Hujan tipis mengguyur jalanan menuju Mranggen sore itu. Udara dingin merambat masuk melalui celah jendela, menyelubungi rumah tua peninggalan orang tua Dewi. Dari luar, rumah itu tampak biasa saja—dindingnya diplester semen kasar, halaman dipenuhi pohon mangga dan jambu yang rimbun. Namun, siapa pun yang cukup peka akan merasakan hawa berat yang menggantung di sekitarnya. Di dalam rumah, Dewi duduk di ruang tengah, hanya ditemani lampu minyak yang redup. Tangannya memainkan gelang hitam yang melingkar di pergelangan, matanya menatap kosong ke arah foto lama yang tergantung di dinding. Foto dirinya bersama Ryan di masa SMA. Wajah muda mereka tersenyum cerah, tapi kini, setiap kali ia menatapnya, senyum itu terasa seperti ejekan. “Mereka pikir aku kalah? Tidak… belum…” gumamnya lirih. Seny

