Perlahan mata Aurora terbuka, rasanya seperti mimpi karena yang dia lihat pertama kali adalah wajah sang mama lengkap dengan senyum hangatnya. "Sayang" Syeril mengusap lembut pipi Aurora. "Ini bukan mimpi?" Tanya Aurora masih setengah sadar. Syeril tersenyum semakin lebar "ini mama sayang" "Mama" lirih Aurora "Iya, ini mama sayang" "Mama" dan pagi itu, tangis Aurora kembali pecah. Di balik pintu kamar rawat, ada Ega yang terdiam, menahan sesak. Awalnya dia ingin masuk untuk membawakan teh hangat, tapi gerakan tangannya yang akan membuka pintu terhenti saat mendengar tangis sakit sang putri. Demi Tuhan, suara tangis Aurora dalah suara paling dia benci. Aurora harus selalu bahagia, tersenyum, tertawa, tidak boleh ada yang menyakitinya. Lima belas menit menunggu dan memberi waktu unt

