Chapter 58 : Muntah Darah di Tengah Doa

1115 Words

Malam itu, udara apartemen Ryan Aditya begitu berat. Tirai jendela setengah terbuka, memperlihatkan kerlip lampu kota Semarang yang biasanya menenangkan, kini terasa seperti ribuan mata yang menatap penuh cemas. Ryan terduduk di sofa, wajahnya pucat, matanya kosong menatap gelas air mineral yang sejak tadi tak tersentuh. Sahabat-sahabat Nu yang masih berkumpul di sana, Yuni, Tya, Bianca, dan Citra, sama-sama diliputi rasa gelisah. Mereka sudah mencoba berbagai cara menghubungi Nu, namun ponselnya terus tidak aktif. “Ini nggak wajar lagi, Mas Ryan,” ucap Yuni dengan suara parau. “Nu itu tipe orang yang nggak pernah bisa diam kalau kita cari. Sekarang… dia sama sekali hilang.” Ryan menghela napas panjang, lalu menunduk. “Aku tahu, Yun. Aku tahu… tapi Dewi bukan tipe orang yang gampang dile

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD