Zico menekan tombol telpon di mejanya dan berbicara dengan asisten Gery
"siapkan perjanjian baru, penuhi semua permintaannya. hapus semua pasal yang tidak di sukainya. aku tunggu sekarang juga.!"
" baik pak, akan segera saya revisi. "
lima menit Zico menunggu sebelum akhirnya asisten Gery memasuki ruangan dan membawa surat perjanjian yang telah di revisi. dengan cepat Zico menandatangani surat itu.
"buat agar dia segera menandatangani perjanjian ini. "
"baik pak, ada lagi pak.? "
"packing semua barangnya, suruh anak buah mu melakukannya. bawa dia menemuiku, aku tunggu di rumah besar."
"maksudnya saya harus membawa gadis itu kerumah besar pak. ? rumah besar?" asisten Gery bertanya lagi memastikan pendengarannya tidak salah menangkap perkataan bosnya..
"iya rumah besar.. ada kata-kata ku yang masih kurang jelas.?? "
"eh, tapi... tapi kalau kerumah besar ia akan bertemu dengan nyonya pak... "
"memang itu tujuanku membawanya kesana. "
"tapi kita berencana untuk membuat nyonya tidak mengetahui masalah ini sampai bayi itu lahir pak. tapi kenapa berubah.?? "
"karena dia sudah merubah pasal-pasal yang ku buat, jadi rencan pun berubah. "
"ba... bagaimana bila nyonya menolaknya pak. ?"
"bagaimana pun wanita paru baya itu harus menerimanya. ada cucunya di tubuhnya. "
"ba.. baiklah pak. kalau begitu saya akan membuat gadis itu menandatangani dan membawanya kerumah besar. "
"ya. jangan lupa bawa barang-barangnya juga. "
"baik pak. "
***
Nisha membaca pasal-pasal itu dengan teliti. dia sedikit puas melihat pasal-pasal yang membuatnya keberatan telah di hapus dari perjanjian itu. dengan hati-hati ia menandatangani perjanjian itu.selesai menandatanganinya ia menyerahkan perjanjian itu ke pengacara Aji.
"ka.. kapan saya boleh keluar dari rumah sakit pak? tubuh saya sudah baik-baik saja. "
"anda tunggu disini. saya akan menemui dokter dulu. " jawab asisten Gery yang segera berlalu dari hadapan mereka. tinggallah pengacara Aji dan Nisha diruangan itu.
"baiklah nona Tanisha, berhubung urusan kita telah selesai bagaimana kalau kita berjabat tangan ? saya harap kedepannya tidak perlu menemui anda karna masalah seperti ini. " pengacara aji menjulurkan tangannya. dengan takut-takut Nisha menjulurkan tangannya.
" saya harap anda memiliki kehidupan yang bahagia, seperti gadis muda kebanyakan. jadi diri anda baik nona. "
pengacara Aji berkata dengan sedih kemudian ia melangkah keluar ruangan itu. setiap melihat Tanisha, dia selalu merasa sedih. dia ingat dengan anak gadisnya sendiri. bagaimana bila anak gadisnya diperkosa oleh seseorang kemudian hamil dan hanya ditawarkan uang kompensasi ? bukannya dinikahi dan mendapatkan status yang jelas dan layak.? ah.. sungguh Malang nasib gadis itu. semoga setelah melahirkan bayinya, gadis itu akan mendapatkan kebahagiaannua sendiri. doa pengacara Aji dengan tulus.
setelah hampir setengah jam menunggu, akhirnya asisten Gery kembali memasuki kamar Nisha dengan diikuti beberapa perawat di belakangnya.
"ibu Tanisha sudah boleh pulang.tapi ingat, ibu harus menjaga kondisi ibu. sekarang ibu sedanh hamil muda. harus banyak makan makanan yang bergizi. tidak boleh terlalu banyak melakukan pekerjaan berat. untuk ukuran wanita yang tengah hamil muda, tubuh ibu tergolong lemah. minta agar suami ibu lebih memperhatikan kesehatan ibu. " suster melihat asisten Gery yang berdiri tidak jauh dari mereka dengan tatapan sinis.
"ehem.! saya bukan suaminya sus. "
"oh, saya pikir bapak suaminya. tolong sampaikan pada suaminya bu Tanisha agar lebih memperhatikan istrinya."
" mana berani sus.? "
"maksudnya pak.? "
"gak... gak ada maksud apa-apa. dia sudah boleh saya bawa pulang sus.?" asisten gery berusaha mengalihkan pembicaraan.
"sudah pak, silahkan ambil obatnya di apotek kami dan selesaikan administrasinya. "
asisten Gery membawa Nisha menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah sakit. kemudia dia kembali ke dalam rumah sakit. menyelesaikan pembayaran rumah sakit dan mengambil vitamin yang harus di minum Nisha.
tak berapa lama kemudian, dia kembali membawa sebungkus besar vitamin dan obat buat nisha.
"ini vitamin yang harus anda minum.anda harus menjaga tubuh anda dengan baik. ingat isi perjanjian.? bila terjadi apa-apa terhadap bayi itu karena kelalaian anda. maka direktur kami berhak menuntut anda." asisten Gery menyerahkan vitamin itu yang diterima Nisha dengan enggan.
" kemana tujuan kita pak.?" tanya sopir
"kerumah besar. pak Zico sudah menunggu anda disana. "
"baik pak. "
"ru... rumah besar? bu... bukannya anda akan mengantar saya pulang? tanya Nisha dengan bingung.
"pak Zico ingin bertemu dengan anda. bagaimana pun sekarang anda menjadi tanggung jawab anda sampai bayi itu lahir. "
"ta... tapi... sa.. saya tidak ingin bertemu.. "
"anda harus menuruti perintah di rektur. ingat, anda sudah menandatangani perjanjian itu. jadi anda harus tunduk. tidak ada pasal yang menyatakan bahwa PIHAK 1 dan PIHAK 2 tidak boleh bertemu."
"ta.. tapi anda su.. sudah berjanji .sa... saya tidak ingin tinggal bersamanya. "
"anda tidak tinggal bersama beliau, beliau hanya ingin bertemu dengan anda. jangan terlalu takut. beliau tidak akan bertindak bermacam-macam .pikiran beliau benar-benar jernih sekarang."
asisten gery menjawab dengan sedikit ketus. dia mulai sedikit tidak sabar dengan sikap Nisha yang terlalu paranoid terhadap di rekturnya.
Nisha terdiam mendengar penjelasannya asisten Gery. sepertinya dia mulai merasa bahwa asisten itu benar-benar tidak menyukainya. tapi dia benar-benar takut pada Zico. apakah terlalu berlebihan jika ia tidak ingin bertemu dengan pria itu.? setiap memikirkan akan bertemu dengannya saja sudah membuat tangan dan lututnya gemetaran.
di sepanjang perjalanan mereka terdiam. Nisha berusaha mengalihkan pikirannya dengan melihat pandangan di sekitar. setelah melewati jalanan yang sangat ramai, akhirnya mereka memasuki kawasan perumahan elit. Nisha tercengang melihat rumah-rumah mewah yang terjejer rapi di kanan kirinya. baru kali ini ia melihat rumah-rumah itu secara lansung. sebelumnya ia hanya melihat tampilan rumah ini di televisi saja.
ya, untuk ukuran seorang di rektur wajar saja bila pria itu tinggal di lingkungan seperti ini. tapi kenapa dia harus menemuami pria itu dirumahnya.? kenapa tidak bertemu di luar saja, misalnya di rumah makan? prianiti sedang tidak menipunya kan.? dia benar-benar tidak akan tinggal satu atap dengannya kan.? memikirkannya saja membuatnya gelisah.
Nisha mulai duduk dengan tidak tenang. berbagai macam pikiran telah berkecamuk di kepalanya. tidak mungkin orang-orang pintar dan berpendidikan itu menipunya kan.? di tengah keasyikan melamun, tiba-tiba mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah. Nisha menatap rumah iti dengan takjub.
"silahkan turun nona, direktur menunggu anda di dalam. " suara asisten Gery menyadarkannya. dengan ragu-ragu Nisha keluar dari mobil tersebut.
asisten Gery membimbing Nisha untuk mengikutinya. dengan takut-takut nisha mengikutinya, sembari mengikuti asisten Gery. tak henti-hentinya mata Nisha berkeliaran mengagumimu kemewahan rumah itu. bagaimana rasanya tinggal dirumah sebagus ini.? pasti menyenangkan, dia rela menjadi pembantu di rumah mewah ini, toh pekerjaannya di kantor tidak jauh berbeda dengan pekerjaan pembantu. pikirannya mulai melantur.
Nisha menghentikan langkahnya begitu melihat pria menakutkan itu di depan pintu. sepertinya pria iti sudah menunggu mereka sedari tadi. tubuh Nisha kembali bergetar. suaranya menjadi tercekat. Nisha terdiam berdiri mematung.