gimana.? lu pikir merkosa cewek trus ku kasih cewek tu uang, teus masalahnya selesai gitu.? dangkal sekali pikiran elu.! lu gak menghargai cewek, sama aja elu enggak menghargai mama dan istri lu sendiri. jangan lu bela anak yang salah kek dia.! "
Erick berkata dengan berapi-api. sifatnya dan Zico sama-sama keras. jadi wajar saja kalau mereka sering berselisih paham. sementara Nathan selalu menjadi pihak penenang.
"gitu-gitu dia adek kita bang, gimana gak mau di bela.? "
"adek ya adek, tapi salah tetap salah. lu harus tanggung jawab Zi.! abang nggak mau tau, kamu barus nikahin dia. "
"gimana mau dinikahin bang, gua gak sayang sama dia.! ada Zee di hati gue bang.! lagian cewek itu benci banget ama gue bang. kalau cewek itu mau gue ajak tinggal bareng.gak akan gue mau repot-repot nyuruh dia tinggal disini bang. "
***