Bab 4. Pikiran yang Mengganggu

1331 Words
Keadaan kembali sunyi. Arya tenggelam dalam pikirannya, membayangkan bagian tubuh Tiara yang dikata nyeri. Tanpa sadar, selain melamun, Arya jadi terus-terusan menatap wanita di sampingnya ini dengan seksama. Tiara menggigit bibir bawahnya. Dia merasa salah bicara, sampai membuat Arya terdiam dan hanya menatapnya. Rasanya aneh ditatap seperti ini. Namun Arya yang mendapati sikap Tiara yang sedang menggigit bibir bawahnya, malah jadi membuatnya salah tingkah. Entah mengapa wanita itu malah terlihat begitu seksi, membuat Arya jadi lemas, seolah meleleh tubuhnya. Menyadari keadaannya, Arya langsung mengalihkan pandangannya dari Tiara. Dia menatap ke arah depan, dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, sambil memegang setir mobil kuat-kuat. Apa-apaan ini?? Aku kenapa? Kenapa malah deg-deg ser gini lihat Tiara gigit bibirnya? Dih! Gila aja! Kayak nggak ada cewek lain aja! Kambing betina aja lebih cantik dari pada cewek cupu nggak jelas kayak dia! Arya merutuki pikirannya sendiri, merasa begitu aneh dengan dirinya. Tidak mungkin rasanya seorang Arya Putra Panduga tertarik dengan wanita kampungan yang penampilannya begitu aneh seperti Tiara. Hingga tak lama, Tiara yang merasa tak enak pada Arya, sengaja memecahkan keheningan di antara mereka. “Jadi, ini gimana, Pak? Saya harus tetep ikut nemenin Bapak ke dalam?” “Hm?” Arya yang tadinya sibuk bergelut dengan pikirannya, kini kembali menoleh ke arah Tiara. Sejenak ia memproses maksud pertanyaan Tiara, lalu dengan lantang menjawab, “Nggak! Kamu nggak usah ikut ke dalem! Malu-maluin aja. Masa iya nanti ketemu orang malah cium bau-bau anyir dari kamu? Yang bener aja! Rugi dong! Mau ditaro mana muka saya nanti?” “Tapi, kan, Pak…” “Udah! Mending kamu ganti daleman, ganti rok, beli pembalut, terus bersih-bersih itumu! Sekalian tuh bersihin jok mobil yang udah kamu nodai. Najis!” cerca Arya yang kemudian mengambil berkas yang dibawa Tiara dan segera turun dari mobilnya. Tak lupa pria ini melemparkan kunci mobil ke pangkuan Tiara. “Jaga mobil ini baik-baik! Dan jalankan perintah saya! Ingat, ini amanah dari bosmu yang baik hati,” tambahnya dengan embel-embel pujian untuk dirinya sendiri. Pintu dibanting. Tiara jadi kaget. Perasaan bersalah menghantuinya karena seharusnya dia bisa melakukan pekerjaan dengan baik tapi malah dirinya terjebak dalam urusan yang tidak seharusnya dia alami saat ini–bahkan tanpa ada persiapan. Tiara hanya bisa menghela nafas panjang, malu rasanya atas apa yang terjadi. *** Arya terpaksa masuk sendiri ke dalam ruangan VIP yang ada di hotel mewah ini. Baru saja langkah kakinya memasuki pintu yang terbuka ini, Arya langsung disambut oleh seorang pria paruh baya dengan begitu ramah. “Wuah! Arya Panduga! Akhirnya datang juga! Ayo ayo, duduk dulu. Kita sarapan dulu.” Pria ini adalah Arnold Dewangga, dia merupakan seorang pengusaha sukses perusahaan rekanan Panduga–sekaligus teman baik ayahnya Arya. Dia sudah menunggu kedatangan Arya sedari tadi. Bahkan pria ini sengaja menyiapkan menu sarapan bergaya khas Eropa, yang disajikan demi memenuhi perut Arya. Sayangnya, sikap Arya tak seramah pria ini. Dengan wajah ketus–kesal dengan apa yang baru saja dia alami–Arya pun menjawab tanpa basa-basi. “Maaf Pak Arnold, sepertinya saya tidak bisa lama-lama. Ada yang perlu saya urus lagi setelah ini. Jadi, sebaiknya kita langsung saja.” “Hey, duduk dulu. Makan dulu. Masa langsung-langsungan begitu. Sebaiknya kita ngobrol-ngobrol yang ringan-ringan dulu lah Arya.” “Ada keadaan yang lebih urgent, Pak. Jadi saya harap Pak Arnold mengerti, dan mau memahami saya.” “Duduk dulu!” titah Arnold dengan tegas. Refleks Arya segera menarik kursi yang ada di dekatnya, dan duduk berhadapan langsung Pak Arnold. Rasanya jadi begitu tegang. Pak Arnold terlihat kembali santai seperti semula. Dia nampak menikmati satu per satu bagian daging steak yang baru saja diiris-iris, kemudian kembali bertanya pada Arya. “Jadi gimana kabarmu?” “Baik.” Arya menjawab singkat. Masih tegang rasanya. “Ayahmu?” “Sehat.” “Perusahaanmu?” Arya menghela nafas. Dia berusaha untuk rileks, dan tak ingin buang-buang waktu di hadapan pria buncit ini. Dengan sikap dan mimik wajah yang kembali ke setelan awal, Arya mengatakan inti kedatangannya. “Bapak tahu sendiri kalau kan saya ingin mengajukan ijin kerja sama. Jadi sebaiknya langsung saja, proposal saya mau diterima atau tidak?” ujarnya sambil menyerahkan proporsal di atas meja. Jelas hal ini membuat Pak Arnold jadi geram kembali. Tapi dia berusaha mengerem emosinya, dan menghentikan kegiatan sarapannya. “Arya, Arya… Apa kamu sudah tau kelebihan dan kekuranganmu? Kamu itu …” blablabla… Suara Arnold semakin lama semakin tak terdengar di telinga Arya. Ocehan dan ceramah mulai keluar dari mulutnya, membuat Arya malas untuk mendengarkannya. Keadaan memang selalu begini ketika mereka berdua harus bertemu. Hal inilah yang membuat Arya dari awal ingin langsung membahas ke topik utama, tanpa buang-buang waktu. Tapi sayangnya usaha Arya tetap saja sia-sia. Saat Arnold masih mengoceh, Arya hanya diam. Dia melamun, dan larut dalam pikirannya sendiri yang sudah melalang buana. Kenapa tadi Tiara… gigit-gigit bibirnya ya? Apa dia lagi mikir, mau cipokan sama aku? Di mobil? Pagi-pagi? Cih! Padahal kita baru juga kenal, masa dia udah pengen sama aku? Khayalan Arya kali ini membuatnya jadi ge-er sendiri, sampai senyum-senyum tak jelas. Namun tak berapa lama, Arya sadar dengan sikapnya. Dia mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha untuk tetap sadar dan kembali ke keadaan saat ini. Segera ia mengambil gelas berisi teh yang tersaji di dekatnya, dan menyeruput teh tersebut demi memenuhi dahaganya. “Kalau kamu mau berjuang seperti ayahmu ataupun saya, kamu itu pasti bisa lebih maju dari kami para sesepuh. Tapi usahamu hanya …” Baru beberapa kalimat yang Arya kembali dengarkan dari mulut Arnold, tapi lagi-lagi suara itu tenggelam begitu saja, tak terdengar kelanjutannya di telinganya. Sungguh, Arya malas jika harus dibanding-bandingkan seperti ini–apalagi dengan ayahnya. Pikirannya pun kembali melayang-layang. Tadi, Tiara bilang ujung dadanya kan yang sakit? Putingnya kan itu? Lagi nyeri ya? Apa mungkin bengkak? Arya kembali membayangkan hal yang terjadi pada asisten barunya. Dia masih saja heran dengan keadaan Tiara. Membayangkan bentuk bagian tubuh wanita yang disebut dalam pikirannya, membuat area sensitifnya tiba-tiba berkedut. Pikiran-pikiran kotor pun kini terbayang di kepala Arya. Dia membayangkan kemungkinan kemungkinan yang terjadi pada Tiara. Entah mengapa memikirkan hal itu malah membuat juniornya jadi meronta-ronta. Tiba-tiba saja menegang dan memanjang, membuat celananya jadi semakin sempit sendiri. “Tahu kan maksud saya, Arya?” panggil Arnold saat mengakhiri ceramahnya. Sayangnya pertanyaan barusan tidak mendapatkan respon dari lawan bicaranya. Menyadari jika saat ini Arya sedang melamun, Arnold kembali memanggil nama pria di hadapannya dengan suara lantang. “Arya!” Arya jadi langsung tersadar kembali. Dia berusaha tetap tenang supaya tidak ketahuan oleh pria botak itu jika dirinya dari tadi tidak mendengarkannya, dan malah larut dalam pikirannya sendiri. “Saya paham, Pak. Tadi meresapi nasihat Bapak,” jawabnya bohong. “Jadi intinya bagaimana? Bapak mau kerja sama atau tidak? Kalau memang keberatan, dan saya memang tidak bisa Bapak percaya, saya akan mengajukan proposal ini kepada investor lain.” “Kamu ini! Selalu saja minta langsung, langsung. Sekarang malah sengaja mengancam lagi! Menyebalkan!” “Bukan mengancam. Tapi sebagai pengusaha, saya tidak mau buang-buang waktu. Perlu solusi dalam setiap masalah bukan? Makanya jika Pak Arnold tidak mau, saya akan mencari investor lain. Bukankah tadi Bapak juga bilang, kalau saya harus bekerja lebih keras?” Arya pandai memutar kata dan membuat lawannya jadi tersudut. Arnold yang dibuat jadi serba salah, kini berusaha menenangkan diri dengan meminum tehnya. Dia tentu tidak ingin disalahkan dalam ucapan Arya barusan. Sedangkan Arya yang malas lama-lama di sini, kini segera bangkit dari duduknya. Namun ternyata bagian bawahnya nampak begitu menonjol, juniornya masih bangkit. Buru-buru Arya meraih berkasnya dan menggunakannya untuk menutupi area bawahnya. Tanpa basa-basi lagi, ia pun berpamitan. “Ya sudah, Pak. Saya duluan kalau tidak ada jawaban. Maaf mengganggu.” “Eeeh! Tunggu dulu! Iya, iya saya mau jadi investor projek baru kamu itu. Tapi, ada syaratnya.” Arya mengerutkan keningnya, menatap heran ke arah Pak Arnold. “Syarat? Apa syaratnya?” “Sebaiknya nanti kamu temui anak saya. Dia sudah kembali dari Eropa. Kalian sudah lama tidak bertemu ‘kan?” Mendengar ucapan Arnold barusan, Arya langsung mematung dan mimik wajahnya berubah muram. Bersambung…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD