Pagi yang redup menyapa rumah sederhana itu. Suara ayam jantan bersahutan dari kejauhan, sementara embun masih menempel di dedaunan sekitar. Dari arah jalan, terdengar suara mesin mobil berhenti perlahan. Ryan keluar, dengan kantong plastik berisi obat-obatan, bubur hangat, dan air mineral. Ia berdiri sejenak di depan pintu, menarik napas panjang. Semalam ia hampir tak tidur, hanya berpindah dari satu apotek ke apotek lain, mencari resep yang kira-kira bisa membantu meringankan sakit Nu. Dalam hatinya, ia pun terus berdoa agar Tuhan melindungi mereka. Tok… tok… tok. Ketukan pelan terdengar di pintu kayu. Dari dalam, langkah tergesa terdengar. Nu, dengan wajah masih pucat dan tubuh gemetar, membuka pintu. Begitu melihat Ryan, matanya langsung berkaca-kaca. “Mas…” suara Nu bergetar. Ry

