BAB 8 : Penyelesaian Masalah

1158 Words
perjanjian lagi? kenapa begitu banyak perjanjian yang di buat pria itu? Nisha membaca hati-hati setiap hal yang ada dalam perjanjian. mencoba memahami setiap hal yang terkandung di dalamnya. banyak hal dalam perjanjian yang membuat nya sangat keberatan .seperti misalnya ia mendapatkan uang kompensasi.? dia tidak butuhkan uang itu. yang ia butuhkan hanyalah cara agar ia tetap bisa melahirkan bayi itu tanpa sepengetahuan ibunya. sepertinya dia harus menghubungi asisten laki-laki itu untuk mengajukan keberatannya. Nisha mencari-cari kartu nama yang diberikan asisten itu. setelah mendapatkannya, Nisha segera menghubungi nomor itu melalui telpon rumah sakit. ponsel dan tasnya mungkin masih di loker kantor. dia tidak mempunyai cara lain selain menghubungi asisten itu melalui telpon rumah sakit. pada deringan kedua, si pemilik nomor menjawab panggilan itu. "halo.?? " "de... dengan pak asisten.? " "maksudnya, siapa ini.? dengan siapa saya bicara.? " "sa... saya... Tanisha... pak. " "oh, nona Tanisha.? "iy.. iya... pak. " "bagaimna nona Tanisha, sudah mengambil keputusan.? " "eh...mm.. a...ada pasal yang tidak saya sukai pak. " "pasal yang mana.? oh tidak perlu anda menjelaskan ,saya dan pengacara Aji akan kerumah sakit sekarang." dan asisten itu menutup telponnya .Nisha menatap gagang telpon iti dengan hampa. dia bingung harus berbuat apa.? harus berkata-kata seperi apa.? dia bukan orang yamg berpendidikan. dia hanyalah gadis kampung lulusan SMA .apa yang akan dikatakannya di depan orang-orang pintar seperti si asisten dan bapak pengacara itu.? Nisha menggigit-gigit ujung selimut. bolak-balik membaca pasal per pasal dengan hati-hati. banyak dari pasal-pasal itu yang sungguh-sungguh tidak di sukainya. beberapa saat kemudian, terdengar ketukan pintu di kamarnya. tanpa aba-aba darinya pintu kamar itu pun terbuka, masuklah asisten direktur dan pengacara aji ke dalam ruangan itu. "nona Tanisha, kita bertemu lagi." pengacara aji menyapa sembari mengulurkan tangannya. namun karena takut Nisha tidak menyambut uluran tangan itu. "ehem, sepertinya nona tidak senang berjumpa dengan saya. " "sekarang bukan saatnya berbasa-basi pak, mungkin kita bisa mulai saja. " jawab asisten Gery "pak Zico kemana.? sepertinya kita membutuhkan kehadiran pak Zico untuk mencapai kesepakatan ini. " "beliau menolak untuk kemari pak, kita hanya bisa melakukan panggilan sura saja. " "hem, baiklah kalau begitu mari kita mukai saja. nona Tanisha, sepertinya anda sudah mengambil keputusan .?" pengacara Aji berbalik menghadap nisha "ke... keputusan.? " Nisha bertanya dengan suara bergetar. "anda tadi menelpon kami, itu tandanya anda sudah membuat keputusan. " Nisha mengeleng-gelengkan kepalanya. merasa tidak setuju dengan perkataan pengacara itu. "sa... saya belum memutuskan, ta.. tapi saya keberatan dengan isinya. " dengan gugup Nisha mengutarakan isi hatinya. "sebenarnya anda tidak punya hak untuk tidak menyetujui perjanjian ini karna anda hanya PIHAK ke 2, setelah saya baca isi perjanjian ini lebih banyak menguntungkan anda di banding klien kami. lalu dimana letak keberatan anda.? " "eh.. emm... misalnya di pasar 3 dan pasal 4. sa.. saya tidak membutuhkan uang kompensasi itu. sa.. saya benar-benar tidak mengiginkan anak ini. ta.. tapi bukan berarti saya akan menjualnya." "Nona tanisha, ini bukan menjual. uang ini hanya wujud terimakasih yang ingin di ungkapkan klien kami karena anda sedang mengandung anaknya dan bersedia melahirkannya. jadi saran saya, anda harus menerimanya. " "ta... tapi saya benar-benar tidak menginginkan nya. sya hanya ingin anak ini segera keluar dan tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengannya dan pria itu. ka... kalau dia memaksa saya untuk memberi kompensasi, sa... saya memutuskan untuk tidak melahirkan anak ini. " Nisha berusaha mengertak, suaranya terdengar bergetar. di dalam suaranya terdapat rasa tidak percaya diri dan ketakutan. "baiklah nona Tanisha, kami akan mencatat pasal-pasal yang membuat anda keberatan. nanti akan kami sampaikan kepada direktur kami. ada lagi.? " "eh.. i.. itu, saya keberatan bila harus tinggal Satu atap dengannya. sa... saya.. takut. sa... saya tidak ingin tingal dengannya. sa... saya lebih baik bunuh diri bila harus tinggal dengannya. " suara Nisha pecah, dia mulai terisak. tubuhnya bergetar ketakutan .membayangkan tinggal dengan pria itu membuatnya sangat ketakutan. dia benar-benar tidak ingin tinggal bersama pria itu pengacara Aji dan asisten Gery saling tukar pandang. asisten gery menganggukkan kepalanya .memberi kode jawaban untuk pertanyaan pengacara aji. "baiklah nona Tanisha, kami akan mempertimbangkan permintaan anda. ada yang lain lagi.? " Nisha menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali menyembunyikan wajahnya di balik lengannya. pertanda ingin mengakhiri pembicaraan. "baiklah nona, kami akan menyampaikan keberatan anda kepada direktur dan merevisi perjanjian ini, kalau begitu kami pamit dulu. " *** "bagaimna hasilnya.? dia menyetujuinya.?? " "mohon maaf pak, sebagian besar nona Tanisha menyetujuinya ,tapi ada beberapa pasal yang membuatnya keberatan. dia mengancamku tidak akan melahirkan bayi itu jika kita tidak memenuhi permintaannya. " "pasal yang mana.? " Zico mendelik marah dia sudah berusaha mengatur perjanjian iti sedemikian rupa agar lebih menguntungkan gadis itu. kenapa masih ada pasal yang membuatnya keberatan.? apa uang kompensasi yang di tawarkan masih kurang besar? haruskah ia menaikkan uang kompensasi.? "dia tidak menyetujui pasal 3, 4 dan 5 pak. " " pasal apa itu.? bacakan. " "pasal 3 dan 4 mengenai uang kompensasi pak. dia keberatan mengenai uang pemberian itu. dia tidak ingin mendapatkan uang pemberian itu. dia mengancam tidak akan melahirkan bayi itu jika tidak permintaan nya tidak di penuhi. kemudian pasal 5 mengenai tinggal 1 atap pak. dia tidak ingin tinggal 1 atap dengan bapak. di mengancam bunuh diri bila harus tinggal dengan... " BRAAKKK Zico meninju meja kantornya, terlihat buku tangannya mulai berdarah, tubuhnya mulai bergetar karena menahan amarah. " ada lagi.? " tanyanya dengan suara berat. "tidak ada pak. " "kamu boleh keluar" "tangan bapak berdarah, saya panggilkan tenaga medis.. " "tidak perlu, kamu keluarkah. " Zico melambai-lambai kan tangannya . "baik pak. " asisten Gery mematuhi perintah Zico, dia segera keluar ruangan itu. sekarang yang tinggal di ruangan itu hanya Zico dan kemarahannya. berani-beraninya wanita itu mengancam bunuh diri hanya karena tinggal dengannya? semenakutkan itukah dirinya.? sebejat itukah? bila harus memilih, ia juga tidak ingin wanita itu tinggal bersamanya. dia membuat pasal itu karena khwatir dengan kondisi anaknya saja. dia tidak ingin anaknya tinggal di kosan bobrok dan kumuh itu. dia ingin anaknya mendapatkan segala yang terbaik meskipun masih dalam kandungan. karena itulah dia memutuskan wanita itu untuk tinggal di sampingnya, agar ia lebih mudah memantau pertumbuhan bayinya dari dekat. tidak disangka niat baiknya malah di balas seperti ini ? bila tidak mabuk ia juga tidak akan menyentuh wanita itu. wanita itu dibawah levelnya. dari segi manapun tidak ada hal dari wanita itu yang membuatnya tertarik .wanita otu berbeda 180° dengan tunangannya (mantan tunangannya). lalu apa yang harus dilakukannya sekarang.. ? apa dia harus membiarkan wanita itu tinggal di lingkungan kumuh itu.? tidak, tidak.. dia tidak akan membiarkan anaknya tumbuh di lingkungan kotor seperti itu apa dia harus membeli sebuah rumah dan membuat wanita itu tinggal disitu.. ? tapi kalai ia melakukan hal itu, wanita itu akan tetap sendirian .tidak ada orang-orang yang benar akan mengawasinya. hal apa yang bisa si lakukannya agar wanita itu bisa tinggal di lingkungan tang bersih, diawasi oleh orang-orang ke percayaannya sekaligus jauh darinya.? lama zico memikirkan kemungkinan itu. otaknya berputar dengan cepat, kemudian seolah-olah mendapatkan suatu ide. Zico menepukkan kedua tangannya . "ya... "
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD