Bab 3. Gara-Gara Bocor

1606 Words
Tiara terdiam, dia terkejut mendengar ucapan Arya barusan. Bisa-bisanya si bos mengajaknya ke hotel secara terang-terangan seperti ini. Mengingat tentang kejadian dirinya yang hampir diterkam Pak Jamal ketika hanya berduaan, Tiara jadi berpikir yang tidak-tidak. "Gimana ini? Ke-kenapa Pak Arya ngajakin ke hotel? Ini kan, hari pertamaku kerja. Kita baru kenal. Masa iya, dia juga mau ... gituan?" batin Tiara ketar ketir. Arya yang sudah di depan pintu kembali membalikan badan ketika menyadari sekretaris barunya masih mematung tak bergerak. “Ngapain diem aja? Buruan keluar!” teriaknya memerintah. Dengan rasa takut yang masih memenuhi diri, Tiara perlahan membalikan badan, menatap Arya. “Ta-tadi, kita, mau ke mana, Pak?” tanya Tiara sengaja memastikan kembali, berharap sebelumnya salah dengar. “Hotel! Ha, o, ho, te, e, el, hotel! Tau hotel nggak, sih?” Arya jadi mengeja setiap katanya dengan suara kencang. Dia rasa, selain aneh Tiara juga agak tuli. Sungguh membuatnya jadi kian emosi dengan wanita ini. “Ta-tau, Pak. Tapi, mau ngapain?” Wajah Tiara terlihat ketakutan, bahkan tas dan buku catatan yang dibawanya pun nampak dia peluk erat-erat. Melihat sikap sekretaris barusnya saat ini, Arya paham maksud dan pikiran Tiara. Dia jadi menghela nafas, sambil menampilkan wajah malas menatap wanita tersebut. “Heh. Ngaca! Nggak usah mikir aneh-aneh. Saya nggak bakalan napsu sama ondel-ondel macem kamu. Kayak gak ada cewek cantik aja,” oceh Arya mencemooh. “Saya itu ada pertemuan di sana. Jadi udah buruan keluar! Bawain berkas sampul item di atas meja sekalian,” lanjutnya dengan perintah. Arya segera keluar dari ruangan usai menyelesaikan kalimatnya. Fiuh~ Tiara menghela nafas lega. Setidaknya ucapan bahwa bosnya itu tidak nafsu dengannya cukup membuatnya jadi merasa aman saat ini. Tanpa mengulur waktu, Tiara segera mengambil berkas yang dimaksud Arya dan bergegas menyusul bosnya. *** Dalam perjalanan menuju hotel, Arya memilih menyetir sendiri dan Tiara sebagai penumpang yang duduk di sampingnya. Keduanya diam. Tak ada obrolan di dalam sini. Arya bahkan merasa tak peduli dengan keberadaan wanita ini. Hingga tiba-tiba saja, Tiara merasakan sesuatu pada dirinya. "Duh! Gawat!" Tiara panik, matanya terbelalak karena keadaannya saat ini. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja bagian intim Tiara terasa ada yang mengalir keluar, membasahi celana dalamnya. "Apa ini tanggalnya ya? Aku lupa pakai pantyliner lagi! Gimana ini? Kenapa tiba-tiba rasanya keluar banyak?" Tiara kian ketar ketir ketika menyadari jadwal datang bulannya yang sudah dekat, sepertinya dimulai saat ini. Berharap cairan dari liangnya tak semakin banyak mengalir keluar, Tiara sengaja merapatkan kedua pahanya. Selama perjalanan Tiara menahan posisinya, tapi entah mengapa lama-lama semakin tak nyaman. Bagian dadanya pun kini terasa begitu kencang dan nyeri. Terutama di bagian ujung. Tiara semakin tak paham dengan dirinya. Rasanya tak mungkin untuk memberi tahu keadaannya saat ini pada Arya. Tiara memilih diam, dan menutupi apa yang terjadi padanya. Tak lama, mereka akhirnya sampai tujuan. Arya melepaskan seat belt, dan bersiap untuk keluar dari mobil. Namun sebelumnya, dia tak sengaja melihat ada yang aneh dengan sikap wanita yang duduk di sampingnya. “Kamu kenapa? Pegang seat belt sampe kenceng gitu? Turun! Udah sampe!” seru pria ini menegur Tiara. Suaranya terdengar tidak santai. Suka sekali Arya marah-marah. Bukannya segera memenuhi perintah bosnya, Tiara malah semakin mengencangkan pegangannya sambil memejamkan mata. Dia berusaha dengan sekuat tenaga menekan lubang intimnya supaya tidak mengeluarkan cairan lagi. Tapi sayangnya, cairan itu kian membasahi dalamannya, bahkan menembus roknya. Arya jelas jadi gemas sendiri dengan sikap Tiara yang malah diam saja. Dia lalu memutuskan untuk bergerak mendekatkan diri ke arah Tiara dan segera melepaskan seat belt yang dipegang erat oleh wanita itu. “Sssh ... Euhhmmm …." Tiara menyadari suaranya mendesah. Ia lalu segera menutup mulut dan menahan suara erangannya ini, supaya tak terulang. Arya yang mendengar suara barusan dibuat terbelalak. Dia refleks memandang Tiara dengan mata membulat. Arya jelas tidak menyangka jika wanita ini akan mengeluarkan suara erotis seperti barusan di hari yang masih cerah seperti ini. Belum sempat Arya mengeluarkan ocehan untuk mengomentari sikap Tiara, pria ini tiba-tiba terganggu dengan sesuatu. “Hm? Bau apa ini?” tanyanya heran sambil mengendus-endus. Hal ini membuatnya jadi mengembangkan hidungnya, mencari tahu sumber aroma yang tercium begitu menusuk. “Kok, ada bau-bau amis, sih?” oceh Arya lagi sambil terus mengendus ke berbagai sisi dalam mobil. Menyadari jika bau tak sedap itu berasal dari dirinya, Tiara akhirnya kembali buka suara. “Ma-maaf, Pak. Sa-saya, kayaknya dapet,” ujar Tiara jujur dengan perasaan takut-takut. “Dapet? Dapet apaan? Dapet wangsit?” Arya yang belum paham maksud pembicaraan ini, menanggapinya dengan sembarangan. “Bu-bukan ... Itu ... Sa-saya ….” “Apa, sih? Ngomong tu yang jelas! Ngomong kayak orang gagu mulu. Bikin geregetan tau nggak!” Arya nampak makin kesal. Tiara kembali diam, merasa takut mendengar suara Arya yang kian meninggi. Wanita ini menundukan kepala, sambil memilin-milin jari-jarinya yang mulai gemetaran. Masih penasaran dengan aroma tak sedap dari dalam mobilnya, Arya kembali mengendus-endus. Dia terus saja menyusuri dalam mobil ini dengan hidungnya yang terlihat kembang kempis, demi menemukan asal-usul bau yang mengganggunya. Sampai akhirnya, Arya mencium aroma tak sedap ini makin kuat ketika mengendus sekitar tempat duduk Tiara. Dia terdiam sejenak, memikirkan bau amis yang cukup kuat ini. "Bau apaan ini? Kok, baunya, deket p****t Tiara? Emangnya dia lagi dudukin ikan asin apa?" batin Arya mencoba menebak. Sejujurnya dia tak paham kenapa ada aroma seperti ini. Semakin diendus, Arya semakin keras berpikir. Memastikan kembali bau apa ini sebenarnya. "Kayaknya ini bukan ikan asin, deh. Baunya, anyir. Kayak bau darah. Apa jangan-jangan, Tiara beneran dapet wangsit? Terus ketempelan makhluk halus? Makanya ada bau-bau kayak gini?" Bulu kuduk Arya tiba-tiba berdiri. Lagi-lagi pemikiran aneh mampir di benak bos ini. Sekejap dia memandangi Tiara, lalu memandangi seluruh sudut dalam mobil. Arya berusaha untuk memastikan kembali bahwa saat ini tidak ada makhluk halus di sekitarnya. "Nggak, nggak! Nggak mungkin ada hantu! Ini juga masih pagi. Mereka pasti masih pada bobok. Mereka kan biasa kerja shift malam, yang ada capek kalau keluar pagi-pagi." Arya menggelengkan kepala. Mencoba menepis pemikiran konyolnya barusan. Hanya saja, dia masih penasaran dengan keadaan yang sebenarnya terjadi. Arya menatap Tiara kembali, sambil melontarkan pertanyaan demi mendapatkan jawaban pasti. “Kamu bawa apaan, sih? Kok ada bau-bau dari situ?” tanya pria ini sambil menunjukan arah yang dimaksud dengan pandangan sudut matanya. Tiara yang refleks menatap Arya pun kembali angkat bicara. “Ma-maaf, Pak. I-itu kayaknya, saya datang bulan. Terus keluar. Tapi lupa pake. Jadi ….” Tiara menggantungkan kalimatnya. Bingung harus bicara bagaimana untuk menjelaskan keadaannya pada bosnya. Arya mengerutkan kening. Mencoba menelaah maksud Tiara barusan. “Jadi apa?” Tiara tak menjawab lagi. Dia masih saja memilin-milin jari tangannya, sambil menundukan kepala. Terlalu malu untuk menyampaikan keadaan sebenarnya. "Ngomong apa sih nih bocah? Lagi dapet? Dateng bulan? Keluar? Lupa pake?" Arya agak lola tentang hal-hal menyangkut wanita. Dia berpikir sejenak. Sampai akhirnya ia menyadar maksud ucapan Tiara barusan dan langsung mengumpat. “Bangkek!! Kamu lagi haid? Itu tembus? Bocor?” cerocosnya dengan pertanyaan penuh penekanan. Tiara yang tak banyak omong hanya menganggukan kepala. Selain memang irit bicara, dia juga makin takut dengan amukan bosnya yang tiba-tiba suaranya meninggi. Baru juga sehari, masa iya sudah membuat bosnya jadi emosi begini? “Jadi kamu menodai kursi mobilku? Pakai darah haidmu? Haish!” Arya terlihat begitu kecewa setelah tahu apa yang terjadi. Dia menggebrak setir mobilnya, merasa tak percaya dengan keadaan ini. “Harusnya kamu tambal itumu biar nggak bocor! Lagian kamu udah tau lagi haid kenapa nggak pake pembalut, sih?” sentak Arya kembali, meluapkan emosinya. “Lupa, Pak,” jawab Tiara singkat, masih menundukan kepala dengan penuh rasa takut. “Kok bisa lupa?” “Jadwalnya maju." “Kok bisa maju?” “Saya juga nggak tau, Pak. Biasanya masih ...." Tiara mencoba menghitung dengan jari sambil mengingat-ingat kembali jadwal haidnya. “... tiga hari lagi,” lanjutnya menjawab dengan jujur. Arya yang mendengar pernyataan Tiara barusan jadi frustasi. Dia jadi berteriak, mengeluh, sambil mengacak-acak rambutnya. Lalu ia pun teringat akan sesuatu yang sebelumnya lupa ia tanyakan. “Terus tadi itu kamu kenapa?” tanya Arya yang kembali menatap ke arah Tiara secara tiba-tiba. Lagi-lagi wajahnya nampak penasaran. Tapi Tiara malah jadi bingung dengan pertanyaan bosnya. “Apanya? Kan saya sudah jawab, Pak,” jawab Tiara dengan hati-hati sambil menatap heran ke arah pria di sampingnya. “Itu, yang tadi kamu sempat mendesah? Sshh euhmm gitu.” Arya mencontohkan suara Tiara yang sempat dia dengar. Dia ingat betul erangan Tiara yang terdengar begitu erotis di telinganya. Jujur hal itu membuat Arya sedikit terganggu ketika mengingatnya. Ditanya seperti ini jelas Tiara jadi malu. Tak ingin menjawab. Tapi bosnya masih saja menatap dirinya untuk segera mendapatkan jawaban. “Jawab, dong. Kok diem aja? Jadi bisu kamu?” sentak Arya lagi. Dipaksa menjawab, Tiara akhirnya berusaha untuk menjawab jujur. “Itu ... tadi kesenggol, Pak. Sakit.” “Kesenggol? Apanya?” Tiara bingung menyebutkan bagian yang dia maksud. Tanpa berkata-kata lagi, dia memilih untuk menunjuk ujung dadanya dan juga seat belt dengan jari telunjuk. Arya pun mengangguk paham. Tiba-tiba ada perasaan berdebar di dadanya. Dia langsung mengalihkan pandangannya. "Apaan, sih? Ya elah, cewek cupu jelek gini gak bikin napsu juga kali!" batin Arya menyangkal. Tapi karena masih penasaran Arya kembali mengajukan pertanyaan konyol. “Kok, sakit? Emang ada yang lecet?” Tak tahu ke mana ujung pembahasan ini, Arya hanya merasa penasaran dengan keadaan Tiara. Dia nampak seksama menunggu jawaban dari Tiara dengan wajah serius, seolah ini sangat penting baginya. Tiara menggelengkan kepala. Dengan polos ia pun kembali menjawab, “Ujungnya. Ngilu. Soalnya kalo lagi dapet biasanya jadi kenceng, Pak.” Mendengar jawaban Tiara, Arya kembali menelaah. Dia terdiam, menelan ludah, membayangkan bagian yang dimaksud oleh Tiara. "Punya dia, kayak cewek pada umumnya kan?" batin Arya menerka-nerka, jadi penasaran. Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD