Pukul 04:30 dini hari. Suasana di kamar tamu apartemen Ryan terasa dingin, tetapi pikiran Bianca panas membara. Yuni Ndaru, Tya, dan Dinda sudah terlelap pulas dengan posisi yang tak beraturan—kaki Dinda menempel di wajah Tya, dan Yuni Ndaru memeluk bantal guling erat-erat. Bianca tidak bisa tidur. Sejak ia tak sengaja melihat adegan intim Nu dan Ryan tadi, pikirannya kacau balau. Sebagai gadis yang sudah menapak dewasa, fresh graduate yang cerdas namun belum pernah pacaran, pengalaman visual itu benar-benar syok bagi jiwanya. Tiba-tiba, rasa haus yang amat sangat menyerangnya. Ia butuh air dingin untuk memadamkan api yang membakar tubuhnya. Bianca turun dari ranjang, mengenakan daster tipis. Langkahnya pelan menuju dapur. Saat melewati kamar Nu dan Ryan, telinganya menangkap suara sa

